
Persiapan pernikahan ulang Haidar dan Kalycha hampir rampung. Sudah hampir 80 %, mulai WO, gedung, catering dan beberapa hal lainnya sudah ditangani oleh Yetti dan Halimah. Mereka bekerja sama dan sangat antusias untuk mempersiapkan pernikahan anak mereka itu.
Nayla juga turut mempersiapkan segala keperluan Kalycha, karena putrinya itu masih sibuk dengan pekerjaannya begitu juga dengan Haidar yang sibuk dengan urusannya dikantor.
Sudah 2 minggu setelah pertengkaran kecil mereka direstoran beberapa waktu lalu, Kalycha masih menghindar untuk bertemu Haidar. Hampir 2 minggu Kalycha sengaja mengambil shif malam terus, selain memang ingin menghindari Haidar dia juga ingin jika saat cutinya nanti hari liburnya bertambah dari libur jaga shif malamnya. Sehingga selesai acara pernikahannya dia bisa langsung honeymoon bersama Haidar dan tidak mengganggu jadwal kerjanya.
Dengan langkah yang lemah Kalycha memasuki rumah orangtuanya, hari ini hari weekend dan sudah waktunya dia off dinas malam.
"Kamu sudah pulang sayang?" sapa Nayla yang melihat Kalycha duduk dimeja makan sambil merebahkan kepalanya dimeja dengan berbantalkan lengannya. Dipejamkannya matanya yang sudah sangat lelah.
"Iya Bun, capek banget Bun." jawabnya tanpa membuka matanya.
"Kamu udah makan?" Nayla khawatir dengan kesehatan putrinya itu yang belakangan ini selalu pulang pagi tidak seperti jadwalnya biasa.
"Tadi udah Bun, makan mie instan sih, tapi masih kenyang. Pengen langsung tidur aja Bun." lirihnya.
"Jangan dibiasakan makan mie instan terus dong sayang. Ingat kamu itu punya penyakit asam lambung nggak boleh selalu telat makan apalagi makan mie instan. Kamu itu dokter dan seharusnya kamu udah lebih paham tentang kesehatan kamu dari pada Bunda." Nayla duduk disampingnya sambil mengelus lembut rambutnya.
"Ga selalu kok Bun, kebetulan tadi laper banget. Terus yang cepet masaknya cuma mie instan tinggal rebus doang." Kalycha selalu saja mencari alasan kalau dinasehati Ibunya itu.
"Ya udah, kamu tidur gih–, tapi mandi dulu sebelum tidur. Badan kamu itu bau rumah sakit."
Kalycha beranjak dari duduknya. Lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
Rasanya dirinya seperti tak punya tenaga lagi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu. Dengan langkah yang gontai dan mata yang ngantuk Kalycha membuka handle pintu kamarnya dan langsung berjalan ke tempat tidurnya. Dibaringkannya tubuh lelahnya diatas tempat tidurnya. Dan tiba-tiba saja dirinya merasakan seperti ada yang memeluknya dari belakang.
Matanya yang tadinya sangat ngantuk seperti bola lampu 5 watt tiba-tiba ON menjadi 100 watt. Kalycha membalikkan badannya dan melihat siapa yang sudah berani masuk kamar dan memeluknya.
"Mas Hai–? Ngapain mas di kamarku?" sentak Kalycha lalu langsung bangun dan duduk diatas tempat tidurnya menjauhkan tubuhnya dari tangan yang memeluknya. Kalycha pun sadar kalau yang memeluknya adalah suaminya.
"Kangen tahu Cha? Udah dua minggu loh kamu ngindarin mas terus–." lirih Haidar. Dirinya pagi-pagi sekali sudah sampai dirumah Kalycha. Tadi selesai sarapan, Haidar minta ijin pada Nayla dan Pram untuk menunggu Kalycha dikamarnya. "Kamu ga kangen apa sama aku?" sambungnya dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Aku juga kangen Mas, tapi semua ini ku lakuin demi dapat libur sebulan."
__ADS_1
"Enggak–." jawabnya singkat. Lalu beranjak dari tempat duduknya dan langsung berjalan ke kamar mandi. Malu rasanya bertemu dengan orang yang dicintainya itu dalam kondisi badannya yang masih bau rumah sakit.
"Kamu tega ya Cha–." teriaknya saat Kalycha sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Tak ada jawaban dari istrinya itu, yang terdengar hanya gemercik suara air Kalycha mandi.
15 menit Haidar sudah menunggu istrinya itu sambil bermain game di ponselnya. Tapi Kalycha belum juga selesai mandi.
Sementara Kalycha yang sudah selesai mandi sedang kebingungan. Karena ia hanya membawa handuk saja tidak membawa pakaian gantinya.
"Mas–." Kepala Kalycha nongol dari balik pintu kamar mandi. Haidar yang sangat serius dengan gamenya tidak mendengar suara Kalycha yang memanggilnya.
"Mas–." Kalycha menaikkan intonansinya karena sebelumnya tidak ada jawaban sati suaminya itu.
"Iya sayang." Haidar menghentikan kegiatannya lalu berjalan menuju Kalycha yang memanggilnya.
"Mas keluar dulu gih, Icha mau ganti baju. Tadi lupa bawa baju ganti." pintanya dengan wajah yang membuat Haidar gemas.
"Kirain ada apa. Keluar aja, mas juga udah pernah liat semuanya. Udah pernah ngerasain juga." Haidar tersenyum menggoda Kalycha yang tampak menggemaskan jika sedang malu-malu.
"Emang iya? Coba liat?" Haidar memanjangkan lehernya berusaha mengintip dari luar.
"Enak aja, belum sah–, udah keluar sana? Kalau enggak aku teriak nih biar Bunda datang." Ancam Kalycha lalu tersenyum melihat suaminya yang kesal. "Dasar cowok mupeng."
"Apa kamu bilang? Mupeng? Apaan tuh Mupeng?"
"Muka pengen–. Hahaha." Kalycha tertawa dan tanpa disadarinya Haidar menarik pintu kamar mandi hingga terlepas dari tangan Kalycha.
Kalycha berlari menghindar dari suaminya yang ingin menangkapnya.
"Kamu bilang Mas mupeng, kamu tuh yang buat Mas jadi pengen." Haidar mengejar Kalycha sampai akhirnya Kalycha sudah berada disudut kamar mereka, tak dapat lagi dia menghindar dari Haidar. Kalycha berjalan mundur sampai terpojok ke tembok.
"Mas, jangan macem-macem loh yah, kalau enggak nanti Icha teriak beneran loh." tangan kanan Kalycha memegangi handuknya yang hampir lepas sementara tangan kirinya mencegah supaya Haidar tidak mendekatinya.
__ADS_1
"Teriak aja nggak apa-apa, palingan Daddy langsung nikahin kita sekarang juga." Haidar tersenyum dengan seringai liciknya.
"Mas–." tangan kiri Kalycha berhasil dipegang oleh Haidar. Dengan cepat Haidar langsung mencium lembut bibir istrinya itu. Tangan kanan Kalycha menggenggam kuat handuknya supaya tidak terlepas.
"Mas–, mas itu mau ngebunuh aku ya? Aku ga bisa nafas tahu mas." Kalycha terengah-engah, dia sengaja menggigit bibir Haidar supaya suaminya itu melepaskan menciumnya.
"Mas pengen sayang–, boleh ya kita cicil sekarang."
"Cicil apanya?" Kalycha pura-pura tidak tahu maksud perkataan suaminya itu lalu mendorong tubuh Haidar supaya menjauh darinya.
Kalycha membenarkan handuknya lalu mengambil baju gantinya dari lemari.
"Cicil dedeknya yang–." ucap Haidar manja.
"Emang mau beli rumah pake dicicil segala?" cibir Kalycha sambil memakai pakaiannya. Kalycha seperti tidak peduli lagi dengan Haidar yang terus merengek kepadanya.
"Sayang mas udah pengen banget. Nih udah tegang loh." ucap Haidar sambil melirik bagian bawahnya. Kalycha pun melihat sekilas kearah yang dimaksud suaminya itu. "Kalau ga dikeluarin ntar kepala mas pusing atas bawah Cha–."
"Keluarin sendiri aja mas–."
"Nggak enak dong Cha!" lirih Haidar.
"Kalau ga enak dikasih kucing aja mas–, gitu aja kok repot." Kalycha sambil tersenyum geli, membayangkan junior Haidar di makan kucing.
"Bener nih dikasih kucing? Ntar kamu ga punya burung yang bisa kamu mainin loh."
Sorry ya gaes telat UPnya dan part yang ini juga dikit.
Nanti Author Up yang partnya panjang yach. Berhubung sudah tengah malam.
Sekian dulu ya Gaes 😍
Ini udah Monday ya waktunya Vote 😍
__ADS_1
Ditambah Like, Kembang dan copinya untuk Update Part yang panjang 🤗