My Soulmate

My Soulmate
Bertemu


__ADS_3

Sinar matahari memberikan kandungan yang baik untuk kesehatan, para warga mulai menjalankan aktivitas biasanya untuk mengisi pagi cerah itu. Hewan-hewan seperti kucing bertebaran di mana-mana untuk mencari makanan, burung-burung indah mengepak-gepakan sayap mungilnya terbang kelangit tinggi mencari rezeki. Pagi itu memang terasa asri, udara kesejukkan menghipnotis para pecinta suasana damai.


Di kediaman Zaid, dua wanita dan dirinya tengah berbincang hangat setelah sarapan mereka usai. Saat itu, Zaid meminta sang ibu agar tidak langsung keluar setelah sarapan selesai karena ada sesuatu untuk dibicarakan perihal diskusi hangat dengan Dania semalaman di mana mereka memiliki mimpi yang sama.


"Mau bicara apa, Nak?" Saidah membuka suara setelah dirasa cukup puas mendengar cerita Zaid perihal anak RT yang katanya mengalami usus buntu dan memerlukan tindak lanjut.


Zaid kemudian menoleh ke arah Dania yang duduk di sisi Saidah. "Aku ingin meminta izin mengantarkan Dania ke rumahnya sekalian meminta izin dari keluarganya karena dia ingin mengabdikan diri di sini sebagai seorang guru, bagaimana Bu?"


"Apa kamu mengintip pembicaraan ibu dan Dania?" selidik Saidah.


"Astagfirullah tidak, Bu. Semalam aku berbincang dengan Dania, benarkan?" tanya Zaid kepada Dania.


"Benar," jawab Dania cepat.


Saidah menarik nafasnya dalam. "Sebenarnya dia sudah bercerita itu kemarin, bahkan dia ingin mengabdikan diri di sini sebagai guru. Tapi, ibu binggung ini kan desa kita yang terbatas."


"Jangan khawatir, Bu. Aku dan Dania yang akan mengelolanya," kata Zaid tenang.


"Benar, Bu. Aku memiliki harapan besar untuk desa ini. Aku ingin mendidik anak-anak agar suatu hari nanti mereka tumbuh layaknya manusia bertaqwa dan bermoral, selain itu juga aku ingin mengamalkan sedikit ilmu yang aku punya ini untuk mereka," jelas Dania.


"Meskipun desa ini keterbatasan dalam pendidikan karena jaraknya jauh, tapi apa salah jika aku mencoba?" lanjut Dania lagi kali ini menatap penuh keyakinan kepada Saidah.


"Selain itu, kami berdua sama-sama memiliki mimpi yang sama, Bu ... sama-sama ingin membangun harapan desa ini, bahkan aku juga memiliki cita-cita yang tertunda, aku ingin membangun anak-anak agar mencintai negeri dan memajukan bangsanya meski kami tidak dianggap olehnya, ketahuilah Indonesia sangat bangga hanya saja kebanggan itu tersimpan dilubuk hatinya," kata Zaid sembari merayu sang ibu agar luluh.


Saidah terdiam mencerna perkataan Zaid, baginya jika Zaid terus mengatakan itu seolah-olah ada rasa tulus untuk harapannya. Bahkan jika Zaid sudah mengatakan seperti itu membawa-bawa nama negeri, Saidah tidak bisa mengelak. Hatinya sangat menyesal, kenapa sang suami mengajarkan Zaid untuk mencintai negeri sehingga Zaid tumbuh menjadi lelaki sebagaimana mestinya. Dengan nada pasrah Saidah berkata, "baiklah, ibu akan mendukung kalian berdua selama itu baik."


"Alhamdulillah," kompaknya.


"Oh iya, kapan Dania akan pulang?" tanya Saidah.


"Hari ini, setelah Ibu memberiku ridhonya," jawab Dania tenang.


"Benar, Bu. Aku akan menemani dia sampai kota Jakarta," sambung Zaid.


"Baiklah, hati-hati di jalan. Karena jarak dari Bandung ke Jakarta itu jauh, jika sampai sana jangan lupa kabari ibu," ujar Saidah tersenyum.


"Insya Allah baik, Bu," sahut Zaid.


.


.


.


Perjalanan mengendarai kereta tujuan Bandung - Jakarta memakan waktu selama tiga jam akhirnya dua manusia itu telah tiba di stasiun Jakarta Kota yang katanya merupakan stasiun kelas besar tipe A pun keduanya jipaki setelah melewati perjalanan selama itu.


Kaki Dania kembali lagi menginjak kota kelahiran setelah kurang lebih dua bulan lamanya meninggalkan rumah yangbselalu Dania jadikan tempat untuk mencurahkan segalanya kepada dua orang tua yang berharga. Perasaan Dania begitu memilukan, kenapa tidak? Rasa senang, sedih, bahagia, takut, bahkan marah berubah menjadi satu perasaan yang sama.


Tatapannya begitu syahdu memandangi para penumpang kereta, Zaid yang melihat itu seketika paham betul apa yang dirasakan oleh wanita yang ditolongnya. "Dania, ayo," panggil Zaid.


Lamunan Dania terbuyar setelah alat penangkap suara mengambil suara Zaid. Tidak ada jawaban darinya, selain sudut bibirnya ditarik membentuk lengkungan dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Ayo kita keluar mencari kendaraan untuk sampai rumahmu, Dania."


Dania memgangguk sebagai jawaban dari sapaan Zaid.


Dua manusia mulai memasuki mobil bertuliskan taksi yang merupakan simbol kendaraan. "Pak ke tempat ...," kata Dania danmendapatkan anggukan dari sopir itu. Jalanan kota Jakarta yang penuh dengan kendaraan berlalu lalang, Dania duduk di bangku belakang sedangkan Zaid duduk bersebelahan dengan sopir. Pandangan Dania fokus mengarah benda-benda bermacam-macam roda yang terus bergerak sana sini kecuali mundur, kan kalau mundur nanti ketabrak yang ada di depannya.


'Aku harap ummah dan babah memaafkan aku,' batin Dania memejamkan mata.


Perjalanan yang mereka habiskan memakan waktu lebih dari enam puluh menit atau sekitar satu jam lebih. Sopir taksi berhenti di depan pagar besi berwarna hitam dan bangunan menjulang tinggi tampak di depan mata Zaid.


"Sudah sampai, Pak," kata Sopir taksi.


"Terima kasih, Pak Sopir. Dania, sudah sampai," ucap Zaid menoleh ke arah Dania.


Namun, saat netra Zaid menghadap Dania. Wanita itu tengah tertidur, wajah cantik Dania berblasteran itu membuat Zaid tak bisa berkedip. "Astagfirullah," desis Zaid.


"Dania," panggil Zaid menggoyang-goyangkan kaki yang ditekuknya.


Sang empu yang merasakan itu seketika membuka mata dan merengangkan tubuhnya supaya enak dirasa. "Oh, sudah sampai."


Zaid menggelengkan kepalanya. "Iya sudah sampai, ayo turun," kata Zaid sembari memberikan uang beberapa lembar berwarna merah kepada Sopir taksi. "Ini ongkosnya, Pak."


"Ini kebesaran, Pak," kata Sopir sungkan.


"Tidak apa-apa, buat Bapak saja sisanya," sahut Zaid tersenyum.


"Terima kasih, Pak. Semoga Allah membalas kebaikan, Bapak," kata Sopir dengan tulus.


Sementara, Dania menunggu Zaid membayar ongkos dan tak lama kemudian Zaid menyusul Dania yang tengah berdiri di depan rumah. Matahari saat itu mulai memasuki waktu terik karena matahari mulai berada di atas kepala. Zaid menyusul Dania setelah mobil yang mereka tumpangi meninggalkan dua manusia berbeda jenis.


"Kenapa diam saja?" panggil Zaid menyama ratakan jarak dengan Dania.


Dania kemudian menoleh dan tersenyum. "Terima kasih ongkosnya, nanti aku ganti," jawab Dania mengalihkan pembicaraan Zaid.


"Hemm, enggak usah," tutur Zaid.


Dania tak membuka kembali suara, badannya masih diam berdiri mematung. Entah kenapa perasaan Dania begitu karuan, sehingga membuat kakinya tertahan oleh makhluk tak kasat mta agar tidak kembali menginjak rumah yang penuh dengan kenangan haru. Lebih dari dua bulan lamanya Dania tak menginjak rumah kenangan itu, karena perasaan buruk dan akal yang menghantui Dania membuatnya sangt sulit untuk menerima kembali pada kenyataan.


"Jangan khawatir," ucap Zaid membuyarkan lamunan Dania.


Dania pun tersadar, ia hanya tersenyum sebagai jawaban itu. "Ayo, masuk," lirihnya.


Dania dan Zaid segera memasuki perkarangan rumah besar Prambudi, rumah bertingkat dua itu selalu ada penjaga. Tetapi, kali ini penjaga itu tidak ada. Dania berpikir mungkin Mang Yanto sedang melakukan tugas lainnya. Sehingga, Dania yang membuka kunci gerbangnya.


Ada dua mobil masing-masing berwarna putih, hanya beda merek. Dania memicingkan mata kala netranya terjatuh pada mobil yang tak asing. 'Pasti itu mobil kak Fahad,' batinnya.


"Kenapa?" tanya Zaid.


Dania menggeleng cepat. Langkah kakinya masih terasa berat untuk menginjak kembali lantar yang penuh kenangan, berjalan hingga berdiri di depan pintu bernuasa cokelat dengan gaya minimalis namun elegan. Tangan kanannya mulai terangkat untuk mengetuk pintu, tak lupa Dania menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


Dania mengetuk pintu itu hingga mengeluarkan bunyi khas, seperti biasa Dania selalu mengetuk pintu sebanyak tiga kali dan tak lama kemudian pintu pun terbuka lebar, sosok wanita berpakaian gamis berwarna baby blue dengan jilbab berwarna biru tua yang sepadan dengan pakaian yang dipakai. Wanita itu terlihat lebih muda dari dirinya, Dania yang melihat itu terasa asing bahkan ini adalah pertemuan pertamanya dengan wanita berjilbab biru itu.


"Maaf?" Sapa wanita itu.


Dania masih belum tersadar dengan sapaan dari wanita itu, netranya terkunci rapat kala matanya terus memandangi wanita cantik. Iya, wanita itu adalah Kinan Abhipraya istri dari Fahad Ibadillah Prambudi. Seorang wanita yang pertama kali Dania kenal, bahkan Dania belum mengetahui bahwa sang kakak telah menikah dan tentunya memiliki istri secantik dia.


"Apa benar ini adalah kediaman Prambudi?" Zaid mewakili sapaan dari Kinan, sebab dari tadi Dania masih memandangi wanita berblasteran itu.


"Benar, ada apa?" tanya Kinan to the point.


"Kamu siapa?" tanya Dania.


'Ini orang maen nanya, siapa sih?' batin Kinan. "Saya Kinan," jawab Kinan cepat.


"Saya ingin bertemu dengan keluarga besar Prambudi," tutur Zaid.


"Ah, boleh ... silahkan masuk," ramah Kinan kepada dua orang itu.


'Siapa dia?' batin Dania segera masuk kedalam rumah bersama dengan Zaid.


"Kakak boleh duduk dulu, saya akan panggilkan Ummah dan Babah," kata Kinan mempersilahkan dua manusia merehatkan badannya di ruang keluarga dan segera pergi sesuai dengan niatnya.


Selang beberapa menit kemudian, seorang lelaki bertubuh tegap datang menghampiri tamu yang menganggu aktivitas bermain gamenya. Pasalnya lelaki itu penasaran siapa yang datang, namun siapa sangka lelaki itu terkejut dengan kedatangan tamu yang ia rindukan. Seorang wanita yang selalu menjadikan dirinya mampu bertahan menghadapi rintangan, seorang wanita yang begitu sabar menghadapi segala bentuk perilaku kebandelan dirinya. Lelaki itu tak lain adalah Barakka.


"Kak Dania?"


Dania menatap Barakka dengan mata yang mulai berembun, mata tadinya bersih cerah kini berubah menjadi sendu penuh dengan air mata. Suara yang sudah lama Dania rindukan kini kembali lagi hadir mengisi gendang telinga. "Barakka."


"Dania?" Suara lemah itu datang setelah Dania mengucapkan nama Barakka.


"Ummah, Babah," kata Dania berdiri dengan lemah.


Terakhir Fahad datang dan terkejut dengan kehadiran wanita yang sudah menghilang selama lebih dari dua bulan. "Dek Dania?"


Dania pun tak lupa menatap kakak pertamanya. "Kak Fahad."


Sementara itu, Kinan tidak mengerti dengan suasana rumah yang tiba-tiba seperti kedatangan seseorang yang telah hilang bak ditelan bumi. Sedangkan Zaid ikut berdiri kala Dania berdiri dengan lemahnya, ia menatap sendu dan iba melihat sikap Dania seperti menahan rindu yang kini terobati dengan bertemu.


Dania masih diam memantung, langkah kakinya terasa berat untuk melangkah kedepan, Maryam, Hasan, Barakka, dan Fahad masih terkejut dengan kehadiran wanita penghibur lara bagi mereka, wanita yang selalu ceria seolah-olah tidak ada beban di pundaknya.


Greb!


Maryam berhambur memeluk Dania, putri semata wayangnya yang pamit akibat kejadian tak terduga. Maryam yang tadinya hanya bergeming tak bersuara saat melihat sang anak di depan mata seketika tumpah, isak tangis mengisi ruang keluarga penuh. Dania tak membalas pelukan itu, karena dirinya masih diselimuti rasa takut dan membiarkan sang ibu yang melepaskan semuanya. Sampai akhirnya, Dania menumpahkan segala beban yang ditanggungnya dalam dekapan sang ibu.


•••••○○○•••••


Terima kasih yang sudah membaca, semoga hari-harimu mu penuh kebaikan dan bahagia🤗🤗❤❤

__ADS_1


•••••○○○•••••


__ADS_2