My Soulmate

My Soulmate
Battle Dance Bawa Petaka


__ADS_3

Minggu pagi mentari bersinar dengan cerah, semilir angin menerpa kulit dan wajah wanita cantik itu. Kalycha berdiri di balkon kamarnya memandang ke hamparan langit luas. Pikirannya berpetualang kemana-mana, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya seolah mengusik ketenangan hatinya.


"Sudah bangun sayang–." suara pria yang sangat dicintainya itu membuyarkan lamunannya. Dipeluknya wanitanya itu dari belakang dan diletakkannya kepalanya dibahu Kalycha.


"Mas kapan datang?" Tanpa menoleh kepada pria yang memeluknya itu. Matanya masih menikmati keindahan awan di langit pagi hari.


"Tadi malam, abis ngantar kamu pulang mas balik ke apartemen buat ngambil keperluan mas ke bandung nanti." Haidar mencium lembut bahu Kalycha.


"Tadi malam?" Kalycha membalikkan badannya melihat pria yang kini berdiri dihadapannya. "Kok Icha ga tahu? Terus mas tidur dimana?" Rupanya karena kelelahan berjalan-jalan di mall membuatnya langsung tertidur nyenyak.


"Tadi malam mas sampe udah hampir jam sebelas malam. Mas lihat kamu udah tidur pules banget. Jadi mas ga mau ganggu kamu. Mas tidur dikamar tamu. Lagian bisa marah Daddy kalau tahu mas tidur sama kamu." Haidar sangat menghormati mertuanya yang pernah menjadi atasannya dulu.


Sesampainya dirumah mertuanya Haidar langsung masuk ke kamar Kalycha, ia tak tega untuk membangunkan istrinya dan memilih untuk tidur dikamar tamu saja. Bi Nani membantunya menyiapkan kamar tamu untuknya. Kalycha terlihat begitu lelah setelah pulang dari mall saat mengambil cincin pernikahan mereka.


"Mas jam berapa berangkat ke bandung nya?" tanyanya pelan, wajahnya terlihat bersedih. Hatinya masih gelisah dan tak tenang mengingat kalau suaminya akan pergi keluar kota.


"Sore jam 3 atau jam 4 lah–." Haidar memeluk Kalycha ia tahu ketakutan istrinya itu. "Mas janji akan telpon kamu setiap 10 menit sekali. Kamu jangan sedih gini dong mukanya, Mas jadi ga tenang nanti kerjanya disana." Haidar menaikkan dagu Kalycha lalu menciumnya lembut.


"Malu mas, gimana kalau ada yang liat?" Kalycha mendorong tubuh Haidar menjauh darinya.


"Morning kiss sayang, sekalian ngecas batre aku biar ga lobet kalau nanti jauhan dari kamu."


"Alesan–." Kalycha mencubit pelan hidung Haidar.


Lalu mereka duduk di bangku yang ada dibalkon kamar Kalycha. Masih tetap berpelukan sambil menikmati udara pagi hari yang masih segar meskipun tak sesegar udara di pedesaan.


*


*


*


*


*


Seperti anak kecil yang tak ingin ditinggal pergi orangtuanya begitu juga Kalycha yang terus menangis saat mengantarkan Haidar yang akan pergi ke Bandung.


"Sischa kok cengeng Bun? Kan Mas Hai cuma pelgi sebental" celoteh Alvin yang merasa aneh melihat Kakaknya yang terus saja menangis seperti anak kecil.


"Sischa jangan nangis terus dong, nanti Malven bagi deh es krim kesukaan Sischa." Malven memeluk kaki Kalycha yang menangis sampai sesenggukan.


"Sayang udah dong nangisnya. Malu diliatin Malvin sama Malven tuh." Haidar turut menenangkan istrinya itu. "Mas kan udah janji nanti bakalan telponin kamu terus."


Malvin turun dari gendongan Pram dan berlari ke dalam rumah. Lalu kembali lagi menemui mereka yang masih berkumpul didepan rumah.


"Sischa tissue buat lap cengengnya–." Malvin memberikan selembar tissue, rupanya dia berlari kedalam rumah hanya untuk mengambilkan tissue untuk Kakaknya. Kalycha menerimanya dan menghapus lendir yang keluar dari hidungnya.


"Kok pelit amat ambilnya cuma selembar." Nayla menahan tawanya melihat tingkah putranya yang begitu menggemaskan.


"Cukup satu aja Bun nanti habis kalau banyak-banyak." Semua orang tertawa bahkan Kalycha yang menangis pun ikut tertawa.


"Nih Sischa permen Malven bagi untuk Sischa biar Sischa ga nangis lagi." Rupanya si kembarannya tak mau kalah untuk membujuk Kakaknya supaya berhenti menangis.


Kalycha menerima permen tangkai yang diberikan Malven untuknya. Dia pun berjongkok menyamakan tingginya dengan kedua saudaranya itu.


"Makasih ya, kalian udah sayang sama Sischa." Kalycha memeluk kedua saudaranya.


"Sischa kan sedih kalna ditinggal Mas Hai, bial Sischa nggak sedih lagi. Nanti kita pelgi main temjon ya Bun–." Malvin menarik-narik tunik Bundanya. Nayla menganggukkan kepalanya.


"Iya sayang."


"Horeee.... Holeee...." Kedua anak kecil itu pun bersorak kegirangan.

__ADS_1


"Dad, Bun–, titip Icha yah." Haidar bergantian mencium punggung tangan mertuanya.


Ditariknya Kalycha kedalam pelukannya lalu mencium puncak kepala istrinya. "Mas ga akan lama. Kamu jaga hati dan pikiran yah. Kalau kerja yang fokus biar pasien-pasien kamu cepat sembuhnya. Jangan lupa doakan mas sehat, banyak rezeki dan selamat sampai tujuan."


Airmata Kalycha kembali menetes, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Mas juga hati-hati disana. Jaga mata dan hatinya juga." Kalycha mengeratkan pelukannya. "I Love You." bisiknya pelan.


Haidar bengong sejenak, baru kali ini wanita itu mengatakan perasaannya kepadanya. Jantungnya berdetak kencang dan membalas pelukan Kalycha dengan erat. Tak ada rasa malu lagi didepan kedua mertuanya itu.


Kalycha menunggu jawaban dari suaminya itu tapi Haidar hanya diam saja dan mengusap kepalanya pelan lalu masuk kedalam mobil.


"Assalamualaikum–." Haidar menutup pintu mobilnya sambil melambaikan tangannya.


"Waalaikumsalam." jawab mereka bersamaan.


"Iiih mas Hai apa-apaan sih. Aku udah bilang I Love You tapi dia kok diam aja. Ga ngebales I Love you juga." Gerutu Kalycha sambil melambaikan tangannya kepada suaminya saat mobil yang ditumpanginya berjalan meninggalkan pekarangan rumahnya.


"Sischa kita jadi kan main temjonnya?" ajak Malvin sambil menggandeng tangan Kalycha masuk kerumah.


"Nggak–, Sischa shif malam, malam ini." Nayla yang mendengar ucapannya menghentikan langkahnya lalu melihat ke pada putrinya itu.


"Loh sayang, kan kamu udah selesai Shif malamnya. Kok ini masih jaga malam lagi?"


"Males juga dirumah Bun." Seperti anak kecil Kalycha berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya.


"Nggak boleh, kamu harus jaga kesehatan juga dong. Apa yang kamu kejar makanya minta shif malam terus?" Nayla tampak marah karena putrinya itu tak lagi memikirkan kesehatannya.


"Icha nggak ngejar apa-apa Bun, cuma nanti Icha kepikiran mas Hai terus, jadi mendingan Icha kerja biar ga bosen dirumah." Kalycha masih saja memberikan alasan yang membuat Nayla tambah marah.


"Tadi si kembar ngajakin kamu main Timezone, sekarang kamu bawa adik kamu main. Mereka juga udah rindu mau main sama kamu. Selama ini kamu selalu aja alesan ngantuklah, capeklah, kasian mereka kan sayang–!" seru Nayla tegas tapi tetap dengan penuh kasih sayang-. Kalycha tak dapat lagi membantah perintah dari ibunya itu.


"Iya Bun, nanti Icha bawa mereka main. Icha mau ganti baju dulu." Akhirnya Kalycha mengalah dan menuruti perkataan Nayla. "Tapi Bunda ikut kan?" Ia bertanya untuk memastikan kalau dirinya tak sendirian menjaga para kurcaci yang sangat aktif itu. Ia pasti akan kewalahan bila sendirian menjaga adik-adiknya.


"Apa? Daddy mau ke London? Ngapain?" Kalycha mengetutkan dahinya. "Kenapa sih Daddy sama mas Hai gila kerja banget. Harta nggak dibawa mati juga." Gerutu Kalycha dalam hati.


"Ngapain lagi? Mertua sama menantu sama-sama gila kerja. Pusing Bunda." gerutu Nayla pelan tapi masih dapat didengar jelas oleh Kalycha. Kalycha tersenyum ternyata pemikirannya sama dengan Bundanya.


"Terus Icha siapa yang nemenin Bun?" Masih memikirkan betapa repotnya dia nanti jika hanya pergi sendiri.


"Aku–." jawab sang burung Dara yang tiba-tiba nongol didepannya.


"Tante kapan sampenya?" tanya Kalycha pada adik perempuan Bundanya itu.


"Anty Cha, kamu ga keren banget sih Cha manggilnya?" protes Dara. Kalycha selalu saja lupa memanggilnya Anty. Sebenarnya yang membuat Kalycha malas memanggilnya dengan sebutan Anty karena usia mereka hanya terpaut setahun. Dara lebih tua setahun dari Kalycha.


"Anty kapan datengnya?" Kalycha mengulang pertanyaan yang belum dijawab oleh Dara.


"Barusan, tadi Kak Nay telpon bilang kalau si kurcaci minta ditemenin main timezone. Padahal kemarin udah dibawah Mamah sama Abah main seharian, masih aja kurang mainnya." jelas Dara.


"Tanteeeee–." teriak kedua kurcaci itu saat mendengar suara Dara.


"Nih kurcaci juga pada nggak ngerti, panggil Anty kalau nggak kita nggak jadi jalan-jalan ke Timezone." ancam Dara dan langsung membuat kedua bocah itu terdiam, dan dengan kompaknya menautkan ibu jari dan telunjuknya dipipi mereka seperti berpikir keras.


"Antiii Daarrr... Antiii Dallll...." keduanya kembali berteriak sambil memeluk Dara.


Dara berjongkok menyamakan tingginya dengan kedua keponakannya itu.


"Heh, nama Anty jangan disingkat-singkat begitu ga enak ngedengernya." protes Dara. "Udah siap-siap sana, Anty tunggu 10 menit kalau belum beres Anty tinggal balik." Ancam Dara lalu keduanya berlari mencari Bundanya dikamar dan meminta Bundanya untuk menyiapkan keperluan mereka.


Kalycha pun bersiap-siap untuk menemani kedua adiknya bermain.


Kurang lebih 15 menit Dara menunggu ketiga bersaudara itu siap-siap.

__ADS_1


"Maaf ya Anty lama nunggunya." Kalycha sudah menggandeng kedua adiknya mendekati Dara yang duduk disofa sambil nonton TV.


"Udah siap?" tanya Dara dan dijawab anggukan kepala dari ketiganya.


"Oke. Oyo kemon–!!! serunya, pada ketiga keponakannya.


"Kak, Cardnya boleh aku pake beli tas kesukaan aku yah–." teriak Dara saat Kalycha menyerahkan Black card yang Unlimited itu kepada Dara.


"Iya tapi jangan yang mahal-mahal yah." balas Nayla berteriak dari dalam kamarnya.


"Udah kayak dihutan aja teriak-teriak–." gerutu Kalycha tapi hanya dibalas senyuman oleh dara.


"Namanya juga usaha. Hehe." balas Dara cengengesan.


"Usaha morotin Bunda–." Sindir Kalycha.


"Itu upah untuk jagain kedua pangerannya. Sirik ajah lo–!!!"


"Katanya Anty udah kerja di salah satu Bank yang paling bonafit senatero jagat raya dan ga tanggung-tanggung jabatan Anty juga oke, masa masih ngemis sih sama Kakaknya." ejek Kalycha. Sebenarnya ia tak masalah jika Tantenya itu meminta uang pada Bundanya. Kalycha hanya suka aja menyindir dan mengejek Tantenya yang beda usia setahun dengannya itu.


"Sirik tanda ga mampu loh Cha–."


"Icha mampu loh Tanteee–."


Keduanya pun tertawa lalu masuk kedalam mobil. Mereka diantar oleh Pak Anto supir keluarga kepercayaan Pram.


Hanya butuh 20 menit mereka sudah sampai disalah satu Mall yang tidak jauh dari kediaman keluarga Bramasta. Salah satu mall terbesar dikota itu yang tak lain milik Daddynya sendiri.


"Mainnya jangan lama-lama yah sayang. Nanti Anty juga pengen belanja sebentar." pintanya pada kedua ponakannya yang lucu-lucu itu.


"Oke Anty–." jawab keduanya. Lalu langsung menyerbu permainan yang mereka ingin mainkan.


"Battle dance?" tantang Dara pada Kalycha.


"Siapa takut!" seru Kalycha.


"Yang kalah traktir makan tanpa Black Card Bunda." ucap Kalycha.


"Oke Deal!!" Dara dan Kalycha pun berjabat tangan.


Kedua adik mereka bermain dengan diawasi Pak Anto yang turut menjaga mereka.


Keduanya sudah bersiap-siap untuk melakukan battle dance. Dara menekan tombol start. Musik dari mesin battle dance itu pun sudah mulai mengiringi setiap gerakan mereka. Tanpa mereka sadari semua mata pengunjung yang ada didalam arena permainan itu mulai tertuju kepada mereka berdua. Pasalnya mereka menari dengan sangat indah bahkan ada sepasang mata yang terus menyaksikan gemulainya gerakan keduanya dalam battle.


"Nona manis– mau battle bareng kita-kita ga?" tiga orang pria tiba-tiba mengganggu aktifitas dance gadis-gadis itu. Sehingga keduanya berhenti menari tanpa melihat siapa yang mendapat score tertinggi.


"Maaf kami ga mau." jawab Dara tegas lalu menarik tangan Kalycha untuk menghindar dari ketiga pria itu. Pengunjung yang tadinya menonton battle mereka pun bubar setelah kedatangan tiga pria yang terkenal dengan anak gengster yang suka buat kerusuhan.


"Eeiits, mau kemana? Temenin kita battle dulu dong, atau mau battle diranjang aja?" ucap pria yang bertato bunga mawar dilengan kanannya. Sambil mencegah kedua gadis itu yang bersiap pergi menghindari mereka.


"Hei, sopan sedikit anda bicara. Kalian pikir kalian siapa?" Dara semakin panas saja. Dara yang menggenggam tangan Kalycha merasakan tubuh keponakannya itu mulai bergetar. Kalycha teringat kembali saat penculikannya di Jerman dulu.


"Yang ini manis juga, kalau yang itu buat lo aja. Galak soalnya." ucap salah satu pria yang memakai topi hitam dan jaket kulit berwarna yang sama dengan topinya. Dia mendekati Kalycha dan ketika tangannya ingin menyentuh pipi Kalycha tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menahannya.


"Ini tangan udah di sekolahin ga Bung–?" Pria itu melirik tajam pada seseorang yang sudah berani menyentuh dan menghentikan aksi tangannya.


"Ini sih namanya Battle Dance bawa petaka."


Jeng Jeng Jeng


Penasaran yach?


Vote yach 🤗

__ADS_1


__ADS_2