
Rasa Iri dan dengki adalah dua sifat buruk yang levelnya paling berbahaya dari sifat buruk manusia karena bisa meluas tidak ada batas berhentinya. Pasalnya sifat iri dan dengki menjadi bahan bakar emosi negatif yang akan terus 'ON' menyuburkan sikap sinis, dari mulai nyinyir sampai bisa berbuat jahat pada diri sendiri maupun orang lain.
Windy adalah salah satu gadis yang diam-diam menyukai Aditya tapi sayangnya Aditya tidak begitu meresponnya. Sementara Kalycha yang baru saja bergabung dikelas mereka bisa langsung akrab dengan Adit. Dan itulah yang membuat Windy merasa iri dan sekaligus benci dengan Kalycha.
Saat ini Windy dan teman-temannya sangat ketakutan saat melihat Lala berada ditempat yang sama dengan mereka. Sekujur tubuh mereka bergetar ketakutan. Keringat dingin sudah membasahi wajah dan baju mereka.
"Sebelum hal ini saya usut lebih lanjut sebaiknya kalian mengakui perbuatan kalian pada Kalycha." Haidar menatap Windy dan teman-temannya dan juga Lala secara bergantian.
"Perbuatan apa maksud Kakak?" si polos Mimi kembali bertanya tapi Haidar tidak menghiraukannya. Haidar masih berpikir kalau Mimi hanya pura-pura polos.
"Saya beri waktu lima menit untuk kalian berpikir dan mengakui kesalahan kalian." tegasnya lagi.
"Sial apa yang harus aku lakukan? Mereka pasti tidak akan melepaskanku kalau aku mengakui semuanya. Tapi jika aku tidak mengakuinya, apa yang akan terjadi padaku nanti? Aku tidak mau sekolahku berantakan, sudah susah payah aku berjuang untuk mendapat beasiswa di sekolah itu. Tapi bagaimana jika Icha tahu ini adalah perbuatanku? Apa dia mau memaafkanku? Tapi aku juga terpaksa melakukannya."
Lala berada diposisi yang serba salah. Dirinya yang mendapatkan tatapan tajam dari Windy, Deby dan Desi pun langsung menundukkan kepalanya, ia merasa terintimidasi. Pasalnya Lala hanyalah disuruh untuk memberikan minuman yang berisi serbuk itu kepada Kalycha dan dia benar-benar tidak tahu kalau itu adalah obat per*ngsang dan jika ia tidak mau melakukannya maka entah apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Waktu kalian tinggal dua menit." Haidar kembali mengingatkan mereka sambil melihat jam tangannya.
"Bagaimana ini?" tanya Deby sedikit berbisik.
"Gue juga ga tahu." Desi sendiri pun bingung.
"Kita diam aja, tunggu sampai Lala yang bicara, gue yakin mereka ini hanya menggertak kita saja. Ga mungkin mereka punya bukti karena Indra sudah mematikan rekaman CCTV disana." Windy tidak merasa takut sama sekali, ia percaya kalau Haidar hanya menggertak mereka karena tidak punya bukti.
"Tapi gimana kalau Lala mengakui semuanya?" Desi semakin ketakutan.
"Tenanglah dia ga akan bicara apa-apa. Percaya sama gue." Windy menenangkan teman-temannya.
"Waktu kalian habis." Haidar melihat jam tangannya kembali. Ia menarik nafasnya dengan berat. Sudah 5 menit ia menunggu jawaban dari gadis-gadis itu. Tapi tak satupun dari mereka yang membuka mulut untuk mengakui kesalahannya. Dan itu membuat kesabaran Haidar mulai habis.
Haidar melihat kearah Roy. Dan Roy yang ditatap oleh Haidar pun seakan tahu apa yang diminta Haidar padanya.
Roy menekan remote control dan menurunkan layar proyektor yang ada diruangan itu lalu memperlihatkan Video dari rekaman CCTV pada gadis-gadis itu.
__ADS_1
"Tidak mungkin, bagaimana bisa dia memiliki rekaman CCTV itu?" Windy sangat kesal ia mengepalkan tangannya.
Dari rekaman itu terlihat Windy sedang memberikan sesuatu kepada Deby kemudian Deby pergi meninggalkan teman-temannya.
Dan dari rekaman CCTV yang lain Deby terlihat sedang memasukkan sesuatu kedalam softdrink yang dipesan Kalycha. Sebelumnya Deby memasukkan serbuk itu kedalam minuman Kalycha, sudah lebih dulu terjadi perdebatan antara Deby dan Lala.
Terlihat Lala menolak untuk memasukkannya tapi entah apa yang Deby katakan pada Lala sehingga Lala membiarkan Deby memasukkan serbuk itu kedalam minuman Kalycha. Dan memaksa Lala untuk memberikan minuman itu pada Kalycha.
"Sial, andai saja waktu itu Deby tidak mengancamku pasti aku tidak akan melakukannya. Maafkan aku Cha–, aku terpaksa." Batin Lala.
Haidar menekan tombol pause. "Apa masih ada yang menyangkal kalau ini bukan perbuatan kalian?" tanya Haidar datar dengan menatap tajam kepada mereka satu persatu sambil menahan emosinya.
"Deby sebenarnya apa yang lo masukin ke minuman Icha?" Mimi menatap tajam kearah Deby. Akhirnya ia mengerti kenapa Haidar sangat marah kepada dirinya dan juga teman-temannya.
"Lo bisa diem ga Mi?" Bentak Windy,
"ENGGAK–!" Mimi balas membentaknya sambil menghentakkan tangannya diatas meja. "Gue ga mau dipenjara gara-gara tindakan konyol kalian. Gue kira kalian beneran tulus mau temenan sama Icha ternyata kalian hanya memanfaatkan Icha dengan sengaja mendekatinya dan pura-pura baik padanya." Mimi merasa kesal dan tidak terima sudah dibohongi teman-temannya sendiri.
"Lo juga setuju kan, buat deketin dan ngerjain dia. Iya kan?" kali ini Desi yang membentak Mimi.
"A-aku–." Lala gugup
"STOP–." bentak Haidar bukan perdebatan yang dia inginkan tapi pengakuan dari Windy dan teman-temannya.
Mendengar bentakan dari Haidar membuat nyali mereka semakin menciut.
"Sekarang saya tanya sama kalian." Haidar menatap mereka bergantian. "Dari mana kalian dapat obat sialan itu? Hah?" Bentak Haidar lagi. Haidar ingin mengusut siapa penjual obat jahanam itu. Pasti mereka membelinya dari seseorang yang lebih dewasa dari mereka. Karena tidak mungkin mereka tahu dimana dibeli obat sialan itu. Karena mereka masih berstatus anak SMA.
"Mampus gue. Bisa mampus gue." Windy ketakutan.
"Sebenarnya dari mana Windy dapat obat itu?" Deby mulai penasaran.
Karena tidak ada satupun dari mereka yang bersuara, akhirnya membuat Haidar kehabisan kesabarannya.
__ADS_1
"Baiklah kalau kalian tidak ada yang mau mengaku, kalian dapat obat itu darimana. Oke Fine." ucapnya datar.
"Roy–." Mendengar namanya dipanggil Roy pun segera mendekati Haidar.
"Bawa rekaman itu kepada kepala sekolah mereka dan sebelum itu laporkan dulu tindakan kriminal mereka ini kepada pihak yang berwajib." ujar Haidar
"Baik Tuan." Roy melepaskan sebuah flashdisk dari laptop yang ada dimeja tersebut.
"Tu-Tunggu–." suara gemetar itu berasal dari Lala ia menangis menyesali semua perbuatannya.
"Tolong jangan laporkan kami ke polisi. Saya ga mau dipenjara. Saya ga mau mengecewakan orangtua saya Pak. Saya terpaksa melakukannya karena saya diancam dia." Lala menunjuk kearah Deby dengan jari telunjuknya.
"Apa ancamannya terhadapmu sehingga kamu lebih takut padanya dan memilih untuk mencelakai Kalycha, temanmu sendiri?"
"Dia mengancam akan menyuruh supaya manager Bar itu memecatku Pak. Maafkan saya Pak, saya benar-benar tidak tahu kalau itu adalah obat per*ngsang." Lala berlutut membungkukkan kepalanya lalu menangkupkan kedua telapak tangannya memohon kepada Haidar.
Haidar mencengkram bahu Lala untuk berdiri. Haidar tidak suka bila ada orang yang berlutut kepadanya. Karena dia bukan Tuhan yang harus disembah. "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berlutut? Hah–?" Bentak Haidar. "Apa dengan berlutut semua masalah bisa selesai? Apa kau tahu karena perbuatan mu itu Kalycha hampir mati, Hah?" Haidar kembali tersulut emosi
"Apa?" Windy kaget dia tidak tahu kalau obat itu bisa berpengaruh buruk pada orang yang meminumnya. "Ga mungkin, itu hanya dosis rendah." gumamnya pelan tapi Haidar masih bisa mendengarnya. Windy gugup dan takut dia mulai menggigit-gigit kuku jari jempolnya. Dia tidak menyangka kalau dirinya hampir saja menjadi seorang pembunuh.
"Oh, jadi kau lah biang keroknya. Sekarang katakan dari mana kau dapat obat itu. KATAKAN!"
Haidar Esmosi gaes. Author juga gitu 😂
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Sebelumnya Author mau ngucapin Terimakasih buat para Readers 🤗 yang sudah membaca dan mendukung Karya ku yang masih jelek ini.
Author nulisnya belum sempurna gaes 😉 tapi Author ga nyangka bisa lulus Kontrak.
Hanya ungkapan Terimakasih 🙏
yang bisa Author ucapkan kepada para Pembaca setiaku 😍
__ADS_1
Kalau ada kata yang lebih sempurna dari ucapan Terimakasih maka Author akan bilang Tengkyu Gaes 🤗
Semoga kita semua sehat selalu. Amin