
Sinar rembulan masih menampakkan diri, bunyi jam dinding terus berdetok menunjukan diri bahwa sekarang sudah pukul 22.03 malam. Dua insan itu masih sibuk berbincang-bincang mulai dari kejadian yang menimpa hingga keadaan diri yang marih terasa. Dania kala itu merasa sedikit nyaman saat berbincang dengan Zaid, iya dua insan itu semenjak ditinggal oleh Saidah usai makan malam sampai sekarang belum kunjung pergi untuk merehatkan badan.
Zaid tak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang dokter, ia memeriksa kaki yang dibalut kain perban untuk mengecek yang katanya masih terasa sakit. Luka itu masih basah bahkan darahnya masih ada, bergegas Zaid mulai membersihkan dan mengobati luka itu sampai ada sedikit pertentangan kala Zaid hendak memberikan tetesan obat iodin yang berfungsi supaya lukanya cepat kering tapi, Dania menolak itu karena wanita itu sangat membenci obat merah yang bernama iodin itu.
Sampai pada akhirnya, Zaid memilih mengerjai Dania dan Dania menyerah setelah Zaid berhasil mengerjainya. Saat iti, Zaid tidak meminta maaf justru tersenyum menanggapi itu karena sudah menjadi kebiasaan dirinya sebagai seorang dokter jika sedang menangani luka anak kecil.
Kini dua orang itu tengah menghabiskan waktunya setelah Zaid membersihkan dan mengobati luka Dania dan mengganti perban Dania dengan yang baru.
"Kenapa Mbak bisa terjatuh dari jurang?" tanya Zaid memecahkan hening.
"Bisa ngak sih jangan manggil aku dengan sebutan mbak, aku belum tua," jawab Dania.
"Hehe .. maaf, pokoknya jawab dulu pertanyaan aku."
"Aku dikejar oleh pria hidung belang bersama dua preman," jawab Dania jujur.
Mendengar itu, Zaid sedikit terkejut dan mencoba bersikap layaknya tidak terjadi apa-apa. "Kenapa?"
Dania menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan sedikit gusar. Ia menceritakan semua kronologis yang terjadi pada dirinya tidak ada satupun yang terlewati dalam penuturan kata, Zaid yang mendengar itu seketika perasaannya tak karuan seolah-olah ada yang menghasutnya untuk ikut campur dalam urusan itu bahkan Zaid pun terhipnotis akan kecantikan wajah Dania saat sedang bercerita.
"Kira-kira seperti itu, Dok," ujar Dania menunduk.
"Ya Allah, aku sebagai lelaki sangat malu jika para adam melakukan kejahatan," kata Zaid.
Dania menarik kedua sudut bibirnya menjadi sebuah lengkungan. "Tidak apa-apa, toh mereka yang melakukannya Dokter,'kan tidak terlibat."
Zaid menganggukan kepalanya kecil. "Boleh aku bertanya satu lagi?"
"Apa itu, Dok?"
"Sewaktu pulang, aku tak sengaja mendengarkan obrolan kamu dengan ibu. Kamu bilang kamu ingin mengabdi diri di sini sebagai guru, apa itu benar?"
"Dokter ngintip yah?" tanya balik Dania.
"Tidak, aku tak sengaja mendengarkan saja. Lagian yang aku tangkap suaranya itu pas kamu bilang bahwa kamu ingin mengabdikan diri di sini sebagai guru," jelas Zaid.
"Iya benar," jawab Dania.
"Tapi, sebelumnya apa kamu tahu jika —."
"Aku tahu, maka dari itu aku ingin mengabdikan diriku di sini sebagai guru tak peduli apa yang akan aku terima. Asalkan anak yang aku didik tumbuh menjadi insan yang bertaqwa dan bermoral," potong Dania cepat.
Zaid yang mendengar itu hanya menggaruk tenguknya yang tak gatal dan kembali lagi menatap Dania dengan senyum yang terus ada. "Kalau boleh tahu kenapa? Kenapa kamu bilang tidak peduli apa yang terjadi kedepannya asalkan anak yang kamu didik itu menjadi anak yang bertaqwa dan bermoral, kenapa kamu fokus sekali dengan itu?"
"Bukankah pendidikan itu gratis? Hanya saja jika ingin mendapatkannya harus dibayar dengan uang. Nah, di situ aku ingin merasakan bagaimana rasanya membagi tanpa mengharapkan imbalan. Seorang anak tumbuh dengan cara yang terdidik hingga mencapai cita-citanya bagiku itu merupakan suatu hadiah yang sangat berarti. Maka dari itu, aku tidak berharap apapun dari yang aku bagikan ini asalkan anak yang aku didik tumbuh dan berkembang menjadi insan yang semestinya," ujar Dania tersenyum.
"Ada satu hal yang membuatku belajar dari guru lain. Ketika guru lain mengharapkan imbalan entah itu gaji atau sejenisnya di sisi lain aku justru hanya mengharapkan keridhoan dan permaafan dari anak yang aku didik. Dua hal adalah sebuah kado yang begitu istimewa untukku, maka dari itu melihat desa ini aku ingin mengabdikan diriku sebagai seorang guru walau terbatas tapi, coba dulu kelak nanti akan menjadi bukit," lanjutnya dengan tatapnnya mengarah pada tembok dengan tulus dan penuh pengharapan. Pikirannya begitu tergiang-giang dan membayangkan cita-cita tingginya.
Zaid tersenyum kala mendengarkan perkataan Dania yang terdengar begitu tulus dan seperti rangkaian doa yang diagungkan. "Semoga niat baikmu Allah balas dengan yang lebih. Jika bisa, bolehkan aku ikut andil dengan kegiatanmu?"
__ADS_1
"Tidak usah, biarkan aku saja. Bukannya Dokter juga memiliki kesibukan?"
"Iya sih, tugasku di sini hanya memeriksa dari rumah kerumah supaya mereka sehat," jawab Zaid tersenyum.
"Kalau boleh tahu, kenapa Dokter ingin bekerja di sini? Bukankah seorang Dokter itu harus bekerja di rumah sakit dan di situlah Dokter harus mendapatkan imbalan sebagaimana Dokter menolong pasien," kata Dania hati-hati.
Zaid tersenyum mendengar perkataan itu. "Aku mengabdikan diriku sebagai dokter dengan niat tulusku untuk membantu dan menyelamatkan nyawa pasien tanpa mengharapkan imbalan lebih. Mereka sehat dan menampilkan senyum adalah rezeki liar biasa yang dikirim oleh Allah untukku."
"Kalau begitu kita sama-sama punya minpi yang sama," sahut Dania.
"Benar," jawab Zaid.
"Jadi, aku berharap aku bisa melakukannya besok," lirih Dania.
Kening Zaid bertemu mendengar itu. Kenapa?"
"Karena ibu Saidah belum mengizinkanku," lesu Dania menunduk.
Zaid mengangguk kecil. "Apa besok kamu punya waktu luang?"
"Menurut Dokter, apa aku seperti orang sibuk?"
"Tidak. Aku hanya ingin mengantarkanmu ke rumah sekalian meminta izin jika kamu ingin mengabdikan diri di sini." Senyum Zaid.
"Tidak, aku tidak ingin pulang!" tolak Kinan cepat. "Aku tidak ingin melihat raut wajah kecewa ummah dan babah," lanjutnya menunduk dengan tangan meremas kuat kain gamis.
"Kenapa?" kaget Zaid pura-pura. Sebenarnya Zaid sudah mengetahui semuanya, hanya saja dirinya harus pura-pura terkejut supaya Dania tidak curiga dan menjaga perasaan wanita yang ditolongnya itu.
Zaid menarik nafas panjang dan menghembuskannya. "Aku tidak bisa memberimu saran ataupun solusi, jika kamu tidak menceritakannya terlebih dahulu apa yang menyebabkan kedua orang tuamu kecewa."
Dania memutar bola matanya lengah, dengan beraninya dia menceritakan semuanya kepada Zaid sebagaimana Dania menceritakan semuanya saat bersama Saidah tidak ada satupun yang terkecuali bahkan nama Alvin pun Dania tak segan menyebutkan namanya. Raut wajah Zaid seketika berubah, akan tetapi dengan sigapnya menetralkan emosi. Cerita Dania begitu memilukan bahkan seperti seorang mendapatkan beban lebih besar dibanding yang lain. Cerita itu seharusnya sudah menepuh jalur hukum karena telah melakukan tindakan kekerasan dan lelaki itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal.
Kata demi kata terus saja terucap dari bibir Dania dengan mata yang berenbun bahkan air mata pun kembali lagi menetes untuk mengobati luka. Dengan sigapnya Zaid berkata, "hentikan." Yang membuat perkataan Dania seketika berhenti dan terdiam.
"Hentikan! Kamu itu korban dari kekerasan, kenapa kamu tidak lapor saja kepada pihak berwajib? Perbuatan itu harus mendapatkan ganjaran yang setimpal."
"Gimana caranya aku mengatakannya? Sementara keluargaku masih belum percaya, karena ada seseorang mengirimkan video itu. Demi Allah, aku tidak tahu apapun saat itu aku berada dibawah oengaruh alkohol," jelas Dania memperhatikan raut wajah merah padam.
"Aku akan membantumu, jadi ayo kita pulang aku akan mengantarkanmu dan membantumu untuk menjelaskan semuanya," lirih Zaid.
Dania seketik terdiam dan tak bersuara.
"Aku akan membantumu, Dania," ulang Zaid menatap yakin wanita di depannya. "Setelah itu, mari kita mengabdikan diri di sini kamu sebagai guru dan aku sebagai dokter. Aku tidak bisa mewujudkan mimpiku jika orang tua tidak meridhoiku, begitupun dengan dirimu. Sebab, kelancaran usaha itu terletak pada ridho orang tua, Dania."
Wajah Dania seketika menunduk tak bisa berkata lagi selain mencerna ucapan Zaid yang ada benarnya. "Jika tidak terjadi?"
"Maka kita akan melakukannya, walaupun mereka masih kecewa kepadamu."
"Baiklah, aku ikut," jawab Dania pelan.
__ADS_1
"Oke, besok kita pergi ke rumahmu," ajak Zaid tersenyum dan mendapatkan anggukan kecil dari Dania.
"Kita mempunyai satu mimpi yang sama, jika kita ingin mewujudkannya iringilah semua yang ingin kita wujudkan dengan doa orang tua. Aku tidak bisa melakukan apapun jika ibu tidak ridha, jika ibu masih belum ridha maka aku harus melakukannya sendiri dengan tekad yang yakin sebab seuatu saat nanti ibu akan ridha padaku."
"Usaha kita bagaikan melewati danau tanpa alat pengaman jika kita selalu egois dan mementingkan kebahagiaan diri tanpa melibatkan orang tua, maka dari itu mau sekeras apapun orang tua mereka tetaplah orang tua yang harus kita baktikan."
"Ceritamu bisa aku simpulkan, mereka tidak marah bahkan mereka tidak kecewa melainkan takut," jelas Zaid lagi dan lagi.
"Takut?"
"Benar, jika tak percaya dengan ucapanku kamu bisa menemuinya besok bersamaku," ajak Zaid.
"Baiklah," terima Dania.
"Oh iya, sudah malam. Selamat beristirahat," ucap Zaid bangkit dari tempat duduknya dan memasuki kamar yang tempatnya bersebelahan dengan kamar Saidah.
Dania hanya tersenyum dan memperhatikan punggung Zaid yang mulai menghilang diiringi bunyi degup jantung tak karuan. "Kenapa ini?" tanya Dania sembari menyentuh letak jantung berada dan tersenyum.
•••••••••••••••••••••
"Aaaaaaassswww!" Ringis Kinan meremas bantal yang disandarinya menahan sakit. "Pelan-pelan dong!"
"Ini aku sudah pelan-pelan, tahan aja," jelas Fahad mengikuti arahan Kinan untuk pelan-pelan.
"Jangan ditekan gitu, itu sakit," rengek Kinan.
"Aku enggak menekan, aku cuman ditepuk-tepuk. Tahan aja, sedikit lagi," sahut Fahad konsentrasi.
Beberapa detik berlalu ...
"Nah, sudah," ujar Fahad sembari membereskan sesuatu dan memasukannya kedalam.
"Pelan-pelan kek, obatinnya! Ini masih sakit dan perih," ringis Kinan matanya hampir mengeluarkan air mata.
Fahad menarik nafas panjang dan menghembuskannya. "Terus aku harus gimana, kan mengobati luka itu harus sekalian ditepuk-tepuk pake kapas biar tetesan iodinnya keluar."
"Minimal kasih tiup kek atau apalah, ini rasanya masih perih," rengek Kinan.
"Ya Allah, kalau aku tiup nanti virusnya masuk," kata Fahad menarik tubuh Kinan untuk didekap.
"Hiks ... hiks ... hiks ...."
"Sudah dong, maafkan aku yah. Sebagai gantinya, besok kita kerumah ummah gimana?" tawar Fahad.
Kedua insan itu menghabiskan menit tadi untuk mengobati luka Kinan yang sebentar lagi mengering luka jahit bagian perutnya. Mendengar itu, Kinan seketika menghentikan tangisnya dan matanya berbinar. "Benarkah itu?" Fahad mengangguk sebagai jawabannya dan tersenyum gemas sembari kedua tangannya mencubit pipi Kinan.
"Iya, jadi cepat tidur," kata Fahad memanjakan Kinan. Tak mau buang waktu, Fahad mengendong Kinan ala bridal style dan merebahkan tubuh Kinan di atas kasur tak lupa juga menutup tubuh Kinan dengan selimut juga ciuman kening seperti biasa. Perlahan-lahan dua insan mulai pergi ke alam mimpi.
•••••○○○•••••
__ADS_1
Terima kasih yang sudah membaca, semoga hari-hari yang kita lalui penuh kebaikan dan bahagia🤗🤗❤
•••••○○○•••••