My Soulmate

My Soulmate
Mendadak


__ADS_3

Di taman rumah sakit dua insan yang masih terhanyut dalam benak masing-masing seketika dibuyarkan oleh suara notifikasi berdering kedalam gawai milik Rizki. Rizki segera melihatnya apa yang membuatnya terusik, nama tertera di layar bertuliskan 'Ibu Sholehahku' seketika menekan tombol hijau menandakan bahwa ia mengangkat telefonnya.


"Iya, Bu?"


"........"


"Oh sudah bisa pulang? Baiklah tunggu di parkiran, aku akan ke sana, Bu."


"........"


"Iya, Bu. Tenangin dulu saja Hafsahnya."


"........."


"Iya siap, Bu. Aku akan segera ke sana juga!"


Tttuuuttt!


Sambungan terputus, Rizki menarik nafas panjang dan membuangnya dengan gusar. Netranya melirik Raisa dengan pandangan penuh tanda tanya dan tersenyum ke arahnya. "Aku harus pulang, Hafsah sepertinya syok mendengar bahwa dirinya sedang hamil."


"Sesayang itukah Hafsah sehingga disentuh bukan mahrom pun dia marah," lirih Raisa menunduk.


"Iya, maafkan aku. Tapi, sesuai perkataanmu aku akan membuat dia bahagia."


"Aku percayakan padamu, Rizki."


"Terima kasih, oh iya aku harus segera ke sana. Nanti kita lanjut komunikasi lewat aplikasi yah, banyak ingin aku ungkapkan padamu, Raisa."


Raisa tersenyum mendengar penuturan itu. "Iya, hati-hati. See you next time."


"Yes, assalamualaikum," pamit Rizki tak lupa dengan senyum manisnya.


"Waalaikumsalam," jawab Raisa sembari pandangannya fokus menatap punggung Rizki yang perlahan mulai menghilanh dari pandangan. 'Rizki, kamu adalah orang yang selalu aku sebut namanya dalam doaku. Semoga doaku dan doamu ditemukan dalam bumi yang sama. Aku mencintaimu lewat rintihan doaku, dan terima kasih Allah sudah mempertemukan aku dengannya meski hanya berapa detik saja.' batin Raisa segera pergi meninggalkan taman yang sudah menciptakan kenangan mendebarkan.


Dalam perjalanan pulang ke rumah, Rizki terus kepikiran Raisa. Seorang dokter sekaligus teman satu kampus selama menuntut ilmu di Universitas ternama di Kairo, Mesir. Meskipun beda jurusan, akan tetapi Rizki begitu mendambakan Raisa. Bahkan setiap malam jika bangun bertemu Tuhannya, ia selalu merayu agar dipertemukan dengan Raisa. Mencintai dalam doa membuat Rizki benar-benar candu. 'Tunggu aku Raisa, aku akan meminangmu untuk menjadi istriku. Istri dunia akhiratku.' batinnya.


Fatimah yang melihat Rizki senyum-senyum sendiri pun menoel lengannya. "Kenapa sih?"


"Eh, enggak, Bu. Aku hanya kepikiran kalau kemarin aku oas sedang dakwah aku mengucaokan kata-kata lucu," ucap Rizki.


"Kirain ada apa, fokus!"


"Siap!" tegas Rizki sembari melirik Hafsah yang menatap jendela dengan tatapan kosong. Ia merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Hafsah, adiknya itu. 'Dek, ku mohon jangan seperti itu. Aku tau kamu tidak menginginkannya, tapi tolong jangan sakiti dirimu. Seandainya Allah bisa mengabulkan keinginanku, aku ingin beban yang kamu tanggung itu berpindah padaku. Aku tak sanggup melihatmu terus menerus mengabaikan dirimu, Ya Allah ... semoga saja, Hafsah kembali lagi dengan wajah cerianya,' batin Rizki dan memejamkan mata sebentar.


••••••••••••••••••••••


Sementara itu, di sekolah Kinan kini jam tangannya menunjukan pukul 12.15 menandakan bahwa 15 menit lagi bel istirahat terakhir berbunyi. Ekspresi bosan mengerjakan soal pelajaran Fahad tertampang jelas diraut wajahnya. Bukan maksud tidak menghargai, melainkan tugas bagi Kinan yang terkenal dengan jeniusnya itu sangat mudah bahkan Kinan menjawab semua pertanyaan padahal Fahad memberikan satu pertanyaan saja yang menurutnya mudah untuk dikerjakan.


Maka dari itu, mau tidak mau Kinan bangkit dari tempat duduknya setelah mengerjakan soal selama 15 menit. Bodo amat dengan pandangan teman satu kelasnya, toh dirinya sudah tidak tahan dengan kebosanan yang melanda akibat perasaan gundah yang tertuju pada Alsaki seakan ada suatu firasat.


"Pak, saya sudah selesai mengerjakannya," ucap Kinan menyerahkan buku tugas matematikanya di depan bangku guru.

__ADS_1


Alsaki menoleh dan menyerit heran, keningnya ditautkan seakan tak percaya dengan tugas kerjaan Kinan. Ia segera memeriksa jawaban hasil kerjanya, diteliti, dipahami, hingga dimengerti dengan seksama dan tersenyum. "Kamu boleh keluar."


"Baik, Pak," kata Kinan sembari memberi kode dengan memukul hp miliknya menandakan agar Fahad membuka pesan dan mendapatkan jawaban anggukan kecil darinya dan tersenyum.


Kinan segera keluar dari kelas, sedangkan Alsaki memperhatikan punggung Kinan mulai menjauh dan diganti dengan pintu kelas. Menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan gusar, memainkan benda berbentuk panjang mencoret sesuatu di atas buku Kinan dan tersenyum. "Anak itu memang jenius," gumam Fahad sembari memberikan nilai 100 untuk tugas Kinan dan kembali lagi menatap para murid yang masih khusyu mengerjakan tugas.


"Baru satu orang yang beres, yang lainnya bagaimana?" tanya Fahad.


"Saya dikit lagi, Pak," kata Brayen menuliskan angkan 85 kedalam tugas yang diberikan oleh Fahad dan segera menyerahkannya kepada Fahad. "Ini, Pak sudah beres. Maaf, saya hanya bisa mengerjakan dua soal sisanya saya masih kurang paham," lanjutnya.


"Baiklah, enggak apa-apa. Boleh keluar," suruh Fahad segera mengecek tugas Brayen, ternyata Brayen juga sama ada benarnya tanpa satupun kesalahan. "Ayo, yang lain mana masa baru dua orang?"


Para murid tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Fahad, hal itu membuat Fahad memicingkan matanya. "Oh iya, saya baru ingat. Di kelas 12 IPS 3 ini ada yang juara umum,'kah?"


"Ada, Pak," jawab salah satu murid dengan tangannya menuliskan angka 6,5 sebagai jawabannya setelah bergulat dengan otaknya untik dipahami.


"Siapa?" tanya Fahad pura-pura tidak tahu.


"Dara," jawabnya dari murid yang sama.


"Dara? Yang mana Dara?" tanya Fahad lagi dan mendapatkan acungan tangan dari bangku depan. "Oh jadi kamu Dara?"


"Benar saya, Pak," jawab Dara tanpa menoleh dan menatap Fahad.


"Ini, Pak. Tugas saya sudah selesai, apa boleh keluar?" tanya murid yang tadi sembari meletakkan buku latihannya di bangku guru dan mendapatkan anggukan darinya.


"Lalu mana tugasmu?"


"Belum beres, Pak," tunduk Dara.


Kkkrrriiinnnggg!


Suara bel istirahat terakhir berbunyi, para siswa yang menyadari itu seketika merenggangkan otot-ototnya, kelas 12 IPS 3 yang tadinya heboh kini berubah menjadi tegang akibat siswa yang mengumpulkan tugas hanya 3 orang tidak ada yang bertambah bahkan Dara si juara umum kelas mewakili jurusan IPS pun tidak mengumpulkannya padahal dia paling jenius dan pintar karena mendapatkan juara setiap kali ujian semester.


Fahad menatap sinis setiap wajah para murid kelas 12 IPS 3 itu dan tersenyum sinis. "Kalian mau istirahat yah? Karena bel sudah berbunyi, tapi saya tidak bisa membiarkan kalian istirahat sampai tugas kalian selesai, dan untuk pelajaran terakhir karena kosong Bu Ida tidak masuk karena sakit jadi saya yang akan menggantikannya, maka dari itu iatirahat kakian diubah menjadi masuk!"


Para murid sontak terkejut dengan pernyataan Fahad seketika kembali lagi membuka buku pelajarannya dan mulai mengerjakan kembaki dengan sangat khusyu.


"Yah, Pak! Aku pengen makan siang, lapar!" keluh Gisha.


"Yah gimana dong, saya lapar dan haus jawaban," cibir Fahad.


Gisha kembali lagi terdiam, sehingga para murid tidak ada yang berani membuka mulut di depan Fahad. Sehingga membuat Fahad lebih leluasa menikmati permainan ini sebagai pembalasan apa yang dilakukan oleh muridnya kepada Kinan.


Tttiiinnnggg!


Bunyi notifikasi masuk kedalam gawai Fahad, nama tertera di layar muncul secara horor pasalnya yang masuk adalah pesan dari Alsaki yang penuh sekitar 10 lebih pesan. "Ini bocah ngapain maen spam?" gumamnya dan segera menekannya dan membaca satu persatu dan membelakakan mata.


Fahad: [Loe engga bercanda kan?]


Pesan pun terkirim dan mendapatkan tanda cetang abu dua, berarti sudah terkirim tapi belum dibaca.

__ADS_1


.


.


.


Sementara di kantin yang perlahan mulai diisi penuh oleh para siswa, Kinan tengah duduk menikmati es jeruk yang ia pesan seketika dikagetkan oleh Ita, siswa satu kelas dengannya yang memiliki tampang judes tak peduli dengan keadaan sekitar.


"Astagfirullah, biasa kali lah, Ita," celetuk Kinan. "Untung saja gue udah nelen, kalau belum tanggung jawab loe sudah bikin gue kesedak."


"Hehehe ... habisnya loe serius amat," kekeh Ita.


"Hhhmmm ...," dehem Kinan kembali lagi fokus minum es jeruknya. Meskipun Kinan tau, Ita tidak selalu terlibat dalam urusan perundungan kadang-kadang ketika tatapannya bertemu, Kinan selalu mencoba baik-baik saja karena tahu arti tatapan yang diberikan oleh Ita.


"Kin, boleh gue bicara?"


"Kenapa?"


"Sebenarnya gue mau minta maaf selama tiga tahun ini, setiap kali gue lihat loe disakiti oleh orang tak beradab gue merasakan sakit yang teramat perih bahkan ketika gue menatap loe gue merasa kasihan sama loe. Loe itu mampu tapi kenapa loe engga bisa balesin perbuatan mereka, Kin. Jujur banget Kin, gue merasa menyesal setiap kali gue abaiin loe gue merasa seperti seorang pengecut dan pencundang. Pernah ketika, loe disiram oleh mereka gue pengen banget ngebelain loe, gue pengen banget bawain loe ke tempat yang bisa bikin loe tenang. Tapi, gue teringat ucapan mereka kalau gue ikut campur semuanya terancam. Jadi gue mohon, maafin gue Kinan ...," kata Ita sembari menunduk air matanya tak kuasa menahan kepedihan yang teramat mendalam.


"Gue juga mau minta maaf, Kinan," ucap Brayen tiba-tiba.


Ita yang mendengar itu tak peduli, penyesalan kepada Kinan begitu tinggi. Andai saja waktu diputar kembali Ita akan melakukan berbagai macam untuk menyelamatkan Kinan meski ancamannya adalah nyawa. Sedangkan Brayen duduk di sebelah Ita dengan wajah menunduk.


Kinan yang melihat dua sahabatnya, terlebih mendengarkan ucapan tulus Ita membuatnya tak bisa menahan tawanya. "Hei, ayolah! Kenapa kalian minta maaf? Kalian,'kan enggak salah, jadi ayolah maksudnya apa nih? Minta maaf?" kekeh Kinan menggeleng-geleng.


Ita dan Brayen kompak menatap Kinan membuat Kinan kembali lagi diam, setelah beberapa detik tertawa. "Kenapa lagi?"


"Apa loe enggak marah?" tanya Ita.


"Marah sih iya, bahkan kecewa pun iya," jawab Kinan santai membuat dua temannya kembali lagi menunduk. Melihat itu, Kinan menggeleng-geleng dan menahan bibirnya supaya tidak tertawa.


Sementara itu, dari balik kantin memperhatikan tiga orang seketika menyunggingkan senyumannya. "Teruslah bahagia, Kinan, Istriku, Bidadariku," gumam Fahad segera kembali lagi ke kelasnya dan mengurungkan niatnya.


••••••••••••••••••••••••


"Boleh yah, Ayah, Ibu?" lirih Alsaki dengan menganggam tangan Harsa, sang ibu berharap ada jawaban di sana.


Ibha menarik nafas panjang setelah mendengar cerita itu dari Alsaki, perasaannya bercampur aduk antara malu, kecewa, bahagia, dan haru. "Ayah tidak akan memaksa selama itu baik untukmu."


"Ibu sependapat dengan ayahmu, selama itu baik untukmu maka lakukanlah. Karenanya, setiap perbuatan akan kembali ke diri masing-masing," ucap Harsa mengelus puncuk kepala Alsaki.


"Terima kasih, Ayah, Ibu. Aku akan melakukan yang terbaik," sahut Alsaki menggambarkan senyum manisnya.


"Baiklah, kapan kamu meminangnya?" tanya Ibha.


"Sekarang sore, karema lusanya aku harus berangkat jadi pernikahannya besok," jelas Alsaki.


"Baiklah," lega Ibha.


•••••~~~•••••

__ADS_1


Terima kasih yang sudah membaca, bahkan terima kasih lagi kepada yang sudah memberi kritik dan saran yang membangun❤


Semoga kebaikan kalian selalu sempurna, bahkan kebaikanmu semoga digantikan dengan hari yang penuh dengan bahagia🤗❤


__ADS_2