
Malam semakin larut, keduanya bersiap - siap untuk beristirahat dikamar. Sakura masih sibuk memakai cream di wajahnya sedangkan daichi sudah berada si atas tempat tidur sambil menonton tv.
"Daichi...", panggil sakura.
"Hmmm..,"Jawab daichi dengan matanya fokus menatap ke layar TV.
"Aku ingin mengatakan sesuatu", ucap sakura.
"Katakanlah", ucap daichi yang masih fokus menonton.
Merasa dirinya kurang di respon sakura hanya diam sambil melihat kearah daichi, wajahnya terlihat kesal melihat daichi yang mengabaikannya. Dia naik keatas kasur, mengenakan selimut tebal yang membalut tubuhnya sambil membelakangi daichi yang ada di sampingnya.
"Tidak jadi bicara?" tanya daichi.
"Tidak..., lebih baik kamu melanjutkan tontonan mu", ucap sakura.
Suara itu terdengar begitu kesal, daichi yang mendengarnya hanya tertawa. Dia mematikan TV itu, mendekatkan tubuhnya kepada sakura yang berbaring membelakanginya.
"Apa kamu marah?" bisiknya tepat di telinga sakura.
"Tidak...', jawab sakura .
"Lalu kenapa kamu tidur membelakangi ku?" tanya daichi.
Sakura hanya diam sambil menutup kedua matanya.
"Maafkan aku nyonya Tama, jangan marah", ucap daichi.
"Aku tidak marah', ucap sakura sedikit masam.
"Kalau begitu lihat aku", ucap daichi.
Dia menarik napas, kemudian memutar badannya kearah daichi. Kedua mata indah bersinar menatapnya dengan senyuman yang terlihat jelas di bawah sinar cahaya lampu sehingga membuat sakura tak bisa menahan senyumnya saat wajah daichi.
"Jangan marah, aku tidak sanggup jika kamu mendiami ku sakura", ucap daichi.
"Kalau begitu jangan mengabaikan ku, aku tidak suka", ucap sakura dengan bibirnya yang cemberut.
"Baiklah..., maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi", ucap daichi.
"Hmm...", jawab sakura.
"Aku sudah minta maaf, jangan cemberut lagi. Kumohon", ucap daichi sambil menempelkan kedua tangannya kearah sakura.
Sakura terdiam untuk sesaat, kemudian menatap wajah daichi sambil tersenyum. Rasanya begitu sulit untuk dapat marah kepada daichi yang selalu mampu meluluhkan hatinya dengan segala perbuatannya.
"Lihatlah, kamu lebih terlihat cantik jika tersenyum", ucap daichi sambil tersenyum melihat sakura.
"Terima kasih", ucap sakura.
"Jadi apa yang ingin kamu katakan tadi?" tanya daichi.
"Ah..., itu soal tuan haga", ucap sakura
"Haga??? Ada apa dengannya?"tanya daichi.
"Aku merasa tidak nyaman dengannya daichi", ucap sakura.
"Tidak nyaman? Tetapi kenapa sakura?"tanya daichi yang terlihat penasaran.
"Entahlah.., aku hanya merasa tidak nyaman saat di terus menatapku", jelas sakura.
"Itu mungkin hanya perasaanmu saja sakura", ucap daichi.
"Iya..., mungkin saja. Apa kalian begitu dekat dulu?"tanya sakura.
"Hmm..., kami berdua memiliki kesamaan. Dulu saat di kampus, kami memilih dalam berteman hingga akhirnya kami berdua menjadi dekat", ucap daichi.
"Tapi..., aku seperti mengenalnya,saat melihat wajahnya aku seperti pernah bertemu dengannya. Aku seperti tidak asing dengan wajahnya, tetapi aku lupa dimana aku pernah melihat wajah itu", ucap sakura.
"Apa kamu yakin sakura?" tanya daichi.
"Aku sangat yakin daichi", ucap sakura.
Dia mencoba mengingatnya, namun semakin dia berusaha untuk mengingatnya membuatnya semakin frustasi.
"Sudah hentikan", ucap daichi.
Dia menarik sakura dan memeluk sakura di dadanya, terasa begitu hangat dan membuat sakura merasa begitu nyaman setiap kali daichi menariknya kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Sekarang lebih baik kita melupakan tentang haga dan beristrahat karena besok kita akan memulai perjalanan kita", ucap daichi sambil menepuk - nepuk punggung sakura.
Sakura mengangkat wajahnya agar sejajar dengan wajah daichi.
"Perjalanan kemana?" tanya sakura yang terlihat penasaran.
"Itu rahasia, kamu akan mengetahuinya besok", ucap daichi.
"Baiklah", ucap sakura.
Sakura adalah wanita yang sangat penurut, meski dia penasaran, tetapi dia tidak akan pernah bertanya lagi saat daichi sudah berbicara kepadanya.
"Istirahatlah", ucap daichi sambil memeluk sakura.
Lengan daichi menjadi bantal yang nyaman untuk sakura menyandarkan kepalanya, aroma tubuh daichi yang wangi membuatnya merasa tenang hingga membuatnya terlelap tidur dalam pelukan daichi.
Disaat sakura tertidur, daichi kembali mengingat perkataan sakura mengenai haga. Sejujurnya dia pun menyadari bahwa haga yang selalu menatap sakura dan tatapan itu bukanlah tatapan yang biasa, dia merasa haga begitu peduli dengan sakura yang baru pertama kalinya bertemu dengannya dan bersikap seolah sudah mengenal sakura sebelumnya .Dia menyimpan kecurigaan terhadapnya, namun dia tidak ingin mengatakan kepada sakura agar tidak membuat sakura cemas dan merasa semakin tidak nyama.
Keesokan harinya
Pagi ini matahari bersinar begitu cerah, keduanya bersiap - siap memulai perjalan mereka. Daichi memasukan satu koper yang berisi pakaian mereka berdua, sakura hanya berdiri mengamati daichi.
"Masuklah", ucap daichi sambil membuka pintu mobil untuk sakura .
Daichi meletakan tangannya untuk melindungi kepala sakura saat dia masuk kedalam mobil, setelah itu daichi pun menyusul masuk kedalam mobil. Mobil itu melaju kencang, daichi menginjak pedal gas dan begitu fokus melihat kedepan. Selama di perjalanan, daichi hanya diam tanpa mengatakan apa - apa begitu pula sakura yang hanya diam duduk di bangku penumpang menikmati pemandangan dari jendela.
Perjalanan yang di tempuh hampir 2 jam, membuat sakura merasa bosan dan dia tidak mampu menahan rasa kantuknya dan selama perjalan dia hanya tertidur.
"Sakura....,Sakura..",
Sesuatu yang lembut menyentuk pipi sakura hingga membangunkan tidurnya. Perlahan dia membuka kedua matanya yang terasa begitu berat, saat dia tersadar wajah indah daichi terlihat begitu jelas di hadapannya.
"Kita sudah sampai", ucap daichi.
Dia mengangkat kepalnya, mobil itu berhenti tepat di sebuah dermaga pelabuhan.
"Dermaga?" tanya sakura dengan dahinya yang mengkerut melihat daichi.
"Hmmm..", jawab daichi dengan matanya yang terus menatap sakura.
Sakura merasa bingung kemana sebenarnya daichi ingin membawanya.
"Ayok kita keluar", ucap daichi.
"Hati- hati", ucap daichi sambil memegangi tangan sakura.
Mereka terus berjalan, hingga sakura melihat sebuah perahu kecil di pinggir tepi laut dan ada seorang pria paruh baya yang sudah menunggu disana.
"Maaf menunggu lama, jalanan begitu macet tadi", jelas daichi.
"Tidak apa - apa tuan, saya mengerti", ucap pria itu.
Daichi melompat naik ke parahu dengan membawa koper di tangannya. Dia meletakan koper itu dan berbalik untuk membatu sakura untuk naik. Dia mengulurkan tangannya kearah sakura.
"Pegang lah ",ucap daichi.
Sakura meraih tangan daichi dan langsung naik ke perahu, hentakan sakura membuat perahu kayu itu goyang hingga membuat sakura hampir terjatuh, namun dengan sigap daichi langsung mencengkram lengan sakura.
"Apa kamu baik- baik saja?" terlihat dengan jelas wajah daichi begitu cemas.
"Ia aku baik - baik saja", jawab sakura.
"Ayo duduk", ucap nya.
"Hmmm...", jawab sakura.
"Apa kita sudah bisa berangkat tuan?" tanya pria itu.
"Sudah", jawab sakura.
Dia menarik tali panjang, terdengar suara mesin perahu yang begitu berisik dan perlahan perahu yang dinaiki keduanya mulai bergerak dan meninggalkan tepi laut. Ini adalah pengalaman pertama yang dirasakan sakura, wajahnya terlihat bahagia. Dia mengulurkan tangannya untuk merasakan air laut yang terasa begitu hangat akibat teriknya mata hari, daichi yang melihat apa yang dilakukan sakura hanya tersenyum.Perahu itu melewati ombak laut hingga membuat keduanya basah dari percikan air laut, keduanya saling tertawa.
Daichi!!!!!! teriak sakura dengan nada suaranya yang kuat.
Suara mesin perahu itu begitu berisik, sehingga sakura harus berbicara lebih kuat dari biasanya agar daichi dapat mendengarnya.
"Ada apa sakura?" tanya daichi ditengah suara mesin perahu.
"Kita akan kemana?" tanya sakura.
__ADS_1
"Sebentar lagi kamu akan melihatnya", teriak daichi.
Jawaban yang diberikan daichi membuat dirinya semakin penasaran, hingga akhirnya rasa keingintahuannya terjawab saat dia melihat sebuah gedung tinggi besar yang terlihat jelas di bawah sinar matahari. Semakin mendekat, sakura bisa melihat sebuah hotel besar berada di sebuah pulau dan terlihat begitu menakjubkan.
"Luar biasa", ucap sakura yang begitu fokus melihat kedepan.
Kemudian matanya kembali fokus melihat daichi yang dari tadi mengamatinya sambil tersenyum.
"Daichi..", Gumamnya yang terlihat masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Apa kamu menyukainya?" teriaknya .
"Ini luar biasa, aku sangat menyukainya", ucap sakura.
Dia hanya tersenyum lebar, sebuah senyum yang begitu indah dengan mata yang bersinar seperti cahaya matahari. Bagi daichi kebahagian sakura adalah prioritas di hidupnya saat ini, apapun akan dilakukannya agar dapat melihat senyum yang indah di wajah sakura.
Perlahan perahu itu melambat, mencari pemberhentian di tepi laut untuk menyandarkan kapal yang mereka tumpangi di dermaga lebih kecil dari dermaga sebelumnya dan pria paruh baya itu mematikan mesin perahu yang mereka tumpangi.
"Kita sudah sampai tuan", ucapnya.
"Baiklah, ayok kita turun.
Dia mengangkat koper itu dan meletakkannya, kemudian dia berbalik untuk menolong sakura untuk turun.
"Hati- hati", ucap daichj.
"Sebuah hotel", ucap sakura.
"Iya.., hotel yang sangat bagus", jawab daichi.
"Ayok", ucapnya.
Dia menggenggam tangan sakura dan menuntunnya berjalan ke arah hotel tersebut. Pemandangan indah menyambut kedatangan mereka, sebuah bangunan yang besar berada di tengah- tengah pulau dengan pemandangan laut yang luas di depannya.
Mata sakura tercengang begitu memasuki hotel tersebut, kesan mewah langsung di dapatnya saat memasuki loby. Orang - orang berlalu lalang silih berganti, pakaian yang dikenakan, jam yang dikenakan bahkan perhiasan yang dipakai menunjukan siapa mereka dan sakura menyadari bahwa pengunjung hotel tersebut adalah orang - orang dengan kalangan atas.
"Apa yang kamu lihat?" hanya daichi.
"Tidak ada", jawab sakura.
"Ayok", ucap daichi.
Keduanya berjalan menujuh kekamar mereka yang berada di lantai 3 dengan seorang petugas hotel yang membawa koper mereka.
"Ini kamarnya tuan", ucap petugas hotel itu sambil membukakan pintu kamar dan meletakan koper.
"Terima kasih", ucap daichi sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celananya.
Sakura melangkahkan kakinya masuk kedalam dengan meninggalkan daichi yang masih berada diluar, Kesan pertama yang terlintas oleh sakura tentang kamar itu sangat luas dan mewah, meski ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan fasilitas yang mewah, tetapi tetap saja membuat sakura tetap merasa takjub.
Terlalu fokus hingga dia melupakan daichi, tiba - tiba saja dua tangan melingkar di pinggang sakura saat dia baru ingin membalikkan badannya menemui daichi.
"Bagaimana kamu mengabaikan ku nyonya tama", bisiknya tepat di telinga sakura.
Sakura hanya tersenyum dan langsung memutar badannya kearah daichi. Dia meletakan kedua tangannya di atas bahu daichi dan perlahan melingkarkan nya.
"Maafkan aku suamiku", ucapnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Apakah itu wajah yang merasa bersalah?" tanya daichi dengan mata tajamnya.
"Apa kamu tidak akan memaafkan ku?" tanya sakura dengan raut wajah yang melas.
"Aku akan memaafkan mu, tetapi dengan satu syarat", ucap daichi..
"Syarat? Apa itu?"tanya sakura.
Daichi mengarahkan satu jarinya kearah bibirnya, sakura yang melihatnya hanya tersenyum malu.
"Ais...., Dasar", ucap sakura yang tertawa.
Daichi terus menggoda sakura, dengan terus menunjuk - nunjuk ke arah bibirnya yang berwarnah merah menggoda. Tanpa harus berkata apapun, sakura memahami apa maksud daichi dan keinginannya.
"Baiklah...", ucap sakura dengan pipinya yang mulai memerah.
Dia mendekatkan wajahnya ke wajah daichi perasaannya sama seperti biasanya jantung yang berpacu sangat kencang, begitu dalam dia menatap matanya untuk sesaat dan mendaratkan sebuah kecupan singkat dibibir daichi dan langsung menarik wajahnya.
"Aku mencintaimu suami ku", ucapnya sambil tersenyum.
"Aku juga sangat mencintaimu", jawab daichi.
__ADS_1
Keduanya saling tersenyum, mengungkapkan perasaan satu sama lain menjadi tidak canggung lagi bagi keduanya dan menjadi semua kalimat yang akan sering mereka ungkapkan beriringan dengan rasa cinta yang semakin besar tubuh di dalam hati keduanya.
Bersambung.......