
Sudah seminggu Haidar meninggal dunia. Kalycha masih merasa sedih dan belum bisa menerima kepergiannya. Meskipun dirinya belum sepenuhnya mencintai suaminya itu tapi seperti ada yang hilang dari bagian hidupnya. Belum genap sebulan usia pernikahannya, kebersamaannya bersama Haidar dan menjadi seorang istri sah Haidar barulah seminggu karena seminggu setelah pernikahannya Haidar meninggalkannya keluar kota.
Sudah seminggu juga Kalycha tidak masuk sekolah. Banyak dari teman bahkan guru mencarinya. Pram yang menjadi donatur tetap disekolah itu membuat Kalycha mendapatkan perlakuan istimewa meskipun sebenarnya bukan itu yang Kalycha inginkan.
Kalycha hanya ingin sendirian, masih teringat jelas senyuman suaminya itu dalam ingatannya. Timbul rasa penyesalan dalam hatinya karena sempat berlaku kasar pada suaminya itu. Tetesan airmatanya tak lagi terhitung berapa jumlahnya, ia ingin marah tapi tak tahu siapa yang harus disalahkan.
Nayla mendatangi Kalycha dikamarnya, masih tetap sama Kalycha hanya diam mengurung diri dikamarnya menolak siapapun yang ingin menemuinya. Pram pun tak berani memaksa putrinya itu untuk kesekolah atau keluar dari kamarnya.
“Sayang Bunda tahu kamu masih bersedih dan itu wajar-wajar saja. Tapi, wajar itu pasti ada batasannya. Jika sampai menyalahkan diri sendiri dan mengganggu keseluruhan kualitas hidupmu, maka kondisi ini tidak lagi bisa dikatakan wajar, Sayang” tutur Nayla yang duduk disamping Kalycha.
“Kalau setiap hari berduka, menangis tiada henti, terus menyalahkan diri atas kematiannya, tidak merawat diri, menjauh dari lingkungan sosial, ini sudah sangat tidak wajar lagi sayang. Rezeki, lahir dan mati itu semua Tuhan yang mengaturnya kita ini hanyalah ciptaannya yang tak mampu untuk melawan takdir. Kita hanya menjalani kehidupan ini seturut dengan kehendakNya."
"Kamu tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, kamu harus iklhas supaya Haidar tenang disana sayang."
Banyak nasehat yang didengar Kalycha setiap harinya namun Kalycha hanya diam tak pernah menjawab apa pun yang mereka katakan padanya. Bibirnya seakan terkunci rapat.
Acara tahlilan yang ke tujuh hari setelah kematian Haidar telah selesai. Hanya Pram dan Nayla yang pergi ke kediaman keluarga Yudistira sementara Kalycha yang kondisinya tidak stabil memilih untuk tetap dirumah bersama Oma Milah.
"Pram Mama mau bicara." Oma Milah meminta Pram untuk duduk diruang keluarga bersama Nayla. Mereka baru saja pulang dari rumah Haidar.
"Ada apa Ma?" Pram duduk dihadapan Ibunya.
"Mama ingin membawa Icha ke Singapura."
"Apa Ma? Ke singapura? Untuk apa Ma?" Pram terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya itu.
"Iya–, Sebaiknya Icha sekolah disana saja. Kalau dia tetap berada disini sepertinya akan sulit untuknya melupakan Haidar. Mama tidak mau mengambil resiko lagi. Mama tidak mau Icha sampai depresi. Kamu bisa lihat kan, semenjak pulang dari pemakaman Haidar, Icha tidak pernah mau bicara." tutur Oma Milah yang sangat mengkhawatirkan kondisi cucunya itu.
"Sepertinya apa yang Mama katakan itu ada benarnya Mas, ini untuk kebaikan Icha mas. Biarlah Icha lulus disana. Dan setelah lulus Icha bisa kembali ke sini Mas. Kita juga bisa menjenguknya kesana kan mas. Aku setuju sama usulan Mama mas." Nayla tidak tahan melihat penderitaan putrinya itu. Dirinya ingin Kalycha kembali seperti sebelumnya. Kalycha yang manis dan ceria.
"Tapi Reva–." Pram menautkan kedua alisnya menekan keningnya dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
"Mas–." Nayla menggenggam tangan suaminya itu. Dirinya sangat tahu kalau suaminya itu tak bisa jauh dari putrinya. "Semua demi kebaikan Icha mas. Ini sudah seminggu mas Icha ga mau ngomong, Apa jadinya kalau kita terus biarkan, pasti akan berakibat fatal untuknya mas."
"Aku ga bisa berjauhan darinya Reva."
"Aku tahu mas. Tapi tolong pikirkan sekali lagi mas, ini semua demi kebaikan Kalycha."
"Pram, disana jua ada Tantenya. Della adikmu apa kamu tidak percaya sama Della? Suaminya baru pindah kesana jadi Mama akan tinggal disana bersama mereka." Oma Milah berusaha menyakinkan Pram lagi.
"Baiklah Ma, tapi sebaiknya Mama tidak usah tinggal dirumah Della, bukan aku tidak percaya pada Della Ma, aku hanya tidak ingin menyusahkan keluarganya. Besok akan ku suruh Roy mencarikan apartemen disana. Mama dan Icha tidak perlu tinggal dirumah Della, kalian tinggal di apartemen saja."
Dengan berat hati Pram akhirnya menyetujui usulan dari Mamanya itu.
"Baiklah kalau itu keinginanmu Mama ikut saja. Yang penting untuk sementara ini Icha harus jauh dari sini."
*
*
__ADS_1
*
*
*
Semua keperluan Kalycha sudah diurus oleh Roy asisten Haidar yang kini naik jabatan menjadi asisten Pram.
Kalycha tidak menyetujui dan tidak juga membantah keinginan Omanya itu. Dirinya masih tetap memilih diam dan menuruti semua keinginan keluarganya.
Keluarga Haidar juga turut mengantar kepergian Kalycha ke Singapura. Sebenarnya Halimah tidak setuju dengan keputusan yang diambil keluarga besannya buat itu. Karena Halimah sudah menganggap Kalycha seperti putrinya sendiri namun apa daya dirinya juga tak mampu untuk melarangnya karena melihat kondisi Kalycha yang begitu terpukul dengan kepergian putranya itu.
"Sayang, kamu hati-hati ya disana. Ibu akan selalu berdoa untuk kesehatanmu. Walaupun anak Ibu sudah tiada tapi Icha tetap akan selalu jadi anak Ibu." Halimah memeluk Kalycha sebelum Kalycha pergi tapi Kalycha seperti patung yang tidak membalas pelukannya.
"Cha, bila kamu sudah bisa menerima kenyataannya. Tolong jangan pernah lupa sama Ayah dan Ibu ya. Kami semua akan tetap menunggumu disini." Pram mengelus lembut kepala Kalycha
"Kak, baik-baik ya disana. Aku harap Kakak bisa ikhlaskan Kak Haidar ya Kak." Helsa memeluk Kalycha tapi masih tetap tak ada respon dari Kalycha.
"Begitu sampai Singapore tolong kabari kami keadaan Icha ya Bu." pinta Halimah kepada Oma Milah.
"Iya Bu, pasti. Ibu tenang saja."
Oma Milah mengajak Kalycha untuk check in dan mereka pun masuk kedalam pesawat di ikuti Roy yang mengantarkan mereka ke Singapore.
Tangisan airmata perpisahan pun menjadi saksi bisu yang menghantarkan kepergian Kalycha.
...🌀🌀🌀...
Disebuah Rumah Sakit internasional di pusat kota Jakarta, semua yang berada disana sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada pasien darurat yang butuh pertolongan segera ada juga pasien rawat jalan, ada yang muda ada juga yang tua bahkan bayi dan balita. Hiruk pikuk yang terjadi saat antrian pendaftaran bahkan saat antrian berobat sudah menjadi hiburan setiap hari saat pasien menunggu dan memenuhi ruang tunggu itu.
Sudah biasa untuk mereka yang sehari-hari bekerja disana melihat kebisingan dirumah sakit itu bahkan banyak dari mereka menghabiskan waktunya untuk bekerja disana.
"Dokter, ada yang cari tuh di luar." seorang perawat datang menghampiri dokter cantik yang bertugas jaga di Unit Gawat Darurat itu.
"Apa kamu ga lihat saya sedang meng-hecting pasien?" ucap dokter itu sambil terus fokus pada jahitan luka pasien yang sedang ia tolong.
"Cut–." ucapnya pada perawat yang menjadi asistennya.
Perawat itu pun mengarahkan gunting ke depannya tanpa memperhatikan benang yang akan dipotongnya.
"Fokus–." bentak dokter itu pada perawat yang hampir saja melukai tangannya.
Pandangan perawat itu pun langsung fokus pada benang yang akan di potongnya.
"Maaf dok–." Perawat itu menyesali perbuatannya. Fokusnya pecah saat melihat sosok laki-laki tampan berdiri dibalik kaca transparan bagian atas di depan pintu UGD yang melihat kearahnya.
Itu jahitan terakhir pada pasien yang sedang ditolongnya. Lalu dokter itu menutup luka jahitannya dengan menggunakan kasa steril dan plester. Setelah selesai pasien pun dibawa keluar ruangan setelah memberinya resep obat untuk ditebus diapotik dan menyuruhnya untuk kembali kontrol tiga hari lagi.
Dokter cantik itu berjalan keruang istirahat dokter, ia melihat perawat yang melakukan kesalahan itu sedang duduk menunggunya. Dokter itu membuka baju operasinya lalu memasukkannya ke dalam keranjang medis dan menghempaskannya dengan kasar.
__ADS_1
"Lain kali kalau ada pasien, saya tidak mau kamu jadi asisten saya." ucapnya tegas pada Perawat itu.
"Maafkan saya dok. Saya tidak akan melakukannya lagi. Maafkan saya dok." Perawat itu memohon kepada dokter cantik itu.
Tapi dokter itu sudah sangat terkenal dengan cantiknya, kepintarannya, tegas dan kesombongannya. Dirinya tidak pernah mentolerir siapapun yang melakukan kesalahanan dalam bekerja dengannya.
"Nico, kamu sampaikan kepada kepala perawat untuk memindahkannya dari piket perawatan UGD." perintahnya kepada salah satu perawat yang bertugas siang itu.
"Tapi dok–, Dia perawat yang berkompeten dok." Nico berusaha membela teman sejawatnya itu. Karena itu bukan pertama kali bagi dokter cantik itu untuk memindahkan siapapun yang tidak bisa bekerja sama dengannya.
"Apa kamu mau saya pindahkan juga?"
"Tidak dok, maafkan saya dok. Saya akan menyampaikan pesan dokter."
"Dokter maafkan saya dok. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong dok berikan saya kesempatan dok."
"Tiara, kamu tidak cocok menjadi perawat Emergency. Kalau kerjamu tidak fokus dan hanya ingin tebar-tebar pesona sebaiknya kamu jadi perawat Internis saja. Disana kamu bisa lebih santai kerjanya. Apa kamu tahu artinya Emergency itu apa?"
"Tau dok, tolong dok maafkan saya." Perawat yang bernama Tiara itu memohon padanya tapi tidak juga berhasil meluluhkan hati dokter cantik itu.
"Kalau kamu mau tetap menjadi perawat Emergency mintalah kepada kepala perawat untuk mengatur jadwalmu supaya tidak bertemu shif dengan saya." ucap dokter cantik itu lalu keluar dari ruangan itu.
Saat itu sudah jam pergantian shif jaga dan sudah waktunya mereka yang bekerja shif pagi untuk pulang.
"Icha–." panggil seseorang dari belakang. Kalycha pun membalikkan badannya dan menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya.
"dokter Heru–."
"Sudah mau pulang ya? Mau bareng?" tanya Heru
"Iya dok, Tapi ga usah dok, saya bawa mobil sendiri. Dan terimakasih untuk tawarannya."
"Oya, saya dengar ada keluhan lagi dari kepala perawat. Ada apa?" Ternyata keluhan perawat yang bernama Tiara itu sudah sampai ketelinga dokter Heru. Dan benar saja dokter yang membuat teguran kepada perawat itu adalah Kalycha.
"Biasa dok, saya tidak suka kalau ada perawat yang bekerja dengan saya tapi tidak fokus. Pikirannya entah kemana-mana."
"Tapi tolonglah dokter Icha maafkan dia ya."
"Aah, saya baru ingat kalau Tiara adalah tunangan dokter. Saya sudah memaafkannya dok, dan saya sudah kasih solusi untuknya."
"Dengan memintanya menjadi perawat INTERNIS?" suara Heru mulai menekan kalimat belakangnya. Tapi bukan Kalycha namanya kalau dia terpengaruh dengan tekanan dari orang lain.
"Ya begitulah. Kalau dokter bersikeras ingin Tiara tetap menjadi perawat Emergency silahkan atur jadwalnya agar tidak satu shif jaga dengan saya. Permisi " Dengan gayanya yang cool Kalycha pergi meninggalkan dokter Heru yang masih mematung ditempatnya.
"CICAK–." teriak seseorang dari belakang Kalycha. Tangannya yang sudah membuka pintu mobilnya kembali ditutupnya dan melihat kearah suara yang memanggilnya.
"TIIKKKUUUUSSSSS. Ngapain lo manggil gue begitu? Jadi turun ntar pamor gue."
"Gue Kangen sama lo Cicak–." ucapnya sambil mengacak-acak rambut Kalycha.
__ADS_1
Double Up 😍 Jangan Lupa kasih Like dan kembang-kembangnya yach 🤗