
Masih 21+++
Mohon skip buat yang masih JOMBLO
Sudah hampir 2 jam lebih Kalycha mendiamkan Haidar. Pasalnya dia sangat malu didepan Ibu mertua itu. Syukurnya Daddy dan Bundanya lambat turun untuk sarapan, sehingga mereka tidak tahu apa yang terjadi saat mereka sarapan. Nayla hanya menelponnya saja bilang kalau mereka akan pulang lebih dulu.
Kalycha sengaja cuekin suaminya dengan asyik menonton drakor favoritnya. Haidar bolak balik mondar mandir di depan istrinya itu, tapi Kalycha tidak peduli pura-pura tidak melihat kalau suaminya itu sedang mencari-cari perhatian darinya.
"Yang udah dong marahnya." rayu Haidar tapi Kalycha diam saja.
HP Kalycha berdering diliriknya ponsel istrinya itu, dan tertera nama Aditya disana.
"Ngapain sih dia nelponin bini gue." Gerutu Haidar kesal. Tapi ia harus meredam emosi dan rasa cemburunya demi bisa mendapatkan maaf dari Kalycha.
"Yang ada yang nelpon nih–." dengan terpaksa Haidar memberikan ponsel istrinya itu membiarkan pria itu bicara dengan istrinya.
"Tumben dia ga marah, liat ada cowok yang nelpon aku." Kalycha menerima ponselnya sambil menatap suaminya dengan heran.
"Ada apa Dit?" tanya Kalycha tanpa basa-basi. Haidar duduk disebelah Kalycha mencoba mencuri dengar pembicaraan istrinya dengan Adit, sambil mendekatkan telinganya ke ponsel Kalycha.
Tapi Kalycha beranjak dari sofa yang diruangan itu lalu berjalan ke balkon hotel.
"Gue mau tahu semua tentang Dara dong–." Seru Adit dari seberang telponnya.
"Untuk apa? Lo kan bisa tanya langsung ke orangnya." Haidar terus saja mengikuti kemana Kalycha pergi dan memeluknya dari belakang. Kalycha membesarkan matanya tapi Haidar tidak peduli, dia tetap saja memeluk istrinya itu.
"Udah, tapi dia ga mau kasih tahu gue."
"Sebenarnya kalian bener ga sih udah pacaran? Kok kayaknya Anty Dara cuek begitu sama lo?" Kalycha ragu kalau Dara hanya mengarang cerita saja.
"Iya bener, tapi kayaknya dia masih jauh dari jangkauan gue. Sebenarnya dia masih ga terima kalau pacaran sama berondong katanya. Padahal umur kita cuma beda sebulan doang Kaly."
"Haha, kudu banyak perjuangan lo untuk ngeluluhin hatinya. Aaahhh–." Kalycha mendesah karena tangan Haidar sudah bergerilya di gunung kembarnya.
"Lo kenapa Kaly?" Adit penasaran dengan suara yang baru didengarnya.
"Mas–." protes Kalycha tanpa suara ketika membalikkan tubuhnya menatap tajam pada suaminya.
"Gue ga apa-apa Dit." Sambil mencoba menghindari suaminya yang terus menciumi lehernya.
"Jangan bilang kalau lo nelpon sambil duduk diatas perut." ejek Adit.
"Sialan Lo Dit, mana ada. Aaahhh–." Kalycha kembali mendesah saat tangan Haidar sudah menyingkap gaunnya dan bermain di daerah sensitifnya.
"Udah ahk, Lo bikin gue ngiler aja. Sama siapa coba nanti gue lampiasin kalau gue pengen." Adit sebenarnya sedang menerka-nerka apa yang sedang dilakukan pasangan pengantin baru itu.
"Mana ada. Aaahhh–." Kalycha kembali mendesah. Dirinya tak dapat lagi menolak permainan suaminya itu.
"Lo nyangkal mulu, padahal disono lo lagi enak-enak. Sial Lo–." gerutu Aditya.
"Gue lagi kepedesan makan bakso Dit. Aaahhh–." Kalycha terpaksa berbohong dirinya tidak mungkin mengatakan pada Adit kalau suaminya sedang bekerja dibawah sana.
"Udah selesaiin dulu makan lo, kasih tuh burung makan yang kenyang. Ntar gue telpon lagi." Haidar langsung mengangkat tubuh Kalycha begitu tahu kalau Adit sudah menutup telponnya. Membawanya kembali masuk ke kamarnya dan membaringkannya pelan.
"Mas– buat malu aja deh. Icha kan lagi nelpon tadi." gerutu Kalycha, saat ini sudah berada dalam kungkungan Haidar. Tapi ucapan penolakannya tak sesuai dengan gerakan tubuhnya yang tak dipungkiri juga menerima dan menikmati setiap sentuhan dari suaminya itu.
"Mas udah ga nahan Yang, dari tadi kamu cuekin mulu." lirihnya tanpa melepaskan tangannya dari bukit favoritnya itu.
Haidar langsung mencium bibir Kalycha, lalu Kalycha pun tidak mau diam saja dia membalas memagut bibir Haidar. Pertukaran saliva yang begitu dinikmati pasangan pengantin baru stok lama itu. Karena mendapatkan respon serangan dari istrinya Haidar buru-buru melucuti semua pakaian yang ada dalam tubuh istrinya itu membuatnya polos seperti bayi. Haidar pun dengan gerakan cepat melepaskan semua pakaiannya. Haidar menundukkan kepalanya mencium bibir Kalycha dengan nafsunya. Kalycha pun membalas ciuman suaminya itu dengan tak kalah bernafsu.
__ADS_1
Sementara Haidar mulai kembali melakukan penyatuannya, dimasukinya sarang si Juni dengan lembutnya. Masih rapat dan sempit terlihat dari Kalycha yang meringis merasakan perih saat si Juni berhasil masuk sepenuhnya.
Didiamkannya si Juni sesaat disarangnya itu, membiarkan Kalycha merasa setiap denyutannya. Setelah merasa relaks Haidar muai gerakan pinggulnya. Disentakkannya si Juni semakin masuk ke dalam sarangnya, Kalycha mencoba mengimbangi gerakan dan goyangan yang dibuat suaminya.
Kalycha membalas kembali memangut bibir Haidar dan ditengah pergumulan mereka Haidar merasakan istrinya itu telah mencapai pelepasannya yang pertama. Haidar memberikan sedikit ruang untuk istrinya itu merasakan kenikmatan yang mereka ciptakan kemudian Haidar menambahkan ritme permainannya. Haidar merasakan si Juni hampir mencapai puncak kenikmatannya. Sambil mengerang Haidar menekan habis si Juni sampai masuk penuh kedalam sarangnya. Disemburkannya larva panasnya kedalam lahan subur milik istrinya itu.
Pelepasan yang hebat membuat keduanya lemas kehabisan tenaga. Mereka masih terengah-engah hebat ketika momen itu berlalu.
"Mas pindah gih, berat tahu." Haidar pun menjatuhkan tubuhnya disamping Kalycha lali mencium puncak kepala istrinya itu.
"I Love you Yang–." ucapnya sebelum ia terlelap tidur.
"I Love you to Mas–." balas Kalycha lalu ikut terlelap.
Tak terasa 3 jam berlalu mereka tertidur karena pertempuran yang mengurus tenaga. Kalycha terbangun saat merasakan perutnya lapar minta diisi.
Ia melepaskan tangan Haidar dari pinggangnya. Lalu membalutkan selimut pada tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi.
Haidar terbangun saat mendengar pintu kamar mandi tertutup, ia pun bangun dan mengikuti Kalycha masuk ke kamar mandi. Kalycha yang masih sibuk menyabuni badannya sampai tidak sadar kalau suaminya sudah masuk dan langsung memeluknya.
"Kok aku ga di bangunin sih Yang?" Kalycha kaget ketika suaminya itu memeluknya tapi masih tetap sibuk menggosok tubuhnya.
"Sengaja tadi kayaknya mas masih nyenyak banget tidurnya." Haidar menciumi pundak Kalycha.
"Mas udah dong, Icha laper. Ga enak juga nanti kalau kita kelamaan sampe dirumah Ibu."
"Iya Sayang, sini mas bantu gosok punggung kamu." Kalycha memberikan spons mandi kepada suaminya. Lalu Haidar menggosok seluruh badan istrinya itu begitu juga sebaliknya.
Setelah selesai mandi, mereka langsung chek out dari hotel setelah membereskan semua barang-barang mereka.
"Mas Icha malu nih, masih kelihatan begini." Kalycha menunjuk bekas kiss mark Haidar yang dilihat Ibu mertuanya pagi tadi.
Kalycha tersenyum seolah setuju dengan apa yang dikatakan suaminya itu. Karena Kalycha juga pernah melihat sendiri betapa cemburuannya Ayah mertuanya itu bahkan pada anak-anak sendiri.
"Udah laper banget ya Yang? Masih bisa nahan ga sampe dirumah? Kita makan dirumah aja, soalnya aku kangen makan masakan Ibu." tanya Haidar saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.
"Laper sih mas, tapi masih bisa nahanlah. Icha juga kangen masakan Ibu."
"Kamu mau kita honeymoon kemana Yang?" tanya Haidar ketika tengah berhenti di lampu merah. Sambil mengelus lembut rambut Kalycha lalu mencium puncak kepalanya.
"Ga ada reverensi aku mas. Kalau mas pengennya kemana?" Kalycha balik bertanya.
"Kalau mas pengennya kita di hotel aja selama seminggu."
"iiih maunya. Enggak ahk, Icha pengen jalan-jalan. Icha udah sengaja tahu mas ngambil cuti sebulan."
"Apa Yang? Sebulan? Emang bisa?" Haidar merasa heran, bagaimana bisa istrinya itu mendapatkan cuti selama sebulan. Dimana-mana dan diperusahaan manapun cuti itu hanya 12 hari kerja dalam setahun.
"Ya bisa dong Mas–."
"Kamu kerja di Rumah Sakit loh Yang? Setahu mas kerja dirumah sakit itu susah loh dapet cutinya. Apalagi kamu kan kerjanya bukan di Rumah Sakit kamu sendiri, itu masih rumah sakit swasta loh." Haidar masih tidak percaya.
"Kalau cuti dari rumah sakit sih cuma 12 hari kerja mas resminya. Tapi selama ini kan aku udah shif malam terus jadi dari jaga shif malam itu juga ada liburnya. Aku kumpul-kumpulin tuh liburnya biar bisa menikmati libur panjang setelah Pernikahan kita."
"Ooo..." Haidar hanya ber Oh saja, seperti antara paham dan tidak. "Terus emang kapan kamu kumpulin libur kamu?"
"Kan aku pernah tuh cuekin mas hampir dua mingguan. Nah pas waktu itu aku manfaatin untuk shif malam terus. Sampe-sampe Bunda marah katanya aku ga jaga kesehatan sendiri."
"Ooo..." Lagi-lagi Haidar hanya mengucapkan satu huruf itu dengan panjang.
__ADS_1
Tak terasa mereka sudah sampai didepan rumah orangtuanya. Sampai lupa pembicaraan mereka akan honeymoon kemana nantinya.
Haidar keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk istrinya itu.
"Terimakasih Mas–." ucapnya ketika Haidar membantunya untuk turun dari mobil. Sengaja dilakukannya supaya terlihat romantis karena sebenarnya Haidar bukan tipe pria yang romantis.
"Sama-sama Sayang."
Haidar menggenggam tangan Kalycha masuk kerumahnya, tidak ada jawaban salam dari salam rumahnya ketika mereka mengucapkan salam.
"Bu, Ayah–." panggil Haidar.
"Sini Sayang, Ibu sama Ayah lagi ditaman belakang." teriak Halimah saat mendengar suara putranya itu memanggilnya.
Haidar dan Kalycha pun berjalan ke Taman belang rumahnya.
"Pantesan ga ada yang jawab ucapan salam dari kami ternyata lagi pada asyik barbique-an." ucap Haidar saat melihat Deon Ayahnya sedang memanggang daging dibantu dengan Roy sahabatnya. Sementara Ibu dan Helsa adiknya sedang menyiapkan beberapa bumbu dan makanan pendamping lainnya.
"Lo disini juga Roy?" Haidar menepuk pelan bahu sahabatnya itu. Roy yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya.
"Eemmm, wangi banget Yah, kayaknya enak nih." ucap Kalycha. Syukurnya Kalycha memiliki rambut panjang sehingga bisa menutupi bekas kiss mark yang dilihat Ibunya pagi tadi. Cuma Kalycha merasa gerah saja bila harus membiarkan rambutnya tergerai saat acara bakar-bakar seperti ini.
"Kamu duduk aja sayang, biar Ayah sama nak Roy saja yang memanggang dagingnya." Halimah merangkul bahu Kalycha membawanya duduk bersama mereka saat Kalycha ingin membantu Ayah mertuanya itu.
"Icha udah laper banget Bu, udah ga sabar pengen makan." sahut Haidar sambil tersenyum mendekati Kalycha dan duduk disampingnya.
"Pasti kamu kan penjahatnya, yang udah buat menantu Ibu kelaparan?" tuduh Halimah dan tepat sasaran.
"Enggak kok Bu, tadi Icha yang minta mas Hai untuk makan dirumah aja, soalnya Icha kangen sama masakan Ibu." ucap Kalycha membela suaminya sementara Haidar yang tersenyum senang langsung mengecup bibir istrinya itu.
"Ga ada malu-malunya lagi ya Lo kak, main cium-cium segala didepan orang yang jomblo." gerutu Helsa tanpa ia sadari kalau perkataanya itu sudah menyakiti perasaan pria yang sedang membantu Ayahnya itu membakar ikan yang akan mereka makan.
Haidar sadar akan kekecewaan sahabatnya itu. "Emang Lo jomblo? Terus noh siapa?" Haidar melirik matanya kearah Roy.
"Hehehe." Helsa hanya cengengesan tanpa menjawab dan mengakui pria itu sebagai pacarnya.
"Hallo iya Tuan? Baik Tuan saya segera kesana." ucap Roy dengan telepon ditangannya.
"Maaf Om, Tante. Roy harus pergi sekarang, barusan Tuan Pram telpon ada kerjaan sedikit." Deon dan Halimah pun hanya menganggukkan kepalanya karena tidak ingin mengganggu pekerjaan Roy.
Sementara Kalycha tahu kalau saat itu Roy sedang berbohong. Kalycha sudah lama mengenal Roy, ia tahu jika saat itu Daddynya tidak sedang meneleponnya, Roy hanya ingin menghindar dari keluarga mertuanya. Sedangkan Helsa adik iparnya itu tidak mengerti kalau Roy sedang kecewa padanya.
Kalycha menyikut pinggang suaminya pelan melihat dan menggerakkan matanya kearah adik iparnya itu. Haidar pun mengerti apa yang maksud istrinya.
"Buruan lo kejar dia, sebelum lo nyesal dia cari wanita lain." ucapnya pada Helsa adiknya.
"Apaan sih kak? Tadi kan kakak dengar sendiri kalau Kak Roy barusan terima telpon dari Om Pram."
"Masih ga peka juga lo yah, dia itu kecewa sama omongan lo barusan yang bilang lo masih JOMBLO, emang lo anggap apa Roy selama ini? Bodyguard Lo? Supir Lo? Atau temen Lo pas disaat Lo butuhin dia?"
"Biasa aja dong kak, ga usah ngegas gitu ngomongnya."
Helsa yang baru sadar akan omongannya segera berlari mengejar Roy tapi sayangnya pria itu sudah lebih dulu pergi meninggalkan rumah mereka.
"Bodoh banget sih gue. Mulut ini juga kagak bisa di rem kalau ngomong." Gerutunya sambil menepuk-nepuk mulutnya sendiri. "Jomblo bawa Petaka."
Panjang yach–
Author cuma minta Like, Vote, Kembang dan Coffee-nya untuk Sesajen 🤭
__ADS_1