My Soulmate

My Soulmate
Pusing Atas Bawah


__ADS_3

Malam pertama adalah momen ketika laki-laki dan perempuan yang sudah disatukan dalam ikatan pernikahan sudah sah untuk bersatu untuk pertama kalinya. Maka tidak heran jika malam pertama menjadi hal yang ditunggu-tunggu namun juga menjadi momen yang mendebarkan.


Seperti pasangan pengantin baru yang baru di nyatakan Sah beberapa jam lalu. Mereka tampak gelisah, dimana keduanya tidak dapat tidur sama sekali. Haidar yang berusaha keras menahan hasrat birahinya sementara Kalycha merasa takut akan di tuntut haknya oleh suaminya.


"Cha kamu udah tidur?" Haidar bertanya pada Kalycha yang saat itu berbaring dengan memunggunginya. Tidak ada jawaban dari gadis itu. Tidak ada pula pergerakan tubuhnya.


"Begini amat ya nikah sama bocah, apa-apa mesti aku yang mengalah. Nasib-nasib terpaksa harus kerja sendiri malam ini." Haidar beranjak dari tempat tidurnya perlahan tidak ingin membuat gerakan yang bisa membangunkan istrinya itu.


Sebenarnya Kalycha juga belum dapat tidur tapi dirinya sengaja berpura-pura tidur supaya tidak diganggu oleh Haidar.


"Kak Haidar kok lama ya? Ngapain sih didalam sana? Bertapa kali ya?" Kalycha bertanya dalam hatinya sendiri. "Aku ngantuk banget tapi kalau nanti aku tidur Kak Haidar ngapa-ngapain aku lagi, tapi kalau ga tidur aku ngantuk. Gimana ini. Enggak aku ga boleh tidur." Kalycha bermonolog pada dirinya sendiri. Ucapan bibirnya lain dengan kenyataannya. Matanya menuntutnya untuk segera tidur dan akhirnya tanpa sadar Kalycha pun terlelap.


Hampir setengah jam Haidar berada bathroom untuk melepaskan rasa yang akan membuatnya sakit kepala bila tidak dikeluarkan.


"Ternyata istri bocilku sudah tertidur pulas." Haidar melihat Kalycha yang tertidur dengan menghadapnya. Dengan lembut Haidar mencium kening Kalycha. Lalu mengangkat kepala Kalycha dan meletakkannya di lengannya sebagai bantalan. Haidar memeluk Kalycha dan akhirnya diapun ikut tertidur.


*


*


*


*


*


Kepala Haidar merasa sakit karena kurang tidur, dirinya sudah lebih dulu bangun dibandingkan istrinya.


"Cha, bangun Cha." Haidar mengelus lembut lengang Kalycha membangunkan istrinya.


"Bentar lagi Bun–, 5 menit lagi ya Bun. Icha masih ngantuk." Rupanya gadis itu masih belum sadar kalau dirinya sudah menikah. Haidar tersenyum dan melihatnya gemas karena istrinya itu begitu manja dengan Bundanya.


"Cha, bangun–." Haidar kembali membangunkan Kalycha kali ini dia tidak lagi mengelus lembut lengannya tapi sudah mengguncang pelan tubuh Kalycha.


"Bunda, bentar lagi masih gelap juga. Ini kan hari minggu Bun, Icha ga perlu kesekolah." masih dengan matanya yang terpejam, ia tidak menyadari kalau yang membangunkannya bukanlah Bundanya tapi suaminya.


"Kamu mau bangun atau mau aku cium?"


Mendengar kata cium seketika Kalycha terduduk sambil mengusap kedua matanya.


"Ya ampun, ternyata bukan Bunda. Kenapa aku bisa lupa kalau aku sudah menikah?"


"Mandi sana cepat. Apa kamu ga malu nanti diejekin pengantin baru bangunnya lama?" Haidar mengulurkan tangannya membantu Kalycha untuk bangun dari tempat tidurnya.


"Maaf Icha lupa kalau Icha udah nikah sama Om."

__ADS_1


Cup.


Haidar mengecup bibir Kalycha sambil melingkarkan tangannya di pinggang Kalycha.


"Kenapa di cium Om? Icha kan dah bangun."


Cup.


Haidar tidak menjawab pertanyaannya tapi malah mencium istrinya itu lagi.


"Iiih–." Kalycha mendorong tubuh Haidar agar menjauh darinya tapi mau jauh bagaimana saat ini dia berada dalam lingkaran tangannya. "Kenapa sih suka banget cium-cium Icha. Ga geli apa? Icha kan masih bau jigong, belum mandi, belum wangi juga."


"Siapa suruh kamu lupa manggil aku apa." Kalycha pun tersadar kalau dirinya baru saja menyebut suaminya itu dengan sebutan yang tak seharusnya ia sebut.


Haidar tidak perduli dengan bau mulut khas bangun tidur istrinya itu. Baginya itu seperti bumbu untuk menambah keharmonisan rumah tangga barunya. "Emang kalau udah wangi aku boleh cium kamu?"


"ENGGAK!!!" seru Kalycha melepaskan pelukan Haidar lalu berlari ke bathroom.


Setelah hampir 20 menit Kalycha baru selesai mandi. Ia keluar dari bathroom dengan wajah yang cemberut sambil mendekati suaminya.


"Sayang–." panggilnya pada Haidar yang tengah sibuk bertelepon entah dengan siapa? Haidar tidak mendengar ucapan Kalycha yang berdiri dibelakangnya.


Kalycha menarik-narik pelan piama yang dipakai Haidar. "Sayang–." Haidar tersadar lalu melihat kearah istrinya.


"Cepatlah bawa kesini, sebelum ku potong abis jatah bulananmu." ucapnya pada seseorang yang bertelepon dengannya lalu memutuskan panggilan teleponnya.


"Icha ga punya baju."


"Tunggu sebentar, nanti Helsa akan datang membawa kopermu."


Dan panjang umur, baru saja Haidar menyebut namanya tiba-tiba bell kamar mereka berbunyi dan Haidar langsung membuka pintu kamarnya.


"Gimana MPnya berhasil kan?" ucap gadis tak berakhlak itu tanpa dosa. Langsung nyelonong masuk ke dalam. "Hai Kakak ipar–." sapanya pada Kalycha yang duduk ditepi ranjang yang hanya memakai baju handuk saja.


"Kenapa pakai acara masuk segala, aku kan malu. Apa lagi aku sempat salah paham sama hubungan mereka." Kalycha merasa sangat malu pada Helsa.


"Panggil Icha aja Kak." Kalycha yang merasa segan dan bingung akan memanggil apa pada gadis yang tengah berdiri didepannya itu. Pasalnya Helsa jauh lebih tua darinya mereka terpaut usia 4 tahun. Sementara Kalycha dan Haidar terpaut usia 9 tahun. Saat ini usia Kalycha memasuki 18 tahun.


"Jangan panggil Kakak nanti Ibu sama Ayah marah lagi. Karena bagaimanapun juga kamu itu tetap Kakak ipar ku." Helsa ikut duduk di samping Kalycha. "Plis Kak, tolong bilang sama Kak Haidar ya jangan potong uang jajanku ya." ucapnya pelan sambil memegang tangan Kalycha.


"Kakak masih dengar dek–." Haidar menarik tangan Helsa dan membawanya keluar dari kamar mereka.


"Kak, maaf ya Kak." gadis itu masih berusaha membujuk Haidar. Karena Haidar marah dengan adiknya itu telah berani mengerjainya di malam pertama mereka.


"Tapi sukses kan MPnya?" teriaknya sebelum pintu benar-benar ditutup oleh Haidar.

__ADS_1


"Sukses apanya? Yang benarnya kamu sudah berhasil dengan sukses buat kepala Kakak pusing atas bawah."


"Ini kopermu, cepat ganti baju. Selepas itu kita sarapan bareng-bareng sama keluarga yang lain. Mereka masih menginap dihotel ini, ga enak kalau mereka harus menunggu kita lama untuk sarapan."


Tanpa menjawab ucapan Haidar Kalycha langsung membuka kopernya dan memilih baju yang pantas untuk digunakannya.


Haidar pun masuk ke dalam bathroom dan membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai mandi Haidar keluar hanya dengan memakai handuk saja sehingga bagian tubuh atasnya terekspos dengan nyata.


"Aaakk–, sayang kenapa ga pakai baju dulu?" ucap Kalycha setengah berteriak.


"Ribet gantinya dikamar mandi. Lagian udah sah juga kenapa harus malu." sambil berjalan mengambil pakaiannya. "Kamu harusnya sudah belajar menjadi seorang istri yang baik, dan melayani semua kebutuhan suamimu. Mulai besok kamu yang harus menyiapkan pakaianku dan kebutuhanku yang lain."


"Iya. Nanti Icha belajar sama Bunda." ucapnya pelan sambil memakai lipgloss dibibirnya.


"Bunda? Siapa bilang kita tinggal dirumah Bunda?" Haidar tersenyum licik.


"Jadi kita tinggal dimana Sayang?"


"Aku sudah beli rumah untuk kita tinggal nanti. Dan ga mungkin juga aku tinggal dengan mertua sendiri. Kita sudah menikah jadi harus belajar MANDIRI dan Daddy juga sudah setuju untuk itu." Haidar sengaja menekan kata Mandiri. Ada maksud tersembunyi dibalik ucapannya itu.


"Semua harus kamu kerjakan sendiri, itu hukuman buat kamu yang sudah membuatku terpaksa menikahimu."


"Tapi barang-barang ku masih ada dirumah Daddy."


"Sudah dipindahkan oleh supir. Tapi untuk seminggu kedepan kita tinggal dirumah Ibu, jadi kamu bisa belajar sama Ibu gimana caranya jadi istri yang baik. Karena Ibu sudah lebih berpengalaman dari pada Bunda. Bukan bermaksud untuk meremehkan Bunda tapi sebaiknya kamu belajar dengan orang yang pengalamannya lebih banyak."


"Tapi–." Belum sempat Kalycha menyelesaikan ucapannya Haidar sudah lebih dulu memotosnya.


"Jangan banyak protes. Dan mulailah belajar memakai pakaian yang sesuai. Apa kamu tidak punya dress yang lebih pantas untuk dipakai?"


Haidar merasa tidak senang melihat Kalycha yang menggunakan celana jeans dan kaos saja. Menurutnya tidak sopan karena mereka akan sarapan dengan beberapa keluarga yang masih menginap disana.


"Apa salahnya dengan pakaian ku?" tanya Kalycha bingung karena menurutnya pakaiannya sudah termasuk sopan.


"Ga ada yang salah, cuma ga enak aja dipandang mata. Kamu itu bukan lagi seorang gadis single tapi kamu sudah menjadi istri, jadi mulai sekarang tolong sesuai cara berpakaianmu."


"Ribet amat sih. Banyak maunya, Baru juga sehari jadi suami udah terlalu banyak nuntut. emang apa salahnya dengan pakaianku? Masih sopan dan tidaklah seksi. Dasar manusia batu. Aneh–." gerutu Kalycha dalam hati.


Ceritanya terlalu Flat ya? 🤔


Like dan Comentnya ya.


Jangan lupa kasih Kopi biar Author awet Ngayalnya 😍

__ADS_1


Happy Weekend dan Selamat menjalankan Ibadah Puasa 🙏


__ADS_2