My Soulmate

My Soulmate
Baitan Kalbu


__ADS_3

'Serpihan malam


Getaran-getaran halus


Memggengam lurus


Dalam detik ini


Ingin ku selimuti


Bayangan-bayangan sepi


Aku kehilangan bayangamu


Ku sapu bekas bayanganmu


Aku masih seperti kemarin


Menanti dalam hening


Namun kau tak bergeming


Menuju ke arahku


Entahlah


Mungkin aku harus berlalu


Mengalah pada waktu


Karena aku di dirimu


Hanya sebagai sosok semu


Aku cukup berdiri di sini


Tanpa segala sesuati tentangmu


(Sepercik Harapan, Karya: Yuningtias)'


Suara lantunan puisi dari balik speaker kamar pribadi Fahad mengema merasuki indera pendengaran. Suara indah dan menghayati berhasil menghipnotis Fahad yang masih terlelap dalam tidur dibalik selimutnya. Kinan yang sudah siap dengan seragam sekolahnya seketika menatap pusing melihat tingkah tidur nyenyaknya Fahad. Untunglah jam dinding menunjukan pukul 06.03 pagi pertanda masih banyak waktu, bahkan jarak dari rumah kesekolah hanya butuh berapa menit saja.


Rutintas Kinan kembali memenuhi rindu tak bersuara, mendengarkan puisi setiap pagi untuk menyemangati kalbu yang masih bergejolak dengan kenestapaan bahkan jiwa rindu pun terus memberontak untuk mengeluarkan emosinya. Iya, entah kenapa Kinan merindukan keluarganya.


"Sayang bangun," ucap Kinan menepuk lembut pipi Fahad.


"Eugh!" serak Fahad sembari merenggangkan badannya dan menatap Kinan lekat kemudian memejamkan mata lagi.


Kinan melihat itu seketika kesal dan membuang nafasnya gusar. "Sayang ayo bangun dong buka merem lagi."


"Kiss dulu," kata Fahad dengan suara serak.


Mendengar itu Kinan seketika terkekeh geli, ia segera menyambar menandai seluruh muka Fahad dengan menghujaninya ciuman sehingga meninggalkan titik yang selalu menjadi candu. Mata, kening, hidung, pipi, semua bagian yang ada di wajah sudah diberi tanda oleh Kinan. "Sudah."


"Ada yang kelewat," celetuk Fahad saat menyadari ada yang tertinggal, ia segera membenarkan posisinya menjadi duduk dan sehingga tubuh keduanya saling berhadapan.


Kinan menyerit heran. "Kelewat apanya?"


Cup!


Fahad tak menjawab pertanyaan Kinan, ia memajukan wajahnya untuk mengecup bi*bir ranum Kinan yang selalu membuatnya candu bahkan sudah menjadi kebiasaan. Menci*um Kinan sedangkan Kinan diam tidak membalas, membiarkan Fahad bermain sesukanya. Lama-kelamaan Fahad merubahnya menjadi luma*tan, Kinan yang tadinya hanya diam kini membalas untuk mengimbangi keduanya.


Cukup lama keduanya bertautan di pagi hari sekitar kurang lebih lima belas menit akhirnya Fahad mengakhiri dan tersenyum bahkan Fahad tak lupa menghapus jejak barusan dengan jari jempolnya. Sedangkan, Kinan sibuk mencari tambahan oksigen setelah dihabiskan untuk kejadian pagi.


"Ih, sayang! Bi*bir aku jadi bengkak," sebal Kinan.

__ADS_1


"Enggak juga, kelihatannya engga sampai besar kecil ko," ujar Fahad.


"Udah ah, aku mau ke meja makan ... aku tunggu di sana," ucap Kinan bercampur gugup karena wajahnya masih merah akibat ulah Fahad.


"Tapi, kenapa wajahmu merah? Apa kamu mau lagi?"


Plak!


"Assww ...!" rengek Fahad karena Kinan memukul lengannya dengan sangat kuat, sampai Fahad meringin kesakitan yang tak seberapa.


"Mesum banget! Lepasin dong," protes Kinan.


Fahad segera melepaskan tangannya yang masih memegang bahu Kinan dan tertawa tak berdosa. "Baiklah, aku mau mandi dulu."


"Iya," jawab Kinan segera bangkit dari duduk paginya dan membereskan kasur setelah Fahad berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


•••••••••••••••••••••••••••••••••


Setelah sampai sekolah, kegiatan para murid dan guru akan segera dimulai. Di kantor Fahad sibuk membaca dan memahami pembelajaran yang akan dilangsungkan, seketika tersadarkan dengan suara ketukan pintu. Fahad segera menjawab, "masuk!"


Pintu bernuasa warna coklat itu seketika terbuka, menampilkan sosok wanita dengan pakaian seragam dinasnya. Celana panjang, bahkan lengan pun panjang tapi tidak berlaku untuk kerudungnya karena kerudungnya melilit leher.


"Ada apa?" tanya Fahad to the point setelah melihat siapa yang datang.


"Tidak, aku hanya ingin menyapamu, Fahad," jawab Marsha.


"Kalau untuk itu saja, silahkan keluar. Saya sedang sibuk untuk pembelajaran yang akan berlangsung," jelas Fahad dingin.


"Apa wanita yang bersamamu waktu itu adalah kekasihmu?"


"Kenapa kamu menanyakan itu?" tanya balik Fahad.


"Kalau iya, apa kamu tidak tahu bahwa dia sangat bandel karena dia membenci matematika," papar Marsha.


"Lalu apa hubungannya?" tanya Fahad lagi dengan ekspresi dingin.


Mendengar itu Fahad menarik nafas panjang dan melepaskannya, mengusap wajahnya dengan kasar pikirannya yang penuh dengan kata kesal, marah, mengamuk menjadi satu. "Emangnya ada masalah gitu kalau seseorang pakai cincin di jari manis?"


"Tentu saja, karena itu menandakan bahwa sudah bertunangan atau menikah," jelas Marsha.


Fahad tersenyum sinis. "Hah? Bodoh sekali kamu, Marsha."


"Jadi itu hanya aksesoris?"


"Hentikan basa basimu, sana kerjakan tugasmu. Saya tidak ingin diganggu." Fahad menatap dingin Marsha dan tersenyum ramah sebagaimana biasanya.


Namun, bukannya Marsha keluar dari ruangan Fahad melainkan berjalan ke arah bangku Fahad. Meletakkan kedua tangannya di atas meja, menatap Fahad dengan tatapan menggoda. Membuat Fahad muak bahkan kembali lagi menatap sinis, membiarkan dia melakukan sesukanya.


"Aku yakin kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku perihal wanita itu."


"Kalau engga ada kerjaan, saya pamit dulu!" ujar Fahad sembari membawa buku paket kelas X yang telah dipelajarinya, dan meninggalkan Marsha di ruangan kerja.


Sementra Marsha memandangi punggung lebar Fahad yang perlahan mulai menghilang dan tersenyum licik seolah-olah memiliki rencana entah apa itu. "Tidak semudah itu, Fahad."


.


.


.


Di kelas yang sedang Fahad pelajari, kelas itu adalah kelas Barakka di mana menempuh pendidikan putih abunya. Sesuai dengan jurusan yang ia tekuni, Fahad tidak pernah melarang Barakka menginginkan apa yang ia mau asalkan dia harus siap menanggung konsekuensinya. Karena, perjalanan untuk kebahagiaan harus melewati berbagai macam rintangan dengan cara yang berani.


Cita-cita Barakka membuat Fahad teringat dan tersenyum, bagaimana tidak Barakka begitu ingin menjadikan dirinya sebagai seorang detektif yah, mau bagaimana lagi cita-cita seorang haruslah diwujudkan bagaimanapun caranya.


Memasuki kelas dan mengucapkan salam, juga mendapatkan balasan dari mereka dengan semangat yang membara. Ia segera melancarkan aksinya untuk memberikan sebagian ilmi yang ia pelajari selama kuliah di kota Jakarta yang ternama. Satu demi satu Fahad berikan sebagian ilmunya selama kurang lebih tiga puluh menit dan menyisakan lima belas menit untuk murid mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


"Baiklah, tolong kerjakan halaman selanjutnya dan saya beri waktu selama lima belas menit," kata Fahad.


"Apa semua soal, Pak?" tanya salah satu murid.


"Tidak, pilih yang menurutmu mudah minimal satu dari sepuluh soal. Tapi, kalau ada yang sama boleh enggak apapa," jelas Fahad dan tersenyum.


Ia melihat sekeliling siswa yang mengerjakan tugan dengan telaten, ada juga yang saling membantu satu sama lain membuat Fahad tersenyum. Akat tetapi, ketika lirikan matanya terjatuh pada Barakka yanh tengah mengerjakan soal dengan badan yang tak bersemangat seketika menyerit heran. Barakka tak pernah bersikap seperti orang lesu ketika sedang menyelesaikan soal dan baru terjadi pada hari ini.


Lima belas menit pun berlalu, satu demi satu siswa mengumpulkan tugas yang diberikan oleh Fahad sampai pada akhirnya bel istirahat pun berbunyi. "Karena waktunya sudah habis, tolong kerjakan tugas halaman setelahnya di rumah dan buku catatan latihan kalian saya bawa."


"Baik, Pak!" kompak mereka serempak.


"Oh iya, Barakka tolong saya," titah Fahad kepada Barakka dan mendapatkan jawaban menghampiri kakak pertamanya dan segera melaksanakan perintahnya.


••••••••••••••••••••••••••


Sementara di kelas Kinan, setelah bel telah usai dirinya lebih memilih mengambil nasi yang disiapkan oleh Bi Ijah dan membawanya ke ruangan di mana Fahad berada. Kotak nasi tiga tingkat dengan lauk pauk yang seimbang, tak lupa juga Kinan menggambarkan senyum manisnya karena segrea bertemu dengan Fahad setelah dua jam menghabiskan waktunya untuk belajar pembelajaran pertama.


Teman Kinan yang lmelihat itu seketika menyerit heran, pasalnya Kinan tidak pernah membawa makanan dan sekarang baru nonggol. Siska yang melihat itu menghampiri Kinan dan menghentikan langkah yang tinggal beberapa langkah lagi segera keluar.


"Mau kemana?"


"Mau makan," jawab Kinan singkat.


"Sebentar!" titah Siska menghampiri Kinan. "Beliin dulu gue mie goreng sama teh manis," sambungnya.


"Beli sendiri, aku mau makan dulu," singkat Kinan dingin.


"Oh jadi, loe melawan hah? Kalau begitu sini makanan loe buat gue!" hardik Siska hingga Kinan mundur beberapa langkah akibat ulahnya.


"Kembalikan!" tegas Kinan menampilkan muka dinginnya akibat Siska menarik wadah bekal yang berisi makanan untuk dimakan bersama Fahad, karena keduanya tak sempat sarapan akibat Fahad terlalu betah menghabiskan waktunya bersama.


"Halah, lagian siapa yang enggak mau nurut. Di suruh belikan mie goreng doang masih engga nurut, jadi gue ambil lah punya loe cacing gue kelaparan gara-gara loe nolak suruhan gue," sinis Siska.


"Kalau begitu mana uangnya? Aku akan belikan, asal jangan sentuh satupun makanan itu!" Kinan mencoba menetralkan emosinya, antara marah dan sedih menjadi satu.


"Pake duit loe lah," cibir Siska. "Buru pergi sebelum gue habisin punya loe!"


Kinan segera pergi ke kantin, dengan perasaan bercampur aduk antara marah dan sedih. Teman sekelasnya memang terkenal agak begis jika bersama dirinya, ketika mereka gabut ia tak segan membuat Kinan merasakan penderitaan yang begitu nelangsa. 'Maafkan aku, karena aku kamu jadi seperti ini,' batin Kinan dengan langkah kaki terus berjalan hingga sampai kantin dan memesan yang sesuai dengan permintaan Kinan.


Sekitar dua puluh menit Kinan menghabiskan waktunya, ia yakin bahwa Fahad dan Barakka sedang menunggunya di kantor untuk mengisi perut kosong. Untunglah masih ada waktu sekitar lima belas menit sebelum bel pelajaran berikutnya masuk, kedua tangan Kinan sibuk memegang nampan berisi mie goreng yang dibungkus dan minuman teh manis sesuai dengan pesanan Siska. Ia segera masuk kedalam kelas dan alangkah terkejutnya Kinan saat apa yang sedang terjadi di dalam kelasnya.


Bruk!


"Apa ini?" kaget Kinan sampai pesanan Siska terjatuh hingga tumpah tak tersisa.


••••••••••••••••••••••••••••


"Ada apa Abang memanggilku?" tanya Barakka to the point setelah memasuki ruangan Fahad.


Fahad menoleh dan menampilkan wajah gusarnya. "Ada apa denganmu? Kenapa kamu tidak semangat seperti biasa?" tanya balik Fahad.


Barakka memejamkan mata, entah kenapa rasa sesak akibat menahan rindu membuatnya tak bisa ia tahan. "Tidak, aku hanya teringat kak Dania."


"Dania ...," lirih Fahad ikut terhanyut dalam kesesakan Barakka.


"Iya, aku rindu kak Dania. Kenapa dia pergi tanpa mengatakan sepatah kata, aku benar-benar merindukannya. Apa Abang sudah bertemu atau lainnya?" Luapan rindu yang selalu dibendung akhirnya terlontar juga, ada rasa sedikit lega dalam jiwa Barakka setelah mengungkapkan yang yang selalu menganggu pikiran dan suasana hatinya.


Fahad menggeleng sebagai jawaban bahwa ia belum bertemu bahkan tidak tahu keberadaan Dania. "Aku sudah lelah mencarinya, jadi jangan khawatir Barakka aku sudah menyerahkan semua itu kepada teman aku. Maka dari itu, ayo kita berdoa semoga saja dia baik-baik saja."


"Baik-baik saja gimana, Bang?" tanya Barakka dengan emosi memuncak, seakan sabar yang selama ini ia tahan tak kunjung mereda bahkan sabar itu pun seketika tergantikan dengan gusaran yang membuat Barakka akhirnya meneteskan air mata. Lelaki itu sangat lemah jika menyangkut sang kakak, terutana Dania sebab Barakka tumbuh dan kembang dalam asuhannya ketimbang kedua orang tuanya karena keduanya sibuk mengurus yayasan.


"Aku akan memberitahumu nanti yah, tolong sabar sedikit lagi Barakka," ujar Fahad menepuk pundak Barakka dan menariknya kedalam dekapan. Dua kakak beradik itu selalu mencurahkan semua beban yang mereka tanggung, seakan-akan masa kecil terulang kembali dengan mengukir hati yang merindu.


•••••~~~•••••

__ADS_1


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mendukung karya pertama saya yang masih pemula ...


Semoga kebaikan semuanya dibalas yang lebih, dan juga semoga hari-hari yang semua lalui selalu berakhir bahagia banyak hikmah di setiap langkah❤


__ADS_2