
Sehari Sebelum Keberangkatan Haidar
Sepulang dari berbelanja seperti janji Haidar sebelumnya mereka akan memilih untuk menginap dirumah orangtua Kalycha yang sekarang adalah mertuanya.
Tak sabar rasanya bertemu dengan orang-orang yang sudah dirindukannya. Begitu Haidar memarkirkan mobilnya di garasi Kalycha langsung berjalan cepat menuju rumah, meninggalkan Haidar suaminya yang masih sibuk mengeluarkan koper yang akan dibawanya berangkat keluar kota.
"Bunda–, Icha pulang!" teriaknya saat memasuki mansion ayahnya itu. Namun dirinya tidak mendengar jawaban dari dalam rumah. Kalycha membuka pintu dan terus berjalan.
"Bun–." ucapan Kalycha terhenti saat melihat Nayla sedang duduk bersama dengan Alvin.
"Sayang kamu sudah pulang–." Nayla mendekati Kalycha dan langsung memeluk Kalycha. "Mana suami kamu?" bisik Nayla ditelinga Kalycha.
"Ad–." Kalycha belum sempat menjawab pertanyaan dari Nayla. Haidar sudah masuk dan mencium punggung tangan Nayla.
"Siapa Bun?" tanya Haidar melihat kearah Alvin. Dirinya merasa pernah melihat pria itu sebelumnya.
"Mantan murid Bunda, teman Icha namanya Alvin." ucap Nayla. "Vin kenalin ini Kakaknya Icha namanya Haidar."
"Ooh, jadi ini yang namanya Alvin yang udah buat tangan istriku sakit? Terus kenapa bunda harus ngenalin aku sebagai Kakaknya istriku sendiri, kan bisa aja Bunda bilang aku ini tunangannya?" Batin Haidar kecewa dengan Ibu mertuanya. Tapi ia tetap tersenyum.
"Kakak? Bukannya Icha anak tunggal? Kalaupun ada seharusnya dia punya adik, dan bukan Kakak. Itupun Bu Nayla belum melahirkan." Batin Alvin.
"Haduh apa aku salah ngenalin mereka ya? Kok tatapan mereka lain gitu." Batin Nayla.
Kalycha menyadari ada yang tak beres dengan sikap dari dua pria didepannya itu seperti mengeluarkan aura panas dari tatapan keduanya. Kalycha pun langsung berinisiatif mencairkannya.
"Kakak sepupu, Kenalin Vin, ini Kak Haidar Kakak sepupu aku." sahut Kalycha. Dirinya tak menyadari kalau ucapannya itu semakin membuat Haidar kecewa.
"Jadi kakak sepupu pula. Well, dia mungkin ga mau rahasianya diketahui oleh temannya itu. Tetap bersikap tenang Haidar mengulurkan tangannya.
"Haidar–."
"Alvin–."
Keduanya saling bersalaman, dan tatapan mereka seperti ingin saling membunuh. Suasana diruangan itu sangat tegang, untunglah saat itu Pram datang dan mengalihkan saling tatap diantara dua pria itu.
"Kalian kapan datang?" tanya Pram kepada putri dan menantunya.
"Baru kok Dad–." Kalycha mendekati Pram dan memeluknya. "Icha kangen Daddy." Pram pun membalas pelukan Kalycha.
"Ini teman kamu udah dari tadi nungguin, kamu temani dulu ya." ucapnya pada Kalycha. "Daddy pinjam suami kamu bentar." bisiknya ditelinga Kalycha. Wajah Kalycha langsung bersemu.
"Iya Dad–." ucapnya malu. Haidar penasaran apa yang dibisikkan mertuanya itu pada istrinya sehingga membuat Kalycha menjadi malu.
"Haidar kita keruangan kerja saja. Sekalian bahas projek yang akan kamu tangani diluar kota nanti."
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Haidar yang kini adalah menantunya, Pram langsung beranjak dan berjalan menuju ruang kerjanya.
"Bunda tinggal dulu ya."
Nayla lebih memilih untuk istirahat di kamarnya setelah membawakan kopi untuk suami dan menantunya itu.
Diruang tamu hanya tinggal Kalycha dan juga Alvin. Ada kecanggungan diantara keduanya.
"Tangan lo udah sembuh Cha?" Alvin membuka obrolan mereka mengusir rasa canggung yang ada.
"Alvin tahu tanganku sakit dari mana ya?"
"Hmmm udah." lalu Kalycha duduk dan memilih duduk bersebrangan dengan Alvin. Tapi Alvin langsung pindah duduk ke sofa dimana Kalycha duduk. Karena merasa tidak enak Kalycha menggeser sedikit posisi duduknya dari Alvin.
"Kenapa lo ngindarin gue sih Cha?" Alvin merasa ada yang berbeda dengan Kalycha.
"Hmm ga apa-apa." Kalycha masih bingung harus bersikap seperti apa dengan Alvin. Dalam hatinya ia takut kalau Alvin salah menanggapi kebaikannya.
"Kenapa ga bilang kalau tangan lo sakit gara-gara gue?"
"Bukan salah lo Vin, gue nya aja yang ceroboh waktu itu."
"Gue datang kesini cuma mau minta maaf sama lo Cha, kemarin gue udah dateng tapi lo ga ada, kata Bu Nay lo pergi sama Oma lo."
"Apa? Kemarin Alvin datang? Kok Bunda ga bilang sih?"
"Bukannya dari dulu Oma lo memang tinggal sendiri ya?"
"Mati gue, kok gue bisa lupa ya kalau Alvin udah tahu kalau Oma memang tinggal sendiri."
"Iya itu dulu, sebelum Daddy menikah, sekarang kan Daddy udah ada Bunda yang nemenin jadi Oma minta aku tinggal disana."
"Oh–." Alvin hanya ber-oh ria saja.
"Untung gue pinter ngeles jadi Alvin percaya. Kalau ga? Hhmmm tamatlah riwayat mu Kalycha." Dalam hatinya Kalycha bermonolog pada dirinya sendri.
"Kalau gitu gue pamit dulu ya Cha, takut kemaleman." Alvin berdiri dari temoat duduknya dan berjalan keluar rumah diikuti oleh Kalycha dari belakang.
"Oke. Lo hati-hati ya."
Kalycha mengantarkan Alvin sampai kedepan rumahnya.
Cup.
Alvin mencium pipi Kalycha. Sontak Kalycha terkejut dan memegang pipinya yang bekas dicium Alvin.
__ADS_1
"Gue balik dulu ya. Makasih udah maafin gue."
Kalycha masih berdiri ditempatnya, sementara Alvin sudah pergi meninggalkan mansion megah keluarga Bramasta itu.
Kalycha menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir kekacauan dalam pikirannya. Entah kenapa dirinya begitu kaget saat Alvin menciumnya tadi. Menolaknya pun Kalycha tak sempat.
Kalycha berjalan masuk kerumahnya tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara bariton dari belakangnya.
"Enak dicium sama cowok itu?"
Belum pulih debaran jantungnya yang hampir copot akibat Alvin yang tiba-tiba menciumnya sekarang ditambah lagi suara ketus dari Haidar yang saat ini tepat berdiri dibelakangnya.
"Mas, itu tadi–." Belum sempat Kalycha menjelaskan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Alvin, Haidar sudah langsung memangkas ucapannya.
"Cepat, Bunda dan Daddy udah nunggu dimeja makan."
Haidar berjalan mendahului istrinya itu. Dirinya sangat kesal. Bagaimana tidak kesal melihat istrinya dicium oleh pria lain didepan matanya sendiri.
Tadinya Nayla meminta Haidar untuk memanggil Kalycha dan Alvin untuk makan malam bersama setelah Pram dan Haidar sudah menyelesaikan pembahasan pekerjaan mereka. Tapi dirinya dikejutkan dengan adegan yang membuat darahnya mendidih. Haidar sangat marah dan kesal.
Tapi Haidar tidak menunjukkan rasa kesalnya itu didepan kedua mertuanya. Sikapnya biasa saja. Tak ada pembahasan yang serius saat mereka bersantap makan hanya cerita ringan tentang pekerjaan atau keseharian mereka setelah menikah.
Saat Kalycha menyendokkan makanan untuk Haidar suaminya dan mengisi piringnya dengan lauk dan sayur tidak ada ucapan terimakasih yang biasa Haidar ucapkan saat dirinya menghidangkan makanan untuknya. Haidar hanya tersenyum yang Kalycha tahu itu adalah senyum terpaksa dari suaminya.
"Memangnya kamu berapa lama perginya Dar? Terus dikota mana?" Haidar sudah lama menunggu istrinya bertanya dia akan pergi bertugas kemana? Luar kotanya dimana? Sama siapa perginya? Tidak ada sama sekali, Kalycha tidak ada menanyakan itu padanya. Yang bertanya justru adalah Ibu mertuanya. Dan itu semakin menambah rasa kesal dihatinya. Tak ada sedikitpun perhatian istrinya kepadanya.
"Di Palembang Bun, mungkin semingguan paling cepat 5 hari Bun, itupun kalau proyeknya cepat selesai."
"Mas kenapa tiba-tiba tertarik dengan bisnis batu bara?" Nayla bertanya pada suaminya.
"Ada teman memiliki Perusahaan yang mengelola batu bara dan mengajak untuk berinvestasi disana? Mas udah pelajari prospek kedepannya dan sangat bagus hasilnya dan keuntungannya juga besar. Makanya aku minta Haidar untuk terjun langsung kesana untuk meninjau prosesnya."
Tanjung Enim Sumatera Selatan adalah merupakan salah satu daerah penghasil batu bara terbesar di Indonesia. Lokasi pertambangan ini berada di Bukit Asam yang merupakan kota kecil. Namun, meskipun kecil keberadaan batu bara yang melimpah di dalamnya telah membuat kota kecil tersebut menjadi kota yang kaya. Dan itu adalah alasan salah satu mengapa Pram ingin mencoba bisnis dibidang tersebut.
"Cha kamu kok diam aja sayang?" Nayla bertanya pada Kalycha putrinya karena sejak dirinya duduk bersama mereka Kalycha hanya diam makanan yang didepannya pun tak juga habis dimakannya.
"Icha ga ngerti masalah bisnis Bun." sahutnya. Dihatinya masih menyimpan rasa bersalah pada suaminya itu, karena sedari tadi Kalycha mencoba berbicara pada Haidar tapi Haidar tidak pernah menjawabnya apalagi menoleh kepadanya.
"Icha udah selesai Bun. Icha ke kamar dulu, mau ngerjain tugas sekolah." Kalycha meninggalkan meja makan dengan langkah gontai ia menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
"Sepertinya Mas Haidar marah besar. Dia mendiamkanku. Aku harus bagaimana?"
Disini hujan bagaimana dikotamu?
Semoga dinginnya cuaca hari ini bisa menyejukkan hati Haidar yang panas 🤭
__ADS_1
Like dan Coment yach
Nanti Author kasih bonus Up 😍