My Soulmate

My Soulmate
Bencana Kinan


__ADS_3

Tidak ada yang tahu, kejadian yang akan menimpa setiap insan. Semua takdir berjalan sesuai dengan Sekranio-Nya. Tidak ada satu insan yang bisa mengubah takdir sesuai dengan keinginannya kecuali jika Allah berfirman "Kun fayakun" maka terjadilah. Tugas kita di dunia hanyalah satu, ibadah sesuai dengan kodrat-Nya. Supaya ketika musibah menimpa ia sudah siap dengan semuanya.


"Assalamualaikum warohmatullah," ucap Kinan dengan kepalanya menengok ke arah kanan, lalu diakhiri menengok ke arah kiri. Terakhir mengusap wajah sebagai tertib dari rukun ibadah, mengangkat langit dan bermunajat dengan hati yang tulus dan ridha. Kinan selalu mengakhiri doanya dengan menyelipkan nama Fahad, seolah-olah meminta agar Allah mempermudah urusan semuanya.


Berkat perjodohan oleh kedua orang tua, akan tetapi siapa sangka Allah memiliki rencana indah dibalik bencinya Kinan menerima. Fahad yang Kinan kenal adalah seorang guru matematika yang sangat dingin bahkan lebih dingin, ruoanya semua itu salah Fahad adalah seorang lelaki, guru, suami, sahabat yang penuh dengan rasa empati yang tinggi. Maka dari itu, Kinan tak pernah berhenti mengucapkan doa yang baik dan tulus untuk suaminya.


Setelah puas berdoa, ia mengusap kembali wajah yang penuh dengan linangan air mata. Bangkit dari tempat sembahyang, melipat mukena dan tak lupa juga Kinan mengenakan jilbab yang menutup dada. Semuanya berhasil Kinan lakukan dan kembali lagi kesemula, Kinan yang begitu cantik dan menawan dengan balutan gamis.


Saat hendak keluar dari kamar, Kinan berniat memenuhi dahaga. Namun, saat Kinan membuka pintu wajahnya terkejut saat melihat dua orang lelaki berdiri di ambang pintu, wajahnya ditutup dengan masker dan topi hitam belum lagi dengan benda tajam.


"Siapa kamu?!" tanya Kinan ketakutan dan perlahan-lahan mundur.


"Wah, ternyata dia lebih cantik dari foto," kata pria dengan lengan berotot, lengannya bertato dengan tulisan kaligrafi tulisan mempesona.


Sedangkan, pria satu lagi hanya tersenyum sinis dari balik masker yang dikenakan. "Sayang dong, kalau dibunuh! Mending nikmati dulu!"


"Tapi, kata bis kita harus langsung! Jangan tubda-tunda waktu," bisik pria bertato.


Kinan mendengarkan pembicaraan mereka, langkahnya terus mundur dan mundur seolah-olah mencari ruang sedikit luas untuk melawan dua orang pria misterius. Ia menelan salvina dengan susah payah, tatapannya tajam bercampur sedikit berair. 'Bantulah aku, Ya Allah,' jerit Kinan dalam hati.


Saat Kinan sudah puas dengan langkah mundurnya, tiba-tiba ekspresi ketakutan menjadi serius. Tatapan tajam mengarah pada dua pria yang berdiri dihadapannya dengan senyum sumringah. "Jangan harap aku akan mati!" tegas Kinan.


"Wah, sudah bernai rupanya," ledek pria bertato.


Kinan segera memasang kuda-kuda sesuai dengan praktek pembelajaran taekwondo di sekolahnya semenjak menduduki bangku menengah pertama hingga bangku kelas sebelas menengah atas. Bagi Kinan, mau dapat sabuk warna apapun tidak ada hubungannya jika tidak mencoba melawan tipu daya kejahatan manusia. Semua keahlian akan menjadi sia-sia, dan inilah kesempatan Kinan untuk mengembangkan skill taekwondonya.


Dua pria itu bersiap-siap, kepalanya di tekuk ke kanan dan ke kiri. Tak lupa dua pria mengeluarkan benda tajam, mulai dari curit hingga pisau berukuran panjang. Senyum pria begitu tenang seolah-olah baginya itu sangat mudah, karena Kinan tidak mengrnakan benda tajam hanya bermodalkan tenaga.


"Kurang aj*ar! Bajin*gan sia*lan!" teriak Kinan segera memulai aksinya.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Sreeet!


••••••••••••••••••••••••••••


Sementara di luar, suara kendaraan yang tak lain adalah Barakka. Barakka sengaja izin pulang karena ada hal yang tertinggal di rumahnya, bersamaan dengan itu Barakka pulang kerumahnya dengan Rehan yang dibonceng di belakang motor ninja miliknya.


Saat perjalanan memasuki perkarangan rumah yang tempatnya bersebrangan dengan rumah Fahad seketika motornya berhenti tepat di dekat rumah Fahad saat sorot matanya menangkap mobil hitam pekat, setelah itu ia melirik pagar kediaman kakak pertamanya itu. Entah kenapa, perasaan Barakka begitu gelisah saat menatap punggung mobil bertuliskan nomor plat nomornya.


"Kenapa, Bar?"

__ADS_1


"Entahlah, kenapa perasaan gue gelisah banget," jawab Barakka mematikan mesin motornya dan memarkirkan teoat dibelakang mobil hitam.


Rehan menyerit heran, ia segera membuka helm yang dipakai olehnya dan ikut turun dan juga berjalan dibelakang Barakka. "Tolong telefon bang Fahad."


Mendengar itu, Rehan mengambil ponsel Barakka yang diberikan olehnya dan menyalakan tombol layar. Mencari aplikasi berwarna hijau dan menekannya, tak lupa mencari nama 'Fahad' akan tetapi rupanya Barakka menamakan bukan Fahad tapi 'Kakak pertama' ia segera menekan ikon berbentuk telefon dan membiarkan Barakka memeriksa sekelilingnya.


"Astagfirullah, Bi Ijah! Bi Marni!" teriak Barakka menghampiri dua wanita paruh baya tak sadarkan diri di dapur dengan kompor masih menyala. "Astagfirullah, kompornya!"


Prang!


Mendengar suara barang terjatuh, Barakka mencari sumber suara setelah mematikan kompor dan memeriksa Bi Ijah dan Bi Marni yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri. "Itu pasti di kamar!"


"Bar, gue mendengar sesuatu!" teriak Rehan menghampiri Barakka yang sedang memeriksa dua pembantu kakak pertamanya.


"Gue juga, loe urus mereka gue ke atas!" titahnya segera berdiri dan berlari ke arah kamar yang berada di lantai atas.


"Hati-hati, Bar," kata Rehan sedikit panik tapi berusaha tenang. Ia terus menekan tombol berbentuk telefon itu, sayangnya tidak ada tanda-tanda Fahad mengangkat telefonnya. "Sia*lan! Gue mohon, angkat!" gumamnya segera menekan tombol lagi dan lagi sembari memeriksa dua pembantu.


Sesampainya di kamar, Barakka mendobrakan pintu untunglah pintu itu tidak terkunci. Saat pintu terbuka alangkah terkejutnya Barakka melihat Kinan tergeletak di lantai dengan tubuh penuh dengan darah, pakaian gamis yang ia pakai terkoyak tidak seberapa hanya bagian lengan saja yang membuat gamis itu sobek selebihnya masih utuh, dan yang paling membuat Barakka terkejut dua pria dengan tangan masing-masing membawa benda tajam golok dan curit yang penuh dengan darah seolah-olah pria itu berhasil melumpuhkan Kinan.


"Sia*lan!" teriak Barakka dan mulai menyerang dua pria tak beradab itu.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Prang!


Bugh!


"Ini balasan loe, breng*sek!" teriak Barakka membabi buta tanpa ampun hingga membuat dua pria itu kehilangan keseimbangan bahkan setelah bertarung dengan Barakka benda tajam itu terlempar jauh.


Barakka segera memutar lengan tangan pria bertopi dan bermasker itu dengan keras dan menggila, hingga terdengar duara kretek pertanda lengannya patah.


"Aaaakkkhhh!" ringis pria bermasker kesakitan saat merasakan tangannya mengilu.


Setelah itu, ia beralih kepada pria bertato yang tergeletak di lantai dengan posisi tengkurap dan membangunkannya menggunakan kaki panjang Barakka, sehingga posisi itu berubah menjadi terlentang.


Ia melihat bawahan pria bertopeng itu sangat menjijikan, tatapan menyeramkan Barakka menggila bahkan luapan amarah terus menerus meluap. Rahang kokoh tertampak jelas, kepalan tangan kuat sehingga urat-urat terrlihat jelas. Mengangkat kaki ke udara siap dilayangkan ke arah sasaran, nyatanya ...


"Bar! Hentikan!" teriak Rehan tepat waktu bersamaan dengan itu ada beberapa warga ikut menyaksikan adegan bebak belur seorang siswa SMA.


Barakka yang mendengar itu seketika tersadar, dan otaknya mulai berputar mencari keberadaan Kinan kakak iparnya. Rupanya Kinan masih tergeletak di lantai dengan lengan robek akibat benda tajam dan bagian perut yang terus mengeluarkan darah, belum lagi dengan wajah pucat pasi bak mayat.

__ADS_1


Tanpa aba-aba, Barakka segera membopong tubuh Kinan tanpa mengatakan sepatah kata saat melewati kerumunan warga yang masih berdiri di ambang pintu. "Saya serahkan dua pria breng*sek itu kepada semuanya, dan dua pembantu yang tak sadarkan diri di dapur. Saya, akan menolong Barakka dan kak Kinan," jelas Rehan.


"Tenang saja, saya akan mengurusnya!" titah lelaki berkumis selaku ketua RT.


Hati Barakka diselimuti rasa takut dan cemas, kala melihat kakak ipar belum sadarkan diri belum lagi dengan darah segar yang terus mengalir tiada hentinya. Wajah Kinan yang selalu ceria dan hangat kala menyapa, kini wajah itu berubah menjadi pucat pasi bahkan seperti mayat. "Percepat, Rehaan!" teriak Barakka dari kursi belakang kemudi.


Iya, Rehan sekarang mengemudi mobil milik Barakka. Semenjak Barakka keluar dari kediaman kakaknya, ia berlari dengan paniknya membuka pintu mobil sayangnya pintu itu terkunci. Sehingga Rehan terpaksa masuk kedalam rumah mencari kunci mobil, untunglah Barakka selalu meletakkan kunci penting di sudut yang terlihat membuat Rehan mudah menemukannya. Dengan ceoat ia mengeluarkan mobil dari garasi, dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Kota Jakarta yang selalu macet, kini hari itu semua kendaraan bebas mengemudi sehingga mempermudah perjalanannya menuju rumah sakit. Jalan rumah sakit dari kediamannya hanya membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 30 menit, maka dari itu Barakka lebih banyak menahan darah segar itu dengan kain supaya tidak banyak yang keluar.


Tangan kanannya disubukkan dengan menekan tombol ikon, menelepon Fahad yang belum kunjung mengangkat. Membuat Barakka putus asa dan mengumpat, akhirnya ia mencoba sekali lagi jika tidak diangkat mungkin akan mencari jalan lain. Setelah percobaan, akhirnya telefon pun tersambung.


".........."


"Kak, Kak Kinan di bawa kerumah sakit. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan rinci, ini darurat, Kak!"


"........."


"Pokoknya aku akan cerita, Kakak harus kerunah sakit sekarang juga!"


".........."


Ttttuuuttt!


Sambungan pun terputus, Barakka menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan gusar. Setelah menelefon sang kakak, ia menelefon keluarga yang lain termasuk keluarga Abhipraya. Belum dua puluh empat jam ditinggal oleh Alsaki, pria yang selalu ada di saat Kinan terkena sesuatu yang menyakitkan, sudah ada kejadian seperti ini. Barakka paham betul tentang Alsaki, di mata Barakka Alsaki adalah sosok kakak, lelaki, teman, sahabat yang selalu terbuka. Bahkan saat acara pernikahan sang kakak dengan Kinan, Barakka begitu kagum dengan sifat humble Alsaki.


'Sepertinya aku gagal menjadi adik ipar yang baik untuk kak Kinan. Semoga saja, bang Alsaki memaafkan kesalahanku,' batinnya.


Gedung menjulang tinggi, kendaraan terparkir rapih di sana. Belum lagi dengan berbagai macam kendaraan mengerikan, mobil bertuliskan Ambulance, Jenazah bahkan yang lainnya pun terparkir di tempat khusus. Rehan yang terkenal dengan ahli menyetir akhirnya sampai juga dengan memakan waktu sekitar 15 menit karena sangat andal dalam hal darurat. Dengan sigapnya, Rehan membuka pintu mobil di mana Barakka menemani Kinan yang tak sadarkan diri, dengan langkah yang cepat pula Barakka memanggil perawat.


Dengan sigapnya perawat menghampiri Barakka yang sedang mengendong Kinan, tetesan darah terus menetes hingga lantai rumah sakit. Ia segera menurunkan bobot Kinan ke atas brankar rumah sakit, bersamaan dengan itu perawat juga dengan cepatnya membawa Kinan kedalam ruang pemeriksaan.


Barakka dan Rehan menunggu di ruang tunggu sesuai dengan arahan perawat, Kinan yang sedang diperiksa membuat Barakka tak berhenti mengucapkan doa.


"Astaga, gue lupa! Gue harus markirin dulu mobil loe," kata Rehan segera beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, pergilah," jawab Barakka tanpa menatap Rehan, pandangannya terfokuskan pada tangan yang penuh dengan darah segar Kinan belum lagi dengan seragam yang ikut menjadi saksi, dan yang paling memperhatinkan adalah wajah Barakka yang babak belur.


'Semoga saja, kak Kinan tidak apa-apa. Kalau berakhir, gimana dengan cerita yang ditulis oleh author gaje ini? Bisa pusing aku,' batin Barakka.


•••••○○○•••••


Hai gaes! Terima kasih sudah membaca terutama memberi komentar, maaf yah jika ceritanya kurang menarik ...


Sekali lagi, terima kasih gaes❤❤

__ADS_1


•••••○○○•••••


__ADS_2