
Membereskan kamar, bersiap mencari ilmu untuk melawan kebodohan setelah enam hari tidak mengikuti pelajaran karena menikah, kini Kinan kembali lagi ke tempat itu dengan hati sedikit ragu dan bimbang. Karena, sekarang Kinan lebih menutupkan diri dengan menggunakan jilbab bahkan pakaian sekolahnya pun ia ganti dengan pakaian berlengan panjang.
Memandangi dirinya dengan polesan make up tipis, seketik teralihkan saat Kinan melihat Fahad yang baru saja keluar dann sudah rapih dengan seragam dinasnya. Senyum manis terukir dari wajah Kinan dan mendapatkan ekspresi heran darinya. Berdiri menghampiri Fahad, lalu memeluk dan menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang Fahad. Aroma maskulin menghipnotis indera penciuman Kinan untuk selalu betah dalam dekapannya.
Fahad tak mengubris, ia heran dengan kelakuan Kinan. Namun, dibalik itu ia merasa senang dan membalas pelukan Kinan. "Kenapa hem?"
Kinan kemudian mendongkakan wajahnya, tatapan keduanya saling beradu. Deruhan nfas terdengar di keduanya, Kinan menggeleng dan tersenyum. "Nanti jangan anterin aku sekolah, aku akan berangkat naik ojeg."
"Tidak, aku akan mengantarmu."
"Jangan, nanti kalau pada curiga gimana?"
"Yah bodo amat lah, tinggal ngomong gini 'Kami tak sengaja bertemu saat sedang makan bubur, di situlah Pak Fahad menawari untuk berangkat bareng' gitu."
"Engga bisa begitu!" celetuk Kinan memasang muka cemberut.
"Iya bisa lah!" terima Fahad dan senyum tipis.
"Yah Sudahlah, ayok berangkat! Kan jauh tempatnya, tuh jam sudah nunjukin pukul 06 02 pagi." Kinan mengakhiri dekapannya dan mengambil tas.
"Baiklah," jawab Fahad menyusul Kinan.
Saat keduanya sudah sampai bawah, Barakka sudah siap dengan semuanya. Suara motor terdengar jelas di telinga yang ada di rumah, Barakka memanaskan motor sebelum ia pakai. Maryam datang menghampiri tiga insan itu dengan tangannya membawa wadah berisi makanan. "Ini makanan untuk semuanya!"
"Terima kasih, Ummah," sahut Kinan dan tersenyum.
Maryam membalas itu dengan mengelus kepala Kinan yang ditutup dengan jilbab, entah kenapa saat melihat Kinan tatapan sendunya selalu saja ingin lebih tahu tentangnya. Seolah-olah, Kinan adalah isyarat untuknya. "Bukannya kamu dan Fahad akan pindah rumah sore?"
"Iya," jawab Kinan.
Kepindahan rumah sudah didiskusikan kemarin semalaman, bahkan Maryam sempat ragu karena khawatir kepada Kinan. Akan tetapi, Fahad bersikukuh akan pindah hal itu membuat Maryam menyetujuinya bahkan Hasan pun setuju asalkan membawa Barakka. Membawa Barakka berarti tak harus satu rumah, Barakka juga membeli rumah hasil tabungannya dan rumah itu bersebelahan dengan Fahad.
"Ummah aku sudah siap," cakap Barakka dan menyalimi punggung tangan Maryam kemudia diikuti Kinan dan Fahad.
Tiga insan segera menaiki kendaraannya masing-masing, Kinan menaiki mobil hitam pekat milik Fahad sedangkan Barakka menaiki motor supportnya. Kendaraan yang mereka tumpangi segera meninggalkan kediaman Prambudi karena takut telat, sebab waktu sudah menunjukan pukul 06.05 yang akan mereka habiskan kurang lebih satu jam lamanya untuk sampai sekolah.
Di tengah perjalanan hanya hening yang tercipta, Barakka sudah menjauh bahkan kendaraannya pun sudah tak nampak. Alunan musik religi menciptakan mobil itu tidak hening, Fahad fokus menyetir sesekalinya melirik Kinan seperti ada sesuatu yang tak beres. Entah kenapa, perasaannya begitu gundah seakan ada sesuatu terjadi pada Kinan, tapi Fahad buang jauh-jauh perasaan negatif itu.
"Apa ada sesuatu?" tanya Fahad memecahkan hening.
Kinan kemudian menoleh, dan tersenyum. "Tidak, aku hanya sedikit mengantuk."
__ADS_1
"Jika ada sesuatu, tolong jangan sembunyikan. Aku sekarang sudah menjadi suamimu bukan orang lain," ujar Fahad mencoba menenangkan Kinan seakan firasat buruk itu akan terjadi pada istrinya.
"Aku tidak apa-apa, aku serius."
Fahad tidak melanjutkan kembali kata-katanya, ia mengelus pucuk kepala Kinan dengan kasih sayang. Ah, pernikahan karena perjodohan kepada orang yang tepat terkadang selalu dipandang sebelah mata. Dua insan yang mencintai dalam ikatan halal seketika tumbuh dalah ikatan sakral.
Kurang lebih satu jam mereka menghabiskan waktunya, sekolah yang akan mereka tempuh sudah tepat di depan mata. Para siswa berbondong-bondong masuk kedalam, mobil hitam milik Fahad pun memasuki perkarangan tempat menuntut ilmu sedangkan Barakka sudah lebih dulu ada bahkan motor supportnya sudah terparkir.
Fahad tidak langsung keluar, ia memperhatikan ekspresi Kinan seperti ketakutan. Tatapan Kinan mengarah pada seorang yang mengenakan seragam putih abu dengan lengan pendek dan rambut sebahu, Fahad juga mengikuti tatapan apa yang Kinan tunjukkan. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya sembari mengenggam erat tangan istrinya sampai Kinan tersadar saat tangan dingin digenggam hangat olehnya.
"Tanganmu dingin ...," lirih Fahad sambil mencium punggung tangan istrinya.
"Itu karena masih pagi," jawab Kinan.
"Jangan pikirkan apapun, aku akan selalu ada untuk memperhatikanmu." Fahad mencoba menenangkan Kinan dan mendapati anggukan kecil darinya.
"Kalau begitu, aku ke kelas dulu." Kinan menyalimi tangan Fahad dan tersenyum.
Saat Kinan hendak membuka pintu mobil, Fahad mencekal tangan Kinan dan meletakkan kedua tangannya di atas pundak Kinan. Mengecup kening Kinan dalam waktu yang lama, dan mengakhirinya. "Semangat belajarnya, dan percepatlah lulusnya."
"Aku akan semangat, Sayang," sahug Kinan dan mencium pipi Fahad secepat petir menyambar sampai membuat Fahad tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Tidak, Pak," jawab salah satu siswa dengan rambut di kepang.
"Kalau begitu, sana pergi ke kelas! Sebentar lagi upacara akan dimulai," titah Fahad dan meninggalkan mata gosip para siswa.
"Ko, cewek itu bisa ada di mobil pak Fahad yah?" bisik siswa setelah Fahad meninggalkan parkiran mobil dan pergi menuju kantornya.
"Entahlah, sepertinya ada hubungan!" jawab siswa.
"Kalau sampai ada hubungan bisa patah hati gue!" genit siswa lain.
***************************
"Woii! Woii! Woii! Ada berita heboh!" Heboh seorang siswa yang meruoakan teman satu kelas dengan Kinan, Gisha membuat semua teman yang ada di kelasnya menoleh kecuali Kinan.
"Apaan sih? Kalau mau bagi berita biasa lah engga usah heboh. Loe kira ini hutan hah?" kesal ketua kelas, Brayen Muchen.
Gisha kemudia mengatur nafasnya supaya normal. "Gue lihat dengan mata kepala gue, si Kinan satu mobil sama pak Fahad!"
"Apa maksud loe, mata loe sembarangan!" cibir Brayen sembari melirik Kinan yang sibuk membaca buku pelajaran.
__ADS_1
"Gue serius, si Kinan itu pake kerudung sekarang! Dia keluar dari mobil hitam pak Fahad!" Gisha menjelaskan lagi. "Gue engga bohong demi apa, coba tanyain sama si Siska dia juga lihat Kinan keluar dari mobil pak Fahad."
"Hei, Kinan apa yang dibicarakan oleh Gisha itu benar?" tanya Siska senyum miring.
"Iya!" jawab Kinan singkat.
Suasana kelas itu seketika berubah menjadi lebih heboh daripada Gisha, Kinan tidak menatap para teman sekelasnya. Tatapan matanya sibuk membaca satu demi satu kata, toh Kinan teringat pada perkataan Fahad agar bodo amat dengan semuanya karena Fahad akan menyelesaikan masalahnya nanti saat pelajaran Fahad berlangsung.
Dara yang melihat itu seketika mukanya terbakar api cemburu, entah kenapa. Ia berjalan menghampiri Kinan dan mengambil buku paket pelajaran Kinan dengan keras, membuat Kinan seketika mengambil nafas panjang.
"Tolong kembalikan buku paket saya, Dara," tutur Kinan tanpa menatap Dara.
"Temen loe sedang menciptakan gosip, apa loe engga ada niat buat klarifikasi! Enggak lucu kalau loe satu mobil dengan pak Fahad," sebal Dara.
Kinan kemudian berdiri, tatapan keduanya saling beradu senyum sumrik dan kembali mengambil buku yang diambil oleh Dara. "Gue sudah mengklarifikasi, kalau gosip itu benar! Gue satu mobil dengan pak Fahad, soapnya gue engga sengaja bertemu dengannya pas gue lagi makan bubur dan dia menawari gue buat naik mobilnya! Puas!"
"Mana ada pak Fahad pedulian sama siswanya, ngaco aja loe!" sindir Tara ikut campur.
"Kalau engga percaya, tanyain saja sama dia! Kenapa sih zaman sekarang aneh-aneh saja, cuman gara-gara satu mobil dengan pak Fahad sudah seheboh itu, kayak engga terima idolnya pacaran. Padahal idol engga peduli," sinis Kinan dan keluar dari kelas karena mendengar bel upacara telah tiba.
Saat hendak turun menuju lapangan, lirikan para siswa yang merupakan teman satu angkatannya memandang Kinan dengan tatapan sinis. Sepengecut itukah teman Kinan, padahal kenal saja tidak. Kelas Kinan belum ada satupun siswa, para guru mulai memasuki ruangan dan berjejera rapih termasuk Fahad. Fahad menarik nafas panjang saat melihat Kinan berjalan seorang diri, bahkan teman satu kelasnya belum kunjung datang.
Bruk!
Kejadian itu seketika membuat Fahad terbelak, seorang wanita yang tak lain adalah istrinya terjatuh akibat ulah siswa berambut panjangnya sepunggung. Tangan mengepal ingin mematahkan kaki wanita itu, tapi sadar ia harus bersikap profesional.
"Aduh, kalau mau jalan pake mata dong!" sinis siswa yang menjatuhkan Kinan.
Kinan tidak menoleh sama sekali, ia bangkit tanpa mengucapkan sepatah kata. Meninggalkan wanita tak beradab dan memiliki kebiasaan buruk. Semenjak satu menengah pertama wanita itu begitu baik padanya, tapi saat keburukan terbongkar semuanya berubah 180 derajat.
"Sudah nyakitin enggak minta maaf lagi, dasar wanita sok suci. Kemarin pakai seragam pendek sekarang panjang kayak sudah disentuh lelaki," ujar wanita dengan nama tag Rosa.
Kinan tak mengubris perkataan itu, ia berdiri dibarisan paling depan. Karena teman satu kelasnya belum datang dan baru saja keluar.
Sementara itu, Fahad merasa miris melihat tingkah Kinan yang begitu diabaikan oleh temannya. Rasa sesak seketika ingin mengakhiri semua pelajaran, ingin memeluk Kinan membiarkan istrinya menumpahkan semua rasa yang ia tahan dengan diamnya. Rahang kokoh tertampak jelas, tangan mengepal kuat, sampai menarik nafas panjang sesakit itukah seorang Kinan menanggung semuanya.
Mata merah Fahad tak kuasa ingin segera dikeluarkan, lirikan mata mengarah pada Kinan yang tertunduk. Rok abu yang terlihat kotor rasanya ingin membersihkan kotoran itu dan menghapuskan derita. Membagikan beban bersamanya, dan bahagia tanpa ada gangguan. Tatapan keduanya saling bertemu, Kinan tersenyum kepada Fahad. Akan tetapi, Fahad mencoba memaksakan membalas senyum manis Kinan.
"Baiklah, silahkan dimulai upacaranya!" Perintah guru BK yang katanya kurang tegas dalam membimbing para siswanya di sekolah.
Barakka yang melihat Fahad seakan merasakan sesak melihat kejadian barusan
__ADS_1