My Soulmate

My Soulmate
Dejavu


__ADS_3

Kalycha menatap tajam pada pria yang berdiri didepannya. Permintaan konyol yang pernah dia dengar dari pria yang mirip dengan suaminya itu membuatnya sangat kesal. Bagaimana bisa pria itu meminta bayaran padanya 10 juta /menit hanya untuk bicara sebentar saja.


"Dia ini manusia bukan sih? Kok tega banget menindas rakyat kecil. Hah, salah gue bukan rakyat kecil tapi 10 juta permenit? Itu sama aja kayak rentenir. Dosen saja 1 jam berdiri mengajar dikampus belum tentu bayarannya segitu. Haduuh, gimana ya? Kerja aja belum ada setahun, 1 menit itu sama aja dengan gajiku sebulan. Ga mungkin kan bongkar tabungan dari Daddy?"


Haidar tersenyum dalam hati melihat tingkah Kalycha yang tampak berpikir sambil menggerakkan jari-jarinya seperti menghitung berapa lama dia akan bicara dengan Haidar, dan berapa yang akan dibayarnya.


"Turunin dikit ya." pinta Kalycha sambil mendekatkan ibu jari dan telunjuknya.


"Berapa?" tanya Haidar dengan seringai liciknya.


"1juta permenit. Deal?" Kali ini Kalycha yang mengulurkan tangannya meminta kesepakatan diantara mereka.


"5 juta permenit." Haidar menyambut tangan Kalycha.


"Apa? 5juta?" Kalycha terkejut karena pria itu menyambut tangannya dengan kesepakatan harga yang ditentukannya sendiri.


"Kenapa? Terlalu murah ya? Atau mau 8 juta permenit?"


"Gila ya nih orang, ya udah deh. Mau gimana lagi. Ikutin aja maunya dia. Bandar rugi dikit ga apalah."


"Oke-oke, 5 juta permenit." Kalycha menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran.


"Tempatnya saya yang tentukan. Kamu ikut saya." Haidar menarik tangan Kalycha tanpa melihat kearah Kalycha yang kesal dengannya.


"Eeehhh tunggu dulu, kenapa langsung main tarik-tarik saja? Aku kan belum setuju naik mobil kamu." Kalycha melepaskan tangannya dari genggaman Haidar. "Aku bawa mobil sendiri, aku akan ikuti kamu dari belakang."


"Kamu ikut aku atau perjanjian kita batal." Haidar memainkan alisnya.


"Iiiih nyebelin banget sih?"


Haidar membuka pintu untuk Kalycha, mau tidak mau Kalycha pun mengikuti kemauan pria itu.


Sepanjang dalam perjalanan Kalycha memilih untuk diam, karena ia takut kalau dirinya bicara maka pria itu akan start menghitung berapa lama pembicaraan mereka berlangsung.


"Kamu sudah makan?" tanya Haidar sambil melirik kearah Kalycha tapi Haidar merasa heran melihat Kalycha justru malah merapatkan bibirnya.


"Kenapa ga jawab?"


Sebenarnya ingin sekali Kalycha bertanya tentang pria yang sedang menatapnya itu. Tapi ia masih menahan diri untuk tidak bertanya.


"Kalau aku jawab kamu ga start dari sekarang kan bayarannya?" Haidar tertawa mendengar jawaban dari Kalycha, dia merasa sangat lucu dengan ekspresi gadis yang bersamanya itu.

__ADS_1


"Enggak, waktu start nya nanti kamu yang tentukan." Dilihatnya Kalycha merasa lega setelah mendengar jawabannya.


"Belum, aku belum sempat makan siang. Tadi dari rumah aku langsung ke kantor kamu. Karena siang ini aku shif jaga siang." Kalycha langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Duh, ngapain juga aku bilang ke dia kalau aku shif jaga siang ya? Dasar punya mulut ga bisa di rem." Kalycha merutuki dirinya sendiri. Haidar semakin merasa tertarik ingin mengenal gadis yang duduk disampingnya itu.


"Cewek ini lucu banget, siapa dia sebenarnya? Apa hubunganku dengannya? Kenapa setiap bersamanya hatiku selalu berdebar begini? Dan kenapa aku merasa senang kalau bersamanya?"


"Kamu kerja dimana?" Haidar pura-pura tidak tahu tentang pekerjaan Kalycha padahal dirinya sudah tahu kalau Kalycha itu seorang dokter.


"Di PT, sebagai buruh harian lepas." jawab Kalycha berbohong.


Haidar hanya tersenyum mendengar jawaban dari Kalycha.


"Kenapa dia harus berbohong?" Batin Haidar. Tapi tidak ingin bertanya kenapa gadis itu harus berbohong padanya.


Tak berselang lama Haidar memarkirkan mobilnya setelah sampai direstoran favoritnya.


"Restoran padang? Kenapa dia memilih restoran ini ya? Benarkah pria ini adalah Mas Hai? " Kalycha merasa heran kenapa pria itu juga memiliki restoran favorit yang sama dengan suaminya. Karena dulu Kalycha juga pernah dibawa Haidar ke restoran itu.


Airmata Kalycha menetes sangat teringat dengan Haidar suaminya. Dengan cepat ia menghapusnya sebelum pria itu menyadari kalau dia menangis.


Kalycha mengikuti Haidar turun dari mobil dan memilih duduk berhadapan dengannya. Sebelumnya Haidar sudah menarik kursi untuknya tapi Kalycha langsung menarik kursinya sendri dan langsung duduk dihadapannya.


"Silahkan pilih mau makan apa?" Haidar memberikan buku menu yang diberikan pelayan restoran itu kepada Kalycha.


"Terimakasih, tapi aku minum saja." Tanpa melihat buku menu itu Kalycha mengembalikannya pada pelayan yang berdiri disampingnya itu.


"Kenapa? Tadi bilangnya belum makan?"


"Aku ga suka makan makanan berlemak."


"Aku ga suka makan makanan berlemak." kata-kata itu terngiang ditelinga Haidar sepertinya itu bukan pertama kali dirinya mendengar kalimat itu.


"Kenapa? apa kamu takut gendut?" tanya Haidar sambil menahan sakit kepalanya. Lalu menyerahkan buku menu restoran itu setelah pelayan itu menulis semua pesanannya.


"Ga juga, tapi memang dari dulu aku ga suka aja makanan berlemak." Haidar hanya menganggukkan kepalanya.


"Ga akan gendut kalau cuma sekali makan Nona." sahut Haidar.


"Ga akan gendut kalau cuma sekali makan Nona." Kalycha teringat kembali saat pertama kali Haidar membawanya ke rumah makan padang saat itu Haidar mengucapkan kata-kata itu saat Kalycha menolak untuk makan makanan yang katanya berlemak itu.

__ADS_1


Sebenarnya setelah Haidar meninggal, Kalycha pernah mencoba setiap menu yang pernah dipesan suaminya itu. Hanya satu masakan yang paling dia suka dari sekian makanan yang pernah dimakan Haidar. Kalycha menyukai Rendang daging sapi. Dan itupun dicobanya direstoran tempat mereka makan saat ini. Kalau Kalycha lagi pengen makan rendang dia langsung meminta mertuanya untuk memasakkannya.


Meskipun Haidar sudah tiada tapi hubungan Kalycha dengan mertuanya itu tidak pernah putus. Kalycha sudah seperti putri bungsu dikeluarga mendiang suaminya itu.


Tak berselang lama pelayan itu pun datang membawa makanan pesanan Haidar. Kalycha terkejut saat melihat menu yang dipesan pria itu semuanya adalah makanan favorit suaminya.


"Apa aku sudah boleh bertanya Mas Hai?" tanya Kalycha keceplosan dengan memanggil pria itu dengan sebutan yang biasa digunakannya saat memanggil suaminya. Dan diwaktu yang bersamaan Pria itu menatapnya dengan tajam. "Emm maksudku Tuan?" Kalycha membenarkan ucapannya.


"Mas Hai, Mas Hai. Mas Hai–." Panggilan itu kembali terdengar familiar ditelinganya. Dengungan keras ditelinganya membuat kepalanya sakit, tapi Haidar mencoba untuk tidak menunjukkan rasa sakitnya.


"Panggil namaku saja Haikal." Dan siapa itu Mas Hai?" Haidar penasaran dengan panggilan yang baru didengarnya itu. Sambil mempersilahkan Kalycha untuk mulai menghitung lamanya pembicaraan mereka.


Kalycha mengambil ponselnya dan menekan tombol stop watch dari menu di ponselnya itu.


"Lucu sekali dia benar-benar menghitungnya."


"Oke kita mulai." Kalycha melipat tangannya dan meletakkannya diatas meja. "Hai-Haikal–." Kalycha terdiam saat mata mereka saling beradu. Kerinduannya pada Haidar membuatnya kehabisan kata-kata.


"Aku harus mulai dari mana ya? Kok aku jadi bingung sendiri? "


"Hei Nona, kenapa diam saja? Itu waktunya berjalan terus loh." Haidar menunjuk ponsel Kalycha dengan stop watch yang terus saja berjalan sambil menikmati hidangan yang ada didepannya itu.


"Siapa sebenarnya pria ini? Dari suara, cara makannya bahkan dari pandangannya semuanya mirip mas Haidar." Kalycha masih terdiam, cairan bening itu mulai tergenang disudut matanya.


"Maaf, aku-aku–." tiba-tiba saja dada Kalycha terasa sesak, sulit baginya untuk bertanya pada pria yang menatapnya dengan intens itu.


Haidar menghentikan makan siangnya, diletakkannya sendok dan garpu yang ditangannya diatas piringnya. Kemudian ditariknya tangan Kalycha untuk keluar dari restoran itu setelah meninggalkan beberapa lembar uang pecahan 100 ribu diatas meja tempat mereka duduk.


Kalycha yang tangannya ditarik hanya diam saja, dirinya mengikuti pria itu masuk ke mobilnya. Saat berada didalam mobil tangis Kalycha pecah. Haidar bingung melihat kenapa Kalycha tiba-tiba menangis. Ia ingin bertanya tapi diurungkannya.


Tanpa Haidar sadari ia melajukan mobilnya kedaerah Jakarta Utara ke hutan dimana dulu ia pernah membawa Kalycha kesana. Setelah sampai di hutan itu, Haidar kembali merasakan bahwa tempat itu tak asing baginya.


"Kenapa aku merasa aku pernah mengunjungi tempat ini? Padahal untuk pertama kalinya aku berada disini, kenapa aku merasa sudah akrab atau sudah familiar dengan tempat ini? Pemandangannya, posisi ku berdiri saat ini, bahkan aku disini bersama wanita itu semua terasa familiar. Aku seperti merasakan Dejavu." Haidar merasa takjub dengan tempat itu, lupa kalau saat itu Kalycha masih berada didalam mobil.


Kalycha turun dari mobil, dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat pemandangan disekitarnya. Dilihatnya Haidar sedang berdiri menatap kearah hutan itu.


"SIAPA KAU SEBENARNYA?" teriakan Kalycha mengejutkan Haidar, membuatnya langsung menoleh kearah Kalycha yang kembali Histeris dan menangis.


Sudah Up jangan Lupa Like dan Vote ya 🙏


Ini Monday sudah waktunya Vote 😍

__ADS_1


Terimakasih buat dukungannya, kalau banyak yang Vote, nanti Author double Up 🤗


__ADS_2