My Soulmate

My Soulmate
APA KAU SUDAH GILA?


__ADS_3

Disebuah ruangan yang berciri khas bau obat itu Haikal yang tak lain adalah Haidar sedang menjalani pengobatannya. Dirinya ingin tahu masa lalu yang sudah terlewatkan olehnya lima tahun yang lalu. Dirinya selalu merasa bersalah dan menundukkan kepalanya saat mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat ia mencoba mencari kebenaran tentang dirinya. Saat itu pula Yetti menyakiti dirinya sendiri, hatinya perih melihat orang lain terluka karenanya dan sejak kejadian saat Haidar berjanji pada Yetti untuk tidak mencari siapa dia sebenarnya.


"Jika Tuan sudah berjanji pada Ibu Tuan lalu mengapa Tuan ingin mendapatkan ingatan Tuan kembali?" sebelum memulai hipnoterapinya dokter Endra ingin tahu alasan yang memperkuat untuk kesembuhan pasiennya itu.


"Beberapa waktu lalu saya tak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang bernama Kalycha dok. Gadis itu sangat terkejut ketika melihat saya tapi ketika seorang pria yang bersamanya menyebutkan namanya tiba-tiba saja kepala saya sakit dan saya jatuh pingsan dok. Saya merasa saya memiliki hubungan dengannya tapi saya juga tidak tahu hubungan yang seperti apa. Dia adalah putri tunggal dari keluarga Bramasta dan jika gadis itu adalah adik saya, rasanya tidak mungkin dok. Karena saya sudah mencari informasi kalau Tuan Pram hanya memiliki satu putri dan dua anak laki-laki yang baru berusia 5 tahun." jelas Haidar.


"Bisa saja dia istri anda Tuan–." ucap dokter Endra asal.


"Aah, rasanya tidak mungkin dok. Kalau benar dia istri saya, masa iya saya menikahi anak SMA dokter yang benar saja." Haidar menyangkal ucapan dokter Endra. Bila diingatnya kembali dari data yang didapatnya pastilah gadis itu masih berseragam putih abu-abu 5 tahun yang lalu. Dan rasanya tidaklah mungkin untuknya menikahi gadis SMA apalagi gadis itu adalah putri tunggal keluarga Bramasta orang terkaya no 5 di Asia.


"Oke, saya rasa sudah cukup saya mendengar penjelasan Tuan sebaiknya kita mulai saja pengobatannya." dokter Endra berdiri dari duduknya dan mengarahkan pada Haidar untuk duduk senyaman mungkin di sebuah kursi elektrik yang ada diruangan itu.


"Sebelum saya memulai pengobatannya saya akan jelaskan sedikit tentang cara pengobatan ini. Kita akan menggunakan terapi hipnosis dan saya meminta kepada Tuan untuk tidak berharap 100% kepada saya untuk kesembuhan Tuan karena saya bukanlah Tuhan yang bisa menjamin kesembuhan Tuan 100%."


"Lalu berapa persen yang bisa dokter pastikan untuk kesembuhan saya?" Haidar mulai ragu setelah mendengar ucapan dokter Endra.


"Hanya 1%." Haidar terkejut mendengar ucapan dokter Endra. "Karena saya tidak pernah memberi harapan palsu untuk pasien-pasien saya. Kebanyakan dari pasien saya yang sembuh itu karena tekad dari pasien itu sendiri. Saya hanya perantara saja untuk menolong mereka." selain dokter yang jenius dokter Endra juga terkenal sebagai dokter 1 % dirinya tidak pernah menjamin kehidupan seseorang. Tapi dia juga terkenal sebagai dokter yang pantang menyerah untuk kesembuhan pasien-pasiennya.


"Dari penjelasan yang Tuan ceritakan tadi sepertinya Tuan mengalami cedera kepala yang traumatik, yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan pada otak. Kerusakan itu juga bisa membuat kondisi pasien hilang ingatan permanen."


"Selain itu, kondisi gegar otak juga dapat mengganggu ingatan Tuan selama beberapa jam, hari, atau minggu sesudah anda mengalami kecelakaan itu." dokter Endra menyimpulkan penyakit yang diderita Haidar.


"Dokter benar dok, seminggu setelah kecelakaan itu saya pernah mengalami sakit kepala yang luar biasa bahkan orang tua saya sampai membawa saya ke dokter melakukan pemeriksaan MRI dan CT SCAN dok." Haidar mengingat kembali apa yang terjadi padanya sepulangnya dari rumah sakit pasca kecelakaan itu. Yetti sangat ketakutan akan kehilangan Haidar sehingga ia melakukan apa saja untuk kesembuhan Haidar.


"Silahkan duduk dengan senyaman mungkin." dokter Endra mulai memasang alat di kedua sisi kening Haidar. Alat tersebut merupakan alat untuk pemicu otak guna untuk membantu pasien mengingat kembali masa-masa yang hilang dari ingatannya.


Haidar duduk dengan setengah berbaring. Ruangan itu terasa sangat dingin. Aroma terapi dari bunga lavender membuat mereka yang menghirupnya merasa lebih nyaman dan tenang.


"Baiklah mari kita mulai. Sekarang silahkan pejamkan mata anda secara perlahan Tuan." Haidar mengikuti arahan dokter Endra lalu memejamkan matanya. "Buat tubuh anda se-rileks mungkin, lalu mulailah kosongkan pikiran anda. Jika anda sudah merasa nyaman dan pikiran anda telah kosong silahkan anggukan kepala anda dengan pelan." Haidar pun menganggukkan kepalanya. "Sekarang pusatkan pikiran anda ke memori 5 tahun yang lalu." Haidar mencoba membuka memorinya yang tersembunyi diotaknya.


"Apa yang anda rasakan Tuan?"


"Saya merasa tenang dan nyaman sekali dok."


Dokter Endra dan juga Dimas melihat senyum sumringah diwajah Haidar, senyum yang tak pernah Dimas lihat sebelumnya.


"Sekarang coba anda ingat anda sedang berada dimana?"


"Aneh dok, sekarang saya berada disekolah SMA, banyak gadis-gadis SMA yang kagum kepada ketampanan saya." KePDannya tentang ketampanannya ternyata membuatnya lebih narsis.


"Ternyata itu yang membuat anda tersenyum seperti itu Tuan. Lucu sekali." Batin Dimas.


"Apa yang anda lakukan disana?" dokter Endra kembali bertanya.


"Sepertinya saya sedang menunggu seseorang dok." sahut Haidar.


"Apa pekerjaanku sebelumnya adalah supir?" Batin Haidar.


"Terus apa lagi yang anda lihat?"


"Gadis itu menghampiri saya dok."


"Gadis yang mana?"


"Tentu saja gadis yang tak sengaja menabrak saya direstoran."


"Apakah gadis itu berbicara dengan anda?"


"Iya dok, dia meminta saya untuk memanggil namanya Icha tapi saya menolak karena saya memanggilnya Nona muda dok, dan itu membuatnya marah. Mungkin pekerjaan saya sebelumnya adalah supir dok." Haidar mengingat sepenggal memorinya saat Pram memintanya untuk menjemput Kalycha ke sekolah setelah insiden yang terjadi di Jerman.

__ADS_1


"Dia memanggilmu supir?"


"Tidak dok, dia meminta saya memanggilnya dengan namanya karena saya terus memanggilnya dengan sebutan nona. Dia marah dan memanggil saya Om Hai."


"Jika gadis itu memanggil anda Om Hai, mungkin benar nama anda Haikal Tuan."


"Entahlah dok." Haidar mulai lemah terdengar dari jawabannya yang pasrah.


"Sekarang coba anda ingat rumah orangtua anda Tuan."


Haidar pun mencoba mengingat rumah orangtuanya. Tiba-tiba airmatanya menetes. "Ibu–, Ibu." Haidar terus saja memanggil nama Ibu.


"Apa yang anda lihat Tuan?" dokter Endra mulai khawatir dengan kondisi Haidar yang mulai menangis.


"Aku memeluk Ibu dari belakang, Ibuku tersenyum senang dok."


"Lalu mengapa anda menangis Tuan?"


"Aku merindukannya dok–."


"Apa wanita yang anda panggil Ibu itu adalah Nyonya Yetti?"


"Tidak dok, dia wanita yang berbeda. Senyumannya begitu tulus tapi seperti ada kekhawatiran dimatanya meskipun ia tersenyum dok." Haidar kembali meneteskan airmatanya.


"Apa anda ingat nama wanita itu?"


"Ha-Halimah, saya baru saya mendapat pukulan dari Ayah saya dok, dia marah dan cemburu karena saya sudah memeluk istrinya."


"Terus apalagi yang anda lihat."


"Gadis itu ada disana dok." sahut Haidar dengan suara yang bergetar.


"Aaauuu, kepala saya sakit dok." Haidar merasakan sakit kepala saat mencoba mengingat kenapa Kalycha bisa ada dirumahnya.


"Apa anda baik-baik saja Tuan? Apa harus kita hentikan sekarang?" dokter Endra memegang bahu Haidar.


"Tidak dok saya akan mencoba mengingatnya kembali." Haidar kembali memaksa ingatannya tapi kepalanya kembali merasakan sakit yang luar biasa.


"Aauuu... Aaa... Sakit." teriak Haidar sambil memegangi kepalanya yang sakit.


"Tuan-tuan, buka mata anda sekarang. Tuan–." teriak dokter Endra sambil mengguncang-guncang bahu Haidar. Haidar pun membuka matanya kembali. Lalu menghembuskan nafasnya kasar.


"Tarik nafas tuan lalu buang perlahan. Tarik nafas, buang–." dokter Endar menenangkan Haidar yang sempat shock saat mencoba mengingat Kalycha.


"Bagaimana perasaan anda Tuan?" Dimas menghampiri Haidar dirinya sangat khawatir saat melihat Haidar kesakitan.


"Aku baik-baik saja Dim." Setelah membuka matanya, sakit kepala yang dialaminya tadi berkurang secara perlahan.


"Mari kita coba lagi dok." Haidar meminta dokter Endra untuk melakukan hipnosis sekali lagi.


"Maaf Tuan, sebaiknya Tuan kembali 2 hari lagi, tidak baik untuk kesehatan otak anda bila harus dipaksakan."


"Sebaiknya anda ikuti saran dari dokter Endra Tuan." ucap Dimas.


*


*


*

__ADS_1


*


*


*


Keesokan harinya


Kalycha mendatangi sebuah gedung yang menjulang tinggi ke angkasa itu. Rasa penasarannya tentang pria yang mirip suaminya itu membuatnya nekad mendatangi kantor milik Haikal alias Haidar.


"Boleh saya bertemu dengan Tuan Haikal?" Kalycha bertanya pada seorang resepsionis cantik yang menyambut kedatangannya itu.


"Maaf, dengan Nona siapa? Dan ada keperluan apa Nona ingin bertemu Tuan Haikal? Apa nona sudah membuat janji sebelumnya?" tanya wanita itu ramah dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.


"Saya Kalycha, saya memang belum membuat janji dengan beliau apa saya bisa bertemu dengannya?"


"Maaf Nona tidak bisa, jika nona belum buat janji, maaf nona sebaiknya anda mengatur janji dulu dengan Tuan Haikal." tutur wanita itu masih dengan senyum ramah dibibirnya.


Dan disaat yang bersamaan beberapa orang pria keluar dari lift, mata Kalycha langsung tertuju pada pria yang baru saja keluar dari lift itu berjalan kearah lobi.


"Tuan Haikal–." teriak Kalycha dan seketika menghentikan langkah Haikal, Dimas dan beberapa pria lainnya.


"Buat apa gadis itu disini?" Batin Haidar.


Haidar menundukkan kepalanya mempersilahkan beberapa orang pria yang bersamanya itu pergi lebih dulu.


"Nona, anda tidak boleh berteriak seenaknya disini." ucap resepsionis itu sambil menekan suaranya ditelinga Kalycha. Lalu memegangi tangan Kalycha yang ingin mendekat kearah Haidar.


Haidar yang terkejut dengan teriakan Kalycha pun datang mendekatinya.


"Maaf Tuan, Nona ini memaksa ingin bertemu dengan Tuan." Resepsionis cantik itu pun menundukkan kepalanya menaruh rasa hormat kepada pimpinan perusahaan tempatnya bekerja.


"Tidak apa, kamu kembalilah bekerja." perintahnya kepada resepsionis itu.


"Ada yang bisa saya bantu Nona? Dan kalau boleh saya bertanya, anda tahu nama saya dari mana?" dengan ekspresinya yang dingin ia menatap Kalycha yang berdiri tepat didepannya.


"Anda itu sangat terkenal Tuan, kalau tuan menanyakan dari mana saya tahu nama Tuan itu sangat mudah dimajalah-majalah banyak." ucap Kalycha asal dan membuat Haidar tersenyum sinis.


Begitu juga dengan Dimas memegang perutnya dan menutup mulutnya menahan rasa ingin tertawa.


"Lalu apa yang bisa saya bantu?" tanya Haidar lagi.


"Boleh kita bicara ditempat yang lebih nyaman?" usul Kalycha.


"Saya orang yang sangat sibuk nona dan waktu saya itu sangat berharga." Haidar sengaja ingin menggoda Kalycha sebenarnya dirinya sudah tidak ada jadwal lagi. Saat itu dia ingin makan siang bersama Dimas setelah selesai rapat dengan beberapa klien dari perusahaan lain.


"Saya akan bayar waktu anda yang terbuang setiap menitnya." ucap Kalycha karena mulai kesal melihat sikap Haidar yang cuek.


"Menarik, gadis ini sangat menarik."


"Berapa anda sanggup membayar waktu saya?" Haidar semakin ingin mempermainkan wanita yang berdiri di depannya itu.


"Berapa yang anda minta?" tantang Kalycha dengan sombong.


"10 juta per menit, Bagaimana? Deal?" sahut Haidar dengan seringai liciknya sambil mengulurkan tangannya.


"APA KAU SUDAH GILA" Bentak Kalycha menepis tangan Haidar dan semua orang yang berada didekat mereka pun melihat kearah mereka tak terkecuali Dimas yang sudah senyum-senyum saat tahu Haikal mengerjainya.


Author mau banget kalau dibayar 10jt/Menit 😍😍

__ADS_1


Like nd Coment ya gaes 😍


__ADS_2