
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela dengan malu-malu, memberikan isyarat pada seorang wanita tengah tidur beralaskan sejadah dengan tubuhnya ditutup dengan balutan mukena. Semalaman dirinya bangun, lalu melaksanakan sembahyang dan berdoa kepada Pencipta langit dan bumi. Bibirnya terus bergetar saat berdoa, diiringi isak tangis seakan meminta petunjuk, ketenangan, dan kedamaian untuk dirinya yang siap melangkah membuka lembaran baru.
"Hafsah, bangunlah. Sebentar lagi ikatan akadmu akan dilaksanakan," ucap Fatimah dengan suara khasnya seorang ibu. Tangannya mengelus pundak Hafsah dengan penuh ketenangan, darah mengalir seakan membawa langkah untuk Hafsah yang siap melepaskan status.
Hafsah yang merasa di pundaknya ada pergerakan, ia segera bangun dari tidur malamnya. Matanya membengkak akibat menangis, belum lagi dengan ucapan Alsaki semalaman yang membuatnya bimbang dengan semua jalan takdir. Bibir yang tadinya tertutup, kini Hafsah memaksakan untuk tersenyum mencoba melupakan semu masa itu dan menerima atas apa yang terjadi termasuk anak yang dikandung oleh Hafsah itu sendiri.
"Nak, MUA sudah datang. Bersiaplah, caranya akan berlangsung pukul 9 pagi dan sekarang kita ounya waktu 2 jam lagi," jelas Fatimah tiba-tiba memeluk Hafsah.
Hafsah yang dirinya dalam dekapan sang ibu hanya diam tidak bergeming, bibirnya kaku untuk mengatakan sepatah kata bahkan tenggorokannya pun enggan mengeluarkan suara seolah-olah ada yang mencekal dan menahannya. Ia hanya membiarkan wajahnya menunduk dalam dekapan sang ibu, tangannya diam tak membalas, membiarkan jiwa kerapuhannya yang menerima itu.
"Maafkan ibu, ibu gagal menjaga anak ibu. Jadi, ibu serahkan jalan yang akan kamu tempuh kepada-Nya lewat seorang lelaki yang sebentar lagi akan melepaskan status menjadi suamimu. Beliau sudah menerima apa yang terjadindengan hati yang lapang, jadi kamu harus menerimanya dan memaafkannya meski itu sulit," bisik Fatimah sembari tangannya mengelus punggung Hafsah yang bergetar seolah-olah tahu bahwa anaknya sedang menangis.
"Berhentilah menangis, terimalah dengan hati yang lapang, Nak. Ibu, yakin Allah akan memberikan yang terbaik untukmu dan Alsaki," sambungnya sembari mengurai pelukan dan tersenyum kala matanya menatap wajah cantik Hafsah.
Hafsah mengangguk lemah dan terpaksa membalas senyuman sang ibu, netranya bertemu dengan netra sang ibu. Saling melempar pandang, seolah-olah pandangan itu seakan meminta doa dari seorang wali Allah yang agung. "Terima kasih, Ibu."
••••••••••••••••••••••••
Sementara itu di ruang utama, satu persatu keluarga hadir turut menjadi saksi dan menyaksikan ucapan akad putri dari Budi adik kandung Hasan Prambudi dengan putra dari Ibha Abhipraya untuk melepaskan statusnya menjadi seutuhnya. Menyempurnakan kekurangan pada setiap diri dua insan yang tinggal menghitung beberapa menit lagi.
Alsaki bercermin, dirinya sangat gagah mengenakan kemeja pengantin berwarna putih dipandukan dengan jas warna hitam tak lupa dengan dasi indahnya. Rizki yang melihat itu tersenyum dan menghampiri Alsaki untuk memasangkan peci, setelah itu menepuk bahu Alsaki yang sebentar lagi akan menjadi adik ipar.
"Aku harap kamu bisa membahagiakan Hafsah, menarik kembali keceriaannya. Bahkan aku juga berharap, kamu bisa menerima Hafsah tanpa harus memandang masa itu termasuk anak yang dikandung olehnya. Jadikan anak itu sebagai anakmu, anggaplah itu anakmu." Alsaki yang mendengar penuturan itu hanya menunduk sebagai jawaban kemudian kembali lagi tersenyum.
"Aku tidak bisa berjanji, Kak. Tapi, aku akan membuktikan bahwa Hafsah akan kembali lagi seperti sedia kala. Juga katamu tentang anak itu, jangan khawatir aku akan menjaga, mendidik, dan memberikan kasih sayang seperti seorang ayah perhatian kepada anaknya." Mendengar itu Rizki tersenyum dan mengangguk senang, entah kenapa ucapan Alsaki itu mengandung ketulusan yang begitu tinggi dan indah.
"Ayo, para tamu sudah siap!" teriak Fahad setelah melihat dua pria puas melontarkan kata demi kata, Fahad yang mendengar itu hanya tersenyum dan pura-pura tidak mendengar apapun.
Detik demi detik terus berjalan tanpa memandang apa yang terjadi di sekitarnya, setiap jam terus berdetok tiada hentinya seolah-olah tak peduli dengan kegiatan manusia yang berharap waktu bisa berhenti meski hanya satu sekon saja. Para tamu yang jumlahnya sekitar kurang dari empat puluh itu hadir menyaksikan ikatan sakral Alsaki dan Hafsah. Bahkan paman dari Fahad yang tak lain adalah Ibrahim juga turut hadir menyaksikan pernikahan keponakannya.
__ADS_1
Penghulu yang bertugas sebagai hakim sudah duduk manis di bangku pelaminan, sedangkan Alsaki sedang duduk di antara dua orang tua. Lantunan Al-Qur'an dari Fahad mengema mengisi ruangan sebagai tanda penghormatan supaya pernikahannya penuh dengan keberkahan. Setelah selesai, penghulu pun berkata, "apakah mempelai sudah siap? Jika iya, silahkan kedepan."
Alsaki segera bangkit dari duduknya menuju meja yang akan menjadi saksi atas ucapan janji suci, bahkan ayah dari Hafsah yang tak lain adalah Budi pun ikut berdiri dan mendudukan pantatnya dengan tubuh yang saling berhadapan dengan saksi yang tak lain adalah Hasan dan paman dari Alsaki.
Suasana yang tadinya diisi dengan suara orang kini berubah menjadi hening saat lima orang duduk di bangku akad telah siap di sana. "Bagaimana sudah siap?" tanya Penghulu menatap Alsaki.
Alsaki mengangguk dengan ekspresi tegang bahkan jantungnya berdegup kencang. "Insya Allah, siap."
"Baiklah kita mulai," kata Penghulu. "Pak Budi tolong siapkan," sambungnya.
Budi menarik nafas panjang, tangannya mengenggam erat seperti salaman dengan Alsaki. Hatinya terasa sangat sakit untuk melepaskan putri bungsunya kepada yang akan bertanggung jawab atasnya, satu demi satu kata terlontar dari mulut Budi. Ucapan akad berbahasa arab sesuai dengan ajarannya, pun ia lontarkan meski jiwanya terasa terhimpit karena harus siap melepaskan putri bungsunya.
"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Hafsah Azzahra alal mahri milyunu rubiyyata hallan."
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahri milyunu rubiyyata hallan." Satu hembusan nafas Alsaki melontarkan kalimat ijab kabul dengan lancar tanpa ada penghambat.
"Bagaimana para saksi?" tanya Penghulu sembari melirik dua saksi.
"Sah!"
"Sah!"
Tes!
Cairan bening luluh dari pelupuk mata indah, saat mendengar kalimat tiga huruf dalam satu kata yang berjuta makna dan doa terdengar hingga lantai atas. Iya, sekarang Hafsah telah berubah status meski hatinya bimbang dengan semuanya. Rasa sedih, senang, binggung, haru, bahagia, marah, kecewa, dan segala emosi alami manusia tertanam indah di benak dan hati Hafsah. Tangis air mata itu seketika turun dan membasahi wajah make up yang terlihat sangat natural namun elegan dan cantik.
Kania yang ditugaskan menemani Hafsah di kamarnya seketika bibirnya bungkam, tidak ada kata yang ingin di sampaikan kecuali doa dan harapan yang tulus. 'Bahagia selalu Kakak,' batin Kinan dan menghampiri Hafsah.
'Ya Allah ...,' jerit Hafsah dalam hati.
__ADS_1
"Kak, sepertinya ucapan akad telah selesai dilontarkan oleh kak Alsaki. Jadi, ayo kita turun ke sana," ucap Kinan menepuk bahu Hafsah.
"Baiklah," terima Hafsah dan bangkit dari duduknya dengan tangannya mengenggam erat tangan Kinan.
"Tolong jangan bersedih, ini adalah hari bahagia," tutur Kinan dan tersenyum.
Hafsah segera keluar dari kamarnya bersama Kinan, dua wanita cantik dengan balutan gamis yang indah menghipnotis para tamu undangan yang hadir. Hafsah mengenakan gaun pengantin seperti gamis berwarna putih, sedangkan Kinan mengenakan gamis berwarna pink soft dengan kerudung yang senada. Make up natural menghiasi wajah cantik keduanya, Fahad yang melihat istrinya datang bersama Hafsah membuatnya tak bisa berkedip bahkan ingin sekali rasanya menerkam Kinan. Sementara Alsaki yang melihat kedatangan Hafsah hanya tersenyum seolah-olah memberi isyarat bkepada Hafsah bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Setelah diantarkan ke meja akad, dua insan segera melakukan kegiatan seperti biasa. Menyalimi tangan Alsaki, dan menvi*um kening Hafsah, semuanya dilakukan oleh pengantin itu sesuai dengan urutan upacara pernikahan. Meskipun keduanya menikah secara mendadak, tidak ada halangan baginya untuk mengikat janji suci selama meniatkan pernikahan untuk mengapai ridhonya Allah tanpa harus melibatkan masa kelam.
Satu persatu tamu undangan menyalimi kedua mempelai, hingga memberikan ucapan selamat atas pernikahan dua insan yang baru saja terikat dalam ikatan suci. Tidak ada yang tahu alasan keduanya menikah, hal itu membuat Alsaki semakin cerdas untuk memberikan berbagai macam pertanyaan atas pernikahannya dengan Hafsah yakni enggak mau nambah saldo dosa, sudah berkurang eh nambah lagi.
Kurang lebih tiga jam lamanya, kedua insan menghabiskan waktunya hanya untuk menyalimi para hadirin dan menerima ucapan mereka, akhirnya satu demi satu para tamu undangan mulai meninggalkan kediaman Budi. Sehingga yang tersisa hanyalah keluarga Abhipraya dan Prambudi.
"Pantesan kamu pengen dirias di kamar Hafsah, rupanya takut dipuji oleh aku yah?" tanya Fahad berbisik.
"Enggak juga!" jawab Kinan mengangkat bahunya acuh.
"Masa sih?" tanya balik Fahad.
"Sudah ah, kita ke sana yuk kasih ucapan," ajak Kinan menarik lengan Fahad dan Fahad hanya menurutinya saja. Toh, pernikahan keduanya selalu tampak kompak dan harmonis, karena keduanya selalu terbuka dalam urusan komunikasi.
"Selamat Kak atas pernikahannya," ucap Kinan dan memeluk Hafsah. Hafsah menerima pelukan itu dengan sangat tulus.
"Selamat atas pernikahannya, harusnya ucapan ini dilontarkan pas sebelum akad," kata Fahad kepada Alsaki. "Dan satu lagi, selamat atas gelaran suami setelah jones selama beberapa tahun!"
"Loe ngeledek gue?" tanya Alsaki dingin.
"Anggap saja seperti itu," jawab Fahad santai.
__ADS_1
Para keluarga yang melihat interaksi emoat insan itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Seolah-olah pikirannya berkata bahwa jodoh itu begitu unik, bahkan menemukannya saja sangat unik apalagi takdirnya.