
Orang dengan jenis kepribadian introvert akan menghabiskan waktu malamnya dengan suasana yang tenang dan sunyi, bahkan jiwa yang hampir terkuras itu seketika menjadi berenergi walau hanya merebahkan badan sendirian di sepinya malam.
Langit malam kota Jakarta saat itu berubah menjadi hiasan, bintang-bintang menampilkan cahaya keindahannya yang berkelap-kelip ditemani dengan sinar bulan. Malam itu terasa hening, damai, bahkan menyejukkan karena cuacanya tidak terlalu panas dan dingin.
Kinan yang tengah melamun, pandangannya lurus menghadap keluar jendela memandangi betapa indahnya kota Jakarta, seketika dikejutkan dengan sebuah tangan kekar melilit pinggang rampingnya siapa lagi bukan Fahad.
"Kenapa?" tanya Kinan memecahkan hening.
Fahad tak mengubris pertanyaan Kinan, dirinya sibuk menenggelamkan wajahnya dicekuk leher Kinan, mempererat pelukannya. "Aku ingin kamu cepat lulus."
Mendengar perkataan Fahad yang terang-terangan, Kinan membalas pelukan itu. Ia tidak berani berkata, padahal pernikahannya sudah berjalan satu minggu tapi kelekatan keduanya seperti perangko. Kemanjaan Fahad membuat Kinan luluh, bahkan berhasil lewat sebuah kata yang mengandung ancaman beberapa tempo yang lalu.
"Pak?"
"Aku sudah bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu kalau kita sedang berdua! Lagian aku belum setua itu, masih muda!"
"Baiklah, aku akan menggantinya!"
"Ayo apa?"
"Oppa?"
"Kurang enak itu!"
"Kakak?"
"Aku bukan kakakmu!"
"Sayang?" Kinan melembutkan nada bicaranya, sebenarnya dia sengaja memanggil Fahad dengan sebutan sebelumnya.
"Nah itu baru bener," celetuk Fahad dengan posisi wajah yang sama.
Kinan tersenyum tipis dan berkata, "bisakah sayang melepaskan pelukannya? Mata aku sudah mengantuk lho!"
"Baiklah," jawab Fahad melonggarkan pelukannya dan membiarkan Kinan berjalan sesukanya. Nyatanya, apa yang didapatkan bukannya Kinan berjalan ke kasur malah membalikkan badan sehingga tubuh keduanya saling berhadapan, tatapan keduanya saling melempar pandang. Wajah cantik Kinan selalu memanjakan mata Fahad, begitupun sebaliknya.
"Katanya mau tidur?" tanya Fahad heran.
"Iya aku mau tidur," jawab Kinan sembari mengangkat kedua tangannya dan mengalungkannya di leher kokoh Fahad.
Fahad menyerit heran dengan tingkah Kinan. "Kenapa lagi?"
"Gendong aku!" rengeknya.
Fahad seketika terkekeh saat mendengar itu, ia segera memangku tubuh Kinan seperti monyet saat mengendong anaknya. Wajah keduanya saling berdekatan sehingga aroma mint keduanya terasa bahkan suara nafas pun terdengar hingga telinga.
__ADS_1
"Lepasin dong aku sudah turunin di ranjang, terus aku harus ambil selimut biar kamu enggak kedinginan," ucap Fahad dan mendapatkan anggukan darinya.
Setelah selesai, keduanya kembali lagi mendekapkan tubuhnya saling memeluk seakan mencurahkan seluruh energi yang telah terkuras. Mulai dari kejadian saat di sekolah, bahkan masa lalu pun sudah membuat Kinan merasa terpuruk.
"Malam ini terasa damai untukku," papar Kinan sembari tangannya menyentuh wajah tampan Fahad.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa aku tampan?" tanya Fahad mencoba mengalihkan topik untuk bercanda.
"Ih, narsis banget!" celetuk Kinan sembari mengigit bibir bawahnya agar tidak tertawa.
"Biarin narsis sama istri sendiri, engga ada salahnya," ujar Fahad membela diri.
"Ih," sebal Kinan.
"Kinan?" panggil Fahad memecahkan hening setelah keduanya kehabisan kata untuk malam indahnya. Sangat disayangkan, jika waktu malam yang memiliki suasana damai dilewatkan toh tidak semua waktu bisa mengulang kembali hal yang sama.
Tangannya menyibakkan rambut yang menganggu wajah cantik Kinan dengan cara disematkan di telinga indah Kina, menyentuh pipi mulus dan menggambarkan senyum indahnya kala matanya terhipnotis dengan pemandangan cantik dari wajah Kinan yang berblasteran. Bi*bir pink yang menggoda selalu ingin Fahad lakukan dan sudah menjadi candu.
"Kenapa?" tanya Kinan heran dengan tingkah Fahad.
"Apa kamu tidak ingat sesuatu?"
"Apa itu?" tanya balik Kinan lagi dan lagi.
Fahad tidak menjawab pertanyaan itu justru menunjukkan bi*bir dirinya dengan jari telunjuk. Melihat tingkah Fahad seketika membuat Kinan salah tingkah dan tersenyum cengcesan yang ia utungkan dengan cara menutup mulutnya.
Kinan kemudian tersenyum kecut. "Terus aku harus apa?"
"Masih nanya," celetuk Fahad berakting marah.
"Aduh! Guru matematika saya rupanya sedang merajuk," ejek Kinan dengan tangannya sibuk mengusap wajah tampan Fahad.
"Ayo, boleh ngak?"
"Kenapa minta izin? Bukannya sayang selalu main nyosor?" celetuk Kinan.
Fahad tak mengubris perkataan Kinan, ia menarikkan badannya supaya lebih dekat sehingga wajah keduanya terasa hampir dekat bahkan aroma mint pun menghipnotis indera penciuman dua insan. Fahad segera menci*um bi*bir ranum Kinan bahkan Kinan membalasnya untuk mengimbangi. Sudah menjadi kecanduan bagi keduanya, sampai akhirnya perlahan ci*uman itu menjadi lum*atan. Dan untunglah Fahad masih memiliki akal sehat, bahwa dirinya tidak boleh melakukan lebih sebelum Kinan lulus sekolah.
Cukup lama keduanya bertautan hingga terhanyut, akhirnya Kinan mendorong perlahan tubuh Fahad untuk mencari oksigen dan Fahad merasakan itu seketika menyudahi dan membiarkan Kinan mencari udara segar. Setelah cukup puas Kinan merasakan udara segar, ia segera mendekap tubuh Fahad dan menyembunyikannya kedalam dada bidang Fahad sementara Fahad melihat tingkah itu segera membalas pelukan Kinan, dan mulai memejamkan mata sembari berbisik yang membuat Kinan tersenyum geli.
•••••••••••••••••••••••••••••••
Sementara itu, di kediaman Barakka yang kesepian karena dirinya tinggal seorang diri di rumah pribadinya. Akan tetapi, Barakka memiliki pembantu sehingga membuat rumah itu seperti sedikit terisi.
Barakka kemudian keluar dari kamar pribadinya dan berjalan menuju teras balkon, udara kesejukan malam memanjakan jiwa Barakka yang memiliki karakter pendiam dan tertutup bahkan Barakka juga seorang introvet kadang juga menjadi ekstrovert jika menyangkut kepentingan supaya terlihat lebih cool di depan publik.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu sekarang?" gumam Barakka seakan ucapan itu akan disampaikan oleh hembusan angin malam kepada seorang yang dimaksud oleh Barakka.
Ia segera mengecek ponsel dan menyalakan layar hitamnya, menekan tombol galeri tampaklah lima orang yang merupakan keluarga Barakka yang terdiri dari Hasan, Maryam, Fahad, Barakka, dan satu lagi seorang perempuan berjilbab yang wajahnya mirip dengan ibundanya.
Rasa sesak merasuki kalbu, pikirannya tergiang-giang kala itu wanita yang begitu mencintai dua lelaki harus pergi tanpa alasan seakan-akan ada satu rahasia yang belum terbongkar. Wanita yang teramat disayanginya karena sifat keusilan dan kejahilan kepada dua orang yang merupakan saudara sedarahnya. Ia menunduk, menenggelamkam wajahnya dengan kedua telapak tangan kenangan indah dan menyakitkan itu membuat Barakka tak bisa berkata-kata, pikiran dan hatinya seketika berputar mengingat masa itu kala ....
"Barokah!" teriak wanita dengan semangatnya.
"Aku sudah bilang, namaku Barakka bukan Barokah!" protes Barakka sembari menampilkan wajah sebalnya.
Wanita itu tercengir seperti kuda dan menampilkan wajah polosnya tanpa dosa. "Tapi, arti namamu sama saja."
"Sudahlah, ada apa Kakak memanggilku?" tanya Barakka to the point.
Dania Zainal Prambudi adalah wanita itu, beliau seorang kakak dan adik bagi dua lelaki yang saling menyayangi karena tumbuh dari keluarga yang sempurna ilmu agamanya. Ia tak menjawab pertanyaan Barakka adiknya, malahan mengode dengan tangan kanannya seperti agar ke sini. Barakka menyerit heran dan mengikuti jalan yang direncanakan.
"Kita harus membuat Kak Fahad terkejut," bisik Dania.
Barakka menggeleng-geleng. "Ayolah Kak, Kakak bukan bocah lagi aku juga baru masuk SMA sedangkan Kakak berumur 21 tahun itu bukan umur bocah."
"Enak saja ngatain aku bocah! Tapi, kamu tau tidak kenangan semacam ini enggak bakalan terulang lagi," kata Dania.
"Iya sih, tapi mau diapain toh Kak Fahadnya?" heran Barakka.
"Aku pengen dandanin dia," jawab Dania sembari menampilkan sederet gigi bersihnya.
Barakka menggeleng-geleng, sedangkan Dania melancarkan aksinya. Mengambil lipstik yang teraimpan rapih di tas mungilnya, tangannya sudah siap umtuk mengubah wajah tampan Fahad. Tapi, saat lipstik hendak mendarat Fahad kemudian menahannya dan membuka satu matanya bahkan menatap tajam kepada adiknya itu.
"Mau apa?" tanya Fahad dengan senyum sinis.
"Eh, enggak," jawab Dania gugup.
'Nah,'kan gue bilang!' batin Barakka melihat tingkah Fahad menatap kakaknya seakan mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Dania itu sendiri. Tidak heran, jika Fahad memiliki insting sehingga pantas dijuluki cenayang.
"Jangan bohong, kamu pasti mau dandanin aku, Dania!" sindir Fahad dan melepaskan tangannya dan mengambil lipstik dan mencoretkannya pada wajah Dania dan kemudian kabur.
"Kurang ajar!" teriak Dania mengejar Fahad.
Kejaran itu membuat seisi ruangan menjadi riuh dan sedikit ramai, Barakka tak ingin mencampuri urusan keduanya. Toh, kalau sudah jahilnya keluar pasti akan seperti ini. Hasan dan Maryam melihat tingkan dua orang itu hanya menarik nafas, sudah menjadi kebiasaan pengisi rumah supaya tidak terlalu hening dan menciptakan suasana.
Kenangan meyenangkan itu tergiang kuat di benak Barakka, bahkan pikirannya membenarkan perkataan Dania bahwa kenangan manis hanya berlaku sekali saja sedangkan sisanya entah itu akan terakhir atau hanyalah ilusi sebagai hayalan untuk mempertahankannya.
"Kenapa yah waktu itu gue enggak tahan bang Fahad, sepertinya bakalan lucu," gumam Barakka terkekeh geli mengingat kejadian itu.
Malam itu terasa sangat merindukan, suasana tenang menyeruak kalbu bahkan menghipnotis jiwa kenestapaan Barakka. Kepalanya terangkat mengamati pemandangan langit gelap malam, sinar rembulan masih memberikan udara kedamaian untuk kaum introvert yang sedang mengisi seluruh energinya. Suara angin malam membuat Barakka terhanyut dalam kenangan pilu dan penuh kerinduan seakan ingin segera memeluk sang kakak yang pergi entah kemana tanpa mengatakan alasannya.
__ADS_1
"Kak Dania, kumohon kembalilah ... mari kita berbicara," kata Barakka sembari tangannya memeras dada, entah kenapa bagian itu sungguh terasa sesak.
"Barakka, Kak Fahad ... aku baik-baik saja," lirih wanita dengan kesakitan menjalar hingga seluruh tubuhnya.