My Soulmate

My Soulmate
Melepaskan Bukan Berarti Melupakan


__ADS_3

Haidar POV


Hal yang tak pernah terpikir olehku, dia bersama pria lain. Hatiku sakit saat melihat kemesraan mereka berdua, belum pernah kulihat dia tersenyum sebahagia itu. Apakah laki-laki itu sudah berhasil merebut hatinya? Tapi postingan dia kemarin menuliskan kalau dia mencintaiku. Apa semua itu palsu?


Ku putuskan untuk masuk ke dalam restoran itu. Ku coba bersikap sewajarnya supaya mereka tidak curiga kalau aku mengikuti mereka. Aku duduk di kursi yang bersebrangan dengan mejanya. Aku memang sengaja duduk diaana supaya dia menyadari kehadiranku. Ternyata benar dia melihatku, lalu aku pura-pura tidak melihatnya. Ku pesan beberapa menu makanan, aku memang belum makan malam karena tadinya niatku ingin mengajaknya makan malam.


"Tuan Haikal, anda makan disini juga?" akhirnya dia menyapaku dan pria yang bersamanya langsung membalikkan badannya melihat kearah ku.


"Bukannya dia Kakak mu Kaly?" ternyata pria itu masih ingat denganku. Saat dulu aku pernah menjemput Icha kerumahnya dulu.


"Eeemm–." Icha seperti bingung mau menjawab apa.


"Kenapa kamu masih memanggilku Tuan, kita lagi diluar. Panggil Haikal aja." jawabku sengaja mengalihkan perhatian pria itu.


"Hah i-iya–." Kalycha masih saja gugup. Pria itu menatap Icha dengan bingung.


"Kok kebetulan sekali bisa ketemu disini ya? Sudah langganan ya makan di restoran ini?" Ku lihat perubahan raut wajah pria itu yang tidak senang saat aku mengajak Icha ngobrol. Aku masa bodoh yang ku inginkan hanya ingin dekat dengan istriku.


"Ah, ga kok. Aku juga baru pertama kali makan disini." Sama ini juga pertama kali aku makan disini.


"Siapa? Pacar kamu?" Aku melirik pada pria yang bersamanya itu. Pria itu masih saja menatapku kesal.


"Bukan, dia temanku Adit. ucapnya pada pria itu. "Dit dia Haikal hmm–." Icha tampak bingung mau mengenalkan aku sebagai apa pada pria itu.


"Haikal–, saya Kakak sepupu Kalycha." sambungku sambil mengulurkan tanganku. Entahlah Icha menyadari atau tidak kalau ingatanku udah pulih. Karena dulu dia jiga mengenalkanku pada temannya sebagai Kakak sepupunya. Tapi dia tampak terkejut dengan pengakuanku pada temannya. Sedangkan pria itu biasa saja karena dulu dia belum tahu namaku atau dia lupa, aku pun tidak tahu.


"Aditya." Dia menyambut uluran tanganku dengan wajah yang kurang suka.


"Maaf kak, kami duluan." pria yang bernama Adit itu melihat kearahku meminta izin untuk pulang duluan kerena memang mereka sudah selesai menikmati makan malamnya.


"Kaly, kita pulang sekarang takut ntar lo kemaleman." Dia menarik tangan Icha dan membawa Icha pergi dari restoran itu. Aku hanya bisa menyaksikan punggung mereka saat mereka sudah keluar meninggalkan restoran itu.

__ADS_1


Ku tinggalkan beberapa lembar uang 100 ribuan dimejaku lalu kembali ku ikuti mereka. Belum sempat kunikmati apa yang sudah ku pesan direstoran itu bahkan pesananku pun belum datang. Aku kembali mengikuti mereka dari belakang. Dan ternyata Adit pria yang baik dia benar-benar mengantar Icha pulang kerumahnya.


Ku lihat dari kejauhan mansion mertuaku itu. Aku rindu, terakhir kalinya dia ku tinggalkan disana.


Ponselku berdering membuyarkan ku dari lamunanku. Ku lihat Dimas yang menelpon.


"Ada apa Dim?" tanyaku kepada orang kepercayaan sekaligus sahabat ku itu.


"Sebaiknya lo pulang sekarang, Om Abas sudah sampai di apartemen." Ini berita yang paling ku tunggu-tunggu. Tak lama Dimas langsung menutup panggilan teleponnya.


Dengan cepat aku melajukan mobilku kembali pulang ke apartemen ku.


...❇️❇️❇️...


Author POV


Haidar langsung memasuki apartemennya dan melihat Dimas dan Abas sedang duduk berdua sambil menikmati kopi yang pastinya buatan Dimas, karena ART yang bekerja di apartemen Haidar hanya datang disiang hari saja.


"Sudah lama datang Pa?" Haidar duduk didepan Abas, dia masih menghormati pria itu sebagai Orangtuanya.


"Maafkan aku Pa, sebenarnya aku tidak ingin melukai siapa-siapa, aku juga ga mau buat Mama sedih. Tapi aku terpaksa harus kembali ke masa laluku pa." Haidar menarik nafasnya, sebelum melanjutkan ucapannya. "Ada keluargaku yang sudah menungguku selama 5 tahun ini. Istriku yang baru seminggu pernikahan kami tapi dia ku tinggalkan karena harus bekerja ke luar kota waktu itu. Sekarang dia menjadi janda karena mengira aku sudah meninggal dan dia belum tahu kalau aku masih hidup. Aku ingin Papa dan Mama mengantarkanku pulang dan menjelaskan kepada keluargaku semua tentang kejadian yang kualami selama 5 tahun ini." lirih Haidar menatap Abas dengan penuh harap pria itu akan mengerti perasaannya.


"Baiklah kalau itu keinginanmu, Papa akan menemui orangtuamu, tapi beri waktu untuk papa menjelaskan ini semua sama Mama kamu."


Braaakk


Pintu apartemen Haidar terbuka dengan keras. Yetti datang dengan deraian airmata dipipinya. Wanita itu tampak gusar, tubuhnya gemetar. Dilihatnya Haidar dan suaminya berdiri terbengong melihat kedatangannya.


"Ga Pa, Halim ga boleh pergi. Tolong jangan biarkan Halim pergi." Yetti yang baru saja datang sangat terkejut dengan persetujuan suaminya untuk membiarkan Haidar pulang ke rumah orangtuanya sesungguhnya.


"Ma, bagaimana Mama tahu kalau papa ada disini? Dan bagaimana Mama tahu tentang rencana Papa akan memulangkan Haikal?" Yetti tidak menjawab pertanyaan suaminya itu, ia berjalan mendekati tempat duduk Haidar lalu duduk disampingnya.

__ADS_1


"Halim maafkan Mama, Tolong jangan tinggalkan Mama Halim." Melihat Yetti menangis hati Haidar pun sakit, lalu Haidar memeluk Yetti. Bagaimana mungkin dia tega melihat wanita itu menangis tak berdaya dalam pelukannya saat tahu dirinya akan kembali kehilangan putranya.


"Ma–, mengertilah Ma. Halim anak kita sudah meninggal Ma. Dia itu Haidar, namanya Haidar Ma. Dia sudah ingat semua tentang masa lalunya. Kita ga berhak menahan dia lebih lama lagi disini Ma." Abas mendekati istrinya yang dipeluk Haidar.


Yetti melepaskan pelukannya dari Haidar dan memohon kepada suaminya untuk membujuk Haidar untuk tetap tinggal bersama mereka.


"Papa–, tolong bujuk Halim supaya mau tetap jadi anak kita Pa. Mama ga mau kehilangan Halim lagi Pa. Tolong Pa–."


"Ma–." Haidar meraih tangan wanita paruh baya itu. "Untuk selamanya aku mau jadi anak Mama, tapi ijinkan aku pulang kekeluargaku Ma dan memakai nama asliku. Aku sudah ingat semua masa lalu ku Ma. Aku juga sayang sama Mama. Tapi–."


"Kalau kamu setuju jadi anak Mama sebaiknya kita kembali kepalembang saja. Kamu ga perlu berada disini. Kita balik ke Palembang sekarang." Yetti berdiri tapi tangannya kembali ditahan Haidar. Sepertinya Yetti salah mengartikan ucapan Haidar.


"Ma, aku mau tetap jadi anak Mama, tapi aku juga ga bisa meninggalkan masa laluku Ma. Jika aku ikut Mama ke Palembang sekarang, maka ada Ibu lain yang akan tersakiti hatinya. Seorang Ibu yang sudah kehilangan putranya selama 5 tahun ini yang mengira kalau putranya sudah meninggal. Seorang Ibu yang menahan deritanya karena tidak bisa mengenali jasad anaknya sendiri. Seorang Ibu yang selalu berdoa ke pusara orang lain yang mengira kalau itu adalah pusara anaknya. Dan akan ada wanita lain yang juga tersakiti mengira kalau suaminya sudah meninggal sementara aku masih sehat Ma. Akan ada tangisan dari seorang adik yang mengira Kakaknya sudah meninggal dunia. Akan ada derita seorang Ayah yang menahan tangisnya karena kehilangan putra satu-satunya. Aku ga sanggup membayangkan itu semua Ma." Haidar menangis tak dapat lagi dia menahan cairan bening itu untuk tidak keluar dari pelupuk matanya.


"Aku tahu kalau selama aku di Jakarta, Mama selalu mengawasiku. Aku tahu mama memasang penyadap suara di apartemenku. Dan aku juga tahu bagaimana kejamnya Mama saat membawaku pulang dengan paksa dari rumah orangtuaku sendiri." Yetti sangat terkejut mendengar penuturan dari Haidar. "Aku tahu semuanya Ma, tapi aku tetap membiarkannya karena aku mengerti kekhawatiran Mama. Ketakutan Mama akan ku tinggalkan. Aku tahu Ma, tapi apa Mama ga mengerti bagaimana perasaan keluargaku selama ini?"


"Seharuanya Mama yang lebih tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak yang Mama cintai. Apa Mama ga bisa merasakan bagaimana perasaan Ibuku sekarang?" Haidar menangis meluapkan apa yang dirasakannya saat itu.


"Halim, Halim maafkan Mama. Mama ga bermaksud begitu. Mama hanya–." Yetti tidak bisa melanjutkan kata-katanya, Ia menyadari semua yang dikatakan Haidar itu benar.


"Bagaimana mungkin aku tidak tahu bagaimana perasaan keluargamu sekarang? Bagaimana bisa aku menjadi seorang wanita yang kejam begini? Menyakiti perasaan orang lain demi kebahagiaan ku sendiri. Tapi Aku juga ga bisa kehilanganmu seperti ini."


"Tolong kasih Mama waktu, Mama akan setuju kamu kembali kekeluarga mu. Tapi dengan syarat Kamu harua tetap menjadi anakku." Yetti menggenggam tangan Haidar dan memeluknya.


"Aku akan selalu menjadi anakmu Ma, tapi ijinkan aku memakai namaku sendiri Ma, aku bukan Halim Ma, aku harap Mama bisa menerimaku sebagai Haidar." Yetti terdiam dan melepaskan pelukannya.


"Maafkan Mama Halim, sudah 7 tahun kamu meninggalkan Mama. Tapi mama belum bisa mengikhlaskan mu. Maafkan Mama, mulai saat ini Mama akan melepaskanmu itu bukan berarti Mama melupakanmu. Hanya saja Mama merasa bersalah menjeratmu dinunia itu ini karena Mama yang belum mengikhlaskan mu. Maafkan Mama sayang."


Yetti pun menganggukkan kepalanya tanda ia menyetujui apa yang diminta oleh Haidar.


Maaf gaes baru bisa Up 😍

__ADS_1


Jangan Lupa Like dan komennya ya 🤗


Moga-moga dapet Parcel dari Kalian 😊


__ADS_2