
Dua minggu tak bertemu dengan calon istrinya yang pernah menjadi istrinya itu membuat Haidar begitu sulit untuk menahan rasa rindunya.
Haidar terus berusaha membujuk Kalycha untuk membantunya melepaskan hasratnya itu. Tapi Kalycha selalu ingat pesan Ibu mertuanya. "Ga boleh buat dosa sebelum sah." Akhirnya Haidar menyerah karena ia juga tahu batasannya. Jika menurutkan keinginan hatinya ingin rasanya Kalycha memenuhi keinginan suaminya itu. Karena ia juga merindukan sentuhan dan belaian dari suaminya.
"Terpaksa nunggu dua minggu lagi. Sabar ya Jun–." Batin Haidar sambil menepuk-nepuk pelan juniornya sambil duduk bersandar ditempat tidur.
Kalycha tersenyum geli, dirinya tak sengaja melihat suaminya yang menepuk-nepuk bagian bawah diantara pahanya itu.
"Sabar ya Mas, bentar lagi halal lagi kok." Batin Kalycha.
"Mas, keluar gih aku mau tidur. Ngantuk banget mas–." Kalycha menarik selimut yang diduduki oleh Haidar.
Sudah semingguan Kalycha tidur tidak teratur ada saja gangguan dari kedua adiknya saat dirinya ingin tidur.
"Kamu ngusir aku sayang?" wajah Haidar memelas, dipandanginya wajah lelah istrinya.
"Bukan begitu mas–, nanti kalau Daddy dan Bunda tahu mas ada dikamar ini, apa kata mereka nanti?"
"Kita kan ga ngapa-ngapain sayang. Udah kamu tidur aja, biar mas jagain kamu." Haidar bersikeras ingin bersama dengan Kalycha. Kalycha yang sudah sangat lelah dan tak bertenaga akhirnya membiarkan Haidar tetap berada dikamarnya.
"Aku mau tidur mas, bukan mau perang? Ngapain sih dijagain segala."
Kalycha membaringkan tubuhnya dan tak lama Haidar juga ikut berbaring disampingnya.
"Mas ngapain ikutan tidur?" sentak Kalycha sementara Haidar dengan wajah polosnya tetap berbaring dan tak peduli dengan Kalycha yang menatapnya tajam.
"Kalau masuk sarang belum dapat ijin, ya minimal mas peluk kamu aja Yang–, biar tenang dikit nih si juni." ucap Haidar lalu memeluk Kalycha. Berusaha suapaya istrinya itu tidak marah dan menolaknya.
"Bukannya malah berontak pengen dikeluarin ya, kalau posisi begini?" Kalycha tahu kalau suaminya itu sudah sangat bernafsu dan ingin menerkamnya hidup-hidup.
"Iya sih, udah ahk, katanya mau tidur. Mas juga mau nidurin si Juni juga nih." gerutu Haidar lalu memeluk tubuh Kalycha karena dalam hatinya ia masih merasa kesal dengan penolakan Kalycha.
"Mas jangan ditempelin gitu dong, geli tahu mas–."
"Berisik kamu Yang, tidur aja napa–. Mas cuma mau peluk kamu aja. Itu pun ga boleh–." ucapnya manja sambil menyosor-nyosor leher Kalycha, karena posisinya memeluk Kalycha dari belakang.
"Bukan gitu mas–, Icha geli kalau anunya mas tempelin gitu." Kalycha menggeser posisi tidurnya tapi lagi-lagi Haidar menarik tubuh Kalycha merapat ke tubuhnya.
"Anunya apa? Udah diem dong Yang–." Haidar memeluk Kalycha dengan erat sehingga sulit untuknya melepaskan pelukan suaminya itu. Kalycha pasrah karena matanya sudah sangat ngantuk. Dan akhirnya mereka pun tertidur dengan posisi saling berpelukan.
"Cha, Bunda lupa–." Nayla membuka pintu kamar Kalycha dan tak sengaja melihat anak dan menantunya itu sedang tidur. "ngasih tahu kalau Haidar dikamar kamu." lanjutnya, ucapannya yang tadinya lantang semakin melemah lalu iapun menutup kembali pintu kamar Kalycha.
Nayla berjalan menuruni anak tangga dan melihat suaminya yang sedang duduk diruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi buatannya.
Tadi Nayla lupa memberitahukan pada Kalycha bahwa suaminya sedang menunggunya dikamarnya.
"Haidar mana Bun?" tanya Pram saat melihat Nayla yang ingin berjalan ke dapur.
"Tidur Mas–." jawabnya singkat.
"Kalau Icha?" Pram tadi sudah mendengar suara mobil Kalycha ia tahu kalau putrinya itu sudah pulang dari rumah sakit.
"Tidur juga mas, kelihatannya Icha capek sekali mas. Jadi tadi gitu sampe rumah langsung tidur. Sarapan juga belum dianya."
"Mereka tidur bareng?" tanya Pram sambil menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Iya."
"Kok dibiarin sih Bun? Mereka belum sah loh Bun." Pram sedikit kecewa dengan pasangan yang baru dipertemukan itu. Sepertinya mereka sudah lupa dengan batasan mereka.
"Mereka hanya tidur mas, pintunya juga ga dikunci. Kalau mereka mau berbuat yang tidak-tidak pasti pintunya di kunci. Mereka sudah sama-sama dewasa mas. Kalau memang mereka mau berbuat sesuatu yang ga pantes banyak hotel tempat mereka untuk berbuat maksiat. Tapi hubungan mereka masih wajar mas, lagi pula mereka kan memang suami-istri, hanya saja takdir seperti sedang mempermainkan mereka mas. Mas kanyak ga pernah muda aja deh. Kalau mas diposisi Haidar 5 tahun ga liat aku gimana rasanya mas?" Sebenarnya Nayla juga tidak membenarkan pasangan suami-istri itu tapi dirinya masih dapat memakluminya berbeda dengan suaminya yang sepertinya sepemikiran dengan Halimah besannya itu. Tapi dirinya juga tidak dapat menyalahkan niat baik besannya.
"Ya tapi nggak gitu juga kali Bun. Aku tuh ngerti gimana perasaan mereka sekarang. Tapi kan tinggal 2 minggu lagi loh Bun, masa sih dua orang itu nggak sabar nunggu 2 minggu lagi." Pram masih bersikeras dengan pendapat dan pendiriannya.
"Kata kita mas 2 minggu lagi tuh nggak lama. Tapi mereka yang merasakan terpisah selama 5 tahun mas, 1 hari saja pasti seperti neraka buat mereka kalau mereka ga ketemu sehari saja. Apalagi belakangan ini Icha kan sibuk mas, dia sengaja loh ngambil shif malam terus biar nanti setelah pesta pernikahannya dia bisa libur lama mas." Nayla tampak kesal dengan suaminya itu.
"Kok sepertinya kamu jadi nyalahin aku sih sayang–!" seru Pram yang tak mau disalahkan oleh orang yang sangat dicintainya itu. "Kenapa jadi kita yang berantem sih?" gerutunya pelan.
"Mas tuh yang mulai. Udah dibilangin mereka cuma tidur doang mas, jadi harap maklum ajalah."
Pram tak dapat lagi membantah ucapan istrinya itu.
"Ya sudah, tapi nanti jangan lupa ingatkan mereka untuk mengambil cincin pernikahan mereka, tadi pihak dari tokonya udah nelpon Haidar makanya dia datang mau ngajakin Icha lihat cincin tadi katanya."
"Iya Mas–, Oh iya, Nanti kita jemput Malvin sama Malven di rumah Mama ya Mas. Mereka itu kalau udah main ke rumah Eninnya suka lupa waktu."
"Biarin dong sayang. Eninnya juga kan rindu sama cucu-cucunya. Sekarang kita nikmati saja we time-nya kita." Pram memeluk Nayla dari belakang, lalu langsung menggendong Nayla ke kamar mereka. Nayla sangat malu, dirinya takut kalau sampai dilihat oleh para ART yang bekerja dirumah mereka.
*
*
*
*
*
"Sayang bangun dong sayang, tangan aku kram nih."
Kalycha membuka matanya saat mendengar Haidar meringis kesakitan.
"Maaf ya Mas, Icha ga tahu kalau bakalan selama ini tidurnya. Dilurusin dulu tangannya mas." Kalycha membantu Haidar meluruskan tangannya.
"Pelan-pelan dong sayang sakit nih." lirihnya manja.
"Huu–." Kalycha menepuk tangan Haidar yang kram, membuatnya menjerit sekaligus menahan sakit. "Gitu aja cengeng, makanya lain kali ga usah peluk-peluk Icha."
"Kok malah kamu yang marah sih Yang–, tangan aku nih sakit Yang. Bukannya diobatin malah ditepuk. Kamu kan dokter Yang–."
"Wani piro?" Kalycha menggesek-gesek ibu jari dan jari telunjuknya.
"Gitu ya, sama suami sendiri perhitungan?"
"Udah ahk, aku mau turun. Laper–." Kalycha beranjak dari tempat tidurnya lalu meninggalkan Haidar yang masih kesakitan. Sebenarnya tidak begitu sakit dia hanya ingin mendapat perhatian dari gadis yang pernah menjadi makmumnya itu.
Haidar mengikuti Kalycha keluar sari kamar menuruni anak tangga dan langsung menuju dapur. Disana Kalycha sedang menyiapkan makanan dibantu dengan Bi Nani dan Bi Neneng.
"Kita makan dulu mas, tadi Bunda sama Daddy udah makan duluan, karena nggak enak mau ngebangunin kita."
"Terus Bunda sama Daddy kemana? Kok kelihatannya sepi amat."
__ADS_1
"Kerumah Enin jemput kurcaci." Kalycha memberikan piring yang sudah diisinya dengan nasi. "Mas mau ayam atau ikan?" tanya Kalycha sambil menunjuk lauk yang terhidang dimeja.
"Mas mau makan kamu aja." Haidar memeluk pinggang Kalycha.
"Mas malu ahk, dilihatin Bi Nani sama Bi Neneng tuh." Kalycha mencoba melepaskan tangan Haidar dari pinggangnya.
"Bentar doang Yang–." Masih tetap dengan posisi memeluk Kalycha. "Mas mau Ayam rica-rica aja."
"Di lepas dong, gimana Icha mau ngambilnya kalau dipeluk terus begini?"
"Tapi mas mau disuapin ya Yang." pintanya manja.
"Dih, kok jadi manja bener yah suami aku ini? 5 tahun ga ketemu kok kelakuannya jadi aneh begini?"
"Makan sendiri, kan punya tangan sendiri. masih sehat juga."
"Yang–, besok aku keluar kota, nanti 3 hari kamu kangen loh nggak ketemu aku."
Mendengar kata luar kota membuat Kalycha terdiam sejenak. Entah kenapa kata luar kota itu masih menjadi hal yang menakutkan untuknya. Haidar menyadari kekhawatiran Kalycha melalui tatapan matanya yang risau.
"Sayang, mas cuma mau ke Bandung. Ada kerjaan dikit diperusahaan cabang di Bandung."
"Aku ikut ya mas–." lirihnya.
"Memangnya kamu ga kerja?"
"Tapi besok kan minggu Mas, kenapa mas berangkatnya hari minggu bukan senin aja?"
"Besok berangkatnya minggu sore sayang, karena pertemuannya senin pagi. Kalau berangkat subuh dari sini takut kecapean dijalan jadi takut mengganggu konsentrasi saat meeting Yang."
"Mas, Icha takut–. Ga bisa apa digantiin Dimas aja yang pergi."
"Sayang Mas cuma 3 hari doang, nanti selasa sore udah sampe disini. Pertemuannya hanya senin dan selasa pagi aja." Haidar mengusap lembut rambut Kalycha san menyisihkan anak rambutnya kebelakang telinganya.
"Tapi mas–."
"Sayang kamu jangan khawatir Mas nggak apa-apa. Dimas juga ikut kok."
"Telpon aku setiap 10 menit sekali." Pintanya tegas.
"Kok jadi bini aku yang posesif ya? Biasanya juga suami yang posesif ke istrinya."
"Iya, mas akan telpon kamu setiap 10 menit sekali, tapi saat rapat nanti jangan marah ya kalau mas nggak telpon. Tapi setelah rapat mas langsung telpon kamu lagi."
"Iya–."
"Ya udah suapin dong–." ucap Haidar manja.
"Masih aja manja, kirain udah lupa kalau tadi minta disuapin."
Gimana udah pada Vote belum? 🤔
Njut Besok yach. Mata Author dah 5 watt pengen diredupin 😍
Happy Reading yach 🤗 Jangan Lupa tinggalin Jejak Kalian 😊🙏
__ADS_1