
Tak peduli lagi apa tanggapan para undangan yang melihatnya. Mereka seperti pasangan romantis yang tak peduli dengan lingkungannya. Tak sedikit yang memandang mereka bermesraan disinggasana pelaminannya. Yang mengetahui bagaimana perjuangan Kalycha saat ditinggal suaminya itu turut meneteskan airmata haru. Halimah dan begitu juga dengan Nayla, mereka yang paling tahu bagaimana perjuangan wanita kecil itu ketika mengetahui suaminya meninggal dunia.
"Semoga mereka selalu bahagia ya Mbak." Doa tulus Nayla ucpakan untuk putrinya itu dan didengar oleh Halimah.
"Amin." balas Halimah.
Hampir jam sebelas malam barulah pesta itu usai. Kalycha sudah lebih dulu diantar Dara ke kamarnya, karena Haidar harus mengantarkan Abas dan Yetti beserta keluarga lainnya untuk pulang. Sementara Nayla dan keluarga lainnya memilih untuk tetap tinggal di hotel.
"Selamat ya Tuan–." ucapan selamat pada Haidar datang dari mantan asistennya dulu.
"Terimakasih Roy, dan gue bukan Tuan lo, jadi ga perlu Lo panggil gue begitu." Roy hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi gue udah dapet restu dari lo kan?" Sudah hampir 2 tahun dirinya menjalin hubungan dengan Helsa tapi gadis itu masih belum juga menerima lamarannya.
"Tergantung–." Haidar sengaja menggoda sahabatnya itu dan berhasil membuat Roy membulatkan matanya. "Udah ahk, gue mau nemuin bini gue dulu." Haidar berlalu meninggalkan Roy. Dan ketika ingin memasuki lift ia bertemu dengan adiknya Helsa.
"Baru mau pulang dek?"
"Iya Kak, besok harus kerja. Kalau nginep disini kejauhan besok kerjanya."
"Sama Roy?" pertanyaan Haidar seperti mengintimidasinya. Ada perasaan takut dari Helsa. Tapi gadis itu selalu saja bisa mencairkan suasana dengan gayanya yang slengean.
"Hehe. Iya Kak. Boleh kak?" Helsa hanya cengengesan.
"Bilang sama Roy–." ucap Haidar dengan suara yang keras sengaja supaya sahabatnya itu juga bisa mendengarnya. Sambil menjeda ucapannya lalu berbisik ditelinga Helsa. "Hati-hati bawa anak gadis orang." Haidar mengacak-acak rambut adiknya itu. Haidar tertawa dengan keras lalu masuk ke dalam lift. Dirinya yakin kalau sahabatnya itu pasti penasaran dengan apa yang diucapkannya pada Helsa.
"Haidar bilang apa ke kamu?" tanya Roy ketika Helsa menghampirinya.
"Kepo–." ejek Helsa sambil terus berjalan.
"Dek, Haidar bilang apa?" tanyanya lagi sambil mengikuti Helsa dari belakang menuju ke basement tempat mobilnya terparkir.
"Kak Haidar bilang, Hati-hati bawa anak gadis orang."
"Bener Haidar cuma bilang itu?" Roy membuka pintu mobil untuk kekasihnya itu.
"Iya, Emang Kak Roy ngarepin Kak Haidar bilang apa?"
"Dia ga bilang kalau dia ga ngerestuin kita kan?" Roy kembali penasaran.
"Kakak mau ya ga direstuin sama Kak Haidar?"
"Ya enggak lah!" Serunya. "Kalau dia sampe ga restuin hubungan kita, Kakak pecat dia jadi sahabat kakak." ucapnya dengan penuh penekanan dan rasa percaya diri.
"Emang berani?" goda Helsa.
"Enggak." jawabnya pelan dan melemah.
"Huuuu–." ejek Helsa. "Kirain berani. Udah yuk jalan, ntar kemaleman sampe rumah. Besok aku ada jadwal Operasi Kak." ajak Helsa, lalu Roy menyalakan mobilnya.
"Tapi dek, kapan orangtua Kakak boleh datang melamar kamu?" pertanyaan yang sudah lama diajukan Roy tapi belum juga ada jawaban dari Helsa.
"Kak, Helsa lagi males ngebahas soal itu." wajah Helsa cemberut lalu memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya dibangku penumpang disebelah Roy.
"Apa kamu belum bisa mencintai Kakak sepenuhnya? Masih belum move on ya dari mantan kamu?" gumam Roy pelan, sambil konsentrasi mengemudikan mobilnya.
Helsa dapat mendengarnya tapi ia memilih untuk tetap diam. Karena dirinya juga tidak tahu apa yang membuatnya sulit untuk menerima pria yang duduk disampingnya itu.
Luka hati karena diselingkuhi pacarnya dulu masih membekas dihatinya. Roy sangat baik padanya. Apalagi disaat Haidar tidak ada Roy lah yang selalu membantunya. Bukan hanya dari segi perhatian Roy juga membantunya dari segi vinalsial lainnya. Disaat Ayahnya Deon belum gajian, Roy lah yang membantunya untuk lebih dulu membayar keperluan kuliahnya. Sebenarnya Pramudja sudah menawarkan untuk membiayai Helsa hingga selesai tapi Keluarganya menolak karena merasa tidak enak dengan besannya itu. Apalagi mereka sangat merasa bersalah pada Kalycha karena Haidar putranya meninggalkan Kalycha diusia pernikahannya yang belum genap sebulan.
Mereka tahu kalau itu bukan kesalahan mereka ataupun kesalahan Haidar putranya tapi mereka tetap merasa bersalah pada gadis belia yang berstatus menantunya itu. Helsa akhirnya menyelesaikan kuliahnya karena dirinya mendapatkan beasiswa hingga saat dirinya menjadi dokter spesialis Anastesi.
💖
__ADS_1
💖
💖
💖
💖
Kisah cinta Haidar dan Kalycha memang unik, saat dulu mereka dipersatukan dalam ikatan yang namanya pernikahan, mereka belum saling mencintai, dan ketika mereka dipersatukan kembali hati mereka sudah saling mencintai dan saling melengkapi satu sama lainnya.
Dengan senyum yang sumringah Haidar berjalan menuju kamar pengantinnya yang telah dihias seindah mungkin oleh tim W.O ketika mereka sedang jadi pajangan Raja dan Ratu sehari di resepsi pernikahan mereka tadi.
Ketika Haidar masuk ke kamarnya, dilihatnya istrinya itu sudah tertidur pulas masih lengkap dengan gaun pengantinnya.
Kalycha tertidur ditepi tempat tidur sepertinya gadis itu tak rela merusak keindahan kamarnya itu.
"Sayang, kenapa kamu tidur masih pake gaun itu? Masih ga rela ya melepasnya? Mau dipake semaleman?" Haidar menggoda istrinya yang tampak belum sadar benar dari bangun tidurnya.
"Mas–." Kalycha bangun lalu duduk bersandar ditempat tidurnya. "Maaf ya mas Icha ketiduran. Icha ga bisa lepasin gaunnya sendiri." ucapnya manja.
"Ya udah sini mas bantu." Haidar membuka resleting belakang gaun yang dipakai istrinya. "Bersihin gih makeup nya, terus mandi." Kalycha menuruti semua perkataan suaminya dan langsung berjalan ke kamar mandi.
"Sayang jangan lama-lama ntar masuk angin." teriak Haidar saat Kalycha sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi.
5 menit kemudian Kalycha keluar dari kamar mandi hanya menggunakan jubah mandinya.
"Mas gantian mandi gih biar segeran."
"Si Juni udah nungguin kamu Yang, kangen katanya." Haidar memeluk Kalycha lalu mencium tulang selangka nya.
"Mandi dulu sana– Badan mas lengket banget." Kalycha mendorong tubuh Haidar ke kamar mandi, mau tak mau Haidar pun menuruti kemauan istrinya itu.
"Nanti juga keringetan Yang–." lirihnya tapi pintu kamar mandi sudah ditutup Kalycha dari luar.
Berharap cepat selesai tapi akhirnya dia melamun didalam kamar mandi. Di ingat-ingatnya kembali setelah dulu menikah dengan Kalycha baru dua kali dia menyentuh istrinya itu.
"Yang–, mas udah nih." ucapnya begitu keluar dari kamar mandi tapi dia tak melihat keberadaan Kalycha. Dicarinya ditempat tidur tidak ada sampai ke balkon hotel juga tidak ada.
Di telponnya istrinya itu tapi saat itu ponsel Kalycha ada dikamarnya karena deringan ponselnya terdengar di atas meja kecil hotel itu.
Tak lama kemudian ada notifikasi pesan masuk di ponselnya. Haidar langsung membuka pesan yang dikirim itu. Ternyata dari nomor yang tidak dikenal. Terlihat Kalycha sedang merangkul bahu seorang pria disebuah taman hotel tempat mereka menginap.
Dengan cepat Haidar langsung memakai pakaiannya lalu berlari ke taman dimana istrinya berada.
Saat Haidar mandi ternyata Kalycha mendapat panggilan telepon dari Alvin. Pria itu meracau dan membuat kegaduhan di lobby hotel. Alvin sedang dalam keadaan mabuk dan terus menerus berteriak ditelpon sambil memanggil namanya.
Sebenarnya Kalycha sudah permisi kepada suaminya tapi karena suara gemericik air lebih besar sehingga membuat Haidar tidak mendengarnya.
"Alvin, Lo kenapa?" tanya Kalycha setelah mendudukkan Alvin disalah satu bangku ditaman hotel itu.
"Cha lo tega banget sih Cha. Gue udah nunggu lo hampir sewindu Cha tapi apa balesan yang gue dapat dari Lo? Lo malah nikah sama cowok lain." Alvin memang mabuk tapi dia masih bisa merasakan sakit yang ditoreh Kalycha dihatinya.
"Vin, maafin gue. Tapi dari dulu sampe sekarang gue cuma nganggep Lo temen gue ga lebih."
"Apa hebatnya cowok itu Cha, sampe-sampe lo lebih milih dia dari pada gue?"
"Vin, sebaiknya Lo pulang sekarang, Percuma juga kita bahas itu sekarang, kalau kondisimu mabok begini. Sebentar gue panggilin taksi." Kalycha beranjak dari duduknya tapi Alvin langsung berdiri dan langsung menarik tangan Kalycha dan dipeluknya Kalycha dari belakang.
"Lepas Vin, lepasin gue." teriak Kalycha. Sekuat tenaganya Kalycha ingin melepaskan pelukan Alvin tapi apalah daya tenaga Alvin lebih kuat dibandingkan dengan tenaganya.
"Gue ga akan lepasin Lo Cha, gue sayang sama Lo Cha, gue Cinta sama Lo. Kenapa Lo ga ngerti juga sih Cha?" Alvin menangis dalam pelukan Kalycha.
"Buuughhh" Sebuah tinjuan berhasil mendarat diwajah Alvin membuat Alvin tersungkur hingga jatuh ketanah.
__ADS_1
"Mas Hai?" Kalycha terkejut melihat suaminya memukul Alvin.
"Darimana Mas Hai tahu kalau aku disini?"
"Ayo–." Haidar menarik tangan Kalycha untuk pergi dari taman itu.
Bukannya marah Alvin malah tertawa, dan membuat Haidar semakin emosi dibuatnya.
"Siapa Lo, udah berani merebut pujaan hati gue?" teriak Alvin lirih.
Haidar ingin menghajar Alvin lagi tapi tangannya ditahan oleh Kalycha. Tapi Haidar melepaskan tangan Kalycha dan berjalan mendekati Alvin yang masih terduduk ditanah lalu menarik kerah bajunya hingga tubuh Alvin agak terangkat keatas.
"Sekali lagi lo deketin istri gue, gue ga akan segan-segan ngehancurin hidup lo. Ingat itu!!" gertaknya lalu menghempaskan Alvin hingga terduduk kembali ketanah.
Alvin hanya tersenyum sinis melihat Haidar yang melangkah meninggalkannya dan juga Kalycha. Tak lagi digenggamnya tangan istrinya itu. Kalycha dengan langkah yang setengah berlari mengikuti suaminya itu. Ia tahu kalau Haidar sangat marah kepadanya.
Perasaan takut menyelimuti Kalycha saat melihat suaminya itu membanting keras pintu kamar hotel sebelum Kalycha masuk ke dalam. Dirinya kebingungan bagaimana caranya masuk kedalam sementara dirinya tidak membawa key card kamarnya.
Di depan pintu kamar Kalycha mondar-mandir sambil m*remas-remas jemari tangannya.
Sementara Haidar didalam sudah menunggu istrinya itu masuk tapi Kalycha tidak juga masuk kedalam.
"Ngapain sih dia belum juga masuk? Apa dia balik lagi ketemu dengan cowok brengsek itu?"
Haidar mengintip dari lubang pintu kamar hotel melihat Kalycha mondar-mandir didepan pintu dengan raut wajah ketakutan.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengannya? Kenapa kamu tega ninggalin aku saat aku sedang mandi. Apa kamu ga bisa menunggu sampai aku selesai mandi kalau memang dia sudah mengganggumu?" Ada perasaan sedih saat melihat istrinya itu sedang kebingungan.
Ketika tangan Kalycha sudah terangkat ingin mengetuk pintu kamarnya itu tiba-tiba pintu terbuka. Tak tega rasanya membiarkannya lebih lama diluar. Apalagi kalau sampai ada yang melihatnya. Pastilah Kalycha akan sangat malu. Itu yang ada dalam pikiran Haidar ketika ia memutuskan untuk membukakan pintu untuk istrinya itu.
"Mas–." Lirihnya, tapi tak ada jawaban dari suaminya itu membuatnya semakin merasa bersalah.
"Mas Hai marah besar, matilah aku–. Gimana cara ngebujuknya biar Mas Hai ga marah lagi?"
Haidar langsung berbaring ditempat tidur dengan memunggungi Kalycha.
"Mas–." panggil Kalycha sambil menusuk-nusuk punggung Haidar dengan jari telunjuknya. "Mas maafin Icha. Tadi Alvin telpon Icha teriak-teriak manggil-manggil Icha terus."
"Terus pihak hotel juga tadi telepon bilang kalau ada yang membuat kekacauan di loby hotel."
"Ternyata Alvin sudah sejam buat kegaduhan disana. Security juga udah sempat ngusir dia tapi dia malah berbaring dilantai dan ngamcem akan bunuh diri disana kalau ada yang berani mengangkat tubuhnya dari lantai loby hotel."
"Dia baru akan pergi setelah bertemu dengan ku mas. Makanya pihak hotel tadi juga datang langsung ke kamar saat mas lagi mandi."
"Tadi Icha juga udah teriak dan gedor pintu kamar mandi buat minta ijin keluar, tapi mas ga dengar. Sementara pihak hotel terus menunggu. Jadi mau ga mau Icha keluar Mas, karena ga enak ditungguin terus."
"Icha ga ada hubungan apa-apa sama Alvin Mas, memang benar dari dulu Alvin suka sama Icha tapi Mas kan udah tahu tadi Icha nyanyi lagu cinta pertama dan terakhir untuk mas. Itu ungkapan isi hati Icha yang sebenarnya mas."
Kalycha mulai lelah, tak tahu harus bagaimana lagi cara membujuk suaminya itu supaya tidak marah lagi.
"Mas, maafin Icha dong." masih dengan nada lembut tapi hampir menangis karena suaminya itu masih saja diam.
"Mas–." panggilnya masih menusuk-nusuk punggung Haidar dengan jarinya. Airmatanya sudah mulai menetes tapi dengan cepat dihapusnya.
"Mas–, Icha kangen. Mas ga kangen apa sama Icha?" Harus berubah ke mode on menggoda pikir Kalycha. Tapi Haidar masih tidak bergeming. Tanpa sepengetahuan Kalycha sebenarnya Haidar juga sudah tidak tahan ingin memeluk wanitanya itu.
"Maaaas–, Burungnya laper ga?"
Ho ho hooo...
Adegan Aahhh nya belum terjadi permirsah.
Author minta Votenya dulu yach 😍 biar lanjut besok 😂
__ADS_1