
Haidar POV
Dia Istriku, gadis yang dulu hampir membuatku dipecat dari pekerjaanku. Gadis menyebalkan yang tingkahnya sangat kekanakan dimana dulu dia berteriak padaku karena kesalahannya sendiri.
Tak pernah terpikir olehku bahwa dia adalah gadis yang Tuhan pilihkan untukku. Dia makmum kecilku. Dan aku akan selalu menjaganya. Sempat emosi mendengarnya mengucapkan kata Cerai tapi aku tahu dia marah juga karena kesalahan ku.
Saat aku menarik tangannya, aku baru sadar kalau tangannya sedang sakit. Ah betapa bodohnya aku. Padahal Ayah mertuaku sudah mengatakannya padaku.
"Tangan kamu kenapa?" Aku yang emosi melihat tangannya bengkak begitu membuat hatiku perih. Kenapa bisa tangannya sampai bengkak begitu?
"Aku ga apa-apa." Dia yang masih kesal padaku menghempaskan tangannya dan pergi meninggalkan ku.
Aku mengejarnya, aku semakin kesal padanya tapi aku harus meredam emosiku. Ku lihat dia sudah berdiri ditepi jalan. Sepertinya ingin memanggil taksi, tapi anehnya dia kembali mundur dan berjongkok didekat tempat aku memarkirkan mobil.
"Kamu kenapa?" Aku melembutkan suaraku, mencoba untuk bersabar menghadapi sikapnya yang memang masih labil.
"Aku ga apa-apa." jawabnya ketus sambil menghapus airmatanya.
"Terus kenapa jongkok disitu? Pindah gih udah penuh tuh." Ku coba membuat lelucon receh untuk membuatnya berhenti menangis.
"Apanya yang penuh?" Eh dia malah ga ngerti. Besar dimana sih nih bocah? Di Jerman ga ada kali ya lelucon kayak begitu. Jadi terasa garing lelucon yang ku buat.
"Tuh E-eknya udah penuh. Pindah gih." jawabku sambil melirik bagian bawahnya.
"Aku tuh ga E-ek tau." Dia masih saja menangis.
"Terus ngapain jongkok disitu bukannya tadi mau cari taksi?" aku sengaja menyindirnya.
"Iya–." jawabnya lirih.
"Terus kenapa ga jadi?" Dia menatapku tajam seperti ingin menelanku hidup-hidup. Kulihat linangan airmatanya masih menggenang dipelupuk matanya dan itu membuat hatiku sakit.
"Baru ingat kalau aku ga punya duit. Ha..a..a–." Eh dia malah menangis semakin kencang.
Aku meraih bahunya pelan membantunya untuk berdiri, saat tersentuh bahu kanannya dia meringis menahan sakit. Ku peluk dia untuk menenangkannya.
"Maaf aku ga tahu kalau tangan kamu beneran sakit. Tadi Daddy memang bilang tangan kamu sakit makanya kamu minta Daddy untuk menjemputmu." Dia masih saja menangis dalam pelukanku. "Tadi aku sempat emosi karena yang ku pikir tanganmu baik-baik saja. Itu karena kesalahanku ga melihatnya dengan teliti. Maaf ya." Dia hanya menganggukkan kepalanya menarik dasiku untuk menghapus airmatanya dan melapkan ingusnya di kemeja dan Jasku. Iiih jorok sekali istriku ini. Tapi aku membiarkannya tidak ingin membuatnya tambah menangis.
"Icha juga minta maaf, Icha ga tahu kalau nelpon Daddy itu salah." Dia sudah mengakui kesalahannya.
"Kamu ga salah kalau nelpon Daddy untuk menanyakan kabarnya, tapi jika terjadi sesuatu denganmu, telponlah aku dulu. Aku suamimu dan kamu itu istriku dan kamu juga tanggung jawabku sekarang." Sepertinya kalau ngomong dengannya harus dilembutin baru dia mengerti.
"Tadi aku takut ganggu kamu makanya aku telpon Daddy."
"Daddy itu lagi mimpin rapat tadi, makanya Daddy minta aku yang jemput kamu. Dan itu yang buat aku marah. Kenapa kamu harus nelpon Daddy bukan aku."
"Maaf–." lirihnya.
Aku melonggarkan pelukanku, lalu ku buka pintu mobil untuknya. Dan ku dudukkan dia disana. Ku pegang tangannya lembut.
"Sekarang kamu ceritakan kenapa tanganmu bisa bengkak begini?"
"Ga sengaja kebentur tembok tadi?"
"Icha, jangan bohong, ga sengaja kenapa bisa bengkak begini?" Aku yakin dia sedang berbohong karena terlihat jelas dimatanya ada yang disembunyikannya dariku.
"Kalau Icha cerita, Janji ya sayang ga marah–." dia mencoba merayuku dengan memanggilku sayang.
"Tergantung–." aku tersenyum sinis padanya.
"Ya udah ga jadi cerita deh." dia manyun dengan memonyongkan bibirnya kedepan.
__ADS_1
"Iiihhh, jadi pengen nyium." aku menarik lembut bibirnya.
"Apaan sih Kak, mesum banget." Yah kembali lagi dia manggil aku Kakak.
"Panggil Mas aja deh, itu lebih enak didengar dari pada kamu panggil aku Kakak. Berasa Elsa yang manggil kalau di panggil Kakak sama kamu."
"Iya–." ucapnya pelan. "Katanya ga mau samaan sama Bunda." gumamnya pelan tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Lebih baik samaan sama Bunda dari pada samaan sama Elsa. Kalau kamu manggil aku Kakak, sama seperti Elsa manggil aku. Aku jadi ga bisa ngelakuin ini–." Kuangkat dagunya dan langsung mencium bibirnya lembut.
"Kakak apaan sih–, ini tempat umum loh."
"Berada dosa Cha, kalau kamu panggil aku Kakak." Aku memang tidak suka kalau dipanggil Kakak. Dulu waktu pacaran sama Inez dia manggil aku Anaz jadi kalau dipanggil kakak terasa ada yang menggelitik ditelingaku.
"Maaf, lupa Mas. Kan baru dua hari kita nikah. Pacaran juga enggak. Ya wajarlah aku masih sering lupa." Benar juga apa yang dia katakan aku ga boleh terlalu memaksanya.
"Iya, tapi kalau hanya kita berdua saja kamu tetap harus panggil sayang."
"Iya–." jawabnya lirih.
"Sekarang katakan tangan kamu kenapa?" Kembali ke topik awal.
"Tadi temen aku ga sengaja narik tangan aku kenceng banget." lirihnya pelan.
"Kok bisa?"
"Kan ga sengaja Mas–."
Aku mencium bibirnya lagi. Sepertinya aku sudah kecanduan bibirnya. Dia pun tak menolak lagi saat aku menciumnya. Dan kesalahanku sendiri yang selalu ingin menciumnya membuat yang tak seharusnya bangun jadi bangun.
"Kenapa dicium lagi kan manggilnya udah bener." dia kesal tapi mau saat di cium.
"Abis kamu ngegemesin." Kulihat merah merona pipinya yang putih.
"Udah dong Mas."
Aku menciumnya lagi. "Panggil aku sayang."
"Iya-iya. Udah ya Sayang–." terpaksa tapi aku suka.
...💗💗💗...
Kalycha POV
Aku tak menyadari kalau ternyata menelpon Daddy itu adalah keputusan yang salah. Aku lupa kalau saat ini aku adalah tanggung jawabnya. Karena sekarang aku adalah Istrinya.
Tadi dia begitu marah tapi sekarang dia sudah tak marah lagi. Hanya saja kenapa dia jadi sering menciumku dan kenapa sekarang aku tak menolak lagi saat dia menciumku.
Yaa buat apa aku menolaknya itu adalah hak nya. Tapi aku paling kesal kalau dia udah mulai memaksaku untuk memanggilnya sayang. Masih sulit untukku apalagi pernikahan kami bukanlah pernikahan yang didasari saling mencintai.
Tapi aku merasa senang atas perhatian-perhatiannya. Seperti tadi dia bermaksud untuk membuat lelucon untukku tapi aku ga ngeh. Eeh bodohnya aku. Aku malah geli sendiri kalau mengingat itu. Entah kenapa kalau untuk yang begituan otakku cetek.
Sekarang dia membawaku kerumah sakit. Dan setelah diperiksa oleh dokter benar saja tanganku terkilir.
"Tangan nona Kalycha keseleo atau terkilir dan saya sudah membebatnya dengan menggunakan elastis perban saja. Sebaiknya sepulang dari sini, kompres tangannya dengan es selama 20 menit, bisa dilakukan beberapa kali sehari. Itu dapat membantu meredakan pembengkakan di tangannya. Hindari untuk menempelkan es batu secara langsung ke kulitnya." dokter Anita menjelaskan begitu detail.
"Dan bisa juga menggunakan splint untuk menjaga agar tangan tidak banyak bergerak, kemudian dilanjutkan dengan latihan gerakan ringan untuk mencegah kakunya persendian ditangan kamu." jelasnya lagi.
"Ini sudah saya balut dengan elastis perban, nanti Tuan silahkan beli splint nya di luar. Supaya tidak terlalu banyak gerak sebaiknya memakai alat penyangga tangan seperti ini saja karena sakitnya ini sampai kebahunya. Dan ini resep obat penghilang rasa nyerinya. Silahkan tebus di apotik." Dokter cantik itupun tersenyum padanya. Entah apa maksud senyumannya tapi aku membiarkannya.
"Terimakasih dok–." Dia mengambil resep obat dari tangan dokter Anita lalu membantuku turun dari tempat tidur periksa pasien itu.
__ADS_1
Aku sangat mengagumi kepintaran dokter Anita. Aku ingin seperti dia, cita-cita yang entah bisa atau tidak ku raih nanti. Sepertinya itu hanya tinggal mimpi saja.
Author POV
Sepulangnya dari rumah sakit Haidar langsung membawa Kalycha pulang kerumahnya. Halimah begitu terkejut melihat tangan Kalycha yang dibalut dengan perban dan harus memakai penyangga tangan ditangannya.
"Tangan kamu kenapa sayang?"
"Keseleo Bu–, pas olahraga tadi." Kali ini Haidar yang berbohong kepada Ibunya. Dia langsung masuk ke kamar mereka karena sudah setengah jam dirinya menahan rasa ingin buang air.
"Kamu hati-hati dong sayang." Halimah begitu khawatir kepada menantunya itu.
"Iya Bu, maaf kalau Icha udah buat Ibu khawatir."
"Ya sudah, kamu ganti baju nanti Ibu siapkan makan siang ya. Kamu belum makan kan?"
"Belum Bu–. Icha ke kamar dulu ya Bu." Kalycha menaiki anak tangga menuju kamarnya yang dilantai dua. Tepatnya kamar suaminya saat lajang dulu.
Kalycha tidak melihat keberadaan suaminya. "Kemana Mas Haidar ya?" Kalycha merasa lega saat mendengar suara air dari dalam kamar mandi.
"Terimakasih ya Mas udah bantu jawab. Maaf udah buat mas harus berbohong sama Ibu." ucapnya saat melihat suaminya itu keluar dari kamar mandi.
"Ga apa-apa. Lagian masa kamu bilang kalau tangan mu sakit karena tarik-tarikan sama temanmu. Oya yang narik tanganmu itu cewek atau cowok?" tanya Haidar sambil membuka jas kerjanya.
Deg.
"Gimana ini? Apa aku harus bohong sama sama dia? Nanti kalau dia marah lagi kalau tahu aku bohong. Tapi kalau jujur–."
"Cowok sayang." Kalycha memilih untuk jujur pada suaminya.
"Apa? Cowok? Siapa?"
"Tuh kan marah, iih nyebelin. Kenapa dia jadi posesif gini sih."
"Kan tadi Icha udah bilang kalau dia ga sengaja." sahutnya lirih sambil menatap wajah suaminya itu.
"Iya tapi aku cuma mau tahu siapa?"
"Alvin. Jangan marahin dia ya sayang." pintanya pada Haidar.
"Cium dong biar aku ga marah."
"Dari tadi ciam-cium mulu." gerutunya pelan.
"Mau ga? Kalau enggak nanti aku cari cowok yang namanya Alvin itu ke kesekohan kamu." ancam Haidar dengan seringai senyum liciknya.
"Iya-iya nih di cium." Kalycha berjinjit mencium bibir suaminya itu. Dengan cepat tangan Haidar menarik pinggangnya menghapus jarak diantara mereka.
"Sayang ini makan si–."
Halimah yang membawa makan siang untuk menantunya itu tak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat sepasang suami-istri itu sedang berciuman mesra. Dan sontak membuat pasangan pengantin baru itupun terkejut dan merasa malu. Apalagi Kalycha yang merasa sangat malu karena tertangkap basah oleh Ibu mertuanya yang melihatnya sedang berciuman dengan suaminya.
Halimah bukannya pergi malah masuk ke kamar pengantin baru itu. "Lain kali kalau mau buat mesum ditutup dulu pintunya." ujar Halimah lalu meletakkan makanan yang dibawanya diatas meja yang ada dikamar putranya itu.
"Iya maaf Bu–, Ibu keluar yah." Haidar memegang bahu Ibunya dan membawanya keluar kamarnya.
"Cepetan buat cucu buat Ibu ya." teriak Halimah dari luar kamar membuat pasutri baru itu saling memandang.
"Kenapa dia menatapku begitu? Apa dia mau menuruti permintaan Ibunya? Aku belum siap Mas–."
Sekian dulu ya My Readers 🤗
__ADS_1
Kita next besok ya😍
Fans Haika mana nih Like dan Votenya 🤔