My Soulmate

My Soulmate
Bawa Dia


__ADS_3

"SIAPA KAU SEBENARNYA?" teriakan Kalycha mengejutkan Haikal, membuatnya langsung menoleh kearah Kalycha yang kembali Histeris dan menangis.


Haikal begitu terkejut melihat Kalycha yang tiba-tiba teriak kepadanya.


"Apa maksud mu?" sahut Haikal dengan suara yang tak kalah tingginya.


Kalycha mendekati Haikal lalu memukul-mukul dadanya, ia menangis saat mengingat Haidar pernah membawanya ke hutan itu. "Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu membawaku kesini? Kenapa semua tingkah lakumu mirip dengan Mas Haidar?"


Jedeeeerrrr.


Haikal begitu terkejut mendengar nama yang disebut oleh Kalycha tapi dirinya belum sadar kalau itu adalah namanya yang sebenarnya.


Pukulan Kalycha didada Haikal mulai melemah. Hatinya memaksa dirinya untuk sadar kalau pria yang didepannya itu bukanlah suaminya. Ia berusaha meyakinkan hatinya bahwa semua yang dilihatnya tentang pria itu hanyalah kebetulan. Kalycha menguatkan hatinya sendiri. Bertekad untuk mengikhlaskan suaminya yang sudah tiada. Kalycha berjalan menjauh dari pria itu lalu duduk disalah satu bangku yang ada ditaman hutan itu.


Haikal tak tahu harus berbuat apa pada Kalycha dirinya merasa kasihan padanya tapi dia juga tak bisa berbuat banyak. Hatinya terasa sakit saat melihat gadis itu menangis. Lalu Haikal mendekati Kalycha dan duduk disebelahnya.


"Boleh aku tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Kalycha masih menangis, Haikal mengangkat tangannya ingin memegang bahu Kalycha tapi niatnya itu diurungkannya.


Kalycha tidak menjawab pertanyaan dari pria yang duduk disampingnya itu, dirinya masih terus saja menangis, airmatanya seakan tidak mau berhenti meskipun dia sudah memintanya untuk berhenti. Lalu Haikal memberanikan dirinya untuk menepuk-nepuk bahu Kalycha pelan guna untuk menenangkannya.


Setelah puas menangis, Kalycha menghapus airmatanya. "Sebaiknya kita pulang, aku harus bekerja." Kalycha berdiri namun saat ia hendak melangkahkan kakinya, ada sebuah tangan menggenggam tangannya. Haikal menggenggam tangan Kalycha, lalu memmintanya duduk kembali.


"Sudah terlambat kalau mau bekerja sekarang. Dan tidak mungkin kamu bekerja dengan kondisi mata bengkak seperti itu."


"Hah, mataku bengkak ya?" Kalycha kaget dan langsung membuka tasnya lalu mengambil cermin kecil yang ada didalam tasnya itu. Dilihatnya wajahnya dicermin, memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan.


"Kenapa mataku bisa sebengkak ini? Udah kayak orang Jepang aja sipit begini?"


"Aneh masih aja bisa ngelucu, tadi kan dia yang nangis sepanjang jalan, wajarlah kalau matanya bengkak dan sembab begitu. Apa dia ga sadar ya kalau dia nangis udah hampir dua jam."


"Boleh aku tahu siapa Haidar?" tanya Haidar ketika melihat Kalycha sudah mulai tenang.


"Dia suamiku." jawab Kalycha meletakkan tangannya yang lemah diatas pahanya dengan cermin yang masih dipegangnya. Pandangannya menatap lurus kedepan tanpa melihat kearah Haidar yang bertanya padanya. Ia memandangi danau yang berada ditengah hutan itu, sekilas ia tersenyum saat mengingat kenangannya dulu saat bersama suaminya didanau itu.


"What? Dia sudah menikah?" Ada segurat luka dihatinya begitu mendengar Kalycha sudah menikah. Entah kenapa sejak pertama bertemu dengan Kalycha hatinya sudah terjerat pada gadis itu.


"Terus dimana suamimu sekarang?"


"Dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu." Kalycha mendongakkan kepalanya keatas, menahan supaya airmatanya berhenti menetes.


"Apa? Meninggal? Bagaimana bisa?" Kalycha menoleh dan menatap tajam pada Haikal seolah menyalahkan setiap pertanyaan yang keluar dari bibirnya itu.


"Maaf bukan maksudku untuk mengorek lukamu, tapi aku hanya ingin tahu tentang suamimu itu saja. Dan aku turut prihatin atas apa yang sudah terjadi padamu." Entah kenapa Haikal begitu tertarik dengan kehidupan Kalycha dan suaminya.

__ADS_1


"Suamiku bernama Haidar dan wajahnya sangat mirip denganmu. Itulah sebabnya mengapa aku terkejut saat pertama kali melihatmu. Aku mengira kalau kamu itu adalah Mas Hai suamiku. Tak ada yang tahu tentang pernikahan kami, yang tahu hanya Keluarga terdekat saja. Karena waktu dia menikahiku, aku masih sekolah." tutur Kalycha sambil menahan airmatanya yang kembali menetes.


"Mungkinkah aku benar-benar suaminya? Dan namaku yang sebenarnya adalah Haidar? Bagaimana aku akan membuktikannya? Terus kalau aku suaminya bagaimana aku bisa sampai ke Palembang dan mengalami kelecelakaan itu?"


"Bagaimana suamimu bisa meninggal?" Haidar memberanikan diri untuk bertanya kembali, dirinya seperti ingin mengorek masa lalunya sendiri.


"Aku tidak tahu pasti kenapa. Yang aku tahu dia mengalami kecelakaan saat bekerja keluar kota, tepatnya di Palembang."


"Apa? Palembang?" Lagi-lagi Haikal terkejut dengan penuturan Kalycha.


"Hmmm benar, suamiku bekerja keluar kota tepat setelah seminggu pernikahan kami. Ku hantarkan dia dengan keadaan sehat tapi saat dia pulang dia hanya meninggalkan nama dan kenangan saja." Airmata Kalycha kembali menetes. Dia tidak melihat lagi kearah Haidar yang begitu kesakitan ketika ia mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Ku hantarkan dia dengan keadaan sehat tapi saat dia pulang dia hanya meninggalkan nama dan kenangan saja." Kalimat itu terasa menusuk hati Haidar, dadanya terasa sangat sakit tapi ia menahannya tidak ingin membuat Kalycha khawatir dengan keadaannya.


"Aku merindukan Mas Hai–. Huuueeemmmm.... Huuueeemmm..." Kalycha menangis sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Cha, dadaku sakit Cha–, kepalaku pusing." Kalycha melihat Haikal sedang kesakitan. Ternyata rasa sakit yang sedari tadi ditahannya itu semakin kuat sehingga membuatnya tidak dapat untuk menahannya lagi.


"Kamu kenapa?" Kalycha menghapus airmatanya lalu membopong Haidar masuk ke mobil.


"Kamu duduk disini saja, biar aku yang nyetir." Kalycha mendudukkan Haikal dibangku penumpang yang didepan. Lalu dia mengitari mobil Haikal dan duduk dibangku kemudi.


"Ambilkan obatku Cha–." lirihnya sambil menahan rasa sakitnya.


"Ada didalam tas dibangku belakang."


Kalycha memijak bangku tempat duduknya lalu mengambil tas Haidar yang berada dibangku belakang. Dibukanya tas pria itu dan mengambil obat yang ada didalamnya. Kalycha melihat beberapa obat penghilang rasa sakit, vitamin dan suplemen untuk mencegah kerusakan otak yang lebih parah. Melihat jenis obat yang konsumsi Haikal membuat Kalycha yakin kalau pria yang bersamanya itu besar kemungkinannya adalah suaminya.


Kalycha memberikan obat itu kepada Haikal dan setelah meminum obatnya Haikal mulai tenang dan perlahan rasa sakitnya pun reda, tapi efek dari obat itu membuatnya ngantuk.


"Cha, bawa aku pulang." Haikal atau Haidar memintanya dengan setengah sadar.


"Aku harus dapatkan jawabannya hari ini juga. Sebaiknya aku membawanya pulang sekarang."


Kalycha melihat Haidar sudah tertidur lelap, tanpa menunggu lama Kalycha langsung menginjak pedal gas mobil itu dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


"Semoga dia ini benar-benar Mas Hai, aku harus membuktikan kalau dia benar-benar Mas Hai."


Satu jam lebih lima belas menit Kalycha akhirnya sampai di depan rumah mertuanya. Sebelumnya dia sudah menelepon Helsa untuk memastikan semua berkumpul dirumah.


Kalycha menceritakan semuanya pada Helsa tapi gadis itu tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


Roy yang juga sudah berada dirumah Helsa melihat sebuah mobil memasuki halaman rumah Haidar membuatnya langsung berlari menghampirinya. Ia tahu kalau itu pasti Kalycha karena Kalycha juga menelpon Roy dan memintanya untuk datang kerumah Haidar.

__ADS_1


"Hanya mereka yang bisa memastikan pria ini Mas Hai atau bukan." Kalycha melepas seatbelt-nya.


Roy membuka pintu penumpang yang didepan dan betapa terkejutnya Roy melihat pria yang masih tertidur di bangku penumpang itu. Haikal masih tertidur pulas seperti orang pingsan.


"Cha, dia benar-benar mirip Haidar Cha." Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut Roy, matanya berkaca-kaca seakan tak percaya dengan apa yang baru dilihatnya.


Roy pun membopong Haidar masuk kerumahnya. Dan ada 3 pasang mata yang menyambut Haidar, Helsa jatuh terduduk dilantai sementara Halimah pingsan dan tubuhnya ditahan oleh Deon suaminya.


"Bu, bangun Bu–." Deon menepuk-nepuk pipi Halimah pelan.


"Dek ambilkan minyak Kayu putih Dek–." perintahnya pada Helsa putrinya.


Tapi Helsa masih bengong melihat pria yang kini berbaring disofa ruangan itu sangat mirip dengan Kakaknya. Roy pun langsung memberikan minyak kayu putih yang diminta oleh Deon.


"Kak Haidar–." jerit Helsa, ia menangis histeris tak percaya Kalau Kakaknya masih hidup. Helsa mendekati Haikal dengan tangan yang gemetar ia menyentuh pipi Haikal.


"Kak, kenapa dengan Kak Haidar?" tanyanya pada Kalycha yang baru saja masuk kedalam rumah.


"Kak, Kakak tenanglah dulu." ucapnya pada Adik iparnya itu. "Icha ga tahu Kak siapa dia sebenarnya. Namanya Haikal Kak, Yah." sahut Kalycha sambil memandang pada Helsa dan Ayah mertuanya bergantian. "Tapi Icha benar-benar ga tahu siapa dia. Sebaiknya kita tenang dulu. Kita tunggu dia sadar. Tadi dia minum obat ini Kak." Kalycha memberikan beberapa jenis obat yang diminum Haidar tadi. Helsa yang juga seorang dokter juga tahu jenis obat yang diminum pria itu.


"Kak, ini kan–." Helsa tak meneruskan ucapannya. Ia sangat tahu jenis obat yang sekarang ada ditangannya itu.


"Iya Kak, Icha yakin kalau dia Mas Hai dan dia amnesia Kak. Sebenarnya bat-obat itu semua sudah bisa menjawab rasa penasaran kita kak. Karena obat itu semua untuk otak Kak." tutur Kalycha.


"Haidar–." Halimah terbangun dan langsung mendekati Haikal.


Kalycha memeluk mertuanya itu. "Bu, Ibu tenang dulu ya Bu. Kita tunggu sampai dia sadar Bu. Kita belum bisa memastikan kalau dia Mas Haidar Bu."


Halimah menatap tajam mata Kalycha. "Sejak kapan kamu tahu nak? Sejak kapan kamu tahu kalau Haidar masih hidup? Dan kenapa kamu ga kasih tahu Ibu Cha?" Halimah mengguncang-guncang tubuh Kalycha. Dirinya marah pada Kalycha karena telah menyembunyikan dari mereka kalau Haidar masih hidup.


"Bu, Ibu tenang dulu. Icha pasti punya alasan sendiri Bu–." Deon pun menenangkan istrinya, memintanya untuk melepaskan tangannya dari tubuh Kalycha.


"Maafkan Icha Bu–." Kalycha meraih kedua tangan Ibu mertuanya itu. "Icha ga bermaksud untuk membohongi atau menyembunyikannya dari Ibu dan Ayah. Tapi pria itu namanya Haikal Bu, bukan Mas Haidar. Dia ga kenal sama Icha Bu. Pertama kali Icha ketemu dia, dia ga ngenalin Icha Bu. Dia juga bilang kalau dia bukan Mas Hai. Icha ga tahu siapa dia Bu, makanya untuk memastikan siapa dia sebenarnya Icha bawa dia kesini Bu. Siapa tahu dia mengenali Ibu dan Ayah. Icha ga masalah kalau dia lupa sama Icha, tapi Icha mau lihat dia kenal atau ga sama Ibu dan Ayah."


Dan disaat yang bersamaan beberapa orang pria yang bertubuh tinggi tegap berpakaian serba hitam menerobos masuk kedalam rumah Haidar.


"BAWA DIA!!!" perintah seorang wanita kepada para bodyguard yang datang bersamanya itu untuk membawa Haidar pergi dari rumah kediaman keluarga Yudistira.


Jeng Jeng Jeng


Mari kita Penasaran 🤭 Siapa Wanita itu? 🤔


Jangan lupa setelah Baca tinggalkan Jempolmu ya Say 😍

__ADS_1


__ADS_2