
Mendung menyelimuti langit sore itu. Awan gelap menutupi sinaran matahari yang hampir tenggelam. Kalycha terlihat mondar-mandir sudah seperti setrikaan, dengan wajahnya yang penuh dengan kecemasan. Dirinya merasa gelisah karena sudah 3 hari Haidar tidak bisa dihubungi.
Sejak keberangkatan suaminya ke Palembang Haidar tidak pernah lupa untuk mengabsen keadaan istrinya itu. Sudah makan atau belum, bagaimana keadaan sekolahnya, ada tidak pria lain yang menggodanya, semua itu tidak pernah luput dari pantauannya.
Nayla melihat kegelisahan Kalycha lalu menghampiri Kalycha yang sedang berada ditaman belakang rumahnya. Dengan perutnya yang sudah mulai kelihatan membuncit.
"Kamu kenapa sayang? Apa Haidar masih belum bisa dihubungi?" Nayla memegang bahu Kalycha lalu mengajak Kalycha untuk duduk dibangku yang ada di ditaman itu.
"Iya Bun, ga biasanya kayak gini. Udah tiga hari Mas Haidar ga bisa dihubungi Bun. Icha khawatir kalau Mas Haidar kenapa-napa disana."
"Kamu ga boleh berpikir buruk seperti itu sayang. Kamu harus banyak berdoa dan bersabar, mungkin saja suami kamu itu sedang sibuk. Daddy juga pernah bilang kalau disana itu susah sinyal sayang."
"Iya sih Bun, Mas Haidar juga bilang sebelum berangkat ke lokasi katanya disana bakalan susah sinyal karena banyak kebun kelapa sawitnya dan tempatnya jauh dari pemukiman penduduk gitu."
"Iya, kita doakan saja semoga suami kamu baik-baik saja."
"Iya Bun."
Tiga hari pertama Haidar berada di kota Palembang komunikasinya dengan Kalycha Istrinya masih lancar. Dirinya meeting dengan beberapa klien dan juga para investor lain mewakili Pramudja yang memang tidak bisa hadir karena tidak ingin meninggalkan Nayla yang sedang hamil. Haidar ingin meninjau proses berjalannya aktivitas penambangan tersebut makanya Haidar harus terjun langsung ke lokasi penambangan itu untuk menyaksikan langsung proses kerjanya.
...➰➰➰...
Sudah seminggu Haidar berada di Palembang untuk mengontrol langsung kegiatan pengolahan tambang batubara. Jadwal yang sudah ditentukan pun mundur. Seharusnya sehari sebelumnya dia sudah harus kembali ke Jakarta namun ternyata kondisinya tidak memungkinkan untuk dia pulang.
Saat terjun ke lokasi langsung Haidar baru menyadari bahwasanya saat itu sedang marak-maraknya penambangan batubara liar di daerah itu.
Akibat aktivitas penambangan batubara liar menimbulkan banyak persoalan dan kerugian bagi perusahaan. Belum lagi banyaknya para bandit yang tidak segan-segan mencuri hasil tambang batubara yang akan mereka angkut menggunakan lori.
Tidak tanggung-tanggung para bandit itu menjarah hasil tambang batubara itu dengan menggunakan senjata api. Dan biasanya mereka akan beroperasi saat hujan turun dan medan jalan yang mereka lalui itu adalah tanah liat sehingga akan menyulitkan bila harus melaluinya.
"Tuan, sebaiknya kita tunggu sampai hujan reda atau besok siang saja baru kita kembali ke kota." usul salah satu pekerja tambang batubara itu.
Roy yang sedang bersama dengan Haidar dan beberapa pekerja lainnya sudah terjebak selama 3 hari di posko tempat penambangan batubara itu. Karena sudah tiga hari berturut-turut hujan tidak juga reda. Dan dapat dipastikan jalanan yang akan mereka lalui akan sangat berlumpur.
"Bagaimana pun caranya besok kita harus segera kembali ke kota. Persediaan bahan makanan disini juga sudah semakin menipis." ucap Haidar.
"Semoga saja hujan segera reda Tuan, kalau tidak kita pasti akan sulit melewati jalan itu. Karena para petambang liar tentunya akan memanfaatkan cuaca seperti ini membawa hasil tambangnya untuk dijual." sahut Pak Jaja yang tak lain adalah penanggung jawab posko pekerja pertambangan itu.
__ADS_1
"Kau benar Pak."
"Sebaiknya Tuan berdua istirahat saja, ini sudah malam."
Haidar dan Roy pun memasuki posko yang ada di pertambangan itu untuk beristirahat.
"Mau kopi?" Roy memberikan secangkir kopi kepada Haidar. "Dingin-dingin gini enaknya tuh ngopi." Roy memperhatikan Haidar yang hanya diam saja tidak merespon ucapannya.
"Lo mikirin apa? Kenapa muka Lo ditekuk begitu?" Roy melihat Haidar sedang sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukan pertanyaan darinya.
"Sudahlah gue tahu lo mikirin bini lo kan. Dia pasti baik-baik aja disana. Apalagi Nona Kalycha kan sekarang tinggal dirumah mertua lo."
"Gue kangen bini gue Nyet–." ucap Haidar tanpa melihat kearah Roy. Dirinya terus saja berselancar dengan Handphonenya memandangi foto pernikahannya dengan Kalycha.
"Sialan lo, seenaknya aja lo ngatain gue Monyet."
...🔸🔸🔸...
Haidar bangun dari tidurnya berjalan keluar posko dan bersiap-siap untuk pulang. Dilihatnya Roy sudah rapih dan sedang menunggunya untuk sarapan bersama di meja makan ala kadarnya itu.
"Tumben lo udah bangun?" sindir Haidar.
"Emang lo punya cewek?"
"Ya punyalah–."
Haidar memang tidak pernah tahu kalau Roy mempunyai kekasih. Setahunya Roy itu penggila kerja jadi mustahil baginya untuk mempunyai kekasih karena waktunya banyak dihabiskannya dengan bekerja di kantor.
Setelah selesai sarapan Haidar, Roy dan Pak Jaja langsung bergegas untuk kembali ke kota. Cuaca masih belum mendukung mereka untuk kembali, saat ditengah perjalanan hujan kembali mengguyur hutan tempat dimana saat ini mereka berada. Tapi mereka terpaksa harus menembus perjalanan mereka karena sudah kepalang tanggung untuk mereka kembali lagi ke posko.
Untungnya mereka menggunakan mobil Toyota Land Cruiser berseri FJ40 yang dikenal mampu membuatnya merayap di tanjakan dan menjadi pamungkas saat melewati medan berat. Terlepas dari itu, Land Cruiser menjadi kendaraan multiguna yang nyaman. Mobil offroad tersebut terus berevolusi hingga jadi jip premium dengan segala fasilitas bawaanya.
Namun karena jalanan saat itu sangat berlumpur membuat mereka kesulitan melewatinya dan mobil mereka sempat terjebak dikubangan berlumpur.
"Bagaimana ini Pak? Apa kita bisa melewati jalan ini?" Haidar mulai cemas, entah apa yang membuat perasaannya tak nyaman saat itu.
"Sebaiknya kita dorong mobilnya." Roy pun bergegas turun dari mobil dan melihat kondisi ban mobil yang sudah sangat terjebak.
__ADS_1
"Pak Jaja jangan terlalu dipaksa untuk di gas dulu, ini bannya semakin terperosok." teriak Haidar.
Roy mencari beberapa kayu mencoba mengganjal ban mobil. Tujuannya untuk membantu ban mendapatkan daya cengkram yang kuat untuk keluar dari lumpur.
Diletakkannya kayu tersebut pada bagian roda yang menjadi sistem penggerak mobil. Dan kemudian dimintanya Pak Jaja untuk menginjak gas secara perlahan untuk keluar dari lumpur.
Saat sudah berhasil keluar dari kubangan lumpur tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan suara tembakan senjata dari arah belakang.
Dor... Door... Dooor...
"Tuan, cepatlah naik sebelum para bandit itu menemukan kita." teriak Pak Jaja.
Roy dan Haidar langsung masuk ke mobil dengan tangan dan kaki yang kotor dengan lumpur.
"Dari mana asal suara tembakan itu Pak?" tanya Haidar yang mulai cemas.
"Sepertinya dari belakang Tuan."
"Cepatlah Pak–." Roy juga mulai tampak panik. Tapi situasi jalan saat itu memang sangat sulit untuk mereka melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Dor... Dor... Dor...
Suara tembakan itu kembali terdengar dengan jelas dan suaranya semakin mendekati mereka. Pak Jaja menginjak gas mobil mereka supaya melaju lebih cepat.
"Hati-hati Pak!!!" Seru Haidar.
"Aaaaa–." teriak mereka bersamaan.
Dag Dig Dig Duueeerrr
Apa yang terjadi Pemirsa?
Like N Coment ya 😍
Maaf Author baru bisa Up.
Happy Reading 😊
__ADS_1
Dan Selamat Berbuka Puasa 🙏