My Soulmate

My Soulmate
Pura-pura Pingsan


__ADS_3

Sebulan Kemudian


Acara Family Gathering yang akan diadakan perusahaan Liemasta Group itu pun akhirnya datang juga. Konsep pembuatan acaranya dibantu oleh Helsa akan diadakan di salah satu Hotel Liemasta Group yang berada di Puncak.


Selama 3 hari seluruh karyawan yang ikut acara itu segala akomodasi dan tempat menginap akan disediakan oleh perusahaan.


Perusahaan Liemasta Group selalu mengadakan acara Family gathering setiap Tahunnya. Dan acaranya pun tidak hanya saat Valentine saja, kadang saat momen perayaan malam tahun baru atau saat momen liburan anak sekolah. Ini merupakan serangkaian kegiatan yang diadakan oleh perusahaan dalam rangka mempererat hubungan antara karyawan dengan karyawan lainnya beserta seluruh keluarganya. Biasanya dalam kegiatan family gathering, karyawan yang telah berkeluarga akan turut serta mengajak anak dan istri atau suami mereka.


Malam itu Kalycha sedang berusaha membujuk suaminya untuk ikut ke acara Familly Gathering Perusahaan Daddynya itu.


"Ay–, kita ikut yah. Kan weekend Ay." Rengek Kalycha sambil menemani suaminya yang masih bergelut dengan berkas-berkas dan laptopnya.


"Kerjaan Mas numpuk Yank–, kalau kamu mau ikut Mas ga larang kamu pergi bareng Bunda dan si kembar. Biasanya acara begituan Daddy juga jarang datang. Mungkin pas penutupan aja atau pembukaan saja." Haidar yang tak lagi bekerja di perusahaan mertuanya itu pasti akan sulit menyesuaikan jadwal kerjanya. Apalagi dalam waktu dekat ini para pemegang saham dari perusahaan yang dipimpinnya itu akan mengadakan rapat terkait perkembangan perusahaan yang akan dibangun di luar negeri. "Lagian kamu tahu sendiri kan Yang, Mas lagi sibuk persiapan pembangunan Perusahaan di Bangkok nanti."


"Rapatnya kan masih minggu depan Ay–." Kalycha berbaring di paha suaminya itu sambil mencium perut Haidar yang seperti roti sobek yang masih terbungkus rapih dengan kaos tipis membuat Haidar jadi sulit konsentrasi.


"Tapi persiapannya kan banyak Yang–, ga bisa asal-asalan gitu Yang, bisa rugi nanti perusahaan." Kalycha menusuk-nusuk perut Haidar. "Geli Yang–" Haidar menahan tangan kanan Kalycha sementara tangan kirinya kembali menusuk-nusuk perutnya. Sementara sesuatu yang harusnya tertidur dengan nyenyak, nyaman dan tentram jadi terbangun karena ulah Istrinya itu.


"Mas ga asyik ahk, istri lagi pengen jalan-jalan. Mas-nya malah sibuk kerja terus. Ga peka banget sama kemauannya istri."


Haidar melihat Kalycha yang bangun dari pangkuannya lalu duduk disampingnya dengan wajah yang cemberut.


"Yang, kamu pergi bareng Bunda aja dulu yah. Nanti mas nyusul pas acara penutupan aja gimana?"


"Enggak, kalau mas ga pergi Icha juga males ikut." Kalycha melipat kedua tangannya didepan dadanya lalu memalingkan wajahnya.


"Mas lagi banyak kerja Yang. Nanti mas nyusul aja yah–."


"Oke Icha pergi sama Bunda, tapi sebagai hukumannya mas harus puasa selama sebulan." Kalycha beranjak dari tempat duduknya lalu naik ke tempat tidur ia menarik selimut menutupi seluruh badannya dan bersiap untuk tidur.


"Yang– kok gitu sih Yang." Haidar buru-buru mematikan Laptopnya ia tahu kalau istrinya itu sedang merajuk. Dan langsung menghampiri Kalycha yang bersembunyi di balik selimutnya.


"Hihihi, takut kan kalau udah diancem tuh kesejahteraannya si Juni. Dari tadi udah dibujukin baik-baik ga mau, giliran di ancem puasa baru takut." Kalycha cengengesan dibalik selimutnya membayangkan muka kesal suaminya.


"Yang–." Haidar menggoyang-goyang bahu Kalycha tapi Kalycha masih menutupi seluruh badannya.


"Yang, ayolah jangan gitu dong Yang, kasihan si Juni kalau puasa sampe sebulan Yang–."


"Ini aja dia udah bangun Yang, kangen katanya pengen masuk ke sarangnya Yang." Kini giliran Pria itu yang membujuk-bujuk istrinya.


"Iya-iya, besok kita ikut pergi ke puncak. Udah dong ngambeknya." Haidar pun mengibarkan bendera putih. Ia menyerah dan lebih memilih kemerdekaan si Juni.


"Serius?" Kalycha langsung menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. "Bener ya Ay–."


"Iya Sayang."


"Terpaksa deh bolos kerja demi kesejahteraan si Juni."


"Yuk Ay–?"


"Yuk kemana? Berangkatnya kan besok Yang–."


"Katanya si Juni kangen, Yaa Ayuk–."


Haidar tersenyum senang, tanpa menunggu lagi, Haidar langsung mengerjakan apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan untuk memenuhi kesejahteraan si Juni.


...💞 💞 💞 💞 💞...

__ADS_1


Keesokan harinya


Seluruh Karyawan yang akan ikut Acara Family gathering itu sudah berkumpul di loby perusahaan itu. Mereka akan berangkat jam 8 pagi. Keluarga Pram juga sudah hadir disana, hanya minus Oma Milah karena belakangan ini kondisi kesehatan Oma Milah kurang baik.


"Adek, ngapain kamu disini?" Haidar heran melihat Helsa juga berada disana.


"Jangan salah Kak, aku ini tamu undangan terhormat dari perusahaan ini." ucapnya dengan bangga. Haidar melihat kepada Pram Ayah mertuanya seolah ingin meminta jawaban dari Ayah mertuanya itu.


"Iya Dar, Helsa ini tamu undangan spesial dan dia sangat berkontribusi atas terselenggaranya acara ini. Kalau tidak dari ide-ide nya bisa boring acaranya nanti, monoton seperti tahun-tahun sebelumnya." jelas Pram.


"Emang sebagus apa sih ide-ide kamu itu?" Haidar bertanya kepada Helsa yang masih tersenyum bangga.


"Kakak liat aja nanti." ucap Helsa dengan sombongnya. Sementara Pram dan Nayla hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Kakak-adik yang jarang akur itu.


"Kalian mau ikut Daddy atau bawa mobil sendiri?" tanya Pram pada Kalycha dan Haidar.


"Sendiri aja Dad." sahut Haidar.


"Oke, ya udah itu rombongan udah mulai jalan. Sebaiknya kita berangkat sekarang." Pram menggandeng tangan Malven sementara Malvin bersama Nayla.


"Oya, Helsa ga ikut bus Rombongan? Atau mau ikut Om?" Kali ini Pram melihat Helsa yang masih berdiri ditempatnya.


"Dia tamu saya Tuan. Biar dia bareng saya saja." sahut Roy yang baru bergabung bersama mereka setelah mengarahkan para karyawan yang ikut dengan bus pariwisata itu.


"Cih, tamu saya. Ngaku Pacar aja sudah, ribet amat hidup lo." sindir Haidar tapi Pram dan Nayla hanya tersenyum saja. Kemudian mereka lebih dulu berjalan meninggalkan kedua pasangan yang bersahabat itu.


"Sirik aja Lo, Iri bilang bos–!!" cibir Roy sambil menarik tangan Helsa.


"Baek-baek bawa adek gue, awas lecet. Frozen KW lebih mahal dari yang asli..!!" seru Haidar setengah berteriak.


"Mas–." Kalycha menarik baju Haidar meminta suaminya itu untuk berhenti menggoda Helsa dan Roy. "Ga malu apa teriak-teriak begitu. Ga mencerminkan kalau Mas ini seorang pimpinan tahu."


"Tapi mas kan pernah bekerja diperusahaan Daddy juga Mas, dan sedikit banyaknya mereka pasti kenal sama Mas Hai." Kalycha berjalan mendahului Haidar, entah kenapa dia selalu aja dibuat kesal oleh suaminya itu.


"Ya ngambek lagi." gumam Haidar lalu mengejar istrinya.


Semua sudah naik mobil masing-masing, para karyawan yang memakai bus pariwisata pasti lebih menyenangkan bagi mereka karena disanalah keakraban mereka akan terjalin. Bukan hanya dari satu divisi saja tapi dari berbagai divisi ada yang ikut sebagai perwakilan. Tak jarang juga ada yang cinta lokasi saat diadakannya acara Family gathering.


Perjalanan ke puncak biasanya bisa ditempuh dalam waktu satu jam tapi saat ini mereka terkena macet sehingga hampir dua jam mereka baru sampai di hotel Liemasta Group.


Semua karyawan sudah dibagi kamar masing-masing oleh tim panitia pelaksana. Karena Helsa adalah salah satu tamu kehormatan maka dirinya mendapatkan kamar sendiri tidak bergabung dengan karyawan-karyawan perusahaan yang masih single.


"Eh, Nit Lo liat ga, tadi ada Pak Haidar? Dia ikut juga loh di acara ini." tanya salah satu karyawan yang bernama Anna kepada sahabatnya Anita yang dulu pernah menjadi sekretaris Haidar.


"Iya loh, makin ganteng aja ya dia–." sahut Dewi yang mendapatkan kamar yang sama dengan Ana dan Anita.


"Wajar lah beliau ikut, Pak Haidar kan menantu yang punya Perusahaan ini." sahut Anita. Dia masih sangat menghormati mantan atasannya itu.


"Maksud gue apa hati Lo baik-baik saja?" tanya Ana si gadis kepo yang suka mengurusi urusan orang lain.


Dia tahu kalau sahabatnya itu pernah menaruh hati pada Haidar.


"Apaan sih Lo An–, hati-hati Lo ngomong. Nanti kalau orang lain dengan terus salah paham gimana?" Anita memperingatkan sahabatnya yang bermulut ember itu.


Entah kenapa dia memiliki sahabat yang seperti Anna tapi meskipun begitu Anna orangnya sangat baik dan care kepada semua orang. Hanya saja kadang dia tidak bisa mengkondisikan mulutnya itu.


Acara makan siang sudah disediakan pihak hotel. Para karyawan pun sudah berkumpul, ada yang bersama keluarga keluarga mereka dan tentu saja semuanya berbaur.

__ADS_1


Acara makan siang bukanlah acara formal mereka bebas makan sepuasnya. Kalycha dan Haidar memilih makan dimeja yang sama bersama Pram dan juga Nayla. Sementara si kembar Malven dan Malvin sibuk bermain karena mereka sudah lebih dulu makan disuapi Nayla. Bukannya kedua putranya itu belum bisa makan sendiri tapi saat itu Malven dan Malvin merengek minta disuap Nayla karena mereka sudah kelaparan.


"Sayang, aku ke toilet dulu ya." Haidar berbisik ditelinga Kalycha karena merasa kurang sopan kalau bilang langsung didepan kedua mertuanya itu. Kalycha pun menganggukkan kepalanya.


Brryyyuuuuurrrr.


Seseorang terjatuh ke kolam renang.


"To-tolong... toloooonggg."


Saat berjalan menuju Toilet tiba tiba saja Haidar mendengar suara teriakan minta tolong. Dan ia melihat seorang wanita hampir tenggelam disana.


Brryyyuuuuurrrr


Tanpa berpikir panjang Haidar langsung menceburkan dirinya menolong orang yang sedang tenggelam itu.


Semua orang yang duduk disekitaran dekat kolam renang itu pun mendekat dan membantu Haidar mengangkat tubuh wanita itu keluar dari dalam kolam renang.


"Nita, Nit– Bangun!" Haidar menepuk-nepuk pipi wanita itu. Haidar baru tahu kalau yang ditolongnya itu adalah Anita mantan Sekretarisnya. "Anita, bangun Nit–!"


"Panggilkan dokter–." teriak Roy saat melihat Anita tidak sadarkan diri.


"Ngapain jauh-jauh, ada gue!" ucap Helsa yang berdiri disampingnya.


"Minggir Lo kak–." Haidar pun bergeser memberi tempat untuk Helsa.


Helsa memeriksa pernafasan Anita, kemudian dia memeriksa denyut nadinya. Helsa mengernyitkan dahinya karena semua terlihat sangat normal.


Semua orang melihatnya dan menunggu penjelasannya.


"Sial, nih cewek cuma pura-pura tenggelam? Apa dia sengaja ingin mencari perhatian orang lain? Tapi siapa?" Helsa melihat kearah Kakaknya yang basah kuyup karena habis menolongnya kemudian berganti menatap Roy yang terlihat sangat panik. "Apa mungkin dia mencari perhatian Kak Haidar? Atau Kak Roy?"


"Ada apa? Kenapa kamu diam aja Sa?" tanya Roy.


"Mas Hai kok basah?" Kalycha baru saja datang karena penasaran melihat keramaian ditepi kolam renang itu.


Raut wajahnya berubah. "Hah, ada yang tenggelam. Kak Helsa udah nolongin dia? Ada yang Icha bisa bantu Kak?"


"Hah? Gawat aku lupa kalau Kakak iparku ini juga seorang dokter. Tapu kenapa nih cewek ga bangun-bangun juga ya? Dia malu atau apa?" Helsa bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Ga ada Kak, seperti dia baik-baik saja. Mungkin hanya shock saja jadi dia ga sadar."


"Tolong ambilkan handuk untuknya." ucap Haidar entah tertuju pada siapa. Tapi pelayan hotel langsung bergerak mengambilnya.


"Kak Haidar peduli dengan nih cewek."


"Cepatlah nanti dia masuk angin!" seru Roy pada pelayan itu.


"Kak Roy pun peduli? Siapa cewek ini sebenarnya?"


Helsa semakin geram dan merasa semakin dipermainkan karena wanita itu tak juga mau bangun


"Bangunlah, gue tau Lo cuma pura-pura pingsan. Apa perlu gue suruh dokter lain yang meriksa Lo?" bisik Helsa ditelinga Anita.


"Sial, kok dia bisa tahu kalau gue cuma pura-pura pingsan?" Gerutu Anita dalam hati.


Author cuma mau bilang "Bagi Vote-nya dong!!!

__ADS_1


"Pliiiissss–." 🤗🙏


__ADS_2