My Soulmate

My Soulmate
Malam Kepedihan


__ADS_3

Sinar rembulan menampilkan cahayanya, menerobos masuk melalui celah jendela kamar Hafsah. Memberikan isyarat kepada Alsaki yang masih betah melihat wajah cantik Hafsah yang masih terlelap dalam tidurnya. Entah sudah berapa kali keluarga menyuruh Alsaki untuk makan terlebih dahulu, tapi Alsaki menolaknya dengan cara yang halus sehingga keluarga memilih mengalah dan fokus ke tujuan utama yakni persiapan pernikahan dua insan itu.


Wajah cantik Hafsah yang berkeringat, karena rasa trauma yang menguras seluruh jiwa positif membuatnya sedikit demam. Alsaki masih betah memantau Hafsah, dalam hatinya terus menerus berucap doa seolah-olah malam ini Hafsah bisa membuka mata.


Hembusan angin malam merasuki jiwa Alsaki, iya kamar itu sengaja tidak ditutup karena Alsaki memilih mendapatkan udara alami dari bumi daripada AC. Itulah alasannya, supaya udara kedamaian menghipnotis indera penciuman Hafsah supaya cepat sadar.


"Aku tahu kamu pasti merasakan trauma, tapi tolong bisakah jangan sampai kamu melakukan itu. Hatiku sungguh sakit," lirih Alsaki.


"Aku bahkan tau siapa yang merusak masa depanmu, bahkan aku ingin meneroboskannya kedalam jeruji karena telah membuatmu menderita hingga mentalmu rusak. Tapi, tolong jangan lakukan apapun. Aku selalu ada untukmu, aku selalu ada di setiap doa yang engkau panjatkan. Hafsah, jika bisa izinkan aku menuntunmu untuk melupakan kejadian itu."


"Aku mohon sadarlah, aku selalu menunggumu. Maafkan aku, aku terlambat datang untuk meminangmu karena kesibukanku. Andai saja, waktu bisa terulang lagi aku akan bergerak cepat untuk meminangmu. Tapi, mungkin jalan kita seperti ini aku harus merasakan apa yang kamu rasa, tapi tolong jangan meninggalkan aku dengan cara seperti itu."


Alsaki memejamkan mata, menarik nafas panjang untuk mengeluarkan semua isi hati. "Aku berjanji aku akan mengambil kembali wajah senyummu yang selalu membuatku tergoda. Apa kamu tau? Ketika ada pertemuan antar santri, orang yang selalu aku cari adalah dirimu."


Bulir bening jatuh dari pelupuk mata Hafsah yang masih terpejam, seolah-olah Hafsah mendengarkan celoteh Alsaki yang membuat jiwanya kembali bergulat dengan kesalahan. Alsaki yang melihat itu seketika menunduk, ia yakin Hafsah mendengarkan semuanya. "Apa kamu menangis? Jika iya, tolong bukalah matamu ...," lirih Alsaki menunduk tangannya memukul sesak dadanya.


Perlahan mata Hafsah mulai bergerak, hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamar. Pupil mata sudak kembai ke normal pertanda Hafsah mulai baik-baik saja. Ia melirik ke segala ruangan dan melihat Alsaki yang duduk dengan wajah menunduk, membuat Hafsah memalingkan wajahnya.


Alsaki yang melihat itu bibirnya kaku, tapi entah kenapa bibirnya menyunggingkan senyum. "Kamu sudah sadar?"


Hafsah tidak menjawab hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Alsaki. Ia segera bangun dari tidurnya dan membenarkan posisinya menjadi duduk di tepi ranjang. Badannya disandarkan ke tepi rajnang, dengan mata yang masih sembab. Bibirnya bergetar seakan siap berucap meski hanya sepatah kata.


"Maaf," kompak keduanya dengan matanya saling melepas pandang dan kembali lagi ke semula setelah bertatapan sekitar tiga detik.


Akibat lontaran Hafsahkompak, sontak membuat keduanya mengalihkan pandangan. Rasa canggung mengusik ketenangan dua insan dengan bibir masih diam terkunci seolah-olah melupakan rangkaian kata untuk diungkapkan. Jantung keduanya menari ria, berdegup kencang seperti suara drum yang mengisi kekosongan. Telinga Alsaki panas dan memerah, sementara dengan pandangannya mengarah ke luar jendela menyembunyikan wajah merahnya.


Karena suasana canggung akibat kekompakannya mengucapkan kata emas, Alsaki mencoba menetralkan emosi yang menguras energi kediaman. "Maaf ...," lirih Alsaki menunduk.

__ADS_1


Mendengar suara itu, Hafsah seketika menoleh dan memperhatikan wajah tunduk Alsaki dengan tangannya mengepal. Raut wajah kesedihan terpancar indah, tidak ada senyuman hanya mata sayu yang menjadi pembicara seolah-olah hatinya penuh dengan rasa sesak mengeluarkan semuanya. "Kenapa?"


"Mungkin ini terdengarnya agak konyol, sebenarnya aku mencintaimu semenjak pertama kali aku melihatmu di pesantren itu. Saat itu aku berniat melamarmu setelah aku lulus dari pondok pesantren, akan tetapi egoku sangat besar tentang cita-citaku. Di situlah aku mengurungkan niatku, dan akan melamarmu setelah aku mendapatkan gelaran perwira. Tapi, semua takdir berjalan tidak sesuai dengan rencanaku, niatku terus aku tunda ... seharusnya, waktu itu aku cepat meminangmu agar tidak terjadi seperti ini," celoteh Alsaki.


"Semenjak kamu bercerita semuanya, aku terkejut, hatiku sangat sesak sampai aku tidak bisa bernafas. Saat itulah amarahku aku luapkan pada pria breng*sek yang kamu ceritakan itu. Nyatanya rasa sakit itu belum kunjung pergi, belum lagi dengan keadaan mentalmu yang membuatku takut. Aku takut, aku tidak bisa mengembalikan kembali wajah ceriamu yang selalu tersenyum dan bahagia, wajah indahmu yang begitu aku damba dalam diamku, bahkan namamu aku selipkan dalam doa. Nyatanya, Tuhan memberikan teguran kepadaku akibat aku terlalu obsesi terhadap cinta itu. Akhirnya, aku menyalahkan diriku sendiri ... Hafsah, aku mohon maafkan aku."


"Andai saja waktu bisa diputar, aku ingin cepat meminangmu. Tapi, dengan kejadian ini membuatku tertampar dan sadar. Jika boleh, izinkan aku melepaskan bebanmu ... izinkan aku menjadi pelipur lara untukmu, melihatmu seperti itu aku sungguh tidak sanggup," lirih Alsaki dengan wajah masih menunduk. Jujur saja, Alsaki begitu takut bahkan sangat takut. Jika dibandingkan dengar trauma Hafsah, ketakutan hebat Alsaki lah yang membuatnya kehilangan segalanya. Bahkan jabatan pun sudah tiada gunanya apalagi ilmu yang diperdalaminya.


Celotehan itu membuat Hafsah menundukan kepala, rasa sesak menjalar hingga seluruh tubuhnya. Jujur dalam hati Hafsah rasa itu terus tumbuh rasa sesak, kecewa, marah, dan takut melebur menjadi satu perasaan yang rumit dan sulit dimengerti. Dengan beraninya, Hafsah menatap Alsaki yang menunduk, sampai melihat ekspresi wajah kesedihan dan memilukan.


"Seharusnya aku yang minta maaf, Kak. Semua itu terjadi kesalahanku, andai saja aku tidak diam-diam pulang sebagai kejutan maka aku tidak akan seperti ini."


"Jika bisa, aku ingin jujur kepadamu. Bahwa aku begitu mengagumimu semenjak pertama kali aku melihatmh di pesantren itu, bahkan aku selalu mendambakan mimpiku bersamamu, nyatanya takdir begitu unik untuk aku terima. Aku ... aku ... aku ingin ... menerimamu, tapi aku takut."


"Aku takut, jujur aku takut ... aku takut kamu tidak akan menerimaku, bahkan kamu akan merasa jijik dengan itu. Aku bahkan merasakan gejolak api ketakutan, aku —."


"Berhentilah berbicara," potong Alsaki halus, tatapannya bertemu netra indah Hafsah. Mata sendu keduanya beradu kasih, memberikan perkataan bisu, betapa sakitnya hati yang mereka rasakan. Ingin mencari udara ketenangan, nyatanya udara itu menolak sebab jiwa kenestapaan menguasainya.


"Seharusnya aku yang lebih takut, Kak," ucap Hafsah hingga bulir bening jatuh dari pelupuk matanya.


Alsaki menarik nafas dan mencoba mengalihkan pembicaraan. "Kalau begitu kita sama salah saja, gimana?"


"Enggak mau, intinya aku jauh lebih salah bahkan lebih takut."


"Apa kamu berani menatapku?" tanya Alsaki mencoba menerima semuanya dengan cara mengalihkan topik. Pertanyaan itu mendapatkan respon darinya, Alsaki menyunggingkan senyum manisnya.


"Karena kamu sudah menatapku, bagaimana jika kita melupakan kenangan buruk itu? Bagiku itu sangat sakit bahkan lebih sakit saat mengingat kejadian itu, jadi bolehkan aku menjadi bagian kebahagiaanmu agar kamu melupakan kesedihanmu?"

__ADS_1


"Aku takut ingatan buruk itu terus menerus membuatku menderita. Aku tidak sanggup melihatmu menderita, jika kamu takut maka izinkan aku melupakan ingatan burukmu. Jangan pernah berpikir bahwa aku kecewa dengan atas apa yang terjadi, aku sama sekali tidak kecewa. Lagian kamu itu korban, dan aku ingin menjadi seorang yang berguna."


"Jika bisa, aku ingin kamu melupakan semuanya dan mencoba membuka lembaran baru denganku. Aku tak peduli masa itu, bahkan sekelam apapun itu aku tidak peduli. Bagiku, ketika aku berhasil mengambil kembali senyummu yang sempat hilang itu sudah membuatku merasakan betapa beruntungnya aku memilikimu."


"Jadi, Hafsah ... mari kita lupakan itu, agar aku tidak merasakan penderitaan yang sama denganmu. Melihatmu membuatku takut bahkan lebih takut," ungkap Alsaki dalam kata demi kata terlontar indah. Mata indah Hafsah, telinga setia mendengarkan semuanya. Entah kenapa ucapan itu membuat jiwa Hafsah merasakan sedikit ketenangan, sampai tak sadar bulir bening jatuh dari pelupuk mata saat melihat Alsaki mencium punggung tangannya.


Tanpa kedua sadari, dua insan yang sedang mendengarkan pembicaraan keduanya seketika tersentuh dengan ucapan tulus Alsaki. 'Semoga kamu bahagia,' batinnya.


••••••••••••••••••••••••••


Sementara di ruang utama, para keluarga sibuk menata untuk pernikahan Alsaki dan Hafsah yang akan dilangsungkan besok, karena besoknya Alsaki harus berangkat pergi menjalankan tugas selama kurang lebih delapan bulan di perbatasan. Karena Alsaki adalah seorang perwira, tentu saja tidak akan melalaikan tugasnya meski baru saja menikah beberapa jam. Para keluarga sibuk menatap julid, saat melihat dua insan yang belum lama terikat dalam ikatan halal terus saja sibuk bermesraan di depan keluarganya.


Rizki yang melihat sepupunya hanya menggeleng-geleng. "Kalau mau bermesraan, minimal tau tempat lah! Kan tidak semuanya sudah punya pasangan, gue buktinya!"


Fahad yang mendengar omelan itu menatap sinis. "Makanya cepat nikah, enak tahu berduaan bareng pasangan halal."


"Oh, jadi kamu menyindir gye karena gue jomblo?"


"Anggap saja begitu," jawab Fahad santai.


"Adek kurang ajar!" cibir Rizki menatap tajam. "Gue kalau menikah bakalan pamer kemesraan di depan loe dengan lebih berani."


"Ck! Ck! Silahkan, lagian aku sudah punya," cibir Fahad tak mau kalah sembari mengelus puncuk kepala istrinya dengan kasih sayang.


"Kalian bisa tidak, fokus bekerja? Untuk Fahad kalau mau berdua silahkan keluar," ucap Maryam menajamkan pandangannya ke arah Fahad.


"Kan belum beres, gimana mau keluar?" tanya Fahad tersenyum kecut.

__ADS_1


"Makanya fokus, kalau kerja yah kerja bukan berduaan. Lagian di sini ada kakak sepupumu yang masih jomblo," cibir Maryam kembali lagi melanjutkan pekerjaan.


"Kak, kita harus kerja," ucap Kinan melepaskan genggaman Fahad yang dari tadi terus menerus tidak mau lepas.


__ADS_2