
Kalycha berjalan mendahului Haidar, entah kenapa ia begitu kesal bila mengingat mantan pacar suaminya itu. Haidar terus berusaha membujuk istrinya, mengikutinya dari belakang.
"Icha–." seseorang memanggilnya dari belakang. Kalycha mencari sumber suara yang memanggilnya. Tapi ia tidak menemukan seseorang yang ia kenal. Hanya melihat suaminya yang berjalan kearahnya. Kalycha melanjutkan langkahnya tapi baru dua langkah dia berjalan tangannya sudah diraih oleh seseorang dari belakang.
"Icha–, Lo Icha kan?"
Kalycha melihat seorang pria yang berdiri didepannya itu dari atas kebawah dari bawah keatas tapi ia seperti tidak mengenali pria itu.
"Iya, aku Icha kamu siapa?"
"Ya ampun Cha? Masa Lo lupa sama gue?" pria itu menepuk bahu Kalycha. Haidar hanya memperhatikan gerak gerik pria itu pada istrinya.
"Berani-beraninya dia menyentuh istriku, Kalau aja Icha ga lagi marah udah gue pelintir tuh tangan." Begitulah yang dipikirkan Haidar.
"Maaf aku ga ingat." Kalycha mengerutkan keningnya mencoba mengingat siapa pria itu.
"Gue Frans Cha, temennya Alvin, temen lo juga sih. Masa lo ga ingat gue?" Ada sedikit kekecewaan diwajah pria itu ketika mendengar Kalycha tidak mengingatnya.
"Astaga Frans, sorry-sorry gue lupa." ucapnya langsung beralih ke mode on Lo-Gue. "Gue pangling aja sekarang, Lo beda banget sama yang dulu. Makanya gue ga ngenalin Lo."
"Lebih keren gue sekarang gitu maksud Lo?" tebak Frans dengan senyum manisnya.
"Iya–." sahut Kalycha membuat Haidar semakin panas karena istrinya itu sudah memuji pria lain. "Eh, Lo apa kabar? Dimana Lo selama ini?"
"Gue baik, gue baru balik dari Australia. Hmmm baru semingguan lah."
"Wah, jadi selama ini Lo di Australia? Udah sukses lo sekarang ya? Ngapain Lo disini?" tanya Kalycha.
"Kencan buta" bisik Frans, melihat itu Haidar sudah tak tahan lagi.
"Serius lo?" Kalycha masih tak percaya. Yang ia tahu saat sekolah dulu Frans begitu menyukai Jenny.
"Yang–, ayo kita pulang." ajak Haidar, sudah cukup rasanya ia membiarkan istrinya itu bernostalgia dengan teman lamanya itu.
"Siapa Cha?" Frans melihat Haidar seperti mengintimidasi Kalycha dengan tatapannya yang kurang bersahabat dengannya.
"Oh ya Frans, kenalin ini Suami gue."
"Hei, Lo udah nikah? Selamat ya–." Frans terlihat senang ketika mendengar sahabatnya itu sudah menikah, dirinya langsung mengulurkan tangannya pada Kalycha tapi malah Haidar yang menyambutnya.
"Terimakasih. Saya Haidar suami Kalycha." ucapnya dengan nada formal, membuat Frans merasa kikuk tapi dijawabnya dengan formal juga.
"Saya Fransiskus Zaid Fabian sahabat Icha waktu SMA."
"Maaf kami permisi dulu." Haidar menggenggam tangan Kalycha, lalu berjalan membawanya pergi meninggalkan pria itu. Tapi baru selangkah mereka berjalan Frans berhasil memegang tangan Kalycha yang satu lagi.
"Tunggu Cha–."
__ADS_1
"Ada apa Frans?" Kalycha heran kenapa Frans mencegah mereka untuk pergi.
"Gue minta nomor HP lo dong." Kalycha tidak langsung menjawab ia malah menatap wajah suaminya itu seolah meminta ijin padanya.
"Tenang aja Bang, gue cuma mau nanya-nanya tentang Jenny aja ke elo Cha, Lo tahu kan dimana Jenny sekarang? Udah 3 tahun gue lost contact sama dia." lirih Frans.
Tanpa menunggu persetujuan suaminya ia pun langsung menyebutkan nomor ponsel Haidar suaminya. Sementara Haidar merasa heran kenapa Kalycha malah memberikan nomor ponselnya pada pria itu. Frans pun langsung menelpon ke nomor yang disebutkan Kalycha.
"Itu nomor suamiku. Kalau ada apa-apa yang pengen lo tahu tentang Jenny, Lo hubungi suami gue aja. Karena dia lebih mengenal Jenny dari pada gue." ucap Kalycha lalu pergi begitu saja.
"Loh, Icha kenapa? Kok sepertinya dia marah begitu? Atau dari dulu Jenny dan Icha ga pernah baikan lagi?" gumam Frans tapi Haidar masih bisa mendengarnya.
"Jangan pernah kamu tanya-tanya soal Jenny lagi." ucap Haidar lalu pergi menyusul Kalycha.
"Sebenarnya ada apa dengan mereka? Kenapa mereka sepertinya membenci Jenny?" gumam Frans setelah melihat kepergian pasangan itu.
Sesampainya diparkiran, Kalycha menunggu suaminya untuk membuka kunci mobilnya.
"Sayang, kamu jangan marah-marah terus dong. Mas tuh ga pernah begituan dibioskop sama Inez seperti yang di bilang si kampret Roy tadi."
Kalycha tidak peduli dengan apa yang diucapkan Haidar suaminya. Tapi mendengar nama mantannya itu disebut oleh suaminya membuatnya semakin marah.
"Buka ga? Icha mau masuk." jawabnya ketus.
Haidar pun menekan tombol kunci mobilnya lalu membukakan pintu untuk istrinya.
Begitu sampai dirumah Kalycha langsung mengemas beberapa bajunya ke dalam tas minggat.
"Sayang mau kemana?" Haidar bingung saat Istrinya itu mengemas-ngemas barangnya.
"Sayang–." suara Haidar mulai meninggi, ia meraih tangan Kalycha supaya berhenti mengemas barang-barangnya.
"Kamu percaya sama aku suami kamu atau sama Roy sih?" Haidar sudah mulai kehabisan kesabarannya.
"Roy hanya bercanda doang, kalau kamu ga percaya aku bisa hubungi Roy sekarang." Kalycha diam saja, Haidar mengambil ponselnya lalu menelpon Roy tak lupa dia mengaktifkan speaker phone nya.
"Hallo Roy, Lo harus jelasin apa yang lo bilang tadi dibioskop ke Icha."
"Lo bilang sekarang kalau semua itu ga benar? Icha marah, dikirainnya beneran gue pernah buat mesum digedung bioskop." Haidar langsung ke inti permasalahan mereka.
"Hahaha, serius Icha marah?" Roy malah tertawa senang melihat sahabatnya itu susah. Sementara Kalycha masih diam saja.
"Eh monyet jelasin ga sekarang?" ancam Haidar.
"Jelasin apaan?"
"Ga usah pura-pura bego deh Lo?"
__ADS_1
"Hahaha, ga apalah Icha marah, palingan marahnya bentar doang."
"Sialan Lo, jelasin ga sekarang? Icha denger ogeb nih telponnya gue spekaerin, Dia udah ngemas-ngemas barang segala kayak mau minggat gitu. Awas lo kalau Icha beneran pergi ga pernah gue restuin lo nikah sama adek gue." Haidar menarik rambutnya, kesal karena sahabatnya itu juga seperti enggan untuk membantunya.
"Gue ga perlu restu dari Lo– haha." Haidar seperti kehabisan akal. Sahabatnya itu tidak mau menjelaskan kepada istrinya kalau dia hanya bercanda. "Cha, tinggalin aja Cha, buat dia puasa seminggu kalau perlu sebulan sekalian." Terdengar gelak tawa Roy yang begitu puas membuat kesal sahabatnya itu.
"Lo ngeselin banget sih Roy?"
"Udah yah, Lo udah ngeganggu kencan gue yang mau buat adegan 21 ples-ples sama adek Lo."
"Roy sialaaaan!!!" bentaknya. "Awas ya kalau lo macem-macem sama adek gue."
"Adek lo yang minta Ogeb." Roy sengaja memancing amarah sahabatnya itu.
"Roy, kasihin ga HPnya ke Frozen KW itu."
"Dia lagi ditoilet. Kami mah kalau mau buat mesum nanggung kalau cuma dibioskop mending langsung ke hotel aja. Haha." Panas-panas deh lo Dar. Begitulah cara Roy membuat sahabatnya itu kesal. Karena sudah lama rasanya mereka tidak saling bercanda.
"Roy–, Roy!!!" Haidar seperti kebakaran jenggot ketika Roy langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Ia pun segera menelpon Helsa adiknya tapi telpon Helsa tidak bisa dihubungi. Dia bingung antara menyelamatkan adiknya dari otak mesum Roy atau membujuk istrinya yang sedang salah paham padanya.
"Sayang, Roy–." belum sempat Haidar meneruskan ucapannya Kalycha sudah lebih dulu memotongnya.
"Kak Helsa udah dewasa dia tahu mana yang terbaik untuk dirinya. Lagi pula aku kenal siapa Kak Roy dia ga akan berbuat serendah itu pada wanita yang dicintainya." ucap Kalycha dengan penuh keyakinan, lalu ia memilih masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, jadi kamu percaya kan kalau Mas ga seperti apa yang Roy katakan tadi?" Haidar mendekati Kalycha berusaha menyakinkan istrinya itu. "Mas ga pernah begitu sama Ines."
"Disebut lagi namanya. Ngeselin banget."
"Mungkin sama yang I itu ga pernah entah kalau sama yang J."
"Maksud kamu apa sih Yang–? I siapa? Terus J siapa lagi?"
"Nih laki beneran ga tahu apa pura-pura ga tahu sih?"
"Ya mantan kamu Mas, Ines dan Jenny."
"Astagfirullah Yang–, sama Ines aja ga pernah apalagi sama Jenny yang ga pernah ku anggap pacar Yang."
"Udah ah, pokoknya aku bete sama Mas Hai. Bawaannya kesel aja liat muka Mas Hai, pengen marah-marah mulu. Mas Hai mendingan tidur di sofa sono. Malam ini Icha mau bobok sendiri aja."
"Yang jangan gitu dong Yang–, kasihan si Juni Yang, udah laper pengen makan Yang." rengek Haidar.
"BOMAT Ay–!!!!"
"Gue marah tapi kok malah manggil Mas Hai, Ay sih?" Kalycha merutuki kebodohannya sendiri.
__ADS_1