My Soulmate

My Soulmate
Amarah Barakka


__ADS_3

Pikiran Barakka terganggu akibat mengingat kejadian kakak iparnya, dada berkembang kempis bergejolak. Ingin sekali rasanya pelajaran ini berakhir dan memberikan pelajaran lebih kepada wanita menor yang tak lain adalah Rosa, Barakka tau siapa itu Rosa ia mendengar nama itu sangat tak asing baginya. Di mana Rosa adalah wanita yang begitu ditakuti karena memiliki jabatan lebih tinggi, karena Rosa adalah anak dari pengusaha bercabang di negara Indonesia.


Pelajaran yang Barakka tekuni tak ada satu demi satu kata masuk kedalam otaknya, sebab hati Barakka terbakar api amarah yang terus bergejolak tiada hentinya. Dulu Barakka pernah berfikir bahwa, wanita akan berteman baik dengan temannya nyatanya tidak sesuai dengan realita.


"Barakka?" panggil guru melihat tingkah aneh Barakka yang sedari dari tadi terus melamun dengan pandangan kosongnya.


Barakka tak mengubris panggilan gurunya bahkan tak dengar, sampai gurunya memanggil sebanyak lima kali dan disadari oleh teman sebangkunya yang tak lain adalah Rehan. Rehan segera menepuk pundak Barakka dengan sangat kencang.


"Lima puluh delapan derajat fahrenheit!" jawab Barakka akibat terkejut karena dirinya terlalu fokus dengan pikiran kacau.


Para murid seketika tertawa mendengar itu, terlebih lagi tingkah Barakka seperti ketakutan karena Barakka berdiri menjawab pertanyaan bukan panggilan guru. Barakka yang melihat itu seketika menanggung malu dengan wajahnya seperti terkekeh tanpa dosa, ia memukul pundak Rehan sampai meringis kesakitan.


Guru itu menggeleng dan menepuk jidat, seakan sudah lelah mengasuh anak diriknya terutama Barakka yang selalu iseng menjahili gurunya. Sehingga sang guru tak segan menghentikan tingkah konyol Barakka sebagai hiburan saat pelajarannya berlangsung. "Saya memanggilmu bukan menjawab pertanyaan itu!"


"Oh bukan yah? Maaf, Pak! Habisnya saya kurang minum teh pu****!" Malu Barakka sembari meremas paha Rehan sampai Rehan meringis kesakitan dalam hati.


"Kurang minum kali bukan kurang minuman," celetuk Rehan.


"Diam!" geram Barakka sembari memelototkan mata.


Melihat tingkah dua murid tentu saja membuat Guru sudah tak tahan, dua laki-laki kemana-mana selalu bersama layaknya kartun dari negara tetangga. "Sudah-sudah, karena pelajaran saya sebentar lagi habis. Tolong kerjakan halaman lima puluh tujuh sampai halaman lima puluh delapan, kemudian loncat ke halaman enam puluh dua, saya harap kalian mengerjakannya dengan sangat baik karena sebentar lagi akan diadakan ujian akhir."


"Baik, Pak!" kompak para murid dengan ekspresi yang berbeda. Ada yang bersemangat karena dikasih tugas supaya tidak menganggur, ada juga yang memasang muka malas dan cemberut karena tugas rumah kali ini jauh lebih menantang dan banyak seperti kumpulan debu menempel di otak mereka.


Tak lama usai Guru yang mengajar di kelas Barakka pun keluar bersamaan dengan suara bel istirahat. Para siswa berbondong-bondong keluar untuk mengisi perut kosong bahkan ada juga yang mengisinya dengan aktivitas motorik kasar seperti bermain basket.


Dddrrrttt ...


Suara notifikasi masuk kedalam gawai Barakka, ia segera membuka layarr hitam dan memasukan kata sandi. Menekan aplikasi berwarna hijau, rupanya ada sebuah pesan masuk dari Fahad. Dengan jari malas seakan sudah tau apa yang akan diperintahkan oleh Fahad.


Fahad: [Dek, abang pulang duluan sama Kinan soalnya Kinan sepertinya kurang enak badan. Jadi, nanti habis pulang tolong ambilkan tas Kinan di kelas 12 IPS 3]


Barakka membaca itu seketika keningnya menyerit, ia segera membalas pesan dari kakak pertamanya. 'IYA!' dengan huruf kapital semua.


"Bro, kita main basket yuk!" ajak Toni si jagoan kedua setelah Barakka dalam cabang olahraga Basket.


"Enggak! Gue mau ke kantin, gue lapar!" tolak Barakka dan menarik tangan Rehan.


"Woi, apaan!" protes Rehan. "Bro, temenin gue dong!" teriak Rehan kepada Rulli dan mendapatkan jalan cepat darinya untuk mengikuti Barakka yang katanya mau ke kantin mengisi perut kosong.

__ADS_1


Sesampainya di kantin, Barakka tidak banyak memesan hanya minuman sprite untuk menyegarkan tenggorokan kering. Pandangannya tertuju pada wanita yang merupakan seorang siswa tadi, wanita yang sengaja menjatuhkan Kinan, kakak iparnya saat upacara.


Wanita itu yang tak lain adalah Rosa, beliau tengah memesan pop mie dan minuman bersama dua orang temannya. Barakka tersenyum sinis, ia segera berdiri menghampiri Rosa seakan meluapkan semua emosi amarahnya. Dua teman Barakka merasa heran melihat tingkah Barakka.


"Kenapa?" tanya Rian.


Rehan mengangkat bahunya acuh. "Entahlah."


Berjalan menghampiri Rosa dengan dada yang bergejolak amarah, tangan mengepal kuat seakan siap menonjok wajah menor itu. Rosa memegang nampan berisi pop mie kesukaannya dan minuman tanpa memperhatikan bahwa di depannya ada Barakka yang tengah menahan luapan emosi sehingga tiba-tiba ...


Brak!


"Sorry, gue enggak sengaja!" sinis Barakka setelah menabrak wanita yang tak lain adalah Rosa, wanita tadi saat upacara menjatuhkan kakak iparnya yang tak lain adalah Kinan.


Makanan yang dibawa oleh Rosa berisi pop mie dan minuman es teh itu terjatuh akibat ulah Barakka. Rosa seketika menitip sinis wajah Barakka yang merupakan adik kelasnya. "Gue tidak akan memaafkan loe sampai loe menggantinya lebih!"


"Lebih? Padahal harga makanan yang loe beli cuman sepuluh ribu, tapi minta gantiannya lebih," sindir Barakka. "Dasar tak punya sopan santun mama rasa malunya putus lagi," sambungnya.


"Loe siapa sih? Mentang-mentang nyebut gue enggak sopan, loe itu adik kelas harusnya lebih menghormati kakak kelas! Dasar tidak punya sopan santun!"


"Aduh, iya sih gue enggak punya sopan santun. Tapi, siapa dulu yang ngajarin gue jadi seperti ini dan gue menirunya? Tentu saja pasti kakak kelas."


Para siswa yang tak sedikit itu mendengar pembicaraan dua orang, Barakka dan Rosa dua orang itu saling melempar sindiran keras hingga seperti kehilangan etika. Siswa melihat itu seketika menjadi berpihak, terlebih lagi teman Rosa juga ikut mendengarkan bantahan keduanya dan ikut masuk untuk melerai keduanya, bahkan teman dekat Barakka juga ikut turun tangan.


Tapi, sayangnya Barakka tak mengubris tatapan elangnya fokus menatap wajah busuk Rosa di mana wajah itu bermake up tebal, dengan polesan bibir sebanyak seratus kali. "Jangan sentuh kak Kinan, jika masih menyentuhnya tunggu pembalasan gue!"


"Hah, apa kata loe? Kinan? Emangnya loe itu siapa Kinan? Pacar? Aduh, cowok sia*lan ini rupanya pacar seorang wanita pela*cur!" ejek Rosa.


Byur!


"Hah! Anj*ir!" kaget Rosa karena Barakka menyeburkan air mineral miliknya ke wajah mulus Rosa dengan sangat kasar dan tentunya air masuk kedalam rongga hidung dan menimbulkan nyeri hebat dibagian kepala, hal itu Rosa merasakan perih.


Dua teman Barakka seketika terkejut lebih, ia segera menghentikan aksi Barakka yang sudah mulai tersulut emosi. "Eh, loe! Jangan kayak gitu, engga aopan ke senior! Mending loe redain dulu amukan loe!" panik Rulli dan segera menarik Barakka bersama Rehan.


Tapi, tubuh Barakka terkunci dengan sangat keras membuat dua temannya tak bisa menariknya dengan lebih. Barakka menghempaskan tengan temannya dengan kasar dan berdiri tepat dihadapan Rosa dan tersenyum sinis.


Dua teman Rosa seketika diam tak bisa melakukan apa-apa karena keduanya melihat raut wajah Barakka seperti emosinya sudah berada di puncak. "Rosa, mending—."


"Berani sekali loe, loe itu enggak punya sopan santun!" Amuk Rosa dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Gue lebih menghormati orang yang tinggi adab ketimbang loe yang minim adab! Gue peringatkan lagi, jika loe masih berani menyentuh kak Kinan gue tak segan meremukan tulang tangan loe!" Barakka kemudian pergi meninggalkan Rosa yang masih tersulut dendam amarah, tapi jika dibandingkan dengan dirinya dirinya jauh lebih marah ketimbang Rosa.


"Sia*lan, siapa dia!" kesal Rosa dan meninggalkan kantin.


Sementara para siswa yang menyaksikan kejadian itu sampai akhir, saling berbisik-bisik membicarakan apa yang terjadi. Membuat Ningsih sekaligus teman Rosa menatap mereka dengan tatapan tajam. "Jika kalian masih membicarakannya, gue tak segan membunuh kalian!"


Mendengar ancaman dari Ningsih para siswa seketika terdiam dan kembali ketempatnya seperti semula dan melupakan apa yang terjadi seakan tak terjadi apa-apa, karena mereka tahu siapa itu Rosa bahkan kedua temannya pun mereka mengetahuinya.


Rehan dan Rulli yang melihat kejadian barusan, dua lelaki itu sudah frustasi menghadapi cowok semacam Barakka yang selalu bandel. Meski tau bahwa Barakka adalah adik dari Fahad, tapi tidak ada hubungannya kalau dua lelaki itu memiliki sikap yang berbeda.


"Loe itu kenapa sih?" tanya Rehan.


Barakka tak menjawab, malah memalingkan muka dengan tatapan sinis. "Gue hanya kesal sama dia, karena dia telah menjatuhkan Kak Kinan!"


"Hah, gimana-gimana? Cerita yang jelas dong jangan nanggung, mubazir jadinya penasaran gue!" celetuk Rulli.


"Astaga," sebal Barakka sembari mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Dia itu pas lagi upacara bentangin kakinya buat menghalangi jalan kak Kinan. Terus, kak Kinan jatuh dia bukannya minta maaf malah salahin kak Kinan."


"Oh, anggap saja sedang bercanda," papar Rehan.


"Bercanda katamu? Bercanda itu ada batasnya, jangan sampai melukai fisik. Kalau perbuatan itu semacam perundungan kecil, emang loe tau hah apa itu bercanda dan perundungan?" kesal Barakka.


"Hehehe ... maaf, jangan marah dong gue hanya bilang saja." Rehan cengcengesan setelah kena omel Barakka.


Barakka akhirnya mulai bercerita kenapa dirinya marah kepada senior, bahkan sampai membuat keributan di kantin yang menyaksikannya tak sedikit. Sampai Rehan dan Rulli menyerit heran, bahkan merasakan sesuatu keanehan saat Barakka menceritakan itu seolah-olah ada hubungannya dengan Kinan.


"Emangnya loe punya hubungan apa dengan dia?" tanya Rehan


"Jangan-jangan loe jatuh cinta sama dia?" cakap Rulli.


"Ngawur aja kalian! Gue hanya memantau saja, soalnya kayaknya ada yang salah dengan peraturan bahkan sikap siswa. Seharusnya, kalau sekolah di yayasan harus tau minimal etika dan sopan santun," cibir Barakka.


"Iya sih. Tapi, mau gimana lagi Bar? Zaman sudah berubah, bahkan semua orang juga engga peduli lagi sama etika, mereha hanya mementingkan yang sedang trend dan viral. Makanya, menurut gue sepertinya kepala yayasan kurang merhatikan tingkah siswanya. Maka dari itu, menurut gue wajar sih Bar kalau mereka melakukan kayak itu." Rehan berceloteh panjang lebar seakan seperti mahasiswa sedang menyampaikan apa yang terjadi di negara wakanda.


Rulli manggut-manggut paham apa yang dibicarakan oleh Rehan. "Benar banget sih, jadi gue merasakan apa yang dirasa oleh loe. Peraturan sekolah kita selain ketat ada kurangnya."


"Ini tidak adil!" tegas Barakka.


"Nah,'kan gue bilang apa, jadi kalau si kakak kelas tadi bilang gitu ke loe menurut gue wajar! Lagian siapa yang mau peduli." Rehan menarik nafas panjang meratapi nasib calon ketua osis yang harus siap dengan semuanya.

__ADS_1


"Kalau begitu, bagaimana ucapan loe dijadikan pemberani buat bapak-bapak kepala sekolah buncit?" tanya Rulli tak berdosa.


"Eh, suut! Kalau ada yang baca loe baru tahu rasa," ancam Rehan melotot membuat Rulli membekap mulutnya dengan kedua tangan sedangkan Barakka menggeleng-geleng.


__ADS_2