
Setiap detik terus berjalan, tidak bisa berhenti kecuali jarum jam jika baterainya habis. Kini matahari yang tadinya betah menyinari bumi dengan panasnya, kini cuaca kota Jakarta mulai memasuki waktu swastamita. Kumandang adzan ashar pun telah usai, keluarga besar Abhipraya sudah mengabari Fahad dan Kinan perihal tunangan Alsaki dengan Hafsah dan mendapatkan jawaban akan menyusul ke sana setelah kegiatan belajar Kinan usai.
Jantung berdegup kencang mengisi suasana hening dalam mobil Alsaki yang ia tumpangi bersama kedua orang tuanya. Tidak ada hantaran, semuanya dilakukan secara mendadak. Yah, begitulah takdir kehidupan mempertemukan dua insan dengan cara yang unik.
Rumah berserba minimalis namun elegan tepat di depan mata, keluarga Abhipraya segera keluar dari mobil dan mengetuk pintu kediaman Hafsah. Pintu pun terbuka lebar, menampilkan sosok wanita berjilbab panjang yang tak lain adalah Fatimah.
"Oh, keluarga Alsaki sudah datang. Silahkan masuk," kata Fatimah tak lupa menampilkan senyumnya seolah-olah menyembunyikan luka, tapi yah sudahlah.
"Terima kasih," terima Harsa segera menyalimi tangan wanita yang akan menjadi besannya itu, tak lupa juga mencium pipi kanan dan kirinya.
Dua keluarga besar berkumpul di ruangan yang sama, bibir dari mereka terus mengeluarkan suara. Berbincang, bercerita, hingga berbagi seakan mempererat tali silahturahmi. Alsaki tidak banyak bicara, hatinya masih teriris sakit kala mengingat kejadian masa lalu. Padahal Alsaki sudah berjanji pada diri sendiri untuk melupakan masa lalu, dan fokus masa depan yang akan terjalin dengan Hafsah tanpa harus memikirkan masa itu. Mengandung yang bukan darah dagingnya mungkin kebanyakan dari mereka akan menolaknya, begitupun dengan Alsaki. Akan tetapi, ego yang tinggi dan rasa tanggung jawab membuat Alsaki akan menikahi Hafsah dan menganggap anak itu adalah anaknya.
Avan adalah orang yang membuat Hafsah menderita, mengingat namanya saja Alsaki sudah muak bahkan sudah menutup pintu maaf sepenuhnya. Otaknya terus tergiang-giang petarungan di dalam apartemen Avan hingga tubuh tegap lelaki itu tersungkur ke lantai dengan wajah berlebam dan penuh dengan darah. Pukulan itu belum sepenuhnya terbayar lunas, tapi Alsaki yang begitu paham terhadap agama dendam itu sangat sakit.
"Maaf, kami terlambat," ucap lelaki dari balik ambang pintu membawa wanita dengan gamis yang senada dengannya, siapa lagi kalau bukan Fahad dan Kinan.
Semua mata tertuju pada arah suara, Fatimah dan Budi yang mendengar itu hanya tersenyum dan sedikit heran. Pasalnya, Fatimah dan Budi belum mengetahui status Fahad sekarang. "Masuklah, Nak."
"Oh iya, itu siapa?" tanya Rizki memecahkan hening setelah kata-katanya dihabiskan untuk berbincang dengan keluarga Abhipraya.
"Oh iya, aku belum ngasih tahu ke kalian. Ini Kinan putri dari Ayah Ibha dan adik dari Alsaki, dia adalah istriku. Aku menikahinya sebulan yang lalu," jawab Fahad sembari mendudukan bokongnya di dekat Kinan yang duduknya berdekatan dengan Harsa setelah menyalimi tangan sang paman dengan penuh takzim.
Mendengar itu kelurga Budi terkejut dan saling melempar pandang ke arahnya. "Kenapa kamu enggak undang kami?"
"Kau pikir kami orang asing?" cibir Rizki menatap tajam Alsaki
"Maaf, habisnya kami menikah mendadak jadi wajar lah kalau kalian tidak dikasih tahu. Lagian tamu undangannya cuman 40 orang enggak lebih," jawab Fahad.
"Yah, sama aja kamu enggak anggap kami sebagai keluarga!" protes Rizki tak terima.
Suasana keluarga Budi seketika menjadi hidup kembali dengan kedatangan Fahad dan Kinan, mulai saling mencibir hingga ucapan selamat atas pernikahannya terus terlontar. Suasana itu seketika berubah menjadi, tali yang sangat erat bahkan menjadi kedamaian.
Kurang lebih dua puluh lima menit dua keluarga besar menghabiskan waktunya dengan berbincang, bercanda, hingga bercerita. Akhirnya waktunya pun tiba, setelah mendengar suara mobil milik Hasan memasuki perkarangan rumah dan seketika rumah itu menjadi hening dan memasuki kalimat khidmat.
"Baiklah, karena saya sudah datang jadi apa tujuannya?" tanya Hasan menoleh pada Alsaki.
"Tujuan kami kesini untuk melamar putri anda," jawab Alsaki.
"Dengan senang hati, saya menerima. Akan tetapi, saya harus menyerahkan itu kepada putri saya," terang Budi dan mengode kepada Fatimah agar Hafsah turun dari kamar pribadinya.
__ADS_1
Fatimah berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Hafsah yang letaknya bersebrangan dengan kamar Rizki, pintu pun diketuk dan menampilkan wanita anggun dengan gamis berwarna soft. Wajah Hafsah menunduk, memeras kain gamis yang ia pakai. Entah kenapa, semenjak kehadiran bibit Hafsah belum sepenuhnya menerima seolah-olah ingin melakukan hal kejam untuknya bahkan semenjak Hafsah mengagumi Alsaki dalam diam semua rasa itu pergi dengan sendirinya.
Menatap Fatimah yang mengenggam erat tangan dinginnya, membuat Hafsah menggeleng lemah. "Aku tidak pantas mendapatkannya."
"Dia lelaki baik untukmu, Nak. Percayalah," ujar Fatimah menyakini hati putri bungsunya.
Tangan dingin itu seketika berubah menjadi sedikit hangat, tapi tidak berlaku dengan wajahnya. Air matanya terus menetes dengan sendirinya. 'Andai saja ...,' batin Hafsah tak mampu berkata saat Fatimah membantunya berdiri agar keluar dari kamar menuju ruangan utama.
Ruang utama yang diisi oleh tiga keluarga besar seketika menoleh menangkap sumber suara, yah mereka menatap Hafsah dan Fatimah. Seulas senyum tergambar di bibir Alsaki, seolah-olah melupakan kejadian buruk yang menimpa Hafsah. Rasa cinta mengalahkan rasa kecewa begitulah jika seorang yang hatinya penuh ketulusan untuk menerima segala kekurangan. 'Bantulah aku Ya Rabb,' batin Alsaki sembari memejamkan mata saat melihat Hafsah dengan wajah tunduknya yang kini sudah mendudukan pantatnya di samping Budi.
"Nak, ada Alsaki beliau kemari dengan tujuan ingin meminangmu. Bagaimana denganmu, apa kamu menerimanya?" tanya Budi menatap wajah Hafsah dengan tatapan penuh pengharapan.
Tidak ada jawaban yang terlontar dari muluf Hafsah, anggukan kepala yang melemah itulah sebagai jawabannya. Fatimah, Budi, dan Rizki hanya tersenyum menanggapi itu yang menandakan bahwa Hafsah menerima lamaran Alsaki. Hati yang selalu mengagumi dalam diam seketika merasa bimbang dan gundah, antara senang dan marah. Senang karena cintanya yang selama ini Hafsah pendam akhirnya terlaksana juga, dan marah karena kesuciannya ternoda.
"Sepertinya dia menerimanya," jelas Hasan dan terkekeh menggoda.
"Alhamdulillah," ucap keluarga serempak kecuali Alsaki.
Setelah Hafsah menerima lamaran Alsaki, akhirnya keluarga mulai melangsungkan pertunangannya dan berencana besok adalah hari akadnya. Usai pertunangan kedua insan, dua keluarga berencana menginap di kediaman Budi. Para makhluk berjilbab melanjutkan aktifitasnya seperti biasa sedangkan Hafsah memilih merehatkan badannya di kamar pribadinya. Sedangkan para lelaki sibuk berghibah, membicarakan perusahaan hingga membicarakan kekonyolan para istrinya, tentu saja Fahad juga tak lupa.
Sementara di kamar Hafsah, tatapannya kosong menghadap langit-langit kamar. Pikirannya tergiang-giang dengan wajah seorang lelaki hingga suara-suara aneh yang membuat netra Hafsah membulat sempurna. Pupil membesar hingga degup jantung beradu kencang, tubuhnya bergetar hebat padahal Hafsah selalu melakukan meditasi untuk melupakan kejadian menjijikan itu. Nyatanya, setelah benih tumbuh dalam rahimnya membuat jiwa Hafsah menjadi rentan terluka.
Prang!
Sebuah benda terjatuh akibat Hafsah tak bisa mengontrol dirinya, lampu kamar yang digunakan untuk tidur seketika menjadi pecah. Mengambil kepingan pecahan itu, tanpa sadar tangan Hafsah mengeluarkan darah segar. "Pergi!!" teriak Hafsah dilanda ketakutan.
Alsaki yang hendak masuk kedalam kamar Rizki seketika dikejutkan dari kamar Hafsah yang letaknya bersebelahan, suara ketakutan yang berasal dari Hafsah membuat Alsaki segera membukakan pintu kamar Hafsah. Nyatanya, pintu itu terkunci dari dalam. "Hafsah? Apa yang terjadi?" teriak Alsaki berhasil membuat seisi ruangan mendengarnya.
"Pergi!" teriak Hafsah lagi dengan badan bergetar hebat belum lagi dengan pupil mata yang terus menerus membesar. "Aku bilang pergi, bajin*gan!"
"Hafsah! Buka pintunya!" teriak Alsaki panik dan segera mendobrak pintu kamar, akan tetapi pintu kamar itu belum kunjung terbuka.
Para keluarga segera menghampiri Alsaki yang dilanda dengan kepanikan akan tetapi Alsaki tidak peduli dengan kedatangan itu. Pikirannya dilanda ketakutan perihal Hafsah yang terus berteriak, membuatnya syok saat mendengar suara teriak ketakutan Hafsah dari dalam kamar.
"Bu, punya kunci candangan?" tanya Rizki dan mendapatkan gelengan darinya.
Alsaki terus mendobrak pintu kamar Hafsah tanpa memperdulikan yang disekitarnya, hatinya begitu sedih dan sakit. Entah sudah berapa kali Alsaki mendobrak pintu kamar Hafsah.
Brak!
__ADS_1
"Hafsah!!" teriak Alsaki setelah berhasil membuka pintu.
Para keluarga yang melihat itu seketika terkejut, Fatimah dan Budi syok atas apa yang terjadi dengan putrinya. Ada banyak darah bersimbah di lantai, tubuh Hafsah tak sadarkan diri. Tangannya penuh dengan luka, serpihan kaca lampu berantakan di mana-mana. Fatimah hanya menarik nafas dan menormalkan suasana, sudah tau Hafsah yang keras kepala tak mau pergi ke pusat terapi untuk menghilangkan rasa trauma.
Alsaki hanya diam mematung, wajahnya menatap sendu melihat wajah Hafsah pucat pasi dengan mata sembab yang tak kunjung mengering. Semua keluarga yang menyaksikan itu merasa iba dengan kondisi kesehatan Hafsah, Harsa yang dulunya merupakan seorang perawat yang kini menjadi ibu rumah tangga tak segan memberikan perawatan untuk Hafsah. Mengobati telapak tangan hany bersimbah darah akibat memegang serpihan kaca yang digunakan untuk menyelamatkan diri dari rasa trauma, membuka kelopak mata Hafsah yang masih terpejam. Pupil mata belum kunjung kembali ke normal membuat Harsa menatap Alsaki dengan pengharapan yang tinggi.
"Sepertinya dia trauma, aku harap dia bisa kembali ke situasi normal sebab itu bisa membahayakan janin yang dikandungnya," jelas Harsa.
Iya, keluarga sudah mengetahui bahwa Hafsah adalah korban sehingga dirinya mengandung entah anak siapa. Akan tetapi, keluarga tidak menyalahkan Hafsah justru menerima. Takdir itu begitu unik saat ada jawabannya, Kinan menunduk dan mengeratkan gengamannya dengan Fahad, Fahad yang merasakan itu hanya tersenyum seakan mengetahui keadaan istrinya.
"Mari kita keluar, biarkan dia istirahat," kata Harsa segera bangkit dari tempat duduknya setelah mengelus kepala Hafsah yang dibalut dengan jilbab. Para keluarga segera keluar setelah Harsa memberikan perintah, kecuali Alsaki.
"Kamu tidak keluar?" tanya Budi.
"Tidak, Ayah," jawab Alsaki menunduk.
"Baiklah," sahut Budi dan meninggalkan ruangan Hafsah.
"Sayang, ayok kita keluar," kata Fahad menarik Kinan dan mendapatkan anggukan darinya.
"Rasa traumanya sangat tinggi, Al. Aku harap kamu bisa sabar dan menerima Hafsah, aku percayakan semuanya padamu," ucap Rizki dan menepuk bahu Alsaki.
Setelah keluarganya meninggalkan, kini yang tersisa hanyalah Alsaki dan Hafsah yang tengah berbaring di ranjang kamar. Langkahnya terasa berat seakan batu besar menghujamnya, tatapan penyesalan terlintas dibenaknya. Dada berkembang kempis saat hendak menghampiri Hafsah, mendudukan pantatnya di dekat Hafsah sehingga tubuhnya saling berhadapan.
"Seberat itukah kamu menanggung semuanya sampai rasa traumamu membuatku merasa takut yang hebat, jika bisa aku ingin waktu itu terulang lagi aku ingin segera menghalalkanmu saat aku keluar dari pesantren," lirih Alsaki dengan wajah menunduk.
"Hafsah, aku mohon ... maafkan aku, dan percayalah aku akan membuatmu kembali lagi ceria seperti kamu ceria kepada yang lain," lirih Alsaki lagi dengan tangannya mengenggam tangan Hafsah, iya tangan itu terasa dingin.
••••••••••••••••••••••••••
"Apa maksud, Papah? Aku dijodohkan dengan teman Papah?" tanya wanita yang baru saja pulang dari dinas, ia tak sengaja mendengarkan obrolan keluarga besarnya.
"Raisa kamu sudah pulang?" Wanita berusia sekitar empat puluh tahunan menghampiri wanita yang dimaksud itu yang tak lain adalah Raisa.
"Iya, papah akan menjodohkan kamu dengan teman bisnis papah," jelasnya santai.
Raisa seketika tak mampu berkata. "Tapi, Pah ... aku punya seorang yang sangat aku cintai. Jika bisa, jangan sama aku, Pah. Aku tidak mau," tolak Raisa halus.
"Tidak ada penolakan dan ini sudah menjadi kesepakatan!" tegas lelaki itu.
__ADS_1
Raisa bergeming tak bisa berkata-kata lagi, karena keputusan sang papah sudah menjadi bulat yang atrinya tidak bisa ditawar lagi. 'Maafkan aku, Rizki,' batin Raisa.