My Soulmate

My Soulmate
Gagal Enak-enak


__ADS_3

Tidak ada yang bisa mengukur kepedihan hati seseorang yang ditinggalkan sosok yang dicintainya. Akan selalu ada luka mendalam yang sulit disembuhkan ketika kehilangan orang tercinta. Itu juga yang dialami oleh Kalycha, saat dinyatakan bila suaminya sudah meninggal dunia.


Dan kini momen haru dirasakan oleh Kalycha saat kembali bertemu dengan suaminya yang sudah dinyatakan meninggal dunia 5 tahun yang lalu kini berdiri tegak dihadapannya. Kedua insan yang kembali dipertemukan itu tak peduli lagi dengan lingkungan sekitarnya yang menatap heran kepada mereka yang berisak tangis sambil berpelukan. Tak ada lagi rasa malu berpelukan di depan kedua orangtua mereka yang menyaksikan menyatunya dua insan yang saling merindu itu.


"Ini beneran mas Hai?" Kalycha masih tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya sambil mencubit kedua pipi suaminya itu.


"Sakit Cha–." Haidar mengelus pipinya lalu tersenyum sambil menghapus airmata Kalycha yang terus saja menetes.


"Terus kenapa mas Hai baru datang sekarang?" Lagi-lagi Kalycha menangis, Haidar kembali memeluk Kalycha untuk menenangkan istrinya itu.


"Maafkan aku–." Hanya kata maaf yang bisa terucap dari bibirnya.


Tapi tiba-tiba–


"Aaaa... Aaa... Aaa..." suara tangis kedua bocah cilik yang berdiri tegak memandangi keduanya yang sedari tadi berpelukan sambil bertangis-tangisan itu membuat pasutri baru itu sadar akan lingkungannya lalu mereka pun melepaskan pelukannya.


"Sischa kenapa nangis Bunda. Apa kenapa cowok itu membuat Sischa menangis?" Malven mengadu kepada Bundanya sementara Malvin sibuk memisahkan Haidar dari Kalycha kakaknya.


"Lepasin Sischa, dasal cowok jahat–, Kenapa buat Sischa nangis. Jangan buat My Sischa nangis, awas– Lepas–." Malvin menarik-narik celana Haidar agar Haidar menjauh dari Kalycha.


Malvin memang terlihat lebih bijak dan dewasa sebelum waktunya. Dia selalu memukul setiap orang yang menyakiti Kakaknya itu.


Haidar berjongkok menyamakan tinggi mereka. "Hei Boy, dia ini istrinya Kakak, dan Kakak ga buat jahat kok sama–." Haidar menjeda ucapannya karena dirinya bingung dengan sebutan bocah kecil itu kepada istrinya.


"Sischa, mereka manggil aku Sischa Mas. Sister Icha artinya, karena mereka masih kecil susah nyebut Sister Icha terus Bunda yang singkat jadi Sischa" sahut Kalycha lalu ikut berjongkok menenangkan adiknya itu.


"Bial tahu aja nama aku Malvin bukan Boy–." protes Malvin sambil melepaskan tangan Haidar yang memegang bahunya lalu berjalan mendekati Nayla Bundanya.


"Ga boleh kasar gitu dong sayang." Nayla melihat Malvin yang melepaskan kasar tangan Haidar dari bahunya. "Makanya sini kenalan dulu sayang sama Kak Haidar." Nayla yang menggandeng Malven dan Malvin mendekati Haidar dan Kalycha. "Sayang, ini tuh Kak Haidar suaminya Sischa kalian. Ayo salim sambil sebut nama kalian yah." Kedua pangeran itu sangat nurut dengan apa kata Bundanya. Lalu mencium punggung tangan Haidar bergantian sambil menyebut nama mereka.


"Saya Malvin–."


"Saya Malven–."


Begitulah Nayla mengajarkan kedua anaknya untuk bersikap sopan kepada orang yang lebih dewasa dari mereka.


"Bunda suami itu apa?" tanya Malven


"Kalau istli apa Bun?" tanya si pelat Malvin.


"Suami itu seperti Daddy, Daddy kan pasangannya Bunda jadi Bunda sebutnya suami Bunda, kalau Istri seperti Bunda yang pasangan Daddy. Begitu juga dengan Sischa–, Sischa kalian itu istrinya Kak Haidar dan sebaliknya Kak Haidar itu suaminya Sischa. Jadi suami-istri itu adalah–?"


"Pasangan yang bisa cewek-cewean kan Bunda." jawab kedua anak bijak itu. "Kayak Bunda cewean-nya sama Daddy. Iya kan Bunda." lanjut Malvin.


"Siapa yang ngajarin kalau Bunda ceweknya Daddy?" Nayla penasaran karena seingatnya dia tidak pernah mengajarkan anaknya seperti itu.


"Daddy–." jawab keduanya bersamaan sambil menunjuk Pram dengan jari telunjuk mereka. Nayla langsung menatap suaminya dengan tajam, sementara yang ditatap malah cengar-cengir ga jelas.


"Mas–. Kalau ngajarin anak itu yang bener dong. Mereka ini cepat merekam loh diotaknya apa yang kita omongin tuh mereka cepet nangkap. Makanya kalau ngasih penjelasan itu yang benar jangan asal." gerutu Nayla pada suaminya.

__ADS_1


Haidar dan Kalycha hanya bisa tersenyum melihat keharmonisan rumah tangga orangtuanya itu.


"Dad, Bun kami duluan yah. Mau kangen-kangenan dulu sama istri." Haidar pun tak mau kalah, sepertinya tak ada lagi rasa malunya kepada mertuanya. Sepertinya urat malunya sudah putus dan terbawa hilang saat dirinya hilang ingatan dulu.


"Mas malu ih–." Kalycha mencubit pinggang Haidar, yang dicubit malah membalas dengan mencium keningnya.


Nayla dan Pram tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda mereka menyetujui keinginan pasangan yang baru dipertemukan itu.


"Mas–, koper aku masih di dalam." Kalycha mengingat kopernya yang masih ditinggalkannya didalam ruang tunggu. "Aku ambil dulu ya tapi mas jangan kemana-mana, tunggu aku disini." Haidar menganggukkan kepalanya, lalu Kalycha masuk keruang tunggu sambil terus melihat kebelakang takut kalau suaminya itu akan pergi lagi meninggalkannya.


Tak butuh waktu lama, Kalycha sudah kembali dengan troli yang berisi dua koper yang didorong ditangannya. Diedarkannya pandangannya ketika ia tidak melihat sosok pria yang dimintanya untuk menunggunya itu. Kedua orangtua dan adiknya pun sudah tidak ada disana lagi.


Kalycha berjongkok dan menangis menundukkan kepalanya menjadikan lututnya sebagai tumpuan membenamkan wajahnya. "Tuh kan dia ga ada lagi? Jadi tadi itu cuma mimpi kan?" Airmata Kalycha kembali menetes ia masih tidak percaya dengan kenyataan yang baru dialaminya.


"Sayang, kamu kenapa jongkok disini?" suara Haidar menghentikan tangisannya lalu dengan cepat ia mendongakkan kepalanya menatap pria yang berdiri didepannya itu.


"Mas–." Kalycha berdiri dan langsung memeluk suaminya itu.


"Kamu kenapa menangis sayang?" Haidar merasa heran melihat istrinya yang kembali berurai airmata.


Kalycha melepaskan pelukannya dan menatap netra pria yang sudah memporak-porandakan kehidupannya itu.


"Icha kirain tadi Icha cuma mimpi Mas Hai ada disini mas–, mas kemana tadi? Kan Icha udah bilang mas Hai tunggu Icha disini!" serunya sambil memukul-mukul pelan dada Haidar.


Haidar memegang tangan Kalycha supaya tidak memukulnya lagi. "Tadi Daddy minta tolong ambilin tas sikembar yang ketinggalan dibangku itu." Haidar menunjuk tempat duduk dimana Pram dan Nayla tadi duduk bersama kedua putranya.


Haidar menarik tangan Kalycha dan membawanya kedalam pelukannya. "Nggak sayang, Kamu nggak berhalusinasi. Mas ga akan kemana-mana lagi. Sekarang kita pulang ya." Kalycha menganggukkan kepalanya lalu mengandeng tangan Haidar yang sambil mendorong troli yang berisi koper miliknya.


Haidar memasukkan koper Kalycha kedalam bagasi mobil lalu membuka pintu mobil untuk istrinya. Kemudian dirinya mengitari mobilnya dan duduk dibelakang kemudinya. Haidar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Mas ceritain semua tentang mas–. Apa yang sebenarnya terjadi sama Mas dulu." Kalycha sangat penasaran apa yang terjadi sebenarnya dengan suaminya itu.


"Sabar ya sayang, nanti pasti mas ceritakan semuanya sama kamu. Tapi sekarang kita makan dulu yah, Mas laper banget." Haidar mengoles-ngoles perutnya yang sudah terasa lapar minta segera diisi sambil tetap fokus pada kemudinya.


"Iya, tapi ga mau di restoran padang."


"Hahaha, ternyata kamu masih nggak suka makanan berlemak ya?"


"Icha cuma suka rendangnya doang mas."


"Ya udah kamu makan rendangnya aja, mas udah kangen pengen makan masakan padang."


"Mas ini aneh, orang jawa tapi sukanya masakan padang." cibir Kalycha


"Mas suka semua makanan sayang, terutama Kamu." Haidar mengedipkan sebelah matanya sengaja menggoda Kalycha.


"Apaan sih mas–." Kalycha mendorong pelan lengan suaminya itu. "Sejak kapan mas mulai belajar ngegombal kayak gitu." Setelah 5 tahun berpisah ternyata banyak perubahan yang dilihat Kalycha dari suaminya itu. Haidar yang dikenalnya sebagai manusia batu yang tak berperasaan kini sudah berubah menjadi sosok pria yang hangat dan humoris.


Sebenarnya tidak ada perubahan yang drastis apalagi yang signifikan dari seorang Haidar hanya saja dulu Kalycha belum mengenal suaminya itu lebih dalam sehingga dia tidak tahu kalau suaminya itu adalah pria yang hangat, menyenangkan dan juga mengagumkan.

__ADS_1


Setelah selesai bersantap makan siang di restoran padang kesukaan Haidar akhirnya mereka memilih untuk pulang kerumah mereka yang dulu. Rumah yang baru seminggu mereka huni. Belum lengkap lagi isi perabotannya tapi selama Haidar tidak ada, Kalycha tetap mengisi rumah mereka dengan perabotan-perabotan kesukaannya. Kini rumah itu sudah terisi semua ruangannya bahkan ruangan karaoke yang sengaja Haidar design untuk tempat bersantai keluarga sudah terisi lengkap.


Mereka sudah sampai dirumahnya dan belum beranjak dari duduknya didalam mobil. Haidar membuka seatbelt-nya dan mendekati Kalycha istrinya. Sudah lama dia merindukan wanita yang kini ada dihadapannya itu. Netra mereka beradu, Haidar mendekatkan wajahnya ke wajah Kalycha. Sepertinya Kalycha tahu keinginan suaminya itu ia pun memejamkan matanya. Haidar mencium Kalycha dengan lembut. Kalycha membuka mulutnya, lidah dan saliva mereka beradu mencari kenikmatan dari sebuah ciuman.


Desiran darah mereka terasa mengalir dan deguban jantung mereka yang saling berpacu. Kerinduan yang terpendam selama bertahun-tahun akhirnya terbayarkan dengan pertemuan mereka kembali.


Haidar menghentikan ciumannya setelah mereka hampir kehabisan nafas. Kalycha mengedarkan pandangannya seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.


"Mas, kita kenapa pulang kesini?" wajah Kalycha tampak bingung. Apa salahnya dengan Haidar yang membawanya pulang kerumah mereka?


"Kenapa sayang? Ada apa?" Haidar dapat merasakan perasaan Kalycha yang tampak tak tenang.


"Kunci rumahnya aku simpan dikamar aku mas–." Inilah yang membuat Kalycha merasa tak tenang saat Haidar membawanya pulang kerumah mereka. Dirinya baru ingat kalau ternyata kunci rumahnya tertinggal di mansion keluarga Bramasta.


"Sial, ga jadi enak-enak dong!!!" Gerutu Haidar dalam hati. Tapi ia tak kehabisan akal untuk bisa menikmati kebersamaan dan menghabiskan malam melepas kerinduannya bersama dengan istrinya itu.


"Ya udah kita ke hotel aja ya sayang. Mas udah ga tahan nih." ajak Haidar, Kalycha melotot ia merasa malu mendengar ucapan suaminya yang begitu vulgar.


Tanpa menunggu persetujuan dari Kalycha istrinya, Haidar langsung melajukan mobilnya menuju hotel terdekat, begitu sampai diparkiran hotel tiba-tiba ponsel Haidar berbunyi dan terlihat nama Ibu yang tertera diponselnya.


"Ya Bu, ada apa?" tanya Haidar begitu mengangkat telepon dari Ibunya itu.


"Waalaikumsalam–." sindir Halimah karena tak ada sapaan salam dari anaknya itu.


"Maaf Bu, Assalamualaikum, ada apa Bu."


"Waalaikumsalam sayang. Haidar kamu sudah ketemu sama Icha?"


"Sudah Bu–."


"Jadi dimana kalian sekarang?"


"Iih Ibu mau tahu aja deh."


"Sayang Ibu hanya mau mengingatkan kembali siapa tahu kamu lupa. Ibu tahu kamu sangat rindu sama istri kamu, dan Icha juga begitu. Dan Ibu juga tahu kalau Icha masih istri kamu. Tapi sayang sebaiknya kalian menikah lagi sebelum melakukannya (Hubungan suami-istri) karena dimata hukum Kalycha itu sekarang seorang janda sayang, bukan istri kamu."


Jedeeeerrrr.


Haidar memang lupa kalau status istrinya sekarang bukan lagi sebagai istrinya bila dimata hukum sedangkan dimata agama, Haidar memang tidak pernah bercerai dengan istrinya itu.


"Jadi sebaiknya sekarang kamu antar Icha pulang kerumah orangtuanya ya sayang." perintah Halimah.


Haidar pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Gagal deh enak-enaknya."


Vote Vote dan Vote dong yah 😍


Double Up gantiin yang kemarin yang ga bisa Up 🤗

__ADS_1


__ADS_2