
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, Fahad telah selesai melaksanakan sembahyang magrib dan isya. Kini Fahad disibukkan dengan berbagai macam kegiatan untuk merawat dan memberikan perhatian kepada Kinan setelah Dokter yang bertugas memeriksa kondisi Kinan mencabut beberapa alat medis, sehingga yang tersisa hanyalah selang infus yang berisi cairan Kristaloid, Ringer laktat yang sering dipakai untuk pasien yang mengalami luka, cedera, dan pasca operasi.
"Sayang, habisin dong makan malamnya! Biar cepat pulang," kata Fahad mengelus lembut kepala Kinan yang dibalut dengan jilbab berwarna putih.
Kinan menggeleng. "Aku sudah kenyang."
"Yah sudah kalau begitu, minum obatnya," ucap Fahad sembari membuka beberapa plastik yang berisi obat yang diresepkan oleh Dokter, Kinan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tak lama kemudian, suara ketukan pintu dari luar. Fahad segera beranjak dari tempat duduknya usai memberikan beberapa biji obat untuk Kinan. "Sepertinya, ibu dan ayah."
"Assalamualaikum," sapa Harsa menerima uluran tangan Fahad.
"Waalaikumsalam," jawab Fahad.
"Kamu sudah sadar, Nak?" tanya Ibha setelah menerima uluran salam Fahad dan segera menghampiri Kinan yang tengah menunduk dan mendapatkan jawaban anggukan lemah darinya.
"Apa aku tunggu di luar?" tanya Fahad kepada Harsa.
"Tidak usah, tunggu di sini saja. Lagian ada sofa, tuh." Tunjuk Harsa disertai kekehan.
Fahad menggaruk tengguknya yang tak gatal dan tersenyum tipis. "Baiklah."
Harsa berjalan menghampiri Ibha yang tengah berbincang dengan sang putri. Kinan menjawab seadanya dengan wajah yang menunduk, melihat itu Harsa mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa menunduk terus, apa ada yang sakit?"
"Apa kak Alsaki sudah mengetahui keadaanku?" tanya Kinan mengalihkan topik pembicaraan yang dilontarkan oleh Harsa.
"Kenapa kamu mengalihkan pembicaraan ibu?" tanya balik Harsa berusaha tenang, seakan mencerna perkataan Kinan.
"Kenapa Ibu dan Ayah baru menjengukku sekarang di saat aku terbaring di sini?" isak Kinan dengan nafas yang tak teratur, rasa sesak bagaikan terhimpit batu besar membuat Kinan tidak bisa mendapatkan oksigen lebih banyak.
"Biasanya Ibu dan Ayah tidak pernah memperhatikan aku di saat aku melemah, kalian malah memperhatikan aku di saat aku terbaring di sini," jelas Kinan to the point. Sebab dirinya tidak suka basa basi, apalagi termasuk urusan keluarga.
__ADS_1
Fahad yang mendengar itu seketika berdiri hendak menghampiri Kinan yang tengah menahan isak, tapi niatnya ia urungkan. Membiarkan Kinan mengeluarkan semua uneg-uneg yang terus menumpuk di pundak. Mencerna perkataan, memahami apa yang dilontar, hingga paham betul dengan perasaan Kinan.
Harsa dan Ibha yang mendengarkan pembicaraan Kinan saling melempar pandang dan menatap setiap inci wajah Kinan yang kini dipenuhi dengan linangan air mata.
Kinan menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. "Baiklah, terima kasih sudah menjenggukku. Ibu dan Ayah ke sini cuman mau lihat Kinan,'kan? Sekarang Kinan sudah merasa lebih baik, bahkan mas Fahad merawat Kinan dengan baik. Jadi, jangan khawatirin itu. Fokus dengan pekerjaan kalian, supaya suatu saat nanti aku bisa mengurusnya setelah kalian siap untuk merehatkan badan."
"Terima kasih sudah datang, Kinan baik-baik saja," sambungnya dengan mata berkabut akibat linangan air mata terus berkumpul di mata indah.
Tak kuasa mendengar jerit Kinan, Harsa berhambur memeluk putri semata wayangnya. Bersamaan dengan itu, tangis Kinan pecah dalam pelukan sang ibu. Harsa mengerti, bahkan lebih mengerti sekarang. Di balik ucapan sang anak, rupanya dia terlalu mengabaikan segala ujian yang menimpa anaknya.
Suara isak tangis berhasil membuat Harsa terhipnotis, setelah Kinan berusia satu tahun Harsa meninggalkan Kinan untuk mengurus bisnis sampai melupakan bagaimana suara tangis Kinan. Suara itu kembali menyayat hati Harsa, ini pertama kalinya Harsa mendengarkan Kinan menumpahkan segala beban yang ditanggung di usia 17 tahun ini.
"Maafkan ibu, Nak. Ibu terlalu sibuk sampai tidak merasakan beban yang kamu pikul, ibu merasa berdosa telah mengabaikanmu. Ibu benar-benar merasa bersalah, ibu ingin memperbaiki masa itu," bisik Harsa yang terdengar hingga gendang telinga Fahad.
Isak tangis Kinan terus mengema, meremas erat pundak Harsa seolah-olah tidak ingin berpisah dari ibu yang mengandungnya. "Ibu jahat! Ibu selalu sibuk dengan tugas Ibu, bahkan Ayah pun sama! Kalian benar-benar jahat!"
"Ibu pikir aku sanggup menanggung beban sendirian hah? Setiap malam aku terus menangis, menangis, bahkan menangis sampai tak peduli dengan air mata yang berubah menjadi darah. Aku capek aku muak dengan semuanya! Setiap hari di sekolah aku selalu mendapatkan perlakuan tak layak, aku disiksa olehnya! Kalau Ibu dan Ayah ingin mengabaikan aku terus meneruh kenapa tidak kembalikan saja aku ke Allah ...," jerit Kinan dalam dekapan Harsa. Jari jemarinya meremas kuat kerudung panjang Harsa, tak peduli dengan selang infus yang terasa sakit bahkan menyakitkan.
Bibir Harsa bergetar hebat, tangis air mata terus membasahi kerudung Kinan. Lontaran Kinan menbuat Harsa menyadari, bahwa dirinya tak layak disebut sebagai ibu yang sempurna hanya karena berhasil mendidik anaknya menjadi siswa teladan dan cerdas.
"Setiap hari kelulusanku, Ibu dan Ayah bilang akan datang dan hadir di acara itu. Nyatanya kalian berdua tak menampilkan batang hidung, sementara yang lain kedua orang tuanya datang untuk mengabdikan momen indah. Aku benar-benar iri dengan mereka, bahkan saat sesi pemotretan aku sendirian dengan senyum kepedihan. Beruntunglah kak Alsaki datang untuk menemani, meski waktu itu sudah terlambat. Dia memberikan buket bungan mawar merah indah."
"Bahkan di saat aku dirundung pun, aku tidak sanggup. Aku memeluk lututku berharap Ibu datang untuk menenangkanku. Nyatanya semua itu kebohongan! Aku terus menerus memendam perasaan lelahku sampai aku tak sanggup menanggungnya, beribu-ribu kata aku tuliskan dalam lembaran. Berharap Ibu membacanya, nyatanya tidak sama sekali bahkan Ibu tak menyentuhnya."
"Ketika Ibu pulang, Ibu hanya menyisihkan waktunya untukku sekitar kurang dari lima menit! Aku belum bicara, aku belum membuka suara, bahkan aku belum melakukan semuanya. Aku hanya bisa bicara panjang lebar saat Ibu dan Ayah menjodohkan aku dengan mas Fahad."
"Di saat aku ingin membuka suara, selalu saja ada penganggu yakni telepon sia*lan itu. Lalu ibu berkata bahwa Ibu harus pergi keluar negeri mengurus bisnis di sana. Semua itu membuatku muak! Aku lelah! Aku marah! Aku kecewa! Teganya kau Ibu! Bahkan Ayah pun sama!"
Kata demi kata terlontar dari mulut Kinan dengan posisi masih memeluk Harsa, Harsa yang mendengar itu merasakan betapa beratnya ujian yang dipikul oleh Kinan. Sedangkan Fahad tak percaya dengan apa yang dirasakan oleh Kinan, jiwanya terhimpit di bebatuan yang sangat besar.
'Seberat itukah kamu menanggung semuanya?' batin Fahad.
Ibha tak mampu berkata, membiarkan anaknya mengeluarkan semua beban yang dipikul oleh sang anak. Ada rasa bersalah dan dosa yang begitu tinggi dan besar, benae-benar seorang ayah yang egois.
__ADS_1
"Aku hanya butuh kasih sayangmu, Bu! Tidak ada yang lain ...," lirih Kinan yang kini tangannya mulai melemah tidak mengcengkram kerudung Harsa.
Harsa kemudian melonggarkan pelukannya, menatap wajah sembab Kinan yang oenuh dengan air mata. Mengusap dan menghilangkan air mata kepedihan dengan kedua jempolnya dan mencium kening Kinan. Terskhir mengenggam tangan Kinan dan mencium punggung tangan gadisnya itu.
"Maafkan ibu, Nak. Ibu benar-benar merasa bersalah dan berdosa kepadamu. Maafkan ibu, Nak. Salah ibu semuanya sampai kamu menanggung beban seberat itu. Ibu ingin waktu itu berputar kembali, menghabiskan masa kecilmu, mengobati segala luka yang mengores dirimu. Andai saja itu bisa, ibu ingin beban yang kamu oikul berpindah pada ibu. Biarkan ibu menanggung semuanya, karena kamu tidak salah ibulah yang salah," ucap Harsa mengelus pincuk kepala Kinan dengan kasih sayang.
"Ayah juga minta maaf, ayah tak becus menjadi sosok ayah yang baik untukmu. Maafkan ayah, Nak ...," lirih Ibha ikut dalam pembicaraan dua wanita yang begitu ia jaga.
Kinan tak bisa berkata-kata lagi, matanya begitu sembab akibat tangisan air mata yang selama ini ia pendam. Ia melirik kedua orang tuanya dengan ekspresi sendu, tatapan mereka dipenuhi dengan rasa penyesalan. Kinan menarik nafasnya panjang. "Sudahlah jangan dipikirkan, aku baik-baik saja di sini. Jika tidak keberatan, bisakah Ayah dan Ibu menemaniku di rumah sakit sampai aku pulang?"
Harsa kemudian tersenyum, seolah-olah merasakan batinnya teriris belum lagi dengan hati yang dipenuhi rasa bersalah. "Ibu, akan menemanimu."
"Terima kasih, itupun jika tidak merepotkan dan menganggu jadwal Ibu dan Ayah," kata Kinan. "Jika itu menganggu, Kinan tidak apa-apa. Lagian, Kinan sudah tidak sendiri. Kinan sudah ada mas Fahad yang selalu siap berbagi beban yang Kinan pikul. Pergilah dan kembalilah dengan selamat."
Mendengar kata-kata terakhir itu, Harsa tak kuasa menahan isak tangis yang ia bendung. "Ibu akan menemanimu hingga kamu sembuh."
"Ayah juga sama, ayah akan menemanimu dan siap menjadi ayah yang siaga untukmu, Nak," cakap Ibha.
Kinan tersenyum tipis mendengar penuturan kedua orang tuanya. "Aku sudah memaafkan kesalahan Ibu dan Ayah. Jadi, jangan dipikirkan lagi. Kinan hanya lelah, dan Kinan hanya butuh kasih sayang dari Ibu."
"Ya Allah, Nak. Ibu jadi merasa bersalah lagi,mendengarkan itu membuat ibu bertanya. Terbuat dari apakah hatimu dan terbuat dari apa lagi pundak kuatmu."
Harsa kembali lagi mendekap putri bungsunya, begitupun dengan Ibha. Keluarga Abhipraya akhirnya merasakan apa arti keluarga yang sebenarnya. Sementara Fahad yang melihat, mendengar, dan memperhatikan keluarga itu hanya tersenyum menunduk. Hatinya begitu menangis haru melihat keluarga Abhipraya kembali lagi utuh setelah mereka tak pernah memperhatikan Kinan yang seiring berjalannya waktu tumbuh menjadi wanita tangguh.
Fahad menarik nafas panjang dan menghembuskannya berat, ia segera mendudukan pantatnya dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Menatap langit-langit rumah sakit belum lagi dengan bulir bening yang masih menari indah di pelupuk mata yang sebentar lagi akan keluar dengan sendirinya.
Di balik Kinan yang selalu ceria dan periang, ternyata menyimpan banyak luka dan beban berat yang ditanggung dipundak. Dirinya merasa beruntung memiliki wanita hebat seperti Kinan, belum lagi dengan kecantikan hati dan akhlak yang mempesona.
'Kinan, terbuat dari apakah kamu? Sehingga ketika kamu mengeluarkan sakit hatimu yang kamu tanggung dan memaafkan mereka? Aku beruntung bertemu denganmu. Aku akan selalu ada untukmu,' batin Fahad dan memejamkan mata.
•••••○○○•••••
Terima kasih yang sudah membaca terutama yang memberi kritik dan saran❤❤
__ADS_1
Semoga hari-hari kita penuh dengan bahagia🤗❤