
Dua insan semenjak keduanya dipertemukan dalam keadaan terkejut akibat ketelendoran keduanya, kini keduanya memilih diam sedangkan Kinan mencari sumber udara untuk mengurangi rasa gerah.
"Gerah ...."
Kompak keduanya sehingga lagi-dan lagi dua netra saling bertemu memandangi sikap yang semakin kesini semakin kebaca bentuk perilaku dan pemikirannya. Lagi dan lagi karena itu, Kinan mengalihkan pandangannya dari Fahad yang tengah duduk manis di sebelahnya. Wajahnya bak kepiting rebus dan seharusnya menyadari bahwa waktu semakin berjalan semakin harmonis saja hubungan keduanya.
"Anu ...," gugup Fahad seakan tenggorokannya ditahan sesuatu yang tak kasat mata.
"Aku mau kebawah dulu," kata Kinan mencoba mencairkan suasana, kejadian lima belas menit berlalu masih tergiang-giang jelas di benak Kinan. Bagaimana tidak, akibat rasa terkejutnya diiringi seekor binatang mirip dengan kurma.
Sssrrrttt! (Anggap saja suara kecoa lagi berjalan ke kaki mulus Kinan dan menaikinya)
Kinan yang merasa punggung kakinya seperti disentuh sesuatu, bahkan rasa itu sangat geli. Hingga akhirnya ia berani menundukkan wajahnya guna melihat sesuatu di bawah sana bersemayam di punggung kaki. Melihat itu binatang persis seperti kurma menari-nari indah di sana, matanya terbelalak sempurna hingga nyaris keluar dari tempatnya. Belum lagi dengan jantung seirama dengan rasa gugup dan takutnya terhadap serangga, iya Kinan phobia serangga termasuk binatang bernama kecoa.
"Aaaaaaa! Kecoaaa!" teriaknya ketakutan dan melompat ke arah Fahad yang tubuhnya masih diselimuti air segar, kedua kakinya digoyang-goyang berharap kecoa itu pergi dari kaki mulusnya.
Fahad mendengar itu sontak menangkap tubuh Kinan yang ketakutan akibat kecoa itu, dari melompat hingga pelukan layaknya seekor anak monyet sedang dibopong oleh sang induk. Ia segera memperhatikan maksud perkataan Kinan menyebutkan nama kecoa.
Benar juga, seekor kecoa yang lolos dari maut itu kabur dan masuk kedalam kastil lemari. Ia terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan Kinan yang tiba-tiba.
"Singkirkan kecoa sial*an itu!" teriaknya dengan wajah disembunyikan dicekuk leher Fahad.
"Kecoanya sudah pergi."
Mendengar itu, Kinan segera turun dari pangkuan Fahad akibat rasa terkejut dan phobianya terhadap kecoa. Kinan menampilkan ekspresi seperti linglung dan menatap Fahad dengan kedua alisnya terangkat. "Maaf, aku takut sama kecoa."
Fahad hanya menggeleng-geleng mendengar penjelasan aneh bin kurang waras alias tidak jelas itu. Tanpa keduanya sadari, semenjak Kinan melompat ke tubuh Fahad untuk menyingkirkan kecoa yang menempel di punggung kaki Kinan. Sebuah benda berwarna putih yang sering dipakai oleh jutaan orang setelah melakukan ritual membersihkan diri itu terjatuh dan tergeletak di lantai. Adegan itu berlangsung sampai sekarang, karena keduanya tidak menyadari demikian. Kinan tidak merasakan sesuatu, sedangkan Fahad pun tidak. Dua insan benar-bener terhanyut dalam adegan pelukan ketakutan Kinan sampai melupakan si benda penting layaknya kacang lupa kulitnya.
Kinan kemudian menunduk dan netranya menatap nanar benda yang tergeletak di lantai, apa lagi kalau bukan handuk. Iya, handuk yang dipakai oleh Fahad untuk melilit pinggang dan menutup sebagian tubuhnya. Kemudian Kinan menatap Fahad dengan wajah bak kepiting rebus tergambar jelas di wajahnya.
Fahad mengerutkan keningnya setelah dirasa cukup puas mengomeli sang istri lewat dalam hati. "Kenapa? Kenapa juga dengan wajahmu?" tanya Fahad polos.
Kinan tidak bisa menjawab, tatapannya terus celingak-celinguk ke sembarangan arah dan memberi kode lewat jari telunjuk yang menghadap ke bawah. Fahad mengikuti arah itu dan menunduk, matanya melotot sempurna bahkan hampir nyaris keluar dari tempatnya.
Zzzssstt! (Anggap suara kilatan orang berlari menanggung malu.
Dengan sigap bahkan secepat kilat menyambar, Fahad kembali masuk kedalam menanggung malu. Wajah yang selalu dingin penuh itimidasi seketika berubah menjadi kecil bak tak berdaya. Jiwanya meronta-ronta ingin keluar dari tubuh gagap yang masih polos hanya mengenakan ****** untuk menutupinya.
"Sial*an!" umpatnya menanggung malu.
•••••••••••••••••••••••••••
Sementara itu, di ruang keluarga yang terus menerus di isi dengan suara reyah pembicaraan dan gelak tawa. Belum lagi dengan suara benda menari-nari di atas wajan. Iya, para wanita masih sibuk dengan pekerjaannya sedangkan para lelaki sibuk berbincang hangat.
Fahad baru saja keluar dari kamar untuk menghilangkan rasa malu yang masih menempel erat diingatannya, seketika teralihkan saat melihat tangan Barakka melambaikan dirinya seolah-olah itu isyarat agar bergabung bersama bapak-bapak ngenes. Fahad segera pergi ke sana setelah puas menanggung derita.
"Lagi bicarain apa nih, kayak seru deh," kata Fahad ikut bergabung dan mendudukan pantatnya di sebelah Barakka.
__ADS_1
Tiga lelaki itu hanya menggeleng-geleng dan tersenyum sebagai jawaban dari perkataan Fahad.
"Gini lho, Babah lagi bicarain soal cucu. Makanya seru gitu, ngebayangin kalau punya cucu laki-laki pasti tampan kayak bapaknya kalau cantik yah kayak ibunya," celetuk Hasan.
"Benar, Nak. Kami tidak membahas apapun selain membicarakan soal cucu," sahut Ibha membenarkan perkataan Hasan. Karena, keduanya sibuk bergosip ria tentang cucu tidak ada hal lain. Apalagi, usianya sebentar lagi akan memasuki masa senja sehingga keduanya tidak sabar ingin meminang.
Fahad menari nafas panjang. "Kalau ngomongin soal cucu maaf enggak bisa secepatnya, toh Kinan masih sekolah dan tujuh bulan lagi dia lulusnya."
Ibha menggaruk tengguknya yang tak gatal, ucapan Fahad memang ada benarnya. Sang anak masih butuh waktu untuk menyelesaikan sekolahnya. "Benar."
"Tapi, apa salahnya kalau coba dulu pas masa kelulusan Kinan empat bulan lagi?" tanya Hasan menyampaikan ide.
Fahad terbelak mendengar ide Hasan, baginya itu sangat konyol. "Astagfirullah, Bah!"
"Hahaha ...."
Gelas seisi ruang keluarga mendengar itu. "Sudah-sudah, jangan bahas itu mulu kasihan walaupun kita sangat menginginkan cucu. Tapi, ayah ingin membahas serius kali ini."
"Pasti soal cucu lagi." Fahad tak terima.
"Bukan dong," sahut Ibha.
"Dengarkan dulu saja, Nak," titah Hasan dan mendapatkan anggukan kecil darinya.
"Ayah ingin kamu menggantikan peran ayah sebagai direktur utama perusahaan Abhipraya Group. Awalnya ayah ingin menyerahkan itu kepada Alsaki, tapi beliau belum berpikir hingga ke sana. Jadi, ayah ingin kamu yang menggantikannya bagaimana?"
"Tapi, apa Ayah tahu? Aku ini seorang guru dan sarjana aku bergelar pendidikan. Bagaimana mau terjun kedunia bisnis? Sementara jurusan yang aku tempuh saat kuliah adalah pendidikan matematika."
"Bukankah jurusan itu bisa ditugaskan dibagian keuangan, Kak?" tanya Barakka setelah menit berlalu terus diam dan menyimak pembicaraan orang tua dengan sangat baik. Sehingga, Barakka ikut bergabung dengannya dan bisa menyampaikan pendapat.
"Benar, kamu bisa bekerja di sana meskipun jurusan dulunya adalah pendidikan matematika. Tapi, apa salahnya jika kamu mencoba terlebih dahulu?" tanya Hasan.
Mata Fahad menatap tiga orang lelaki yang duduk manis di ruang keluarga. "Bukan itu yang menjadi permasalahannya, Ayah, Babah. Tapi —,"
"Perihal bisnis lainnya,'kan?" potong Ibha cepat.
Fahad mengangguk singkat.
"Soal itu jangan khawatir, dunia bisnis itu bukan hanya harus pandai berkomunikasi melainkan siap menanggung amanah. Apalagi bisnis yang sedang ayah kuasai adalah bisnis yang bergerak di bidang makanan, jadi tugasmu hanya melanjutkan apa yang ayah lakukan sebelumnya," jelas Ibha.
Fahad kemudian berpikir sejenak dan menatap tiga orang lelaki itu seperti semula seolah-olah membaca harapan tulus dari orang itu untuknya. Tangannya diangkat ke atas kepala dan bergerak seperti menggaruk bagian yang tak gatal. Kemudian mencari sumber nafas oksigen untuk menetralkan kondisi pikiran yang bergulat.
"Aku akan pikirkan nanti, bisakah Ayah memberiku waktu tiga hari?"
Ibha menatap Fahad dan menarikkan kedua sudut bibirnya menjadi bentuk lengkungan. "Silahkan." Setelah itu kembali lagi menatap Hasan seolah-olah memberi isyarat bahwa dirinya percayakan sepenuhnya kepada sang menantu.
"Terima kasih," kata Fahad menunduk.
__ADS_1
"Kamu bisa mengajak adikmu, Barakka untuk ikut terjun membantu," sambung Ibha.
"Aduh, kamu kenapa sih repot-repot! Sudah jelaslah, siapa yang akan menjaga pimpinan yayasan kalau dua anakku terjun kedunia bisnis milikmu," cibir Hasan tak terima.
"Ini cuman sementara ko, buat uang jajan dia," bela Ibha santai.
Dua lelaki itu berdebat, akan tetapi perdebatan itu mengandung bahan candaan sehingga Fahad dan Barakka ikut tertawa lepas mendengar aksi kedua orang tua itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh pepatah, jangan lupakan orang yang membuatmu bahagia di saat kamu kesusahan itu menjadikan kebaikan itu teramat luar biasa. Iya, Ibha dan Hasan adalah tokoh pahlawan yang sangat berpengaruh di kota Jakarta dan senusantara karena perjuangan kerasnya. Meskipun, Hasan memilih melanjutkan wasiat sang ayah untuk meneruskan jejak pesantren namun siapa sangka pesantren itu sukses menjadi pendidikan agama yang paling berpengaruh.
"Kak, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," bisik Barakka setelah puas mendengarkan perdebatan dua orang tua yang memperebutkan dirinya untuk bekerja di salah satu miliknya.
"Apa?" jawab Fahad menoleh.
"Ayo, cari tempat yang tenang dan pas," ajak Barakka berdiri. "Om, Babah, aku ke luar dulu yah ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kak Fahad," sambungnya.
"Silahkan, Nak. Jangan lama yah, sebentar lagi makan," terima Hasan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Fahad to the point setelah keduanya duduk santai di bangku depan rumah. Iya, depan rumah Fahad dipenuhi beraneka macam bunga di sanalah ada kursi santai menempel di dinding tembok rumah depan Fahad.
Kursi terbuat dari rontan berbantalkan busa yang empuk, sehingga kursi itu sangat cocok untuk dinikmati di waktu luang. Barakka kemudian menatap sang kakak dengan lekat.
"Apa Kakak punya teman wanita lain selain kak Marsha?"
"Kenapa kamu menanyakan itu?" tanya balik Fahad.
Tenggorokan Barakka seketika terhimpit bahkan tercekik makhluk tak kasat mata. "Jawab saja pertanyaan aku tadi, apakah ada?"
"Tentu saja," jawabnya singkat.
"Siapa?"
"Raisa."
"Yang lain?"
"Tidak ada, soalnya waktu itu aku hanya kenal dengan dua wanita itu gara-gara mereka mendapatkan perundungan. Bahkan, aku tidak ingat dengan teman satu kampus yang perempuannya walaupun aku pernah mengerjakan tugas kelompok bareng dengannya," jelas Fahad.
"Apa Kakak tidak berpikir, kenapa aku menanyakan itu?"
"Justru aku berpikir, kamu kenapa tiba-tiba kepo sama wanita bahkan itu adalah teman kakak sendiri padahal jelaslah kakak tidak tahu banyak namanya saja sudah lupa," kesal Fahad.
"Baguslah. Aku menanyakan itu ada kaitannya dengan kejadian yang menimpa kak Kinan satu minggu yang lalu, dalang dibalik itu adalah wanita yang pernah mengisi kenangan Kakak, wanita itu adalah masa lalu Kakak," terang Barakka menatap intes wajah Fahad yang begitu mirip dengannya hanya saja Barakka memakai behel berwarna transparan.
•••••○○○•••••
Terima kasih yang sudah membaca, semoga hari-hari kita dilalui dengan Bahagia🤗❤
•••••○○○•••••
__ADS_1