
Usai mengantarkan Fahad hingga pintu utama dan memandangi mobil yang ditumpangi oleh suaminya itu menghilang dari pendangan. Kinan kembali lagi masuk kedalam dengan perasaan yang penuh dengan kegelisahan dan gundah. Bahkan jantung yang bertugas menompa darah seketika berhenti dengan tepat, dengan cepatnya Kinan menggelengkan kepala dan melupakan perasaan buruk itu. "Semoga saja tidak ada apa-apa."
Kinan lebih memilih membantu Bi Ijah yang sibuk di luar rumah, di mana tempat itu khusus untuk menjemur pakaian. Sesampainya di sana, Bi Ijah masih ada bahkan sedang sibuk mengeringkan pakaian. Pakaian yang bertumpuk dan sudah kering tinggal di setrika membuat Kinan terjun ke dunia perkewajiban seorang istri.
"Bi, aku ikut bantu yah," kata Kinan.
"Aduh, Neng! Enggak usah padahal," tolak Bi Ijah halus.
"Tidak ada penolakan. Intinya aku ikut bantu saja biar cepat selesai," tegas Kinan dan menarikan tangan-tangannya. Kabel setrika pun Kinan nyalakan dan mulai melancarkan aksi menyetrika pakaian dirinya dan Fahad.
Bi Ijah hanya menggeleng-geleng melihat tingkan nyonya rumahnya. Entah kenapa, Bi Ijah merasaka sebuah firasat buruk, sehingga membuat Bi Ijah menepiskan pikiran itu sebab tidak baik terus menerus berpikiran buruk. 'Semoga saja tidak terjadi apa-apa.'
Dua wanita itu seketika disibukkan dengan berbagai macam pakaian yang banyak, Bi Ijah fokus dengan tugasnya yakni menjemur pakaian setelah dikeringkan di mesin cuci dan Kinan sibuk menyetrika pakaian yang sudah kering.
•••••••••••••••••••••••••••
Sementara itu, Fahad yang sudah sampai tujuan utama yakni sekolah. Ia segera memarkirkan mobil pribadinya, tak lupa Fahad menyapa yang ada di sekolah. Melirik arjoli waktu menunjukan pukul 09.15 pagi yang pertanda 45 menit lagi waktu istirahat tiba. Fahad sengaja datang sedikit terlambat karena badannya terasa lelah, sehingga dirinya meminta izin kepada guru yang piket bahwa dirinya akan terlambat dan mendapatkan balasan diterima.
Suasana sekolah itu sepi bahkan kantor yang selalu disibukan oleh berbagai macam guru dengan bidangnya, sekarang sudah sepi karena semuanya mengajar hanya satu guru yang sedang sibuk bermain dengan gawai. Fahad yang melihat siapa orang itu hanya menampilkan muka dingin, dan segera pergi ke ruangannya.
"Eh, Fahad sudah tiba?" tanya Marsha saat mendengar suara langkah kaki Fahad.
Fahad tak menjawab pertanyaan itu, meskipun harus bersikap profesional jika berdua Fahad harus mementingkan dirinya ketimbang sikap profesional sebagaimana ikrar yang diucapkan semenjak lulus dari kuliahnya. Fahad sudah tahu betul sikap Marsha, seorang wanita dengan wajah sedikit menor itu jarang sekali memasuki ruang kelasnya dan selalu menyerahkan tugasnya kepada ketua kelas yang akan dipelajari olehnya. Bahkan, Marsha selalu enggan diberi kritik perihal sikapnya karena selalu sibuk dengan gawainya bahkan dunianya sendiri.
Ketika, Marsha mengajar di kelas yang sesuai dengan mata pelajaran. Marsha tidak pernah menjelaskan materi yang akan dibahas, bahkan tidak pernah mendengarkan muridnya ketika murid sedang bertanya perihal pelajaran. Meskipun begitu, dulunya Marsha adalah seorang siswa yang sangat pandai tapi sekarang seiring berjalannya waktu semuanya berubah drastis.
Karena tidak ada jawaban balik dari Fahad, Marsha akhirnya memilih menghampiri Fahad yang sudah masuk kedalam ruangannya. Dibukakan pintunya tanpa mengucapkan kata permisi, terlihatlah Fahad tengah membaca buku pelajaran seolah-olah tahu apa yang dilakukan oleh Fahad, sebelum pembelajaran dirinya berlangsung Fahad lebih memilih menghabiskan setiap detik yang terlewat dengan cara memahami materi yang akan dibahas.
"Ada apa?" tanya Fahad dingin tanpa melihat siapa yang berdiri di depan mejanya.
"Tidak, aku hanya menyapamu. Tapi, kamu tidak membalas sapaanku jadinya aku balik lagi ke sini," jawab Marsha tanpa dosa.
__ADS_1
Fahad tersenyum sinis mendengar itu, tatapannya tidak berubah masih memantau pembelajaran yang akan dibahas. Jari jemarinya bergerak sehingga tinta dari pulpen yang digerakan oleh Fahad membentuk sebuah susunan, mulai dari angka dan huruf yang berjejer rapih di setiap buku paket sebagai jawaban dari pembahasan.
"Kenaoa kamu tidak menatapku? Kalau kamu belum menatapku, aku tidak akan keluar," jelas Marsha dengan mata penuh pengharapan akan kasih dari Fahad. Nyatanya, satu detik berlalu oun Fahad enggan mengubah posisinya.
Sehingga membuat Marsha gemas dengan tingkah dingin Fahad. "Apa kamu tau? Semenjak kamu menyelamatkan aku dari pembullyan, aku merasakan sesuatu yang entah apa itu bahkan sesuatu belum pernah dirasakan oleh sebelumnya. Ketika aku bertanya pada ibu, itu namanya cinta. Seketika jantungku berdegup kencang."
"Setiap kali kamu lewat, aku merasa terselamatkan olehmu. Bahkan teman-teman yang membullyku seketika diam tak pernah mengangguku sama sekali. Di situ, aku ingin mengungkapkan rasa terima kasihku lewat perkataanku bahkan aku ingin mengungkapkan bahwa aku mencintaimu."
"Jadi, selama cintaku belum diterima olehmu. Aku merasa rasa terima kasih itu sia-sia, seharusnya cinta itu diterima dengan rasa terima kasih. Jadi, aku berpikir dua kali aku harus mendapatkan arti sama-sama darimu setelah itu hatiku akan berbunga-bunga bahwa cintaku diterima olehmu."
Fahad mendengar celoteh itu seketika tak kuasa menahan tawanya. Bahkan perutnya terasa digelitik oleh makhluk tak kasat mata, tawa itu membuat Fahad tak kuasa mendengar bicara yang menurutnya seperti cerita omong kosong. "Hahaha ... hahaha ... penjelasan yang bodoh!"
"Kenapa? Apa aku salah? Bukankah ada sebuah teori mengatakan itu?"
"Teori macam apa itu? Palingan teori omong kosong, seorang penemu teori tidak akan mengatakan seperti itu! Sia*lan cerita itu mengandung komedi, aku tidak tahan dengan kelucuan itu," helas Fahad sembari menghentikan aktivitas tertawanya setelah puas.
Marsha seketika terdiam tidak berani bicara dengan Fahad, di mana Fahad itu tersenyum sumrik bercampur mengejek menjadi satu. "Ada dong," katanya cepat untuk mencegah kegugupan.
"Teori aristoteles," jawabnya cepat.
"Tentang apa?"
"Kehidupan."
"Apa bunyinya?"
Marsha tidak bisa menjawab pertanyaan Fahad, baginya itu terlalu mendadak bahkan menganggap pertanyaan itu seperti jebakan. Maka dari itu, Marsha memilih diam dan menunduk.
"Ini kamu bo*doh atau gimana? Masrha yang aku kenal bukanlah Marsha seperti ini, tapi Marsha dulu yang sangat pandai bahkan selalu menolong orang lain bukan Marsha penggoda. Baiklah, aku akan menjawab teori Aristoteles tentang kehidupan beliau mengemukan pendapatnya bahwasanya makhluk hidup itu ada karena benda mati dan semuanya mincul secara spontan. Lalu, apa hubungannya dengan cinta?" tanya Fahad dengan ekspresi serius.
Mendengar itu, Marsha semakin mendiamkan diri seakan perkataan Fahad ada benarnya. Dirinya sudah banyak berubah dan tidak menyadarinya, sehingga membuat Marsha semakin kesini semakin menumpuk kebenciannya. 'Pasti gara-gara wanita sia*lan itu, Fahad tercuci otaknya,' batin Marsha geram.
__ADS_1
"Kenapa masih berdiri?!" bentak Fahad sedikit meninggikan suara.
"Aku sedang menunggu perminta maafan darimu, karena hatiku tersinggung gara-gara ucapan kamu seperti memojokan aku," sahut Marsha tanpa dosa.
Mendengar penuturan itu, Fahad semakin geram. Rupanya, Marsha semenjak berubah penampilan menjadi seksi pikirannya semakin ke sini semakin memasuki kebodohan yang sebenarnya. "Ini wanita tak tahu malu, jika tidak ingin keluar aku tidak segan memanggil satpam."
"Biarpun kamu memanggil satpam, menolak cintaku, bahkan kamu terus memojokkan aku hanya karena aku berubah. Ketahuilah Marsha yang lemah sudah tiada, yang ada adalah Marsha hebat," jelas Marsha tersenyum sumrik dan keluar dari ruangan Fahad.
Wajah Fahad seketika berubah saat mendengar kalimat terakhir, seolah-olah kalimat itu mengandung kebangaan terhadap diri sendiri. Meskipun Fahad tahu bahwa mencintai diri sendiri itu baik apalagi bisa meningkatkan self esteem, akan tetapi jika terlalu tinggi dan melupakan kodrat sebagai manusia maka mereka tidak akan segan membanggakan diri yang mencapai batas kewajaran.
Ia memilih bersandar di bangku, memijat pelipisnya dirinya sudah pusing menghadapi perilaku Marsha yang semakin hari semakin mencapai kebodohan. Ia melirik jam dinding dan menunjukan pukul 10.02 pertanda pelajaran pertama berakhir dan para siswa sedang melakukan aktivitas merehatkan pikiran sejenak.
"Seharusnya pas di interview, paman Ibrahim jangan langsung tergiur dengan nilai Marsha yang bergelar cumluade. Lagian, kalau otak pinter sedangkan pribadi minim gimana mau jadi guru yang diandalkan," gumam Fahad.
"Kinan sedang apa yah sekarang? Apa aku telefon saja? Lagian perasaan aku enggak enak bahkan membuatku takut kehilangan, semoga saja bukan apa-apa bahkan bukan perasaan bahaya hanya perasaan hanya perasaan tidak kenyataan," gumam Fahad lagi dan lagi.
Fahad yang gabut setelah meluapkan semua emosi yang dipendam melalui ngomong sendiri, ia memilih menekan tombol layar gawai, dan menekan tombol hijau. Ada puluhan telefon dari Barakka yang tak terangkat, bahkan tidak ada satupun kata yang masuk untuk dijelaskan alasan kenapa Barakka menelepon.
Keningnya menyerit heran, saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari Barakka. "Bodoh, kenapa aku malah pake mode diam," sebal Fahad.
Pikirannya seketika tertuju ke arah yang buruk, perasaan tadi yang selalu Fahad buang jauh-jauh seketika kembali hadir menghantui pikiran dan perasaan. Rasa takut dan gelisah terus menerus menyerang perasaan itu, walaupun tidak semua firasat itu buruk dan gundah. Ada hikmah dari balik firasat itu sendiri, sehingga perasaan buruk harus menimbang terlebih dahulu konsekuensinya.
Tak ingin terlalu lama berlarut-larut dalam perasaan yang tidak jelas, sebuah telefon masuk dan nama yang tertera di layar 'Barakka' seketika membuyarkan lamunan Fahad. Bunyi berdering berhasil membuat Fahad dengan sigapnya mengangkat, tombol berwarna hijau seketika ditekan sampai suara tersambung dari seberang.
"Hallo, ada apa?"
"........."
"Apa?!"
Degh!
__ADS_1