
Sinar matahari menerobos melalui jendela, memberikan sensasi ultraviolet dan kandungan vitamin D yng sangt berguna untuk kesehatan kulit. Kinan yang merasa terusik dengan sinar mahatari itu seketika membukakan kedua matanya, berputar-putar mencari keberadaan seseorang. Tatapannya jatuh pada dua orang yang masih terlelap dalam tidurnya. Iya, Harsa dan Ibha memilih menginap semenjak Kinan mencurahkan segala isi hatinya.
"Kamu sudah bangun?"
Fahad yang baru saja keluar dari toilet sehabis membersihkan diri dan mendapati Kinan sedang membenarkan posisinya menjadi duduk. Kinan menatap Fahad yang begitu tampan dan mempesona, rambut basah dan wajah segar selalu menambahkan kesan cool di matanya.
Kinan tersenyum tipis sebagai jawabannya. "Iya."
"Apa kamu mau ke toilet juga?" tanyanya dan mendapatkan anggukan dari Kinan. "Baiklah aku akan membantumu."
Ia berjalan menghampiri Kinan untuk membantu Kinan turun dari ranjang runah sakit, mata Kinan masih sembab bekas semalaman mengungkapkan segala deritanya kepada sang ibu dan ayah. "Aassww," ringis Kinan merasakan sesuatu yang sangat perih dibagian perut yang tertusuk.
Tanpa aba-aba, Fahad segera membopong tubuh Kinan setelah mendengar rintihan kesakitan. Ia mengambil tiang yang digunakan untuk selang infus dengan tangan kanannya. "Turunin dong malu."
"Kenapa harus malu, hem? Aku suamimu dan orang tuamu masih tidur," kekeh Fahad.
Kinan memayunkan bibirnya beberapa senti meter dan tak peduli lagi dengan Fahad yang membopong tubuhnya hingga kamar mandi. "Oke, sudah sampai," katanya sembari menurunkan di toilet duduk.
"Terima kasih, sana keluar," kata Kinan.
"Baiklah," jawab Fahad.
.
.
.
Menit terus berlalu, kini matahari mulai berada di atas kepala dan jam dinding menunjukan angka pukul 11.02 yang menandakan bahwa Kinan sudah selesai dengan segala aktivitas rumah sakit seperti halnya sarapan dan makan obat tak lupa juga dengan pemeriksaan. Rasa sakit terus menjalar hingga keseluruh tubuh, belum lagi dengan jahitan area perut dan tangan masih terasa perih.
Fahad pada hari itu sengaja cuti selama beberapa hari kedepan demi merawat dan menjaga Kinan, bahkan kedua orang tua Kinan pun tidak pergi kerja dan menunda rapat meeting dengan para petinggi perusahaan semenjak Kinan mengungkapkan rasa yang tak pernah sembuh dengan berbagai macam obat kecuali air mata dan memaafkan.
Sifat mulia Kinan terbentuk berkat kasih sayang Alsaki, sehingga ketik Kinan mengungkapkan rasa kecewa dan patah hati. Ia akan menerima segala bentuk konsekuensi, entah apa itu. Sehingga tidak heran Kinan begitu mencintai perasaan orang lain, meskipun itu sangat menusuk dan menyakitkan.
Dari balik beban yang ia tanggung, Kinan merasa Allah Maha Adil untuknya. Dia memberikan seseorang yang bisa meringankan beban Kinan, berbagi cerita hingga pelipur lara. Siapa lagi kalau bukan Fahad Ibadillah Prambudi, seorang lelaki yang tak lain adalah gurunya sendiri.
Maryam telah tiba di rumah sakit membawa beberapa bingkisan yang berisi makanan dan buah-buahan bersama Hasan, ia melihat menantu kesayangannya yang sudah sadar kemarin sore semenjak senja menampilkan diri seolah-olah memberi isyarat bahwa ia datang kembali untuk mengisi kehampaan diri.
"Bagaimana kondisi Kinan?" tanya Maryam kepada Fahad setelah menghabiskan waktunya selama beberapa detik untuk berbincang-bincang dengan Kinan.
Fahad yang merasa dirinya sedang ditanya oleh sang ibu, ia menoleh dan tersenyum. "Berkat doamu, Ummah. Alhamdulillah kondisi Kinan baik-baik saja, tinggal menunggu kepulangannya entah beberapa hari lagi. Lagian jahit bekas tusukan belum mengering."
"Begitu yah, Alhamdulillah," ucap Maryam.
"Iya, Ummah. Alhamdulillah," jawab Fahad.
.
.
.
"Bu, sudah aku bilang dari kemarin semalam. Bahwa Ibu dan Ayah boleh pergi, lagian itu pertemuan penting,'kan," kata Kinan sembari mengunyah apel yang dipotong oleh Harsa.
__ADS_1
Harsa yang mendengar itu seketika menarik nafas dan menghembuskannya dengan gusar. Tangan kanannya mengelus lembut puncuk kepala Kinan yang dibalut dengan kain kerudung. "Tidak, ibu menundanya. Lagian, ibu tidak ingin meninggalkan Kinan seperti dulu lagi. Jadi, izinkan ibu memperbaiki kesalahan ibu di masa lalu."
"Ibu, masa itu tidak bisa diulang lagi. Lagian aku sudah bersyukur bahkan bersyukur semenjak Ibu dan Ayah menjodohkan aku dengan mas Fahad. Jadi, jangan dipikirkan mas Fahad selalu menjadi bagian dari Kinan," omel Kinan dengan mulut agak penuh karena Harsa terus memasukan apel satu persatu sesuai permintaan Kinan.
"Pokoknya, ibu hari ini sampai hari kepulanganmu. Ibu bakalan menjaga kamu titik enggak pake koma," omel Harsa.
Kinan merasa dirinya kena omel untuk pertama kalinya seketika senyumnya terbit, ia memamerkan senyum manisnya kepada Harsa membuat kening Harsa saling tertaut satu sama lain.
"Kenapa?"
"Tidak, aku hanya merasa bahwa ini pertama kalinya aku kena omel dari Ibu di usia tujuh belas tahun. Pasalnya, waktu aku kecil pun Ibu tak pernah mengomel, jadi ini pertama kalinya aku kena omel dari Ibu." Pandangan Kinan seketika berubah menjadi berkabut, bibirnya selalu berkata jujur semua kepribadian Kinan terbentuk berdasarkan kasih sayang Alsaki bahkan ketegasan Kinan didapat bukan dari kedua orang tuanya melainkan Alsaki.
Harsa menarik kedua bibirnya sehingga berbentuk senyum manis, entah kenapa perasaannya begitu sakit dan sakit. Padahal Kinan sudah memaafkan dosa dan kesalahan masa lalu, akan tetapi bagi dirinya itu belum cukup untuk mengobati rasa sakit itu.
"Maafkan ibu, Nak," ucapnya sendu.
Kinan kemudian menarik tangan Harsa yang sedang memegang apel untuk dimasukan kembali kedalam mulutnyadan mengunyah. "Sudah berapa kali aku katakan, Bu. Aku sudah memaafkan Ibu, jadi jangan dipikirkan lagi. Bukankah Ibu ingin memberikan kasih sayang padaku, meskipun aku sudah menikah. Ini belum terlambat."
"Benar, Nak," tutur Harsa.
Sementara dua orang yang tak lain adalah Maryam dan Fahad mendengarkan perbincangan dua wanita hebat hanya tersenyum menanggapinya. Sinar kilau matahari kembali lagi menerobos, memberikan sensasi hangat sebagaimana perasaan keduanya mulai menghangat setelah perang dingin akibat ketelendoran orang tua mengabaikan tumbuh kembang anaknya.
Seorang orang tua pastilah menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang secara optimal, tetapi ini tidak berlaku untuk Harsa dan Ibha dua orang tua yang lebih memgandalkan pekerjaan ketimbang memberikan kasih sayang kepada anaknya kecuali Alsaki. Iya, Alsaki adalah anak pertama dan sudah pasti mendapatkan kasih sayang yang tinggi. Sehingga lewat Alsaki lah, Kinan merasakan kasih sayang orang tua melalui sifat mulia Alsaki.
'Aku beruntung menikahimu, Kinan. Ku harap kedepannya kita bisa mengambil hikmah dari orang tua kita, semoga dalam rumah tangga yang kita bangun Allah berikan yang luar biasa untuk kita,' batin Fahad tersenyum melihat interaksi hangat dua orang yang ada dihadapannya.
'Semoga Allah melimpahkan yang terbaik untuk kalian berdua, Fahad dan Kinan,' batin Maryam tak mau kalah memberikan doa yang tulus dan baik untuk kedua anaknya yang belum lama melepaskan status.
Sementara itu di tempat, seorang wanita berteriak keras. Barang yang ada di depannya ia lemparkan tak peduli seberapa mahalnya barang yang dipajang. Dua orang preman utusannya ternyata sudah ditangkap oleh polisi dan sampai sekarang masih diintegorasi.
Ia mencari benda pipih dan menekan tombol layar tak lupa juga membuka layar aplikasi melalui kata sandi berbentuk pola. Jari jemarinya mencari aplikasi berwarna hijau menekan tombol pencarian dan menulis 'Marsha' setelah itu menekan tombol ikon berbentuk telefon.
"Si sial*an itu belum mati juga," amukny lewat sebrang telepon.
".........."
"Heh?!" bentak wanita itu.
"........."
"Apa kata loe? Sial*an loe!"
"........."
"Breng*sek!"
".........."
Tttuuuttt ...
Sambungan pun terputus, sampai tak sempat melanjutkan kembali kata semenjak meluapkan segala emosi yang ditanggung. Entah kenapa, wanita itu terobsesi dengan cinta kepada lelaki yang tak lain adalah Fahad itu sendiri.
"Apa kamu tahu? Aku memendam cinta semenjak pertama kali kita bertemu, sejak usia kita sekitar tujuh tahun. Aku mencintaimu, Fahad!" teriaknya.
__ADS_1
"Si preman itu jangan sampai membongkar kejahatan gue, jika iya maka gue tak segan menyakiti keluarganya apalagi anaknya itu," gumamnya tersenyum sinis.
••••••••••••••••••••••••••••
"Nak, ummah sama babah izin pamit dulu yah," kata Maryam sembari mengelus lembut puncuk kepala Kinan yang dibalut dengan jilbab.
Kinan menoleh dan tersenyum. "Iya, terima kasih, Ummah sudha menyempatkan waktunya. Hati-hati di jalan."
"Siap, Nak," jawab Maryam menerima uluran tangan dari Kinan.
Kinan mencium punggung tangan Maryam dengan penuh takzim seolah-olah meminta doa dari ibu mertuanya. Senyum manis masih terukir di wajah cantik Kinan, Maryam tak lupa mencium kening Kinan dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, Maryam menyalimi tangan Harsa terakhir Fahad.
"Jaga istrimu," titahnya.
"Tanpa Ummah suruh pun, aku akan menjaganya," tutur Fahad dan tersenyum menampilkan sederet gigi bersihnya.
"Siap, kami pamit," ucap Hasan setelah berpamitan kepada semua orang yang ada di dalam ruangan Kinan.
Fahad mengantar kedua orang tuanya hingga punggung mereka sudah tidak tampak lagi, kemudian Fahad kembali lagi masuk. Matanya melirik arah jarum jam menunjukan pukul 13.04 siang, ia segera mengingatkan sang istri untuk segera minum obat. Tetapi, sayangnya Harsa sudah lebih dulu menyuruh Kinan sehingga membuat Fahad sedikit lega.
"Kamu harus banyak istirahat, ibu mau pulang dulu. Nanti ke sini lagi," cakap Harsa.
"Baiklah," jawab Kinan tersenyum.
"Hati-hati, Bu, Ayah," sahut Fahad tak lupa menyalimi punggung tangan mertuanya itu.
"Nanti ibu sama ayah kesini lagi sore," jelasnya segera pergi dari ruangan Kinan.
Kinan hanya mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Fahad tersenyum menanggapi tutur Harsa. Setelah keduany sudah tidak tampak lagi, Fahad segera berjalan menghampiri Kinan dan memeluknya.
"Sudah lama aku tidak melakukan ini, karena orang tua kita datang," rajuk Fahad.
"Lho? Bukannya kita setiap hari seperti ini bahkan ketemu pun? Kenaoa tiba-tiba merajuk hanya karena hal sepele?" protes Kinan menepuk keras punggung Fahad yang tengah menghadapkan badannya dengan cara menempel.
"Iya sih, tapi aku tidak bisa lepas gini dong meski satu sekon," bela Fahad tersenyum kecut dan melerai pelukannya sehingga tatapan keduanya saling bertemu.
Kinan menarin nafas panjang dan menghembuskannya, memutar bola mata malas saat mendengar kata-kata mengandung membela diri yang tinggi. "Hilih dasar!"
"Biarin lah, daripada meluk ke wanita lain." Kinan melotot tajam ke arah Fahad karena dirinya seperti mengancam.
"Ck! Berapa usiamu?"
"Kenapa nanya usia sih?"
"Lagian, tingkah kamu seperti bayi besar," ledek Kinan mengeluarkan lidah gemas.
Fahad terkekeh menanggapi itu dan dengan santainya menjawab,"biarin disebut bayi besar karena sama istri sendiri."
"Hilih," sebal Kinan.
•••••○○○•••••
Terima kasih yang sudah membaca, semoga hari-hari kita penuh bahagia🤗❤
__ADS_1