My Soulmate

My Soulmate
Tak Berdaya


__ADS_3

Widia tengah sibuk mencari sumber perdarahan Kalycha.


"Tolong guyur terus cairan infusnya." perintah Widia pada Bidan Ayu dan Tina.


"Bagaimana dengan hasil Laboratoriumnya?" tanyanya lagi pada petugas yang lain.


"Pihak labor baru saja telepon dok, HBnya 8 gr % dok." jawab Bidan Ayu, sementara Widia masih fokus dengan alat USG ditangannya.


"Ketemu–." batin Widia setelah melihat hasil USGnya. Ternyata ada sisa plasenta yang melekat didinding rahim Kalycha. Dengan cepat ia langsung membersihkannya.


Perdarahannya pun mukai berkurang tapi ia masih merasa bersalah karena tidak memeriksa golongan darah Kalycha sebelumnya.


"Tolong pantau terus keadaannya, pastikan oksidennya masuk dan dihirup oleh pasien."


"Baik dok–."


Widia membersihkan tangannya dan membuka APDnya. Ia harus menemui keluarga Kalycha.


Pintu terbuka disana semua orang sudah menanti dengan harap-harap cemas. Wajah sedih dan cemas dari keluarga Kalycha dilihatnya satu persatu.


"Bagaimana kondisi istri saya dok?" Haidar yang pertama sekali menghampiri Widia. Wajahnya yang sembab dan tubuhnya yang gemetar berdiri tepat didepan Widia dan disusul yang lainnya.


"Bagaimana kondisi anak saya dokter?" Pram yang dia tahu Ayah Kalycha juga terlihat sedih matanya menunjukkan kalau ia baru saja menangis.


"Sabar ya Pak, Bu– kita berdoa saja, semoga Ibu Kalycha bisa melewati masa kritisnya. Tadi memang terjadi perdarahan karena ada sisa plasenta yang tertinggal dirahim Ibu Kalycha tapi sudah saya bersihkan. Hanya saja Ibu Kalycha belum sadarkan diri karena Ibu Kalycha banyak kehilangan darah." Widia memberitahu kondisi Kalycha saat ini masih mengkhawatirkan.


"Maafkan saya Pak, Bu, saya baru tahu kalau Ibu Icha memiliki golongan darah yang langka." Widia dengan tulus meminta maaf pada keluarga pasiennya.


"Iya dok, dia sama seperti istri saya. Golongan darahnya AB Rhesus Negatif dok." ucap Pram.


"Iya pak, justru itu yang mau saya sampaikan. Untuk stock golongan darah itu tidak tersedia di Rumah Sakit ini pak. Tapi pihak rumah sakit sedang berusaha mencari ke PMI pak siapa tahu mereka punya stock darah tersebut."


"Saat ini kadar HB Ibu Kalycha hanya 8 gr% pak. Dan minimal kita harus menaikkan minimal HBnya sampai 11 gr% Pak. Jadi Ibu Icha butuh transfusi darah dengan golongan darah yang sama Pak. Apakah dikeluarga bapak ada yang bergolongan darahnya sama dengan Ibu Icha?" tanya Widia.


"Tidak ada dok, karena Mommy Icha sudah meninggal dok. Dan keluarganya yang lain juga sudah tidak ada dok." jawab Pram lemah, kakinya gemetar sampai sulit menopang dirinya. Ia terduduk dilantai didepan ruangan bersalin itu.


"Mas–." Nayla hanya bisa memeluk Pram. Ia tahu betapa sedihnya perasaan Pram saat ini.


"Dok tolong usahakan cari golongan darahnya dok. Berapapun biayanya akan saya bayar dok–." Haidar sangat frustasi, ia ingin menolong istrinya tapi ia juga bingung harus berbuat apa. Rasanya percuma ia memiliki banyak harta bila ia tak mampu untuk menolong istrinya sendiri.


"Disini bukan masalah biayanya Pak, saya tahu keluarga Bapak mampu untuk membayar berapapun biayanya. Yang menjadi masalahnya adalah golongan darah istri bapak itu sangat langka Pak." jelas Widia lagi.


Ketika Widia sedang menjelaskan kondisi Kalycha Helsa dan Roy baru saja tiba.


"Maafin Helsa Kak–." Helsa memeluk Haidar. Tapi Haidar hanya termangu seperti patung. "Helsa telat datangnya karena tadi Helsa ketiduran." Helsa merasa bersalah karena tidak berada bersama keluarganya. Helsa baru tahu kondisi Kalycha setelah Halimah menelponnya. Helsa melepaskan pelukannya lalu melihat kepada dokter Widia.


"Dokter Widia, maaf bukan maksud saya mau menggurui atau melangkahi SPO dokter. Tapi ini saya dapat golongan darah O Rhesus Negatif dok, semoga ini bisa membantu dok. Tapi saya hanya menemukan dua kantong dok." Helsa begitu tahu Kalycha pendarahan dan memerlukan donor darah secepatnya ia langsung menghubungi hampir semua Rumah Sakit yang ada di Jakarta tentu saja dengan bantuan suaminya.


"Oh Tuhan, kenapa aku bisa lupa?" Widia begitu menyesal dalam hatinya. Widia ia baru teringat kalau pendonor untuk golongan AB Rhesus negatif itu selain bisa diberikan oleh golongan darah AB Rhesus Negatif tapi bisa juga diberikan dari golongan darah O Rhesus negatif. Karena ia begitu khawatir dengan Kalycha sampai-sampai ia melupakan hal yang sepenting itu. Untung ada Helsa yang mengingatkan dan langsung membawakan darah itu padanya.


"Oh, Terimakasih dokter Helsa. Tapi sepertinya ini tidak cukup dok, dan semoga saja ini bisa membantu menaikkan kadar Hemoglobin Ibu Icha." Widia langsung membawa kantong darah yang dibawa Helsa.

__ADS_1


Widia langsung memasukkan darah yang dibawa Helsa kedalam tubuh Kalycha melalui selang transfusi.


"Ayu tolong telepon petugas Bank darah lagi." Ayu pun langsung menghubungi pihak Bank Darah dan hanya menunggu 5 menit salah satu petugasnya langsung datang keruangan bersalin menemui dokter Widia.


"Ada apa dok?" tanya petugas Bank darah.


"Apakah kita punya stock darah O Rhesus Negatif?" tanya Widia kepada petugas Bank darah yang sudah berdiri didekatnya.


"Maaf dok, untuk semua golongan darah yang Rhesus Negatif kita tidak punya stok darahnya dok. Tadi dokter Helsa juga sudah menanyakan itu pada kami dok."


"Ok. Terimakasih."


"Kalau begitu saya permisi dok." Widia menganggukkan kepalanya. Dan petugas tersebut langsung meninggalkan ruangan itu.


"Tolong pindahkan Ibu Kalycha ke ruangan ICU, dan bila darahnya sudah masuk semua tolong minta petugas Lab untuk cek HBnya kembali."


"Baik dok." jawab Bidan Tina.


Widia kembali menemui keluarga Kalycha.


"Pak, Bu saat ini Pasien harus kami pindahkan ke ruangan ICU supaya mendapatkan perawatan lebih intensif. Karena sampai saat ini Ibu Kalycha belum juga sadar."


"Dok tolong selamatkan istri saya dok." lirih Haidar.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin pak. Tapi saya juga bukan Tuhan, untuk saat ini kita hanya bisa berdoa Pak semoga Ibu Kalycha bisa melewati masa kritisnya."


"Apakah darahnya cukup dok?" tanya Helsa.


"Baik dok kami akan usahakan." ucap Helsa.


"Nanti setelah dipindahkan keluarga yang boleh menemani hanya 1 orang saja ya Pak, Bu. Boleh bergantian tapi karena ruangan ICU harus steril maka saran saya sebaiknya hanya satu orang saja. Semoga Ibu Kalycha cepat sadar dan bisa dipindahkan keruangan perawatan biasa." ucapnya lagi.


"Terimakasih dok." ucap Haidar dan Helsa bersamaan.


Widia kembali keruangannya langkahnya terlihat lemah. Baru kali ini dia sangat ceroboh. Biasanya dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.


Sesampainya diruangannya ia menangis dan menyesali kecerobohannya.


Tok...tok...tok...


Dengan cepat ia menghapus airmatanya.


"Masuk–." Ia melihat kearah pintu dan ternyata Helsa yang berdiri disana.


"Boleh aku masuk?" tanya Helsa sambil tersenyum.


"Aku sudah menyuruhmu untuk masuk, kenapa bertanya lagi?" ada nada penyesalan yang terdengar dari ucapannya.


Helsa berjalan kearah Widia dan langsung memeluk Widia. Ia tahu kalau saat ini Widia pasti merasa sangat bersalah.


Helsa dan Widia adalah sahabat namun mereka memilih jurusan yang berbeda saat mengambil pendidikan dokter spesialis.

__ADS_1


"Aku tahu kamu ga bersalah dan ga ada yang menyalahkan kamu." Helsa menghapus sisa-sisa airmata Widia dari pipinya.


"Kamu sudah berusaha dan terimakasih karena sudah membantu Kakak iparku melahirkan putranya. Aku ga mau kalau kamu menyalahkan dirimu sendiri. Kita ini hanya manusia biasa, kadang kita lupa dan salah. Tapi niat kita baik ingin menolong pasien-pasien kita."


"Kita sebagai dokter pasti tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada pasien kita tapi kita juga tidak bisa melawan takdir bila Tuhan menakdirkan yang lain untuk pasien-pasien kita. Aku percaya Kak Icha pasti kuat dan bisa melewati masa kritisnya. Dia itu wanita yang kuat dan hebat, ia tidak mungkin meninggalkan bayinya yang baru saja ia lahirkan. Jadi kamu pun harus semangat untuk menolong Kakak iparku itu."


"Maafkan aku Sa, aku ceroboh ga melihat golongan darahnya terlebih dulu."


"Aku tahu, aku juga sering lupa hal itu. Sepele memang tapi bisa berakibat fatal. Kamu pasti berpikiran kalau Kak Icha sama seperti kita yang memiliki golongan darah Rhesus positifkan? Aku juga baru tahu tadi saat Ibuku menelpon makanya aku cepat-cepat mencari golongan darah yang langka itu."


"Tapi sepertinya dua kantong itu ga cukup Sa, bagaimana kalau HBnya ga naik juga."


"Sssttt, kamu yang sebagai dokternya seharusnya kamu lebih optimis jangan pesimis begitu. Kamu tenang saja, saat ini suamiku sudah terbang ke Jerman untuk mengambil darah disana."


"Tapi jaraknya sangat jauh Sa?" Belum sempat Helsa membalas ucapan Widia tiba-tiba saja ponselnya bergetar.


Ting.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke HP Helsa.


"Kita berdoa saja semoga Mas Roy bisa membawanya lebih cepat karena sebenarnya keluarga Om Pram sudah meminta pihak dari Rumah Sakit Internasional di Jerman untuk membawanya ke Singapura. Ini suamiku baru kasih kabar kalau dia ga jadi terbang ke Jerman tapi ke Singapura."


"Syukurlah kalau begitu–. Semoga saja petugas dari Jerman cepat sampai ya Sa."


"Ia, jadi tetap semangat ya. Bantu Kakak iparku bangun kembali." ucap Helsa menyemangati Widia.


"Pasti Sa, aku pasti akan berusaha yang terbaik."


"Ya sudah, aku permisi dulu ya. Mau lihat keponakanku." Helsa tersenyum lalu keluar dari ruangan Widia.


DI RUANG ICU


Haidar dengan setia menemani Kalycha yang masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri. Ia selalu berdoa supaya Kalycha pulih. Haidar juga belum sempat untuk mengadzankan Putranya tapi ia tahu dari Ibunya kalau sudah ada Ayah dan mertuanya yang mengadzankannya.


"Sayang bangun sayang, aku mohon bangun Cha–." Airmata Haidar kembali menetes dipipinya.


Tangannya tak lepas menggenggam tangan Kalycha.


"Cha, anak kita butuh kamu Cha. Dia menangis minta disusui Cha. Bangun sayang, aku mohon Cha, buka matamu." lirih Haidar. "Kamu dengar aku kan sayang?"


Haidar terus saja mengajak Kalycha untuk bicara berharap Kalycha segera membuka matanya. Ia percaya kalau Kalycha pasti mendengar suaranya.


Sebenarnya ia juga sudah meminta kepada dokter supaya mengijinkan Putranya dibawa ke sisi Kalycha itu tapi dokter tidak mengijinkannya. Karena tidak baik bagi kesehatan putranya.


"Cha, anak kita tampan Cha kayak aku. Tapi mata dan bibirnya mirip sama kamu Sayang. Ini fotonya tadi Helsa sempat memoto putra kita. Ayo Cha buka mata kamu sayang. Lihat lah Cha betapa tampannya anak kita ini Cha." Dengan suara yang bergetar Haidar menunjukkan foto putranya kedepan wajah Kalycha berharap Kalycha segera membuka matanya dan melihat foto putranya.


"Kamu ga mau lihat Sayang? Anak kita lucu banget sayang. Sekarang dia nangis terus sepertinya lapar sayang minta disusui sama kamu Yang–."


"Icha, Kalyca Lixui Bramasta ayo buka mata kamu sayang–." Haidar sungguh tak berdaya. Seandainya rasa sakit Kalycha bisa digantikan olehnya maka dengan rela ia akan menggantikannya.


Mari kita doakan yang terbaik untuk Cicak Cicak di dinding.

__ADS_1


Alvin apa kabarnya yah??? 🤔


__ADS_2