My Soulmate

My Soulmate
Ikut aku–


__ADS_3

Disebuah ruangan masih berkumpul beberapa orang setelah perayaan pesta Anniversary Pram dan Nayla selesai.


Ada Gea dan Bagas orangtua Nayla, Gilang dan Istrinya, Halimah dan Deon suaminya yang memang belum pulang, Haidar dan Kalycha, Helsa dan juga Roy masih bantu-bantu membereskan rumah keluarga Bramasta itu. kemudian ada Dara dan Aditya sebagai tersangka utama kenapa Gea mengumpulkan mereka semua diruang keluarga.


Dara sangat takut, ia hanya tertunduk malu begitu juga dengan Adit mereka diperlakukan seperti pasangan mesum yang terciduk melakukan tindakan asusila.


"Loh Dit, kok Lo masih disini?" tanya Kalycha heran ketika melihat Adit masih berada diruangan itu. Karena Kalycha tahu Gea hanya mengumpulkan keluarga mereka saja.


"Icha kenal sama dia?" tanya Gea melihat kearah cucunya itu lalu melirik kepada Adit.


"Kenal Enin, Bunda juga kenal?" sahut Kalycha jujur.


"Kamu kenal dia Nay?" Kali ini Gea bertanya kepada putri sulungnya.


"Iya Bu, dia Aditya, mantan murid aku dulu." ucap Nayla lalu duduk disamping suaminya.


"Sekarang Ibu mau tanya sama kalian berdua, apa yang kalian lakukan tadi?" Gea ingin mendengar langsung pengakuan dari dua orang yang menundukkan kepala itu.


"Emangnya mereka melakukan apa Bu? Kok Ibu sampe semarah ini dan ngumpulin kita segala? Gilang udah mau pulang kasihan baby Gheysha Bu." lirih Gilang yang memang merasa kasihan pada putrinya yang harus digendong terus oleh istrinya.


"Farah, kamu bawa saja baby Gheysha ke kamar tamu sekalian kamu istirahat saja. Pulangnya besok saja yah–. Kasihan kalau baby Gheysha harus pulang malem-malem gini." Nayla sepertinya paham kalau pembahasan ini bakalan panjang dan tidak mungkin diselesaikan dalam waktu cepat.


Farah pun mengikuti saran Kakak iparnya itu, ia mengikuti Bi Nani yang mengantarnya ke kamar. Dibantu oleh Bi Neneng yang memang sudah menyiapkan beberapa kamar untuk tamu yang menginap.


"Emang kamu buat apa dek? Kok Nyai sampe marah begini?" Gilang sengaja membuat lelucon kecil untuk mengubah suasana diruangan itu supaya tidak menegangkan.


"Cepat katakan Dara?" Gea mulai meninggalkan suaranya.


"Ibu, ingat tensi–." Bagas mengingatkan penyakit darah tinggi yang diderita istrinya itu.


"Maafkan saya Bu, dan semua yang ada disini saya minta maaf. Saya akan bertanggung jawab atas perbuatan saya tadi. Saya yang salah–." ucap Adit tegas tapi masih dengan perasaan bersalah.


Semua mata tertuju pada Aditya sementara Dara hanya tertunduk diam.


"Maksudnya apa ini Bu? Kenapa nak Adit harus bertanggung jawab? Tanggung jawab apa maksudnya?" Bagas mulai penasaran dan perasaannya tak tenang melihat putri bungsunya itu hanya diam saja.


"Dara Abah tanya sama kamu, ada apa?"


"Maafkan saya Pak, tadi saya mencium Dara putri Bapak dan dilihat oleh Ibu." jawab Aditya


"Haaah–."


Sebagian yang berkumpul disana akhirnya bisa bernafas lega setelah tahu letak permasalahannya. "Hanya dicium toh–." pikir sebagian orang. Tapi tidak dengan Gea, Bagas dan juga Gilang, begitupun Nayla. Ia sangat malu didepan suami dan juga besannya itu. Karena secara tidak langsung adik bungsunya sudah mempermalukannya.


"Lalu kamu mau bertanggung jawab seperti apa?" tanya Gilang langsung pada intinya.


"Saya akan menikahi Dara Kak–." Adit sudah bisa menebak kalau pria itu adalah Kakak dari wanita yang dicintainya itu.


"Apa nikah? Enggak–."


Jawaban yang membuat seisi rumah itu langsung menatap kepada Dara karena ia telah menolak pertanggung jawaban Adit di depan semua keluarganya. Dan Aditya sangat kecewa dengan apa yang baru didengarnya.


"Apa kamu menolakku karena aku ini berondong seperti yang kamu katakan Dara? Setidak percaya itukah kamu samaku?" Adit tak dapat menutupi rasa kecewanya dia pun memilih untuk diam.


"Maksud kamu apa Dara?" Nayla pun turut bertanya karena merasa heran kenapa adiknya itu menolak Adit.


"Apa Anty Dara tidak mencintai Adit? Kenapa dia menolak Adit untuk menikahinya? Sementara mereka kan pacaran?" Batin Kalycha.


"Teh, masa karena dia cuma nyium Dara doang, dia harus nikahin Dara sih? Yang bener aja dong Teh–." protes Dara.


"Apa? Cuma kamu bilang? Kamu itu otaknya ga bener ya dek–. Kamu sebagai perempuan udah kayak ga punya harga diri aja, malu Kakak punya adik kayak kamu." Gilang emosi mendengar jawaban Dara adiknya. Sebaliknya Dara sakit hati karena Kakaknya itu mengatakan malu mempunyai adik sepertinya. Baru kali ini ia mendengar Gilang berkata kasar padanya. Hampir saja air mata Dara tumpah tapi rasa egoisnya mengalahkan amarahnya.

__ADS_1


"Kak, ga usah sok suci deh kak. Aku tahu kalau yang aku lakukan itu salah tapi ga usah terlalu lebay dong sampai memintanya untuk bertanggung jawab segala."


"Dara juga tahu kok kalau sebelum menikah kakak itu pasti pernah ciuman juga sama pacar-pacar kakak kan? Dan dia tadi itu cuma ngecup ga nyium." Dara meralat apa yang sebenarnya Adit lakukan padanya. Gadis itu masih tidak terima kalau Adit harus bertanggung jawab sampai menikahinya. Menurutnya itu terlalu berlebihan. Toh dijaman sekarang ini ciuman semasa pacaran itu sudah lumrah, bahkan banyak yang sudah melakukan melebihi batas. Dirinya juga tahu batasannya apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan semasa berpacaran.


"Kamu itu perempuan Dara–." lirih Gea.


"Dara tahu Bu, kalau Dara ini perempuan, harus jaga sikap, martabat dan harga diri sebagai perempuan. Tapi tidak begini jiga caranya Bu–." Dara masih terus saja membela dirinya.


"Terus apa yang membuatmu keberatan menerima Adit? Sementara Adit sendiri sudah bersedia untuk menikahimu?" tanya Pram yang ikut bicara karena sedari tadi ia memperhatikan pria yang duduk disamping adik iparnya itu sedang menahan perasaan kecewanya.


Deg.


Dara menatap wajah Adit yang memerah karena menahan amarahnya dan secara tidak langsung dia sudah mempermalukan Adit didepan keluarganya dan menolaknya mentah-mentah.


"Maaf, Om Tante, Bu Nay dan semuanya. Saya rasa jawaban saya tadi sudah cukup jelas. Tapi kalau memang niat saya tidak diterima saya juga ga ingin memaksanya. Dan saya rasa, saya ga perlu untuk tetap berada disini. Jadi saya mohon pamit." Adit yang tidak ingin membuat Dara semakin disudutkan oleh keluarganya. Ia memilih mengalah, lalu Adit berdiri dari tempat duduknya. Semua orang yang menatap kepergian Adit, mereka tidak dapat mencegahnya karena pria itu bukan tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya tapi Dara-lah yang sudah menolaknya kebaikan pria itu.


"Dit–, Adit." Kalycha berdiri dan mengejar sahabatnya itu. Sementara Dara hanya terdiam terpaku ditempat duduknya.


"Kenapa sih semua teman laki-lakinya selalu aja membuatnya repot." Batin Haidar lalu mengikuti Kalycha keluar.


"Dit, tunggu Dit–." Kalycha berhasil meraih tangan sahabatnya itu. "Maafin sikap Anty Dara tadi ya. Gue yakin kalau Anty Dara sebenernya juga cinta sama Lo, tapi dia belum menyadari perasaannya aja Dit."


"Udahlah Kaly, gue ga akan maksain dia lagi. Gue udah cukup malu tadi. Gue rasa gue ga sanggup untuk ngadepin keluarga Lo lagi nanti." Adit melepaskan pelan tangan Kalycha dari lengannya.


"Gue harap Lo ga kecewa dengan sikap Anty Dara tadi–. Maafin Anty Dara ya Dit." lirihnya.


"Gue balik yah–." Tanpa menjawab ucapankan Kalycha, Adit masuk kedalam mobilnya lalu meninggalkan Kalycha yang masih berdiri menatapnya pergi.


"Yang–." Haidar menghampiri Kalycha Istrinya.


"Aku kasihan sama Adit Ay–." lirihnya. Hampir saja airmatanya jatuh mengingat betapa kecewanya sahabatnya itu.


"Sudahlah, itu masalah mereka biar mereka yang selesaiin sendiri." Haidar merangkul bahu Kalycha lalu mencium puncak kepala istrinya itu.


"Nginep aja Ay–, suasana begini ini, ga enak kalau kita pulang."


"Ya udah kita istirahat yah. Di dalem juga udah bubar tinggal Dara sama Enin, Aki, dan Bunda. Om Gilang udah masuk ke kamar. Daddy lagi ngobrol sama Ayah dan Ibu." jelas Haidar.


"Haidar gue balik dulu yah." Roy dan Helsa berjalan kearah mereka.


"Thanks bantuannya ya–." Haidar bertos dengan Roy.


"Lo juga kalau udah serius langsung di halalin aja, jangan di lama-lamain ntar keburu basi." sindir Haidar pada sahabatnya Roy. Lalu mereka pun masuk kedalam rumah.


"Adek Lo yang ga mau ******!!" ingin Roy membalas ucapan sahabatnya itu tapi ia tahan.


"Sa, gimana soal reverensi acara Familly Gathering-nya, apa udah kelar?" Roy teringat pada tugas yang diberikannya kepada Helsa.


"Udah Kak, tapi dirumah. Kagak mungkin kan Elsa bawa-bawa kesini." sahutnya.


"Nikah yuk–!"


"Apaan sih Kak!!!" Helsa mencubit perut Roy kekasihnya.


"Kamu ga denger tadi Haidar bilang apa? Cepet di halalin keburu basi."


"Apanya yang basi?"


"Kamu–." Roy pun tertawa membuat gadis itu semakin kesal padanya. Sementara Helsa hanya cemberut sambil mengantarkan kepergian Roy HTS-annya itu.


...☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


Keesokan harinya


Seorang gadis sedang mendatangi sebuah perusahaan ternama PT Megateck Internasional. Sebuah perusahaan yang bergelut dibidang teknologi, properti dan Proyek bangunan dan industri furniture dari bahan kayu dan masih banyak lagi. Dimana perusahaan itu adalah Perusahaan tempat Aditya bekerja.


Dara meminta ijin pada atasannya untuk pulang lebih awal dengan alasan ada urusan keluarga yang mendadak. Gadis itu sadar sudah menyakiti hati Adit secara tidak langsung.


Dirinya memilih duduk di loby Perusahaan itu menunggu Adit keluar karena ia tidak tahu Adit bekerja dibagian apa saat ditanya oleh salah satu resepsionis perusahaan itu. Dara juga sudah mencoba menghubungi Adit dari semalam tapi ponselnya tidak juga aktif sampai detik ini.


"Mbak, Apa ga punya nomor telponnya? Mbak nya udah terlalu lama nunggunya. Jam makan siang juga udah selesai. Apa sebaiknya mbak ga makan saja dulu?" Resepsionis cantik itu mendatangi Dara yang memang sudah menunggu lama. Dirinya sengaja datang sebelum jam makan siang supaya bisa makan siang bersama dengan Adit. Tapi Adit tak kunjung keluar.


"Hmmm, tidak apa-apa mbak saya tunggu disini saja." ucapnya sambil terus memperhatikan lift dan pintu keluar ruangan itu.


"Ini–." Resepsionis cantik itu memberikan Dara sebuah roti yang biasa disimpannya untuk mengganjal perutnya ketika lapar. "Untuk ngeganjal perut mbak."


Dara pun tak dapat menolak kebaikan hati wanita cantik itu.


Baru saja ia menggigit Roti itu tiba-tiba ia melihat pria yang ditunggunya itu muncul keluar dari lift. Dara langsung meletakkan roti yang ditangannya lalu berjalan mendekati Adit dan beberapa orang yang keluar dari lift berasamanya.


"Adit–." panggilnya ketika sudah berada didekat pria itu, membuat beberapa orang yang bersama Adit melihat kearahnya.


Tapi Adit seolah tidak memperdulikannya karena ia hanya meliriknya sebentar kemudian kembali sibuk berbicara dengan orang-orang yang bersamanya.


"Mbak, mbak ngapain disini. Mbak tunggu disana saja." ucap resepsionis cantik itu setengah berbisik.


"Tapi, saya ingin bertemu dengannya mbak–." Dara berusaha menunjuk Adit sementara tangannya terus ditarik oleh sang resepsionis itu.


"Mbak duduk saja disini dengan tenang. Emangnya mbak mau nemuin siapa tadi mbak? Mereka itu petinggi-petinggi diperusahaan ini mbak, saya takut nanti saya dipecat mbak kalau mbak sampai mengacau disana. Maafkan saya ya mbak–." Lirih resepsionis cantik yang bernama Wulandari itu.


"Apa petinggi diperusahaan ini? Apa sebenarnya pekerjaan dan jabatan Adit diperusahaan ini? Kenapa aku ga tanya Icha ya siapa nama lengkapnya Adit?"


Dara merasa usahanya hari itu sia-sia, Adit juga mengabaikannya tadi. Ia merasa tak pantas untuk menemui pria itu lagi.


"Maaf ya mbak Wulan, kalau saya sudah buat mbak Wulan merasa tidak nyaman. Kalau begitu saya pamit saja mbak. Terimakasih buat rotinya." Dara berusaha tetap tersenyum didepan resepsionis cantik yang bernama Wulan itu. Lalu menggantung tasnya di bahunya bersiap untuk pergi dari perusahaan itu.


"Sepertinya bukan kamu yang ga pantes buat aku Dit, tapi aku yang ga pantes buat kamu."


Baru selangkah Dara beranjak dari tempat duduknya tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika mendengar ucapan pria itu.


"Setelah jauh-jauh datang kesini kamu mau langsung pergi begitu saja?" Suara pria yang ingin ditemuinya itu terdengar setengah berteriak padanya.


"Pak Adit?" Wulan menundukkan sedikit kepalanya menaruh hormat pada atasannya yang berjalan kearah mereka.


"Apa yang mbak maksud temen mbak yang namanya Adit itu, pak Aditya mbak?" tanya Wulan setengah berbisik.


"Iya namanya Aditya, emang kenapa?" sahut Dara yang ikutan berbisik.


"Beliau itu anak yang punya Perusahaan ini mbak. Sekarang sedang menjabat sebagai General Manager mbak, mungkin sebentar lagi akan diangkat menjadi CEO diperusahaan ini." Wulan mulai ketar-ketir. "Kenapa mbak ga bilang dari tadi kalau mbak mau bertemu Pak Aditya?"


"Maaf mbak Wulan saya lupa nama panjangnya–." sahut Dara masih berbisik.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Adit setelah berdiri tepat didepan gadis itu.


"Hmm, anu–."


"Kenapa gue jadi gugup gini yah setelah tahu kalau dia GM diperusahaan ini?"


"Anu apa?" tanya Adit ketus dengan wajah dinginnya.


"Wulan, kamu ngapain masih berdiri disitu?" kini giliran resepsionis cantik itu yang mendapatkan semprotan darinya. Wulan yang ditegur pun langsung kembali kemeja resepsionisnya. Diperusahaannya Adit dikenal sebagai laki-laki yang dingin. Banyak wanita yang mengagumi ketampanannya tapi juga banyak yang takut padanya.


"Ikut aku–." Adit menarik tangan Dara membawanya keluar dari gedung itu.

__ADS_1


Wuuuaaahhh Panjang yach 🤗


Hueeeggeeehh 🤗


__ADS_2