
Perasaan sakit ketika pasangan kita tak mengakui kita sebagai pasangannya. Itulah yang pernah dirasakan pria yang berstatus sahabat Haidar itu. Tapi rasa bahagia ketika pasangan kita menyadari kesalahannya dan minta maaf itu juga hal yang luar biasa bagi Roy yang selama ini seperti merasakan cintanya bertepuk sebelah tangan.
Sepasang kekasih itu pun sedang menikmati makan malam berdua disebuah restoran yang tidak jauh dari apartemennya.
"Makannya pelan-pelan Sa, kamu doyan apa rakus sih sebenarnya?" Roy kaget melihat kekasihnya itu makan dengan begitu lahap dan tak berjeda.
"Aku tuh laper banget Kak, tadi kan udah sengaja barbique-an tapi kakak ngambek, jadi aku ga sempat makan dan ga nafsu juga buat makan."
"Terus aku diserang abis sama Kak Haidar, dia marah-marah karena dikirain aku ngengantungin perasaan sahabatnya. Jadinya aku ga sempet makan langsung ke apartemen Kakak, mau liat kakak bunuh diri apa enggak, eh ternyata Kakak lagi asyik berduaan sama cewek cantik." ucap Helsa sambil menyindir kekasihnya itu.
"Ternyata care juga Lo Dar."
"Enak aja dibilang lagi asyik-asyikan sama cewek. Dia itu sepupu aku, Sa– kan tadi Kakak udan jelasin ke kamu. Lagi pula Siapa bilang Kakak ngambek?" tanya Roy sambil menahan makanannya yang mau diserobot Helsa.
"Terus apa dong namanya kalau kakak tiba-tiba pergi karena pura-pura dapet telpon dari atasan?"
"Siapa bilang Kakak pura-pura? Tadi itu Kakak memang beneran dapat telpon dari Tuan Pram." Roy masih terus mengelak dengan alasan yang klasik.
"Kalau benar Om Pram nelpon kakak, coba mana HP kakak? Helsa mau liat panggilan masuknya–." tantang gadis itu sambil mengulurkan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih sibuk menyuapi makanan yang ada dimeja ke mulutnya.
"Mati gue, dia ini dukun apa ya? Kok dia bisa tahu sih, kalau tadi aku cuma pura-pura ditelpon Tuan Pram."
"Udah kamu nikmati makanan kamu, nanti keselek baru tahu rasa sakitnya." Roy sengaja mengalihkan pembicaraan mereka untuk menutupi kebohongannya.
"Hmmm, tinggal ngaku aja susah bener." ejek Helsa dengan menyunggingkan sudut bibirnya.
"Iya-iya, maaf tadi Kakak memang kesal sama kamu. Abis udah dua tahun pacaran sama kamu tiba-tiba kamu ga ngakuin Kakak. Gimana gitu rasanya."
__ADS_1
"Iya, Helsa juga minta maaf." ucapnya sampai tak sadar makanannya sudah ludes semua. "Kak nambah lagi dong, masih laper aku."
"Bener mau nambah lagi? Masih muat emangnya?" tanya Roy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mendapat anggukan kepala dari Helsa.
"Udah ahk, Kakak ngeri liatnya. Nanti muntah loh kalau kamu kekenyangan."
"Masih laper aku Kak–." Helsa merengek seperti anak kecil. Akhirnya Roy mengalah dan memesan kembali makanan untuk Helsa.
Pelayan yang melayani mereka pun sampai heran melihat gaya makannya Helsa yang begitu banyak.
Eeeooouuurrrrggg
Helsa sendawa kekenyangan setelah habis melahap semua makanannya. Otomatis beberapa pengunjung yang posisi makannya dekat dengan mereka mendengar dan menatap jijik kepadanya. Tapi bukan Helsa namanya jika peduli dengan cibiran para netizen.
"Jorok banget sih kamu Sa–. Malu kan tuh orang-orang pada liatin ke kita."
"Kenapa? Kakak ilfil? Gampang kok tinggal putusin aku ajah." goda Helsa.
"Kak–, Helsa cuma bercanda Kak." Helsa mengejar Roy yang tampak marah padanya.
"Iiiih gara-gara nih mulut ga ada remnya jadinya begini kan. Jadi cowok juga kok ambekan gini sih. aaaiiiissh." Gerutu Helsa dalam hati.
"Kak, maafin Helsa." Roy hanya diam saja. Helsa pun masuk kedalam mobil ketika melihat Roy sudah lebih dulu masuk didalam.
"Kak–." Helsa menusuk-nusuk lengan Roy dengan jari telunjuknya. "Maafin Elsa dong Kak, Helsa cuma bercanda Kak."
"Kak–." Rengeknya manja tapi Roy masih diam saja tetap fokus melihat jalanan yang didepannya.
__ADS_1
"Kalau kakak diam terus mending Helsa turun disini aja." teriaknya dan tiba-tiba Roy menghentikan mobilnya. Helsa melongok tak percaya kalau pria itu akan benar-benar menurunkannya dijalan.
"Kakak serius?" tanya Helsa melihat Roy yang masih tidak bergeming duduk dibelakang kemudinya dengan pandangan lurus kedepan.
"Oke, kalau Helsa turun dari mobil kakak, itu berarti KITA PUTUS." Helsa memegang handle pintu mobil bersiap untuk turun, tapi tiba-tiba pintu di kunci oleh Roy.
"Buka ga? Helsa mau turun?" teriaknya. Gadis itu benar-benar marah.
"Sepertinya disini cuma aku yang berharap untuk memiliki kamu, mencintai kamu. Tapi enggak buat kamu nya. Sepertinya kamu ga pernah menganggap aku ada. Aku juga ga tahu seberapa berartinya aku untuk kamu. Terlihat dari cara kamu yang mengucapkan kata Putus itu dengan mudah. Setahu aku kata Putus itu ga bisa dijadikan untuk candaan. Bagaimana nanti kalau setelah kita menikah dan terjadi salah paham, mungkin kamu jiga dengan mudah akan mengatakan kata CERAI. Tapi jika itu yang sudah menjadi keputusan mu. Oke, kita akhiri sekarang. Aku bukan pria pengecut yang ga bertanggung jawab, antar kamu pulang sekarang."
Bibir Helsa terkunci rapat, tak dapat membalas setiap perkataan Roy yang menusuk hatinya. Niatnya hanya bercanda tapi kekasihnya itu menanggapi candaannya dengan serius. Sekuat tenaga ia menahan airmatanya agar tidak tumpah.
Roy kembali menjalankan mobilnya. Terlalu sakit yang dirasanya. Dia marah karena gadis itu dengan sangat mudahnya mengatakan kata Putus. Dia bukan pria ABG lagi yang dikit-dikit berantem harus keluar kata Putus.
Tak ada pembicaraan diantara mereka, sepanjang perjalanan mereka hanya diam, bergelut dengan pikiran dan perasaan masing-masing.
Helsa menahan rasa sakit hati dan airmatanya untuk tidak tumpah didepan pria itu. Dialihkannya pandangannya keluar jendela. Sudah sekuat-kuatnya ditahan tapi airmatanya meleleh juga.
Dilihatnya mereka sudah sampai dirumahnya. Langsung diseka airmatanya supaya pria itu tidak melihat airmatanya.
"Ku harap kamu tidak menyesal atas keputusanmu ini. Terimakasih untuk waktumu 2 Tahun terakhir ini. Aku bahagia pernah jadi pacar kamu. Semoga kamu bisa menemukan pria yang terbaik untukmu." ucap Roy lalu membuka kunci pintu mobilnya.
"Terimakasih Kak sudah mengantarku pulang." ucapnya dengan suara yang menahan tangis. Lalu Helsa turun dari mobil. Ditunggunya pria itu melajukan mobilnya berlalu dari pandangannya.
Helsa berlari masuk kedalam rumah dan terus ke kamarnya. Dikuncinya pintu kamarnya itu. Dijatuhkannya tubuhnya keatas tempat tidur dengan posisi telungkup. Dibenamkan wajahnya ke bantal sambil memukul-mukul tempat tidurnya.
"Helsa cuma bercanda Kak, kenapa kakak nganggepnya serius begitu. Aaaaa...." teriak sambil menangis dengan keras.
__ADS_1
"Kak Roy jahat, Aaaa–."
Helsa masih terus menangis sampai ia tertidur tanpa mengganti pakaiannya lebih dulu.