
Bibir Kalycha masih terasa kaku, lidahnya seakan membeku. Sulit baginya untuk mengucapkan kata yang diminta oleh pria yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya.
"Ayo, coba panggil Sayang." Haidar semakin senang menggoda Kalycha.
"S-sa–." Kalycha berdiri dari tempat duduknya lalu menghempaskan tangannya sendiri. "Icha ga bisa Om–." Kalycha berjalan ingin menghindari Haidar yang bangun dari tempat tidurnya.
"Sini–, kamu harus dihukum. Kenapa panggil Om lagi." Haidar mendekati Kalycha yang terus saya mundur kebelakang.
"Ampun Om, jangan cium Icha lagi."
Terjadilah kejar-kejaran diruangan hotel yang luas itu. Mereka tersenyum dan tertawa karena saling mengejar dan menghindar seperti anak kecil, bukan tepatnya seperti yang di drama-drama yang pernah ditontonnya.
Yang diuntungkan adalah Haidar karena bisa bebas bergerak sementara Kalycha kesulitan bergerak karena gaun pengantinnya yang besar dan berat.
"Dapat!" seru Haidar sambil memeluk pinggang istrinya itu.
"Udah dong jangan cium Icha lagi." Kalycha menutup mulutnya berusaha menjauhkan wajahnya dari Haidar.
"Kenapa? Kamu kan istriku, jadi aku berhak melakukan apa saja. Dan kalau aku minta hak ku sekarang aku pun berhak melakukannya."
"Tapi–."
Cup.
Haidar kembali mencium bibir Kalycha. Haidar merasa gemas melihat istrinya itu tidak berdaya dipelukannya.
"Panggil aku sayang."
"Iya-iya Icha panggil sayang tapi jangan cium lagi." Kalycha membenamkan kepalanya didada bidang Haidar. "Dan jangan minta itu sekarang." ucapnya pelan.
Haidar pun tersenyum melihat keluguan istrinya itu. Lalu memeluk tubuh Kalycha dengan berat.
"Apa Kak Haidar mencintaiku? Kenapa dia terus saja menciumku, bahkan memelukku seerat ini."
"Om, eh Sayang, lepas aku ga bisa bernafas."
Haidar pun melepaskan pelukannya. Lalu berjalan sambil menggandeng Kalycha menuju tempat tidurnya.
"Apa kamu akan tidur dengan memakai gaunmu ini? Apa kamu merasa sayang untuk melepasnya?"
"Cih, aku itu tadi mau nelpon anty Dara. Tapi HPnya sayang rebut."
"Udah fasih aja dia manggil aku sayang. Hehe." Haidar tersenyum saat Kalycha memanggilnya Sayang tanpa paksaan.
"Untuk apa nelpon Dara?"
"Mau minta tolong bukain gaun ini. Tanganku ga sampe buka kancingnya."
"Kenapa kamu ga bangunkan aku?" Haidar masih pura-pura ga tahu dengan kesulitan istrinya itu.
"Tadi kan Om, ups salah maksudnya sayang udah tidur, Icha ga enak banguninnya."
"Hmmm baru aja dipuji udah salah lagi."
"Sini biar aku bantu." Bukannya mendekat agar Haidar mudah membantunya melepaskan gaunnya Kalycha malah menjauh.
"Kenapa? Ga mau aku bantu buka gaunnya?"
"Bu-bukan begitu. Icha malu Om–."
"Om lagi." gerutu Haidar kesal.
"Maaf Icha belum terbiasa."
__ADS_1
Haidar menarik tangan Kalycha lalu memegang bahunya dan memutar badannya supaya membelakanginya.
"Mulai dari sekarang kamu harus biasakan. Aku ga mau saat didepan umum kamu memanggilku dengan sebutan itu. Apalagi didepan orangtuaku nanti." Haidar sambil membuka resleting dan beberapa kancing gaun pengantin yang dikenakannya.
"Iya, belum juga sehari mana mungkin Icha langsung biasa manggilnya."
"Semua bagian tubuhnya aku sudah pernah melihatnya, tapi kenapa ini lebih menggoda ya. Oh shit–."
"Sudah–, kamu ganti bajumu sekarang. Mandi air hangat saja. Jangan lama-lama nanti masuk angin." Haidar berusaha meredam gejolak yang sudah mengusik bagian bawah pusatnya itu.
Kalycha tak menjawab ucapan suaminya dan langsung menuju bathroom yang ada didalam kamar hotel itu.
*
*
*
*
*
Setelah hampir setengah jam Kalycha keluar dari bathroom dengan memakai baju handuk yang disediakan hotel. Haidar pun beranjak dari tempat tidur dan mendekati Kalycha.
"Kenapa kamu mandinya lama sekali? Dan kenapa harus keramas? Nanti kamu masuk angin."
"Gerah Kak–."
Cup.
Lagi-lagi Haidar mencium bibir Kalycha.
"Setelah mandi ternyata lebih manis." Batin Haidar
"Aku sudah bilang adek aku itu cukup Helsa."
"Maaf sayang, Icha belum biasa."
"Duduk sini, biar ku bantu mengeringkan rambutmu." Haidar meminta Kalycha untuk duduk di kursi meja rias yang ada di hotel itu.
Dengan telaten Haidar mengusap rambut Kalycha dengan handuk kecil ditangannya.
"Ternyata rambutnya lebat juga."
"Sayang jangan pakai hairdryer, nanti rambut Icha rusak." Kalycha menghentikan tangan Haidar yang akan mengambil alat pengering rambut itu.
"Sekali aja ga apa-apa, dari pada nanti kamu masuk angin. Ini udah malam mau sampe kapan nunggu rambut kamu kering baru kamu tidur?"
Kalycha melepaskan tangan suaminya, pasrah saja dengan apa yang dikatakan Haidar dari pada membantah akan panjang urusannya. Kalycha membiarkan Haidar mengeringkan rambutnya.
Setiap panas dari hairdryer itu mengenai kukit kepalanya, darah Kalycha langsung berdesir respon tubuhnya merasakan geli seperti ada yang menggelitik.
Haidar pun menyadari itu dan sengaja melakukannya.
"Kenapa?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Geli sayang, jangan kena kulit kepalanya."
"Hmmm." Haidar hanya berdehem tapi lagi-lagi Haidar sengaja melakukannya ia merasa senang melihat tubuh Kalycha yang menggeliat kegelian.
"Udah dikasih tahu masih juga kena kulit kepalanya. Aku geli Om." Kalycha berteriak dalam hatinya. Tentu saja Haidar tidak akan pernah bisa mendengarnya kecuali Haidar memiliki kemampuan untuk membaca pikiran dan mendengarkan suara hati orang lain.
"Udah sayang, udah cukup." Kalycha berdiri dan tak sengaja dia menginjak ikatan baju handuknya sendiri sehingga terekspos lah bagian depan tubuhnya.
__ADS_1
Mata Haidar tak berkedip tertuju pada keindahan yang ada didepan matanya, Kalycha baru sadar ketika melihat mata Haidar yang tak lepas dari dirinya.
"Aaaa..." Dengan cepat Kalycha langsung menutup tubuhnya lalu berjalan menuju lemari. Tapi langkahnya terhenti saat tangan Haidar berhasil meraihnya dan menarik tubuhnya kedalam pelukannya.
Haidar seperti orang yang sudah terbakar nafsu ia mencium Kalycha dan mel*mat bibir Kalycha dengan lembut. Haidar menyadari kalau itu adalah ciuman pertama Kalycha. Terlihat Kalycha masih sangat kaku dan belum mengerti cara berciuman. Haidar menggigit bibir bawah Kalycha dan seketika Kalycha membuka mulutnya.
"Kenapa dia harus menggigit bibirku? Sakit tapi kenapa sensasinya berbeda. Apa ini namanya ciuman? Ahk kenapa aku ga mau lepas dari ciuman Kak Haidar."
Semakin lama ciumannya semakin menuntut, gairah yang mereka rasakan membuat mereka lupa diri. Tangan Haidar mer*mas lembut bukit kembar Kalycha dan seketika itu Kalycha sadar dan melepaskan ciumannya.
"Ga bisa dibiarkan ini harus dihentikan bisa-bisa bablas nanti Kak Hai. Aku juga udah ga kuat nahannya."
"Sayang, jangan lakukan itu, Icha belum siap." dengan nafas yang masih terengah-engah Kalycha memohon pada suaminya.
"Sial, kenapa aku bisa terbawa hasrat begini? Ingat Haidar dia itu masih kecil. Masa kamu tega melakukan itu padanya." Haidar bermonolog pada batinnya sendiri.
Haidar tak menjawab, ia menarik pinggang Kalycha dan memeluknya. Mengecup puncak kepala istrinya itu lalu mencium keningnya.
"Cepatlah pakai bajumu sebelum aku berubah pikiran."
Kalycha membuka lemari dan melihat hanya ada sebuah lingerie seksi yang warnanya senada dengan piama yang digunakan Haidar warna merah maroon.
"Sayang, dimana koperku?"
"Dimana lagi ya di dalam lemari lah." ucap Haidar kesal karena gairahnya harus terhenti ditengah-tengah nafsu yang sudah membakar isi kepalanya.
"Ga ada sayang–. Hanya ada ini." Kalycha menunjukkan lingerie yang ditangannya pada Haidar.
Haidar mendekati Kalycha dan melihat isi lemari itu kosong. Haidar tidak menyadari kalau isi lemari itu hanya ada sebuah lingerie karena saat dirinya mengganti pakaiannya, piamanya sudah tersedia diatas tempat tidur sehingga dia tidak lagi membuka lemari.
"Apa ini kerjaannya Helsa? Karena jelas-jelas tadi aku melihat Dara memberikan koper Icha padanya. Dasar adek kurang ajar, awas aja aku potong uang jajan kamu 70%."
"Kau pakailah itu dulu, besok aku minta Roy untuk membeli baju ganti untukmu."
"Tapi sayang ini terlalu tipis."
"Bagaimana kalau nanti dia tidak bisa menahan nafsunya? Mampuslah aku." Batin Kalycha.
"Helsa benar-benar mengujiku. Bagaimana mungkin aku menahannya semalaman. Aarrgggg. Gara-gara Lingerie aku harus kerja sendiri nanti." Gerutu Haidar dalam hati.
"Pakailah dari pada kamu tidak memakai pakaian sama sekali. Kamu pilih mana?"
"Aku telpon Bunda aja ya Sayang, minta Bunda bawa baju kesini."
"Apa kamu mau mempermalukan ku? Sekarang pakailah, aku janji tidak akan melakukannya sebelum kamu benar-benar siap."
"Janji ya–." Kalycha mengulurkan jari kelingkingnya.
"Seperti anak kecil saja." Gerutunya tapi tetap menautkan jari kelingkingnya dijari Kalycha.
"Sudah pakai sana."
"Sayang tutup mata dulu atau putar balik badannya."
"Aku udah pernah melihatnya jadi buat apa kamu malu." Haidar tetap melakukan seperti keinginan istrinya itu. Kalycha tidak menyadari kalau Haidar masih tetap dapat melihat semua bagian tubuhnya dari pantulan cermin yang ada didepannya.
"Tapi kan waktu itu Icha ga sadar."
"Percuma kamu suruh aku berbalik karena aku juga masih bisa melihatnya." Haidar tersenyum penuh kemenangan.
"SAYAAANNNG." teriak Kalycha saat melihat Haidar dengan senyum mesumnya.
Buruan Like yang buuuaaannnyyyakkkk ya.
__ADS_1
Kalau sempat nanti malam UP lagi 🤗