
Sinar matahari menerobos melalui celah jendela dengan malu-malu, membangunkan dua insan yang masih terlelap dalam tidur berbalutkan mukena dan kemeja koko dengan alas sejadah. Menghadiri pernikahan Alsaki membuat dua insan itu sangat lelah bahkan memilih free dari sekolahnya meskipun hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Fahad. Karena Fahad memiliki janji kepada siswanya untuk segera dituntaskan, bahkan harus dijalankan.
Kinan lebih dulu bangun ketimbang Fahad, pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Fahad. Dua insan itu tidur di sejadah yang sama, Kinan tidur berbantalkan lengan Fahad dan Fahad bergulingkan Kinan. Dua pasangan seperti murid dan guru itu selalu romantis dan harmonis di saat menghabiskan waktu berduanya, seolah-olah mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai terjangan badai entah seberapa besarnya dan seberapa takutnya badai yang akan menerjang kehidupan rumah tangga.
'Kamu kenapa sih tampan mulu? Aku tuh sebal tau ngak, setiap kali masuk sekolah kamu selalu digoda oleh para wanita centil,' batin Kinan menatap tajam wajah sendu Fahad yang masih terlelap.
"Kenapa kamu memandangi aku terus? Apa aku tampan?" tanya Fahad dengan mata tertutup.
"Ih, kepedean!" kesal Kinan segera bangkit dari tidur sepertiga malamnya. Namun, Fahad justru menarik kembali tubuh Kinan sehingga Kinan tidur terlentang, tangan Fahad mengeratkan pelukannya seolah-olah takut Kinan kabur.
Dua pasangan itu memilih pulang setelah mengantarkan Alsaki, dengan alasan kurang enak badan padahal alasan tepatnya adalah ingin berdua. Lagian, keduanya jarang menghabiskan waktu bersama semenjak menginal di kediaman Hafsah dan hanya bertemu ketika berada di satu ruang yang sama.
"Bentar lagi." Suara serak Alsaki membuat jantung Kinan berdegup kencang, pasalnya ia merasakan tangan Fahad terus menerus mengeratkan pelukannya sehingga terasa geli. Maka dari itu, mau tidak mau Kinan membiarkan Fahad seperti itu saja dan memberi waktu sekitar lima menit.
"Sayang, bukannya kamu punya janji dengan muridmu?"
"Iya, tapi pelajarannya nanti jam 10 siang. Jadi, aku ingin menghabiskan waktunya bersama kamu."
"Ish!" sebal Kinan dan memutar bola matanya malas. "Sayang, bangun dong!" lanjutnya merengek.
"Lima menit lagi!"
"Lima menit apa lima jam! Cepat bangun ah, nanti kamu telat lho. Lihat tuh jam setengah 8 dan aku hatus menyiapkan sarapan untukmu."
"Terus kamu engga bakalan masuk?" tanya Fahad membuka matanya lebar dan menatap setiap wajah Kinan seakan mencari letak kebohongannya. Nyatanya tidak ada, semua ekspresinya terasa serius.
"Iya enggak lah, punggungku masih sakit. Jadi, aku bakalan masuk besoknya," jelas Kinan membalikkan badan.
Tubuh tadinya hanya menghadap langit-langit kamar, kini tubuh Kinan berada di hadapan Fahad. Tidak ada jarak yang membuatnya berjauhan, suara nafas terdengar dari keduanya. Kinan menatap Fahad dengan tatapan penuh makna, setelah itu menarik kedua sudut bibirnya seperti orang tersenyum. Tangannya mengelus pipi Fahad dengan mesra, mata elang Fahad yang sedikit sipit itu turut terbuai dalam sentuhan hangat Kinan.
Fahad tersenyum dengan perlakuan Kinan, yang semakin hari semakin terbuka bahkan sudah membuka hatinya untuk Fahad. Merasa bersyukur karena cinta yang terjebak dalam diamnya kepada wanita cantik seperti Kinan terkabul juga bahkan sudah tinggal dalam hati yang sama. Ia menarik pinggang ramping Kinan seaka ingin menghapus jarak yang masih beberapa senti meter menjadi menempel, menci*um kening Kinan dengan hatinya menyalurkan cinta dan kasih sayang.
Kinan yang merasakan itu hanya menutup mata, membiarkan Fahad melakukan sesukanya. Toh, tidak ada salahnya bagi pasangan yang sudah terikat dalam kehalalan. Tapi, urusan sebenarnya harus ia tahan karena Kinan masih menempuh pendidikan yang tinggal beberapa bulan lagi dinyatakan lulus.
Fahad yang tadinya menci*um kening, kini beralih menci*um kedua mata Kinan bahkan pipi pun tak terlupakan. Terakhir, Fahad tak kuasa menahan salvina saat melihat bi*bir ranum sang istri membuatnya ingin sekali mencoba itu. Akhirnya, Fahad menjalankan aksinya yakni menci*um bi*bir Kinan. Hal itu membuat Kinan yang tadinya hanya menutup mata kini terbuka saat merasakan sesuatu yang membuatnya candu, bahkan Fahad mengigit bi*bir bawah Kinan dengan lembut seakan memberi kode untuk membuka mulutnya, ia pun menerima kode itu. Sehingga ci*uman tadinya hanya memberikan sensasi, kini menjadi lum*atan.
Perilaku Fahad kepada Kinan membuat Kinan tidak mau kalah, ia membalas perbuatan itu sehingga permainan Fahad terimbangi. Bahkan Kinan juga merasakan sentuhan hangat Fahad menyentuh dan menyusuri rongga mulut, mulai dari gigi hingga yang lain benda kecanduan keduanya.
Cukup lama keduanya bermain, Kinan mendorong sedikit tubuh Fahad dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Pasalnya Fahad tidak ada hentinya melakukan permainan candu, membuat Kinan kehabisan nafas bahkan mencari oksigen. Setelah itu, memeluk Fahad untuk menyembunyikan rasa malunya.
Fahad terkekeh dengan tingkah Kinan, ia mengeratkan pelukannya dan mencium puncuk kepala Kinan yang ditutup dengan mukena. Seakan mengerti dengan keadaan Kinan, bahwa belum waktunya memberikan cinta yang sesungguhnya. "Aku ingin kamu cepat lulus."
Kinan mendengar suara itu hanya mengangguk kecil, kemudian menatap wajah Fahad dan Fahad membalas tatapan itu dengan ekspresi sulit ditebak. "Maaf."
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Aku belum bisa memenuhi hak kamu."
"Baiklah, aku mengerti. Jadi, jangan dipikirkan," kata Fahad kembali lagi mengeratkan pelukannya.
Kinan mendengus kesal, pasalnya Fahad belum kunjung bangkit dari tempat tidur yang beralaskan sejadah itu. Karena, Fahad masih betah memeluk dirinya, sehingga mau atau tidak mau Kinan mencubit pinggang Fahad dengan keras.
"Assww!"
"Aduh! Ngak sengaja," kata Kinan segera bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Masa enggak sengaja! Sengaja kamu," sebal Fahad dengan posisi seperti biasa, tangan yadi yang dijadikan mengeratkan pelukan kini beralih mengusap pinggang yang dicubit oleh Kinan.
Kinan terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya. "Makanya kalau disuruh bangun yah bangun bukan malah peluk-peluk mulu. Ketiduran lagi jadinya dan aku yang kelaparan enggak punya nyali."
"Kan nambah pahala, meluk istri nambah pahala. Apa kamu tidak mau?"
"Yah bukan gitu konsepnya, ini sudah pagi kamu harus kerja masa mau tidur mulu dan enggak kasihan gitu sama istrimu ini yang kelaparan?"
"Kalau begitu penuhi dulu syarat permibtaan aku nanti aku bangun."
'Bus*et ini orang kenapa sih, belum bangun maen syarat aja!' batin Kinan kesal. "Apa?" tanyanya dengan muka cuek.
"Palingan mau modus, minta di situ terus minta lagi di sini!" protes Kinan memalingkan muka.
"Enggak juga, suer!" terang Fahad tersenyum dan mengangkat tangannya menyerupai huruf V. Setelah itu Kinan memenuhi syarat itu dengan ekspresi sulit ditebak.
"Sudah."
"Baiklah, aku akan bangun," papar Fahad dan bangkit dari duduknya menjadi berdiri dan melangkah pergi ke kamar mandi.
"Dasar baru saj asatu bulan manjanya minta ampun," gumam Kinan tanpa mengeluarkan suara dan sefera bangkit dari tempat itu.
Kinan segera melepaskan mukena dan merapihkannya. Berniat turun dari kamar menuju dapur, sesampainya di dapur ada berbagai macam makanan yang tertata di meja makan. Nasi goreng kecap polos, telur mata sapi, hingga sayur kangkung sebagai penyeimbang keduanya sudah siap di atas meja. Entah kenapa, melihat itu Kinan merasa bersalah kepada pembantunya.
"Bi Ijah?" panggil Kinan berjalan ke kamar pembantu yang berusia sekitar empat puluh tahunan. Nyatanya Kinan mendapati Bi Ijah di luar rumah yang sedang menjemur pakaian.
"Saya di sini, Neng. Ada apa?" tanya Bi Ijah dari balik sana.
"Bibi, apa sudah makan?" tanya Kinan dari dalam dan bertanya di dekat pintu kaca.
"Belum, Neng. Ada apa memangnya?"
__ADS_1
"Ayo, sarapan bersama, Bi! Enggak enak, makanan sebanyak itu harus dua orang. Jadi, ayo makan dulu."
"Tidak, Neng. Nanti bibi makannya sehabis menjemur pakaian," tolak Bi Ijah halus.
"Ikuti saja perkataannya, Bi Ijah."
Suara lelaki tiba-tiba datang menghampiri pembicaraan dua wanita, iya Fahad telah selesai membersihkan diri. Pasalnya, Fahad sudah mandi semenjak Kinan membangunkan untuk shalat sepertiga malam sekarang Fahad hanya melakukan cuci muka dan gosok gigi. Ia mendengar suara sedikit keras dari istrinya dan Bi Ijah, membuat Fahad ingin ikut dalam pembicaraannya.
Bi Ijah yang mendengar suara itu seketika menunduk dan mengakhiri aktivitas menjemurnya. "Tapi, Den ..."
"Tidak ada penolakan, ayo kita sarapan," jelas Fahad.
"Baiklah," pasrah Bi Ijah.
Akhirnya, tiga manusia menghabiskan waktu paginya dengan bersarapan. Meskipun Bi Ijah sangat sungkan dengan tawaran dua insan, tapi juka berurusan dengan Fahad sudah tidak bisa berkutik. Bi Ijah jika di tanya dengan perasaannya memiliki majikan baik seperti keduanya, maka Bi Ijah akan menjawab dua insan itu terlalu sempurna jika memberi kebaikan.
Melihat dua insan yang begitu harmonis, Bi Ijah melihatnya merasa bersyukur. 'Ya Allah, mereka adalah orang baik maka berikanlah kebaikan dalam rumah tangga dan jauhkan dari marabahaya yang merusak rumah tangganya.' batin Bi Ijah.
"Bibi, mau tidak telurnya?" tanya Kinan.
Bi Ijah yang mendengar pertanyaan itu, ia melihat terlebih dahulu isi piring rupanya telurnya tersisa satu. Jika Bi Ijah yang mengambil maka Kinan tidak ada. "Tidak mau, Neng. Bibi sudah bosan dengan telur, buat Neng saja."
"Kalau begitu, gimana dengan tumis kangkung?"
"Boleh, Neng," jawab Bi Ijah sembari menyodorkan piring yang berisi nasi goreng yang dituangkan oleh Kinan sebantak satu cetong.
Fahad yang melihat interaksi istrinya hanya tersenyum tipis, ia segera melahap nasi goreng buatan Bi Ijah itu. Sehingga detik berikutnya hanya suara hening tercipta, membiarkan bunyi dentingan sendok mengisi suasana hening itu.
"Aku berangkat dulu," kata Fahad setelah menghabiskan waktunya sebanyak lima belas menit untuk mengisi perut kosong.
Kinan menyalimi punggung tangan Fahad dan tersenyum. "Iya, semangat yah!"
Fahad mengusap kepala Kinan yang dibalut dengan jilbab, tak lupa juga menci*um kening Kinan seakan doa dalam hatinya mengalir dan memberikan isyarat lewat itu. "Pulangnya aku akan beli buah-buahan, jika ada yang ingin kamu tambah bilang saja lewat telefon."
"Iya," jawab Kinan singkat.
Setelah Fahad meninggalkan perkarangan rumahnya, bahkan mobil pribadi Fahad sudah tidak tampak lagi. Tiba-tiba perasaan Kinan penuh dengan kegelisahan dan gundah, bahkan jantung yang bertugas menompa darah seketika berhenti tepat, dengan cepatnya Kinan menggeleng dan melupakan perasaan buruk itu. "Semoga saja tidak ada apa-apa."
•••••○○○•••••
Terima kasih yang sudah membaca terutama yang memberi semangat kepada author sendiri❤
seemoga kebaikan kita dilipat gandakan oleh Tuhan Yang Maha Esa❤❤
__ADS_1
•••••○○○•••••