My Soulmate

My Soulmate
Kediaman Hafsah


__ADS_3


POV Hafsah -


Usai kejadian yang menimpa, Alsaki mengantarkan dirinya kekediaman. Rasa takut, malu, bahkan marah bercampur jadi satu saat Alsaki menceritakan apa yang terjadi kepada keluargaku. Raut wajah yang selalu ku tatap penuh pengharapan seakan tatapan itu mengandung arti dan doa seketika berubah dalam sekejap. Ibu yang selama ini aku banggakan, aku hormati, hingga aku cintai melebihi apapun semuanya hancur berkeping. Iya, memang itu salahku tapi mau bagaimana lagi kesucianku telah direnggut oleh seorang lelaki yang tak ku kenal. Bahkan saat aku melihat wajah ayah cinta pertamaku dan kakak laki-lakiku yang begitu menyayangiku seketika berubah begitu saja.



Keluarga yang selalu diisikan ilmu tauhid seketika harus tercoreng nama baiknya akibat kesalahanku. Meski aku tau, itu bukan salahku tapi mau bagaimana lagi.


"Ibu ...," lirihku dari balik ambang pintu. Iya, aku sekarang berada di kamar dengan diri berlumur dosa. Ibu mengunciku, ayah tak berbicara padaku, sedangkan kakakku entah kenapa.


"Ibu tau itu bukan salahmu, Nak. Tapi ....," jawab ibuku yang usianya sekitar lima puluh tahunan.


Aku terdiam, kakiku tak kuasa menahan beban yang menanggung semuanya. Kalau bisa, kenapa harus aku yang melewatinya jika bukan salahku. Memeluk lutut membayangkan itu adalah ibu, pelukan hangat ibu memang selalu terbaik. Meskipun usiaku setara dengan Fahad, di mata ibu aku tetaplah seorang anak kecil yang butuh perhatian kasih sayang.


"Hiks ... hiks ... ibu, kumohon datanglah kepadaku," lirihku dengan suara melemah.


Suara langkah kaki yang begitu sendu, siapa lagi kalau bukan ayah. Aku mendengar pembicaraan keduanya, entah kenapa pembicaraan itu membuatku menangis lagi dalam keadaan nelangsa. Rasa sesak memanjakanku untuk melakukan sesuatu.


"Nak, sekarang ayah mengerti setelah Alsaki bercerita. Maafkan ayah yang sudah memukulmu dengan memenjarakanmu kedalam kamar, itu karena ayah mengira kamu melakukannya. Jadi, tolong maafkan ayah ...," celoteh ayahku dari balik ambang pintu.


Aku berdiri dan bercerita dengan bibir bergetar hebat. "Tidak, ayah tidak salah. Tapi, tolong bukalah pintu ini."


Ceklek!


Pintu terbuka, dua insan dengan wajah yang sudah tak muda lagi menampilkan dirinya dengan ekspresi bercampur aduk. Isak tangisku seketika memberontak, jiwaku retak tak berdaya, kakiku yang selama ini aku paksakan untuk selalu sok kuat akhirnya rapuh juga. Tapi, ibu menahan kakiku dengan kelembutan tangannya.


Aku memandang dia dengan air mata yang terus menerus keluar tiada hentinya. "Maafkan aku, Ibu Ayah ...," lirihku dengan isak tangis tiada hentinya.


Ibuku bernama Fatimah seketika mendekapku, menenggelamkan wajahnya kedalam cekuk leher yang ditutup dengan kain kerudung yang senada. Mengelus rambutku yang berantakan dan penuh dosa akibat lelaki bajin*gan.


"Ibu ...," isakku.


"Tenanglah, Nak, itu bukan kesalahanmu jadi tolong berhentilah menangis," ucap Fatimah sembari mengelus lembut pundakku yang penuh dengan tanda dosa.


Aku tak bersuara, biarkan saja jiwaku mengeluarkan segala emosinya. Ku tatap wajah ayah dengan mataku bercampur air mata, seolah-olah jembatan untuk menuju kebahagiaan abadi telah rapuh dan jatuh. 'Maafkan aku, Ayah ...,' batinku dalam isak tangis yang terus menerus memaksaku untuk meluapkan semua emosi yang kutanggung.


Tak lama kemudian, kakak laki-laki gagahku datang ia menatapku dengan pandangan iba dan kecewa. Seharusnya dari awal aku beritahu keluarga, bukan menyembunyikan sebagai kejutan disaat keadaan darurat.


Kakak laki-laki ku bernama Rizki, beliau seorang ustadz yang terkenal dengan ilmu agama yang luas. Maklumi, beliau lulusan Universitas ternama di negara peradaban Islam Kairo, Mesir. Rizki menatapku dengan pandangan penuh air mata, seolah-olah siap meluapkan semua emosinya.


"Kenapa kamu tidak dari awal memberitahu kami, Dek?"

__ADS_1


Aku tak menjawab pertanyaan Rizki, sebab tangisku masih membakar dalam dekapan sang ibu. Aku benar-benar terjebak, pikiranku melayang jika aku hamil nanti bagaimana dengan keadaan keluargaku? Itulah yang aku rasakan, belum lagi ingatan buruk sentuhan kasar yang terus menerus membuatku menggila. Dalam keadaan setengah sadar, aku lelah dengan permainan itu karena aku menggila. Lelaki breng*sek tiada hentinya menghentikan aksi, suara ******* darinya terus tergiang-giang dalam benakku.


"Tidaaaakkk!" teriakku ketakutan setengah sadar, aku kehilangan akal sehatku.


Fatimah ibuku panik. "Kenapa, Nak?" tanyanya sembari mengecek suhu badanku. "Ya Allah, badanmu ...," lirihnya.


Tapi, ada keheranan terjadi dalam ingatanku. Bayangan lelaki breng*sek seketika menampilkan dirinya, ada dua bayangan membuatku ketakutan dan kepanikan luar biasa. "Tidak! Ku mohon jangan sentuh aku!"


"Nak, apa yang terjadi?" tanya ayahku sembari menyentuh tanganku. Aku menepisnya dengan kasar dan menggosok-gosoknya. Bibirku bergetar hebat, pupil mataku membesar, keringat dingin membasahi sekujur tubuhku yang berlumur dosa.


"Tolonh aku, Ibu! Dia lelaki breng*sek itu menyentuhku!" teriakku kepada ibuku.


"Nak, tenangkan dirimu," jawab Fatimah.


"Tidak, Bu! Aku beneran lelaki itu ada di depan mataku, tolong singkirkan dia! Dia merenggut kesucianku bahkan tubuhku dia nikmati hingga melewati batas! Tolonh, aku, Buuuuu!" panikku kepada Fatimah.


"Nak, di sini tidak ada lelaki yang kamu maksud—."


"Tidak, Bu dia di depanku! Aaahhh!" jeritku hingga aku kehilangan kendaliku akibat trauma itu datang secara tiba-tiba dan ...


Bruk!


••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Brak!


Brak!


"Seharusnya gue lebih cepat!" teriak Alsaki dalam mobil sehingga suara itu mengisi ruangan di dalam mobil. Dada berkembang kempis, nafas tak beraturan rasa amarah sudah berada di puncak keimanan yang menggoda untuk goyah.


Mengusap wajah berkali-kali dengan kasar, wanita yang begitu dia cintai harus menelan takdir yang semestinya. Berhalusinasi membangun bahtera rumah tangga, nyatanya harus ia terima. Sehingga pikiran Alsaki mau tidak mau ingin segera menghalalkannya.


"Breng*sek!" umpat Alsaki dan melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Ingatannya tergiang-giang ucapan Hafsah tentang orang itu, yang bertempat tinggal di kawasan apartemen elit di kota Jakarta.


"Lantai tujuh yah?" gumamnya.


Apartement mewah seketika sudah ada di depan mata, ia menaiki lift hingga lantai tujuh. Penampakan memanjakan mata untuk betah di sana, aroma berbagai parfum menyeruak menghipnotis indera penciuman Alsaki. Raut wajah marah tak mengurangi ketampanan dirinya yang memiliki darah berblasteran, mata coklat elang berhasil menghipnotis pada wanita yang memperhatikan dirinya. Tangan masih mengepal kuat tak terlepas, dada mulai kesulitan mencari udara kedamaian untuk diri sendiri.


Sesampainya di lantai tujuh, kamar nomor lima puluh tujuh pun Alsaki carikan. Suara ******* dari kamar sebelah nomor lima puluh tujuh itu membuat Alsaki mendengarnya menjijikan, ia segera mendobrak pintu kamar nomor lima puluh tujuh itu.


Para penghuni kamar seketika terkejut saat mendengar suara dobrakan, lelaki yang merupakan pelaku peme*kosa Hafsah seketika menyerit heran. Belum lagi dengan para temannya yang merupakan sekretaris dan asisten pribadinya pun tak kalah terkejut melihat kedatangan Alsaki.


"Siapa kamu?" tanya Avan, lelaki yang tak asing bagi seorang Alsaki.

__ADS_1


"Rupanya aku bertemu denganmu," jawab Alsaki tersenyum sinis, pandangannya menyoroti apartement mewah milik Avan yang penuh dengan berbagai macam alkohol dan gelas-gelas cantik yang tertata rapih di lemari kaca.


Avan seketika menyerit heran dan terkejut saat menyadari siapa yang datang. Alsaki seorang siswa dulunya selalu Avan jadikan bahan lelucon karena saat itu Alsaki memiliki paras seperti culun. "Ah, rupanya itu kamu, Alsaki."


"Kirain sudah lupa, jadi aku akan keintinya! Apa yang kamu lakukan kepada dia?!" Bentak Alsaki.


Avan seketika menyuruh asisten dan sekretarisnya agar keluar, dan mendapatkan penurutan darinya. Setelah keduanya meninggalkan apartemen, ia tersenyum sumrik saat mendengar suara Alsaki untuk pertama kalinya dengan suara lantang bak batalyon perwira tentara. "Apa maksudmu? Dia?"


"Enggak usah pura-pura kamu, kamu telah membuat dia menderita!"


"Ah, wanita itu yah?aku tak tahu kalau itu milikmu. Tapi, semalam aku sudah menikmatinya, jadi aku ingin dia kembali lagi," cibir Avan tanpa memandang dosa apa yang telah diperbuat.


Mendengar itu, dada Alsaki kembali lagi memberontak tangannya mengepal kuat ia segera berjalan menghampiri Avan yang dulunya pernah merundung dirinya hingga rambutnya terbakar oleh ulah kenakalan Avan yang melampaui batas.


"Berarti dia bekasku?" ejek Avan.


Bugh!


"Sial*an!" umpat Avan saat melihat tingkah Alsaki, dia memukul wajahnya hingga mengeluarkan darah segar dari sudut bibir dan tersenyum sumrigah.


"Jaga ucapan mu, breng*sek!" bentak Alsaki belum puas.


Avan seketika melirik tajam, mata elang saling beradu melempar pandangan dalam dua arti yang berbeda. "Breng*sek katamu? Kamu yang lebih breng*sek!"


Bugh!


Bugh!


Avan tersungkur ke lantai dengan wajah yang penuh dengan pukulan dari Alsaki, ia tak bisa bangkit kembali untuk melanjutkan perkelahian. Menatap sinis wajah merah Alsaki yang terbakar api amarah. Dadanya berkembang kempis seakan mencari udara kedamaian, nyatanya tidak ada. Rasa marah yang membara dalam diri Alsaki belum kunjung mereda.


"Dulu kenapa kamu tidak melawanku? Dan kamu baru sekarang menampilkan dirimu yang sebenarnya, apa karena kamu menjadi preman?"


"Jaga ucapanmu, ku peringatkan sekali lagi jika kamu berani menyentuh dia aku tak segan membunuhmu!" Alsaki kembali lagi membentak Avan, teman satu sekolahan yang selalu merundung dirinya.


Avan tersenyum sinis. "Hahaha ...."


"Breng*sek!" Bentak Alsaki. "Dari dulu kamu seorang perundung, sekarang kau telah besar tapi kedewasaanmu hanyalah butiran debu yang tak ada gunanya. Sungguh menyakitkan sekali dirimu!"


"Kau tau apa tentang aku, hah?!" Avan terbawa emosi akibat ucapan Alsaki barusan, seolah-olah ucapan Alsaki ada benarnya. Kedewasaan dia hanyalah butiran debu yang tidak ada gunanya, dari dulu saja Avan memiliki sifat kenakalan dan sifat itu masih tertanam lekat dalam dirinya.


"Tentu saja, kau itu seorang siswa menyedihkan dan sekarng kau masih terlihat lebih menyedihkan! Ku ingatkan sekali lagi, jangan sentuh lagi dia jika masih aku tak segan melaporkanmu kepasa yang tinggi atas dugaan pelecehan!" Alsaki segera keluar dari apartement menjijikan Avan, karena apartement itu penuh dengan minuman beralkohol dan belum lagi dengan kasur yang menjadi saksi atas apa yang terjadi pada Hafsah, melihatnya saja sudah membuat Alsaki muak.


"Kau sebenarnya tidak mengetahui itu! Dulu aku merundungmu karena aku tak punya teman!" teriak Avan saat melihat punggung Alsaki perlahan mulai menghilang dan jauh untuk dipandang.

__ADS_1


__ADS_2