
Alvin Van Berger pria keturunan Indo-Belanda itu sedang menunggu Kalycha pulang bekerja. Dirinya menunggu didepan pintu ruangan Unit Gawat Darurat itu dan ia juga sudah meminta tolong kepada salah satu perawat yang memasuki ruangan itu untuk mengatakan kalau dia sedang menunggunya.
Sudah hampir setengah jam Alvin menunggu tapi Kalycha belum juga keluar dari ruangan itu. Sampai akhirnya diputuskannya untuk menunggu di parkiran rumah sakit itu. Dan benar saja wanita yang sudah ditunggunya itu saat ini sedang berjalan menuju mobilnya.
"CICAK–." teriak seseorang dari belakang Kalycha. Tangannya yang sudah membuka pintu mobilnya kembali ditutupnya dan melihat kearah suara yang memanggilnya.
"Ngapain sih tuh anak datang mulu. Ga dirumah ga dikerjaan, Hobinya mepet mulu." gerutu Kalycha dalam hati saat melihat Alvin berlari kearahnya.
"TIIKKKUUUUSSSSS. Ngapain lo manggil gue begitu? Jadi turun ntar pamor gue." Kalycha melirik ke kanan dan ke kiri takut ada yang mendengar kalau Alvin memanggilnya cicak.
"Gue Kangen sama lo Cicak–." ucapnya sambil mengacak-acak rambut Kalycha.
"Ga ada kerjaan lo kangen sama gue?" Kalycha merapikan kembali rambut yang diacak-acak Alvin.
"Pulang bareng gue yuk." Alvin menarik tangan Kalycha kencang.
"Lepasin Vin–, Lo mau buat tangan gue terkilir lagi?" Kalycha kesal karena Alvin main tarik-tarik saja. Mendengar perkataan Kalycha yang kembali menyindirnya membuatnya langsung melepaskan tangan Kalycha.
Kalycha memang sering menyindir Alvin setiap kali Alvin menggenggam tangannya.
"Cha–." ditatapnya Kalycha dengan tatapan lirih.
"Nih anak dikerasin juga percuma. Sebaiknya gue ikuti aja kemauan dia." Batin Kalycha.
"Iya-iya gue ikut lo." ucap Kalycha pasrah.
Alvin langsung memasang senyum termanisnya, dirinya begitu bahagia bisa berhasil mengajak wanita yang sudah menggantungnya selama sewindu itu.
Dengan penuh semangat Alvin membuka pintu mobil untuk Kalycha. Setelah Kalycha masuk ke dalam mobil ia langsung mengitari mobil dan duduk dibelakang kemudinya.
"Sebelum pulang kita makan dulu ya Cha." ajak Alvin sambil melihat kearah Kalycha.
"Hmmm–." Kalycha hanya berdehem saja, pandangannya tetap lurus ke depan.
Alvin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dirinya ingin menghabiskan waktu bersama dengan wanita yang sangat dicintainya itu.
Alvin menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah. Sebelumnya Alvin sudah reservasi tempat untuk mereka berdua.
"Gue ke toilet dulu ya Vin." Kalycha meletakkan tasnya di bangku disebelah tempat duduknya.
"Oke sayang, jangan lama-lama ya." Alvin tersenyum senang, dirinya memang sudah biasa memanggil Kalycha dengan sebutan sayang.
"Sayang-sayang kepala lo peyang." Kalycha berdiri lalu mencari toilet yang ada direstoran itu.
Saat keluar dari toilet Kalycha berjalan sambil menunduk sambil merapikan pakaiannya.
Bruukkkk.
Seseorang menabraknya dari belakang.
"Hei punya mata ga lo–." teriaknya pada orang yang sudah menabrak dirinya tanpa melihat kearah orang itu.
__ADS_1
"Maaf Nona saya tidak sengaja." ucap pria itu.
Begitu mendengar suara pria itu Kalycha langsung merinding, suara pria yang menabraknya itu sangatlah familiar ditelinganya. Dengan cepat Kalycha mengangkat kepalanya dan menatap wajah pria itu. Bagaikan disambar petir disiang hari betapa terkejutnya ia melihat wajah pria yang baru saja menabraknya itu. Airmatanya kembali lolos membasahi pipinya setelah bertahun-tahun lamanya dia tidak pernah menangis lagi.
"Aaakkk.... Aaakkkk... Aaakkkk...." Kalycha berteriak histeris sambil menutup telinganya membuat semua pengunjung restoran itu melihat kearahnya. Kalycha terduduk dan memeluk lututnya.
"Nona, anda baik-baik saja Nona?" Pria itu tampak terkejut. Dia tidak tahu apa yang telah membuat wanita yang didepannya itu histeris.
"Aaakkk... Aaakkkk...." Kalycha kembali histeris dan menepuk-nepuk telinganya.
Alvin yang mendengar teriakan dan tangisan Kalycha langsung berlari menghampirinya.
"Icha–, Cha–. Kamu kenapa?" Alvin memegang kedua tangan Kalycha yang terus menepuk telinganya. Ia memeluk Kalycha yang masih saja terus teriak.
"Cha–, KALYCHA tenanglah." Alvin meninggikan suaranya memegang kedua pipi Kalycha dan menatap matanya. Perlahan nafas Kalycha mulai normal dan ia sudah tenang saat menatap wajah Alvin.
Disaat yang bersamaan tiba-tiba pria yang menabrak Kalycha tadi jatuh pingsan. Seorang wanita langsung berlari kearah pria itu.
"Sayang, bangung sayang kamu kenapa?"
Suara wanita itu tak asing ditelinga Alvin dan Kalycha.
"Jenny–." ucap Alvin dan Kalycha bersamaan. Wanita yang merasa namanya terpanggil itu pun menoleh kearah Kalycha dan Alvin.
"Alvin, ngapain kalian disini? Maaf ya, aku harus mengurus tunanganku dulu." Jenny meminta bantuan pelayan restoran untuk membawa pria itu ke dalam.
"Biar aku bantu Jen–." jiwa seorang dokter dari Kalycha muncul dan menawarkan bantuan kepada sahabat lamanya itu. Tapi belum sempat ia menolongnya, Jenny sudah lebih dulu menepis tangan Kalycha dengan cepat,
"Apa-apa sih lo Jen?" tak sadar Alvin berteriak kepada Jenny. Tapi Jenny hanya tersenyum sinis kepadanya.
"Cha–, Are you oke?" tanya Alvin saat melihat pandangan Kalycha terasa kosong menatap kearah Jenny yang sudah pergi meninggalkannya.
"Vin, gue balik dulu ya." ucap Kalycha saat tersadar dari lamunannya.
"Tapi Cha, kita kan belum makan." Alvin masih berusaha untuk menahan Kalycha agar tidak pergi meninggalkannya.
"Please Vin, gue udah ga selera untuk makan."
Alvin sangat tahu watak dari wanita yang bersamanya itu. Kalycha adalah tipekal wanita yang tidak suka dipaksa. Dengan berat hati Alvin pun membiarkan Kalycha pergi.
Kalycha mengambil tasnya, Alvin yang masih berdiri menatap punggung Kalycha yang pergi meninggalkannya.
Kalycha menyetop taksi yang lewat didepan restoran itu. Dan meminta supir taksi itu untuk mengantarnya ke makam Haidar suaminya.
Sudah lama airmatanya kering tak pernah lagi menetes. Kali ini airmatanya menetes untuk pertama kali setelah sekian lama dirinya tak pernah menangis lagi. Kalycha menangisi satu hal yang tak pasti dan dirinya juga tidak pernah tahu apa yang menjadi alasan airmatanya itu menetes.
"Siapa sebenarnya pria itu? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Mas Hai?"
"Apakah dia itu Mas Hai? " Banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengusik hati dan pikirannya.
Kalycha terus saja menangis, supir taksi itu pun merasa heran melihat penumpangnya itu terus saja menangis sepanjang perjalanan. Tapi dirinya juga tidak memiliki keberanian untuk bertanya pada Kalycha.
__ADS_1
Sesampainya lokasi dipemakaman, Kalycha langsung berlari ke makam suaminya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hampir satu jam lebih dia menangis di makam suaminya itu. Kemudian ia tersadar kalau apa yang baru saja dilihatnya itu sangatlah mustahil kalau pria itu adalah suaminya.
Lalu Kalycha duduk dan berdoa untuk suaminya.
"Mas, apa kabarmu disana?" Kalycha berbicara sendiri di pusara suaminya itu. "Maaf ya mas, kalau Icha nangis lagi. Padahal Icha udah janji kalau Icha ga akan pernah nangis lagi."
"Mas Hai tahu ga? Tadi Icha ketemu orang yang sangat mirip dengan Mas Hai. Icha kaget mas, Icha kirain cowok itu mas Hai. Tapi Icha salah mas. Dan itu yang buat Icha nangis lagi mas."
Kalycha teringat saat dirinya pergi ke Singapura lima tahun yang lalu. Selama tiga bulan Kalycha dirawat dirumah sakit karena saat Oma Milah membawanya berobat dokter mengatakan kalau dirinya terkena depresi berat sehingga mengunci suaranya. Trauma ditinggalkan oleh orang yang dicintainya membuat Kalycha trauma dan depresi. Kalycha hanya bisa disembuhkan oleh kemauan dan tekad dari dirinya itu sendiri.
Berbagai terapi ia jalani sampai akhirnya Kalycha iklhas dengan kepergian suaminya. Barulah perlahan pita suaranya kembali mengeluarkan suara dan Kalycha kembali berbicara. Tapi sejak saat itu pula airmata Kalycha tak pernah lagi menetes seakan kering ditelan oleh waktu.
...🔹🔹🔹...
Ditempat lain disebuah Restoran mewah tampak seorang wanita yang sangat cemas melihat kondisi kekasihnya sedang terbaring lemah di sofa yang ada diruangan khusus manager itu.
"Sayang kamu sudah sadar?" Jenny mendekati kekasihnya yang baru saja bangun dan duduk sambil memegang kepalanya. "Kamu kenapa mas? Kamu udah buat aku takut tau ga?" Jenny merengek manja pada pria itu.
"Maaf ya, tadi kepalaku tiba-tiba sakit dan aku ga tahu kenapa?" ucap pria itu.
"Tuan Haikal, apa anda sudah sadar?" tanya pria yang sedari tadi menunggunya bersama dengan Jenny.
"Sudah bagaimana meeting-nya apa sudah selesai?" tanya pria yang tunangan Jenny yang bernama Haikal itu.
"Meeting-nya ditunda Tuan, karena tiba-tiba tadi Tuan pingsan."
"Dimas, tolong reschedule kembali meeting-nya minggu depan." ucapnya pada asistennya itu.
"Jen, aku pulang dulu ya. Aku kurang enak badan." Haikal berdiri dari tempat duduknya.
"Apa perlu aku temani kerumah sakit? Sebaiknya mas cek kesehatan kerumah sakit mas." Jenny terlihat khawatir dengan kondisi kekasihnya itu, karena setelah setahun mengenalnya Jenny tidak pernah melihat Haikal pingsan.
"Tidak usah, aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir ya."
"Kalau gitu aku ikut mas balik aja." rengeknya seperti anak kecil.
"Kamu kan masih bekerja ga baik meninggalkan pekerjaan sebelum waktunya pulang."
"Restoran ini milik aku mas, jadi suka-suka aku mau balik kapan aja." Jenny merasa kesal karena Haikal terus saja menolaknya.
"Aku balik ke kantor bukan kerumah." Haikal sengaja mencari alasan agar Jenny tidak ikut dengannya.
Jenny tak lagi memaksakan kehendaknya, dengan perasaan kesal dia membiarkan Haikal pergi.
"Maafkan aku Jen, sampai saat ini aku belum tahu hatiku ini milik siapa?"
Sudah Up, jangan lupa Like dan Comentnya 😍
Syukur-syukur ada yang kasih bunga buat menambah semangat di bulan Ramadhan ini.
Mata suka ngantuk 🤭
__ADS_1