
Ini pertama kali Kalycha akan melakukan pemeriksaan kandungannya. Syukurnya Haidar tidak membawanya periksa ke Rumah Sakit dimana dirinya bekerja tapi membawanya ke Rumah Sakit Harapan Bunda tempat Helsa bekerja. Kalau tidak pasti Kalycha akan sangat malu karena hampir semua keluarganya ikut mengantarnya untuk pemeriksaan kandungannya itu.
Bahkan Oma Milah terlihat sangat antusias begitu mendengar berita kehamilan cucunya itu.
Disana ada Oma Milah, Daddy dan Bundanya Nayla. Kedua mertuanya Halimah dan Deon, ada juga Gea dan Abas, yang absen hanya Dara, Gilang dan adik kembarnya. Karena Nayla tidak ingin membawa kedua putranya itu untuk ikut ke rumah sakit. Bahkan Abas dan Yetti juga turut hadir disana.
Suatu kehormatan bagi Rumah sakit itu dengan kehadiran pengusaha-pengusaha ternama seperti Pramudja dan Abas Prakasa, dan tentu saja juga Haidar yang dulu sempat dikenal sebagai Haikal. Saat ini Haidar juga sudah tergolong pengusaha sukses karena PT Prakasa Saint itu adalah hasil rintisannya sendiri dan berhasil tanpa membawa nama besar Prakasa Group.
"Pasien atas nama Ibu Kalycha–." panggil salah seorang Bidan yang menjadi asisten dokter kandungan yang akan memeriksa kehamilan Kalycha.
Semua keluarganya yang ikut menunggu antrian turut berdiri begitu nama Kalycha dipanggil.
"Ayo Sayang kita sudah dipanggil." Haidar merangkul bahu Kalycha.
"Mas, aku ga sakit–." Kalycha kesal, pasalnya Haidar dan semua keluarganya memperlakukan dirinya seperti orang sakit. Apalagi saat itu Haidar melingkarkan tangannya dipinggang Kalycha lalu memapahnya seperti memapah wanita hamil dengan perut yang sudah membuncit besar.
"Iya sayang aku takut kamu kenapa-napa." ucap Haidar tanpa melepas tangannya dari pinggang istrinya.
"Aku masih bisa jalan sendiri Mas–." Kalycha semakin kesal. Seandainya saja di Rumah Sakit itu ada yang mengenalnya tentu saja dia akan sangat malu apalagi dia juga seorang dokter. Sedikit banyaknya dia pasti tahu bagaimana menjaga kehamilannya.
"Ya udah tapi hati-hati." Haidar melepaskan tangannya dari pinggang Kalycha. Ia ingat pesan dari Gea, tidak boleh membuat wanita hamil stress.
"Mari Bu silahkan masuk–." Bidan Ria itu yang tertulis di name tag yang dipakai wanita itu mempersilahkan Kalycha untuk masuk bersama dengan Haidar. "Maaf untuk keluarga yang mengantar silahkan tunggu diluar saja ya Bu, Pak–." ucapnya sopan ketika melihat Oma Milah dan yang lainnya juga ingin masuk kedalam.
"Tapi saya ingin melihat Cicit saya Sus–." lirih Oma Milah dengan wajah yang memelas seperti memohon.
"Iya Bu, tapi ini sudah menjadi peraturan rumah sakit, saya mohon Ibu dan Bapak harap maklum ya." Tentu saja Ria tidak ingin melanggar peraturan yang telah dibuat oleh pihak Rumah Sakit itu apalagi jika ada keluarga pasien lain yang melihat tentulah ia tidak mau dikatakan pilih kasih pada keluarga pengusaha itu.
"Ria–." Helsa memanggil Bidan yang menjadi Asisten dokter kandungan itu.
"Dokter Helsa, ada apa dok?" Ria terlihat bingung kenapa Helsa berada disana.
"Biarkan mereka masuk, mereka keluarga saya Ria, yang didalam itu Kakak ipar saya. Dan–, saya juga sudah permisi dengan Direktur Rumah Sakit dan juga dokter Wandi." jelas Helsa dan Ria pun tak dapat menolak lagi.
"Baiklah dok–." Ria pun mempersilahkan semua keluarga Kalycha masuk kedalam. Hanya langkah mereka yang terdengar. Mereka masuk satu persatu dengan tertib agar tidak mengganggu pemeriksaan Kalycha.
"Bapak, Ibu silahkan tunggu disini saja ya. Nanti Bapak Ibu bisa melihat hasil USG nya dari layar itu." Bidan Ria menunjukkan sebuah TV Lcd dengan layar yang besar. Dan saya harap Bapak dan Ibu tenang ya. Supaya dokter yang memeriksa anak Bapak Ibu tetap konsentrasi dengan pemeriksaannya." jelas Ria dan dibalas anggukan oleh semuanya.
__ADS_1
"Terimakasih Sus–." sahut mereka bersamaan.
Helsa mengulum senyumnya ia merasa geli melihat keluarganya itu seakan patuh pada peraturan yang ada.
"Dek–." Haidar menyenggol lengan Helsa.
"Apaan?"
"Dokternya ga ada yang cewek?" tanya Haidar setengah berbisik ketika melihat dokter yang akan memeriksa Kalycha adalah seorang dokter laki-laki.
"Emang kenapa Kak?" tanya Helsa bingung.
"Panggil dokter cewek aja dong Sa, Kakak ga mau kalau Kakak iparmu diperiksa sama dokter cowok."
"Iiih, Kak Haidar jangan mulai kayak Ayah deh–." Helsa menatap kesal pada Haidar. "Bininya ga bisa dipegang orang lain." gerutu Helsa sementara Wandi sahabatnya hanya tersenyum. Dan pria yang di sindirnya itu hanya melotot kearahnya.
"Awas ya dek, buka-buka aib Ayah segala." bisik Deon pada Helsa.
"Mas, jangan buat malu dong." Kalycha pun kesal mendengar ucapan Haidar.
"Ada yang bisa saya bantu dok?" tanya Wandi, ia merasa segan memperlakukan Kalycha seperti pasien lainnya karena dia sudah tahu dari Helsa kalau Kakak iparnya itu juga seorang dokter, tapi masih dokter umum.
"Baiklah–, Bu Icha Kapan HPHTnya?" tanya dokter Wandi ingin memastikan tafsiran kelahiran bayi Kalycha.
"Dok cucu saya ini mau periksa kehamilannya dok? Bukan main HP. Kenapa dokter malah nanya kapan main HP atau apa tadi?" protes Oma Milah yang tiba-tiba kesal mendengar pertanyaan dokter Wandi. Sementara dokter Wandi hanya tersenyum saja.
"Oma, tenang Oma. Dokter Wandi bertanya kapan tanggal Hari Pertama Haid Terakhirnya Kak Icha, Oma. Bukan kapan main HP Oma." terang Helsa dan dibalas anggukan dari Oma Milah dan yang lainnya yang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud HPHT.
"Ooo–." Oma Milah membentuk huruf O pada bibirnya tanpa mengeluarkan suara. "Bilang atuh." Oma Milah menepuk lengan Helsa. "Oma kan ga tahu yang begituan. Dulu di Zaman Oma belum ada tuh ditanyain yang begituan, tahunya pas mau brojol ya dibantu sama dukun beranak saja." tutur Oma Milah.
"Nih Oma dulunya hidup di Zaman apa sih? Masa belum ada dokter kandungan."
"Ya beda dong Ma, Mama kan dulu tinggalnya di kampung. Padahal Papa udah dikota tapi Mama pengennya lahiran didepan Eyang ya jadi ga tahu gimana prosedurnya melahirkan dirumah sakit." Sahut Pram.
"Udah ya Oma jangan berisik dulu, biar kita dengar dulu penjelasan dokter tentang kehamilan Kakak ipar ya, Oma." ucap Helsa lembut dan dibalas anggukan oleh Oma Milah. Karena jika Helsa menerangkannya secara tegas ia takut Oma Milah tersinggung karena semakin tua umur seseorang sifatnya akan kembali seperti anak kecil dan sangat sensitif.
Kalycha pun memberi tahu kapan HPHTnya itu. Lalu dokter Wandi mempersilahkan Kalycha untuk berbaring ditempat tidur periksa.
__ADS_1
"Maaf kancing celananya bisa dibuka Bu–." ucap dokter Wandi, dan mata Haidar langsung terbelalak.
"Mau ngapain dok? Jangan kurang ajar ya dok sama istri saya!" seru Haidar sementara Kalycha dan Helsa secara bersamaan langsung tepuk jidat.
"Kak, bisa ga sih jangan banyak protes? Kalau kancing celana Kak Icha ga dibuka gimana dokter Wandi mau melakukan pemeriksaannya Kak? Lagian bukan dibuka sampe bawah kok ini nih cuma segini." Akhirnya Helsa yang membantu menurunkan celana Kalycha.
"Ya tetap aja dia lihat perut Icha. Aku ga rela–." Batin Haidar.
"Mulai deh Bucinnya. Jelas banget bibitnya nurun dari siapa? Ngejekin Ayah nomer satu eh sekarang ke makan omongan sendiri Lo Kak–." Batin Helsa.
Dokter Wandi meletakkan jelly berwarnya biru bening itu dibagian perut bawah Kalycha.
"Selamat ya Bu Icha, Pak Haidar dan semua keluarga lainnya. Benar ini Ibu Kalychanya sedang hamil dan kehamilannya sudah memasuki 7 minggu. Ini belum berbentuk apa-apa ya Pak masih berupa kantung kehamilan saja." jelas Wandi sambil terus menggerak-gerakkan alat USG diperut Kalycha.
Tanpa sadar airmata Haidar menetes, dan dilihat oleh Helsa.
"Lo nangis kak?" Pertanyaan Helsa mengundang semua mata tertuju pada Haidar. "Hahaha." Helsa tertawa geli melihat Kakaknya itu menangis. "Cemen Lo Kak, masa bini hamil Lo sampe nangis gitu sih?"
"Sialan Lo Frozen KW, gue tuh cuma terharu aja ternyata kecebong yang gue tanem bentar lagi berbentuk Orok." ucapnya tanpa memfilter lagi apa yang dia ucapkan. Tak sadar kalau ditempat itu bukan hanya ada dia dan Kalycha saja tapi semua keluarganya ikut mendengar apa yang dikatakannya.
"Huuu, dasar mulut Lo udah lupa bangku sekolahan ya Kak–, ga nyadar Lo ya disini tuh ada Oma, Ayah Ibu dan mertua lo." Seakan tak perduli dengan ucapan Helsa, Haidar langsung membantu Kalycha bangun dan merapikan kembali bajunya setelah Ria membersihkan sisa jelly yang ada di perut Kalycha.
"Terimakasih ya sayang–." Tanpa malu Haidar menghujani wajah Kalycha dengan ciuman. "Baik-baik didalam sana yah anak Papa–." Haidar menciumi perut Kalycha yang masih rata.
Semua orang tersenyum padanya. Setelah membantu Kalycha turun dari tempat tidur periksa itu. Haidar langsung berlari kearah Halimah dan langsung memeluk Halimah.
"Terimakasih ya Bu, sudah mengandung Haidar. Menjaga dan membesarkan Haidar hingga sekarang Haidar akan memiliki anak Bu." Halimah tersenyum haru dan tanpa terasa airmatanya menetes.
"Lepas pelukanmu dari istriku, Haidaaar–." bisik Deon sambil menjewer telinga Haidar.
"Sakit Ayah–." Haidar mengusap-usap telinganya yang bekas dijewer Deon.
Haidar menyadari kalau Yetti juga terharu dan sampai meneteskan airmatanya. Haidar mendekati Yetti lalu memeluknya.
"Terimakasih juga buat Mama, yang sudah bersedia menolong dan menjaga Haidar hingga Haidar pulih dan kembali kepada istri dan keluarga Haidar."
Minta Votenya dong yaach 😍
__ADS_1
OTW Ending ya Gaes 🤗