
Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan bukan? Bahkan ingin melepaskan ujian yang ia pikul, nyatanya tidak akan lepas bahkan setiap hembusan nafas pun sampai akhir hayat ujian itu terus ada. Lalu bagaimana caranya untuk bahagia dan melupakan beban? Diam adalah kunci dari semua permasalahan yang ada kecuali jika melampaui batas maka keluarkan semua emosinya.
Kata-kata menyakitkan takkan menyembuhkan luka nestapa, tapi luka nestapa bisa disembuhkan dengan cara yang semestinya. Bersyukur adalah kunci kebahagiaan seorang insan, Kinan berada diposisi itu. Menanggung beban tidaklah mudah, semua itu butuh sandarannya.
Bruk!
Kinan terjatuh saat hendak menuju barisannya, seorang wanita bernama Rosa yang dulunya merupakan teman satu sekolah menengah pertama yang begitu akrab bersamanya. Kaki Rosa sengaja direntangkan dan pura-pura ingin berjalan, jatuh dan mendapatkan tawaan dari yang ada di sana tapi, Kinan tidak mempedulikan rasa sakit dibagian lututnya, toh rasa sakit itu akan sembuh sedangkan luka hati tidak akan.
Bangkit dari kejatuhan, menatap tajam Rosa dengan bibir diam membungkam seakan kesabaran Kinan ingin dilontarkan tapi logika bersih berkata, 'Senjata paling ampuh seorang muslim adalah diamnya' membuat Kinan tersadar dan pergi tanpa mengucapkan kata maaf, toh yang salah adalah Rosa bukan dirinya.
"Sudah nyakitin enggak minta maaf lagi, dasar wanita sok suci. Kemarin pakai seragam pendek sekarang panjang kayak sudah disentuh lelaki," ujar wanita dengan nama tag Rosa.
Kinan tak mengubris perkataan itu, ia berdiri dibarisan paling depan. Karena teman satu kelasnya belum datang dan baru saja keluar. Perkataan itu membuat Kinan tak kuasa menahan amarah diamnya, menyadari sesuatu yang sedang memperhatikan dirinya. Fahad menatap Kinan dengan tatapan iba, tapi Kinan memaksakan bibirnya untuk tersenyum tenang seakan tak terjadi apa-apa.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir," cakap Kinan dan mendapqtkan respon tutup mata dari Fahad seakan mengerti apa yang dirasakan oleh suaminya.
Sementara diposisi Barakka, Barakka juga melihat apa yang terjadi pada kakak iparnya itu. Jatuh saat hendak berjalan terhalang seorang wanita yang tak dikenal olehnya. Ia juga menatap tajam wanita dengan nama tag Rosa itu, andai saja Rosa adalah lelaki maka Barakka tak segan memukul wajah yang bermake up tebal itu. Meskipun Barakka sangat dingin, tapi jiwa empati dan simpatinya begitu tinggi jika menyangkut pautkan keluarganya.
Menyorot tajam orang yang menyakiti kakak iparnya, seakan mengingat wajah wanita itu. Senyum sinis tergambar di wajah tampan Barakka, sembari membatin, 'tunggu saja, Kakak sia*lan.'
Semua siswa berkumpul di lapangan, mendengarkan susunan upacara dan menyelesaikannya dengan begitu khidmat. Sinar matahari mulai berada di atas kepala dan memancarkan sinar panasnya, untunglah upacara itu selesai tepat sebelum matahari mengeluarkan jurus panasnya. Kini semua siswa berada di kelas masing-masing setelah menghabiskan waktunya selama kurang lebih empat puluh lima menit untuk menyelesaikan upacara, kini para siswa sedang bersiap-siap untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang murid sebelum guru pelajaran mereka datang.
Di kelas Kinan, pelajaran pertama akan dihabiskan dengan pelajaran matematika yang gurunya adalah Fahad. Suasana kelas Kinan begitu penuh dengan suara-suara berbagai kalangan, bahkan gosip tentang Kinan pun belum kunjung selesai.
"Eh, bukannya loe mau bolos setiap pelajaran matematika, hah?" tanya Gisha, wanita tadi yang heboh dan juga wanita pertama yang menyebarkan rumor hanya perkara satu mobil dengan guru yang digilai para siswa.
Kinan menatap Gisha dan tersenyum. "Tidak."
"Wah, gue jadi curiga nih! Berarti rumor itu benar dong, kalau si Kinan punya hubungan dengan pak Fahad!" Gisha kemudian berteriak sehingga para siswa mulai heboh lagi seperti biasa.
"Kalau mau berteriak jangan di sini, ini kelas bukan hutan," cibir Kinan.
"Anj*ir! Sejak kapan loe jadi berani gini? Apa-apa jangan pak Fahad yang mengubahnya?" sinis Gisha menatap tajam wajah Kinan. "Tapi, ingat loe itu engga pantas buat pak Fahad! Soalnya loe itu bukan siapa-siapa karena loe itu masuk kesini jalur beasiswa, mana mau pak Fahad suka sama loe! Jangan mimpi!"
"Loe yang jangan mimpi." Singkat Kinan dan membalikkan badan untuk mengambil buku pelajaran matematika.
Plak!
__ADS_1
Gisha menampar pipi mulus Kinan, seakan tak terima harga dirinya di rendahkan. Kinan di mata mereka adalah seorang gadis polos yang selalu diam ketika mereka merundungnya, kini Kinan sudah berubah bukan lagi Kinan polos. "Jaga ucapan loe!"
Tingkah Gisha kepada Kinan tentu saja mendapatkan sorotan dari teman satu kelasnya, bahkan ketua kelas Brayen tak bisa melakukan
Kinan merasa ditampar seketika tersenyum sumrik, darah segar keluar dari sudut bibir dan mengelapnya dengan jempol tangan kanannya bahkan menelan darah sendiri supaya keluar tidak terlalu banyak dan menghilangkan perih.
Rasa sakit itu tak sebanding, ingin rasanya menjambak wanita yang bernama Gisha itu. Bahkan ingin menyeretnya kepemilik yayasan yang tak lain adalah milik paman Fahad untuk dilaporkan atas kekerasan bullying, tapi apalah daya Kinan hanyalah wanita yang sangat lemah terhadap semua orang seakan tidak ingin menghancurkan harapan mereka.
*******************************
Sementara itu, dari balik kejadian yang baru saja terjadi Fahad melihat tingkah busuk teman Kinan. Entah masalah apa lagi yang didapat kepada istrinya, tangannya kembali mengepal kuat sampai rahangnya tertampak jelas. Luapan emosi Fahad mulai tak terkendali, padahal dulu Fahad adalah orang yang begitu bodo amat dengan semuanya. Karena tidak taha dengan semuanya, akhirnya Fahad memilih masuk ke dalam dengan tatapan misterius dan dingin.
Para siswa yang mendengar langkah kaki, dan melihat Fahad mulai memasuki ruangan seketika terbungkam dan kembali ketempat duduk masing-masing. Sementara Kinan menatap Fahad dengan tatapan penuh arti.
"Apa kabar semuanya?" tanya Fahad menatap para siswa dengan tatapan meminta mangsa, terutama kepada Gisha. Akan tetapi, Gisha tidak menyadarinya.
"Kabar baik, Pak," kompak mereka serempak.
"Baiklah, kita mulai absen saja," sambungnya.
"Adinda Zhafira."
"......"
"......"
"Gisha Xaviera." Tatapan tajam mengarah pada Gisha, Fahad tau betul semua nama-nama yang ada di kelas Kinan.
"Hadir!" jawab Gisha.
"Kinan Abhipraya."
"Hadir!" jawab Kinan.
"Itu bibirmu kenapa berdarah?" tanya Fahad pura-pura tak tahu apa yang terjadi pada istrinya.
"Ah, ini tidak apa-apa, Pak. Ini hanya luka tak sengaja kegigit bibir," jawab Kinan menunduk.
__ADS_1
"Benarkah itu? Lalu kenapa pipimu merah?" tanya Fahad lagi kali ini dengan menatap Gisha.
Kinan kehabisan kata. "Tadi ada nyamuk, Pak, terus gatal gitu jadinya gini deh."
"Bukan bekas tampar kah?" selidik Fahad dan mendapatkan gelengan dari Kinan. "Baiklah kalau begitu, setelah pelajaran ini ikut ke ruangan saya!"
"Baik, Pak," terima Kinan menunduk lagi.
Fahad segera melanjutkan kembali pengabsenan hingga sampai huruf terakhir. Karena tidak tahan dengan semuanya, Fahad mempercepat proses kegiatan belajar mengajarnya sehingga para murid termasuk Kinan mungkin akan memandangnya sedikit aneh bahkan heran. Tapi, apalah ini demi mempercepat waktu dan ingin segera menenangkan Kinan.
"Pak, apa bisa ulang sekali lagi? Saya masih belum paham yang bagian situ," tanya Brayen si ketua kelas.
Fahad menoleh dengan tatapan dingin dan tersenyum tipis. "Pahami saja dengan akal cerdasmu!"
Para murid sontak seketika terdiam. Kinan kemudian berdiri sembari mengambil buku pelajaran matematika dan memberikannya kepada Fahad. "Saya sudah selesai, dan izinkan saya ke toilet sebentar."
"Silahkan," ujar Fahad sembari menampilkan senyum biasanya kepada Kinan.
Kinan segera keluar dari kelas sesuai dengan tujuannya, Fahad memperhatikan itu hingga Kinan sudah mulai tak tampak bahkan suara langkah kakinya pun mulai berkurang karena kejauhan. Dilihatnya hasil kerja Kinan, tidak ada satu kesalahan dalam pengerjaan bahkan Fahad terkejut kenapa buku matematika Kinan tidak seperti kemarin yang masih kosong bahkan di buku itu penuh dengan huruf dan angka bahkan tanda tangan yang berbeda dengannya.
Hal itu membuat Fahad tersenyum dan kembali menatap dingin para murid. "Saya dengar di kelas ini sedang heboh sebelum upacara? Terus, saya dengar bahwa kehebohan itu berawal dari saya satu mobil dengan Kinan? Apa itu benar?"
Para murid seketika terdiam tidak ada yang berani membuka mulut, kelas 12 IPS 3 memang sangat memilih diam ketimbang berbicara kepada gurunya, sebab tak berani mengatakannya. Sehingga, pertanyaan itu seketika dialihkan oleh Fahad kepada Brayen si ketua kelas yang terkenal dengan sikap ambigunya.
Brayan yang merada dirinya ditatap oleh Fahad, rasa gugup menjiwai kalbu. Telanan salvina ia masukkan dengan cara yang berat, melirik semua murid yang masih betah dengan diamnya. "B-b-benar, Pak."
Fahad mengangguk kecil mendengar jawaban Brayen, ia mengambil nafas dan menghembuskannya dengan kasar. "Lalu apakah Kinan sudah memberikan klarifikasi?"
"Belum, Pak," jawab Brayen menunduk.
"Apa kamu yakin?"
"Yakin, Pak," jawab Gisha mengalihkan jawaban Brayen seakan pertanyaan itu berbobot.
"Kalau begitu, jangan berani menyentuhnya! Jika dari kalian menyentuh Kinan, maka saya tak segan melaporkan kalian atas dasar berita palsu dan juga kekerasan! Karena, saya dengar dari seorang siswa bahwasanya Kinan sudah memberikan klarifikasi, akan tetapi kalian malah tuli dengan kebenaran." Fahad kemudian memeriksa jawaban Kinan setelah membual hanya perkara rumor, terlebih lagi rasa sesak menjalar ingin sekali rasanya memukul para murid yang berani mendiskriminasi istrinya.
Senyum kembali terbit saat melihat jawaban Kinan, tidak ada satu kesalahan yang tertulis di sana. Seakan Kinan sangat jenius dalam bidang perumusan, sampai Fahad seketika gagal fokus dengan tulisan Kinan yang terletak dijawaban terakhir. Tulisan rapih nan estetik itu menghipnotis pandangan Fahad, tulisan cantik persis kecantikan Kinan. Setelah puas memeriksa jawaban, Kinan mulai masuk kedalam ruangan dengan wajah basah seperti sudah mencuci muka.
__ADS_1
"Maaf, Pak," papar Kinan segera duduk di bangkunya.
Fahad berdehem sebagai jawaban, kemudian ia berdiri berjalan kearah murid. Menyoroti semua murid yang ada di sana dengan sorotan tajam kecuali Kinan. Entah, kenapa Fahad ingin sekali melontarkan rasa sesak yang begitu tertahankan. Pandangannya tak lepas dari Gisha dan Siska, dua wanita dalang dari balik semuanya. "Saya akan membuktikan kejatahan kalian ...."