
Semua wanita yang sudah menikah pasti ingin menjalin hubungan baik dengan mertuanya. Ingin disayang mertua seperti anaknya sendiri. Namun sayangnya, ada saja hal yang membuat hubungan menantu-mertua tidak harmonis.
Belum jadi menantu saja Kalycha sudah menunjukkan sikap tidak baik didepan calon mertuanya itu. Tapi Halimah bukanlah wanita yang gila dihormati, dirinya juga sadar bahwa Kalycha calon menantunya itu masih terlalu muda dan masih perlu banyak belajar dan dibimbing untuk menjadi istri yang baik.
Dari segi usia Kakycha masih tergolong kategori anak remaja. Tapi dirinya terpaksa harus menikah dini demi kebaikannya menurut orangtuanya yang tentunya bukan menurutnya.
"Sayang, kamu kan sudah mau menikah dengan anak Ibu, dan sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri. Seorang istri yang Solehah itu akan selalu berbakti kepada suaminya. Karena seorang istri harus sadar bahwa untuk mendapatkan ridho dari Tuhan, mereka harus membuat suami mereka ridho kepadanya. Seorang istri juga harus melayani suaminya dengan baik. Jadi mulai sekarang belajarlah untuk memanggilnya dengan sebutan yang pantas. Itu salah satu hal kecil untuk menunjukkan rasa hormat kamu pada suami kamu nanti." Halimah memberikan sedikit wejangan untuk calon menantunya itu.
"Ibu ngapain capek-capek nyeramahin dia. Iya kalau dia ingat kalau enggak, kan sia-sia usaha Ibu buat ngasih pengertian sama dia. Anaknya aja bebal kayak gini." Batin Haidar.
"Iya Bu, nanti Icha belajar pelan-pelan ya Bu."
"Sok imut banget didepan Ibu ya?"
"Iya sayang. Jadi gimana kamu suka gaunnya?" tanya Halimah lagi.
"Ini pilihan Om Hai Bu." ucap Kalycha tapi langsung mendapat lirikan dari Ibu mertuanya itu. "Eh, maksud Icha ini gaun pilihan Kak Haidar Bu. Icha suka dan Icha mau yang ini saja."
"Syukurlah kalau dia suka." Haidar hanya diam saja saat Ibunya memberikan nasehat pada Kalycha meskipun dalam hatinya menggerutu. "Dia juga terlihat cantik dengan gaun itu." Pandangan Haidar tidak pernah lepas dari Kalycha.
"Ya sudah kalau begitu kami pilih yang ini saja. Tapi tolong ini dijahit sedikit laginya soalnya masih terlihat kebesaran." pinta Nayla pada sang desainer.
"Baiklah Nyonya. Lalu bagaimana dengan Tuxedo nya? Apakah sudah cocok dengan yang itu?" tanya desainer itu pada Nayla sambil melirik kepada Haidar.
Nayla melihat kearah Haidar. "Bagaimana Haidar apa kamu suka yang itu?" Nayla menanyakan kepada calon menantunya itu.
"Iya Bunda, yang ini saja." Tentu saja Haidar suka karena dia sendiri yang memilih Tuxedo warna putih sesuai dengan warna gaun yang dipakai Kalycha.
"Baiklah, sekarang kita coba kebaya yang akan dipakai Nona Kalycha saat akad nikah nanti." ucap Desainer itu lalu meminta penjaga butiknya untuk membatu Kalycha mengganti bajunya.
Lagi-lagi Haidar sudah memilihkan desain kebaya yang indah untuk Kalycha. Entah kapan pria yang super duper sibuk itu sempat memilih gaun dan kebaya untuk calon istrinya itu. Semua pilihannya Kalycha sangat menyukainya dan semua pilihan Haidar itu berwarna putih.
Mereka yang berada di butik itu melihat kagum pada kecantikan Kalycha. "Kamu cantik sekali sayang." Nayla kembali memeluk putrinya itu.
"Kak Hai juga ganteng Bun. Tolong jangan hanya Icha aja yang dipuji." Batin Kalycha yang kagum pada Haidar yang sedang memakai jas pengantin modern berwarna putih yang juga senada dengan warna kebaya yang ia pakai.
"Kalian pasangan yang sangaaaaatt cocok. Yang satu ganteng yang satunya lagi cantik." Halimah memuji pasangan calon pengantin itu sambil menunjukkan pinger heart nya. Tentu saja membuat keduanya tersipu malu.
Haidar menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Ibunya itu. Entah dari mana Ibunya mendapatkan kode anak muda jaman now itu. Mungkin karena Ibunya keseringan menemani Helsa menonton drama Korea. pikir Haidar.
"Iya mbak, mereka terlihat sangat serasi." Nayla ikut-ikutan membenarkan ucapan calon besannya itu.
Salah seorang penjaga butik itu pun kembali membantu Kalycha untuk mengganti pakaiannya.
"Ngomong-ngomong kalian sudah makan malam belum?" Nayla baru teringat saat melihat hari sudah mulai gelap.
Matahari sudah bersembunyi di persembunyiannya. Digantikan rembulan yang siap meronda malam.
"Belum Bun, tadi dari kantor langsung jemput Icha dirumah temannya terus langsung kesini karena Ibu sama Bunda udah nunggu disini." Haidar berkata yang sebenarnya, karena dirinya belum sempat makan siang mengejar target untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum hari pernikahannya.
"Ya sudah kita tunggu Mas Pram sebentar ya. Mas Pram sudah–." ucapan Nayla terpotong saat mendengar suara suaminya.
"Apa kamu mencariku sayang?" Pram sudah berdiri didepan pintu. Pram sudah masuk kedalam butik tanpa sepengetahuan mereka karena mereka sedang asyik mengagumi kedua calon pengantin itu.
__ADS_1
"Mas Pram, kenapa berdiri disitu? Udah lama sampenya?" Nayla menghampiri suaminya dan Pram hanya menganggukkan kepalanya.
"Sejak kalian sibuk mengagumi mereka." Pram melirik kearah Haidar. "Ya sudah kita berangkat duluan saja biar Haidar yang menunggu Icha dan menyusul kita nanti." ucap Pram dan Nayla mengerti apa maksud suaminya itu langsung mengajak calon besannya itu untuk ikut dimobil mereka.
"Mari mbak kita duluan saja." ajak Nayla. Halimah pun tahu maksud dari pasangan suami istri itu. Mereka sengaja meninggalkan mereka berdua, ingin membuat anak mereka lebih dekat lagi. Halimah menyetujui ikut dengan mereka. Meninggalkan Haidar dan Kalycha yang sedang mengganti bajunya.
"Haidar kamu nyusul saja, kita makan di restoran biasanya saja."
"Baik Dad–."
Pram, Nayla dan Halimah memilih untuk menunggu anak-anak mereka di restoran. Dan tak selang berapa lama Haidar sudah datang bersama dengan Kalycha. Mereka pun menikmati makan malam bersama.
Setelah selesai makan malam bersama Pram, Nayla dan Kalycha kembali ke rumahnya. Sedangkan Halimah dan Haidar pulang bersama kerumah mereka. Sebelumnya Halimah datang ke butik kerena dijemput oleh supir Nayla.
...🎡🎡🎡...
Kalycha saat ini sedang merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Lelah yang dirasakannya membuatnya ingin segera terbang ke dunia mimpi.
Namun sebelum dirinya benar-benar terhanyut dalam mimpi ponselnya bergetar menandakan notifikasi pesan masuk. Dengan gerakan malas Kalycha meraih Handphonenya dan membuka matanya perlahan melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
"Ngapain sih WA malam-malam gini." Gumam Kalycha kesal saat melihat pesan dari Haidar. sementara saat itu baru jam 9 malam.
"Udah sampe?" tanya Haidar dari pesan WhatsApp.
"Udah " balas Kalycha singkat.
"Udah belajar?"
"Udah."
"Udah tidur?"
"Udah."
"Udah tidur kok bisa balas pesan?"
"Tadi udah mau tidur tapi denger HP bergetar kaget jadi kebangun."
"Besok pagi aku anter kesekolah.
pulangnya juga aku jemput."
"Hmmm."
Haidar POV
Aku sudah mencoba untuk menunjukkan perhatian ku padanya tapi dia tetap saja jutek dan ketus padaku.
Seperti balasan pesannya tadi malam yang menjawab dengan jawaban singkat bahkan berdehem. Itu pesan bukan obrolan kenapa harus berdehem.
Aku sudah sampai dihalaman rumahnya. Seperti biasa aku langsung masuk setelah mengucapkan salam terlebih dahulu. Aku juga sengaja tidak sarapan dari rumah karena pasti Tuan Pram alias calon mertua ku itu pasti akan memaksaku untuk sarapan dirumahnya. Kalau pagi-pagi sudah double sarapan bisa-bisa jadi kayak pemain drumben nanti perut aku.
"Haidar kau sudah datang? Ayo sarapan dulu." seperti dugaanku calon mertua ku itu pasti mengajakku untuk sarapan. Untuk menolaknya pun aku tak mampu.
__ADS_1
"Baik Dad–." Lalu aku duduk berhadapan dengannya.
"Sayang, panggilkan Icha biar kita sarapan bareng." calon Ayah mertuaku itu meminta Istrinya untuk memanggil Kalycha.
"Biar aku aja Dad, kasihan Bunda kalau harus naik turun tangga." Aku menawarkan diriku untuk memanggilnya sendiri. Karena aku tahu kalau calon Ibu mertuaku itu sedang mengandung.
"Baiklah, kau benar. Kau panggillah sendiri, suruh dia cepat turun. Di pintu kamarnya ada namanya."
Tanpa menunggu lama aku pun dengan setengah berlari menaiki anak tangga dan langsung ku langkahkan dua anak tangga sekaligus supaya lebih cepat sampai pikirku.
Tok....Tok.... Tok....
Ku ketuk pintu kamarnya tapi tidak ada suara ataupun jawaban dari dalam.
Ku pegang handle pintunya ternyata pintu kamarnya tidak terkunci. "Masuk tidak ya?" aku bertanya pada diriku sendiri yang tentu saja jawabannya aku memilih untuk masuk.
Ku buka pintu kamarnya, ku lihat isi kamarnya tertata rapi, meskipun masih bocah ternyata dia rapih juga. Aku mengagumi penyusunan tata ruangannya. Sangat simpel dan unik.
Ternyata bocah itu menyukai warna putih, terlihat dari interior kamar dan desain kamarnya didominasi dengan warna putih. Pantas saja semua gaun dan kebaya pengantinnya dia suka karena semua yang ku pilih berwarna putih.
"Aahkkk..." terdengar teriakan bocah itu dari belakangku. Langsung ku bekap mulutnya agar tidak berteriak.
"Jangan teriak." Dia menganggukkan kepalanya. Lalu ku lepas tanganku yang menutupi mulutnya.
"Om Hai ngapain di kamarku?" Bentaknya dengan setengah suara yang ditahan.
Aku menghembuskan nafasku dengan berat. Kembali lagi dia memanggilku dengan sebutan itu.
Akupun terkejut melihatnya, pagi-pagi aku sudah disuguhkan dengan pemandangan yang indah begini bisa-bisa pusing kepalaku atas bawah. Bagaimana mungkin aku bisa memalingkan pandanganku darinya yang hanya menggunakan handuk yang hanya menutupi setengah dari bagian tubuh indahnya itu.
"Ngapain Om Hai dikamarku?" Dia kembali bertanya.
"Daddy memintaku untuk memanggilmu sarapan bareng. Cepatlah pakai bajumu." ucapku tapi pandangan ku tak luput darinya.
"Bagaimana bisa aku ganti baju kalau Om Hai masih disini."
Cup. Tanpa ku sadari aku mencium bibirnya.
"Apa yang Om lakukan?" Dia membentak ku dia sangat marah karena aku mencium bibirnya.
"Apa yang sudah kau lakukan Haidar? Kenapa kau menciumnya?" si Angel sangat marah padaku karena kecerobohan ku.
"Apa salahnya mencium calon istri sendiri?" si Devil datang membelaku.
"Tapi mereka belum resmi menikah Upil Oon?" Bentak si Angel yang sangat patuh dengan norma-norma agama.
"Enak aja lo panggil gue Upil." si Devil marah. "Tapi mereka kan, juga udah pernah ciuman lebih hot dari yang tadi Angel (Mengucap dengan ejaan bahasa Indonesia)." Sial si Devil mengingatkanku kembali pada kejadian saat Icha meminum obat per*ngsang pada malam itu.
"Sialan Lo, dasar Lo Upil. Kenapa Lo ingetin gue sama kejadian malam itu. Kan jadi ON adek gue UPIIILLLL."
Segitu dulu ya. Hanyalan Author belum nyampe jauuuuh 🤭
Selamat Malam Minggu 😊
__ADS_1
Jangan lupa bawa bunga untuk Author ya 😍