Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 113 Menunggu


__ADS_3

Hari semakin gelap, awan begitu gelap dengan gemuruh petir yang menerangi langit malam. Suara gemuruh petir mengagetkan sakura yang dari tadi berada di kamarnya, di beranjak turun dari tempat tidurnya berjalan kearah jendela kamarnya. Hembusan angin begitu teras saat sakura membuka jendela kamarnya, sekelilingnya terlihat begitu gelap saat di melihat keluar.


Jgeeer.....Jgeeer...jgeeer!!!!!!!!


"Yaampun..', ucap sakura sambil meletakan kedua tangannya tepat ditelinga Nya.


Suara petir itu mengagetkannya, tubuhnya bergetar akibat rasa takutnya mendengarkan suara petir. Dengan cepat dia kembali menarik jendela itu dan menutupnya dengan begitu kuat.


"Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun", ucapnya.


Kondisi saat ini membuatnya merindukan daichi yang baru beberapa jam berpisah dengannya, dia merindukan sosok suaminya yang akan langsung memeluknya saat mendengar suara petir karena dia tau bahwa sakura begitu takut mendengarnya.


"Aku merindukan mu", ucapnya.


Seharian berada di dalam kamar, akhirnya dia memutuskan untuk melakukan rutinitas yang biasanya dilakukannya menjelang malam hari salah satunya adalah memasak makan malam. Dia berjalan menujuh kearah dapur dan mulai memasak makanan yang cukup simpel bagi dirinya saat tidak ada daichi.


Saat dia duduk di meja makan, perasaanya terasa sunyi saat matanya menatap kearah bangku yang ada di depannya, bangku yang setiap hari di duduki daichi saat keduanya makan bersama. Semuanya terasa begitu hampa untuknya saat ini bahkan dia merasa begitu sulit saat menelan makan agar masuk kedalam tenggorokannya dan membuatnya kehilangan selera untuk makan.


Setiap sudut dari bagian apartemen itu membuatnya terus mengingat daichi, tanpa tersadar olehnya air matanya jatuh begitu saja. Perasaanya begitu tersiksa menahankan rasa rindunya yang teramat dalam bahkan dia harus menjalani kesendiriannya ini selam satu minggu kedepan.


"Ini begitu menyiksaku", ucapnya.


Rintikan air hujan perlahan mulai turun membasahi bumi dan semakin deras seperti langit sedang marah dengan diiringi gemuruh petir yang begitu kuat. Derasnya hujan mewakili kesedihan sakura malam ini, gelapnya langit sama seperti hati sakura yang terasa kosong tanpa suaminya didekatnya dan malam seperti ini akan terus dilaluinya selam satu minggu kedepan.


••••••


Matahari mulai muncul dibalik awan dan bersiap menerangi langit dengan begitu cerah dengan sinarnya di pagi hari. Tidak ada terdengar suara keributan di dapur, semua tampak begitu tenang hanya ada suara langkah kaki yang terdengar berlalu- lalang didalam kamar.


Pagi ini seperti biasanya sakura bersiap berangkat ke kantor hanya saja pagi ini dia memutuskan berangkat lebih awal dari pada biasnya karena tidak ada suami yang harus diurusnya di pagi hari.


Dreg....Dreg...Dreg....


Ponselnya yang berada di atas meja lemari hiasnya bergetar, dia langsung mengambilnya dan menjawab panggilan dari kimi.


"Hallo nona.., saya sudah dibawah", ucap kimi.


"Baiklah kimi, saya akan segera turun", ucap sakura.


Dia bergegas turun menghampiri kimi yang sudah menunggunya di loby apartemen. Dia berjalan kearah mobil merah dan membuka pintu mobil itu dan masuk kedalam.


"Selamat pa-gi...", kalimat sapaannya menggantung diujung lidahnya saat matanya tercengang melihat kimi.


"Apa yang terjadi denganmu kimi???"tanya sakura.


"Ah..., jangan menatap saya seperti itu nona", ucap kimi yang menutupi wajahnya dengan tangannya.


"Ada apa dengan wajahmu kimi? Apa kamu sakit? Kenapa terlihat begitu pucat?"tanya sakura.


"Tidak nona sakura, saya hanya belum mengenakan makeup di wajah saya karena saya terburu- buru saat anda menelepon saya hingga membuat saya tidak sempat makeup", jelas kimi.


"Astaga..., maafkan aku kimi", ucap sakura yang terlihat merasa bersalah.


"Tidak apa- apa nona, tetapi melihat ekspresi wajah anda. Apa wajah saya terlihat mengerikan tanpa makeup?"tanya kimi.


"Hahahah..., sama sekali tidak kimi hanya saja wajah mu terlihat sedikit pucat bila tidak memakai makeup", ucap sakura yang mencoba berbicara sangat hati - hati agar tidak menyinggung perasaan kimi.


"Benarkah?? saya begitu terkejut saat anda menelepon saya dan bertanya apa saya sudah berangkat", ucap kimi.


"Itu karena tidak ada yang perlu aku urus sebelum berangkat ke kantor kimi", ucap sakura sambil mengenakan seatbelt


"Ahh.., Benar!!! Tuan daichi tidak ada", ucap kimi sambil mulai melajukan mobilnya meninggalkan loby apartemen.


"Hmm.., Aku tidak perlu memasak dan mencuci piring sebelum berangkat kerja", ucap sakura sambil tertawa.


"Apa tuan daichi sudah menghubungi anda nona?"tanya kimi.


"Belum..., mungkin dia masih sibuk", jawab sakura sambil menatap keluar jendela.

__ADS_1


Sejak dia membuka matanya di pagi hari, hal yang dilakukannya pertama adalah memeriksa ponselnya sambil berharap ada panggilan telepon atau pesan yang dikirimkan daichi kepadanya, namun dari tadi sampai sekarang tidak ada panggilan ataupun pesan yang diterimanya dan hanya ada satu kata yang ada di pikiran nya saat ini yaitu "Menunggu".


••••••••••••••••


Tok....Tok....Tok...


"Masuklah!!!!!


Dia membuka pintu kamar itu dan berjalan menghampiri pria yang sedang berdiri memandang keluar jendela, menikmati pemandangan kota yang terlihat jelas dari lantai 7 tempat dia menginap.


"Maaf tuan daichi.., ini ponsel anda. Saya sudah mengganti kartu anda", ucap sekertaris yun.


Diam dengan pandangannya yang begitu fokus melihat keluar tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya.


"Tuan Daichi...", panggil sekertaris yun.


"Aku mendengarnya sekertaris yun", ucap daichi sambil memutar badannya menghadap kearah sekertaris yun.


"Ahh.., Maafkan saya tuan yun", ucap sekertaris yun.


Daichi hanya tersenyum simpul, berjalan mendekati sekertaris yun sambil menepuk bahu sebelah kanannya.


"Tidak apa- apa sekertaris yun", ucap daichi sambil mengulurkan tangannya kearah sekertaris yun.


Sekertaris yun hanya melihat tangan daichi yang ada di depannya, tanpa memahami maksud daichi kepadanya.


"Aish....", ucap daichi sambil menghembuskan nafasnya.


"Berikan ponselnya sekertaris yun", ucap daichi.


"Hmm.., Ah!!!! Maaf tuan..', ucap sekertaris yun yang langsung memberikan ponsel daichi kepadanya.


"Terima kasih sekertaris yun",ucap daichi sambil memasukan ponselnya ke saku celananya.


Melihat daichi memasukan ponselnya menimbulkan pertanyaan besar dalam benak sekertaris yun, hingga akhirnya dia mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada daichi.


"Ma-af tuan daichi", ucap sekertaris yun.


Dia merasa tersentak saat daichi seakan bisa membaca pikirannya saat ini.


"Maafkan atas kelancangan saya tuan daichi, tetapi apa anda tidak menghubungi nona sakura? Mungkin nona sakura sudah menunggu kabar dari anda", ucap sekertaris yun.


Daichi melirik jam tangan yang dikenakannya.


"Disini sudah jam 10 malam dan disana pasti sudah siang dan sakura mungkin sedang bekerja. Aku tidak ingin menggangunya sekertaris yun"ucap daichi.


"Tapi bagaimana jika nona sakura ternyata menunggu kabar anda dari tadi tuan", ucap sekertaris yun.


"Aku akan menghubunginya besok pagi sekertaris yun", jawab daichi.


"Baiklah tuan", jawab sekertaris yun tanpa berani bertanya lagi kepada daichi.


"Oh iya sekertaris yun, jam berapa besok pertemuannya?"tanya daichi.


"Pertemuannya akan berlangsung setelah makan siang tuan daichi", jawab sekertaris yun.


"Baguslah.., kita masih punya banyak waktu untuk beristirahat", ucap daichi.


"Benar tuan", jawab sekertaris yun.


"Sekertaris yun.., aku ingin kita dapat menyelesaikan semua urusan kita disini lebih cepat dari yang kita perkirakan", ucap daichi.


"Saya mengerti tuan, saya akan mengusahakannya", ucap sekertaris yus.


"Baguslah ..", ucap daichi.


"Kalau tidak ada lagi, saya izin pamit tuan", ucap sekertaris yun.

__ADS_1


"Tentu saja, beristirahatlah sekertaris yun karena kamu pasti juga sangat lelah melewati penerbangan berjam- jam", ucap daichi.


"Baiklah tuan, saya permisi dulu", ucap sekertaris yun yang melangkahkan kakinya berjalan keluar meninggalkan kamar daichi.


Selepas kepergian sekertaris yun, dia memutuskan untuk menyegarkan dirinya dan merendam tubuhnya di dalam air. Dia berjalan kedalam kamar mandi sambil melepas satu persatu pakaian yang menempel ditubuhnya. Hanya terlihat dadanya yang berotot dengan bidang bahunya yang besar dan itu terlihat begitu menakjubkan bagi setiap kaum hawa yang melihat badan daichi tanpa sehelai benang yang menempel ditubuhnya sambil berjalan masuk kedalam bathtub besar yang berisi air hangat.


Dia menenangkan dirinya di dalam bathtub, menutup kedua matanya untuk menikmati waktunya seorang diri. Penerbangan berjam - jama dan hanya duduk di dalam pesawat membuat seluruh tubuhnya terasa begitu sakit dan pegal. Hampir sekitar setengah jam lebih di dalam kamar mandi, akhirnya dia keluar dengan rambut yang acak - acakan dan masih basah dan hanya mengenakan celana panjang dengan dada yang telanjang.


Hari semakin malam, namun rasa kantuknya tak kunjung menyerang dirinya. Dia kembali menikmati pemandangan kota yang terlihat indah dengan cahaya terang yang menerangi kota ditengah kegelapan di malam hari. Suasana saat ini membuatnya teringat dengan sakura, kenangan saat mereka menghabiskan waktu bulan madu berdua terbayang di ingatannya.


"Aku sangat merindukanmu. Apa yang sedang kamu lakukan disana?" ucap daichi dengan pandangannya yang begitu fokus menatap kedepan.


Keadaan yang saat ini sungguh menyiksa hatinya, menahan rasa rindu terhadap wanita yang begitu dicintainya, meskipun dia sadar mencintai bukan berarti dia harus bersama dengan sakura setiap waktu karena memberi ruang untuk pasangan menikmati waktu nya sendiri sangat diperlukan dalam suatu hubungan. Satu hal yang dia sadari saat ini bahwa betapa berharganya sakura untuknya dan itu semakin terasa saat orang yang dia cintai tak bersama dengannya.


Beberapa menit menikmati pemandangan dari luar jendela, dia beranjak menuju tempat tidur mencoba merenggangkan otot- otot tubuhnya dan mencoba untuk memejamkan kedua matanya.


"Ah.., Kenapa tidak bisa tidur", ucap daichi yang mulai frustasi dan duduk menyandarkan badannya dengan bantal di belakang punggungnya.


Dia mengambil ponsel yang ada di atas meja yang berada disamping kanan dari ranjang tidurnya. Waktu terus berputar, namun rasa kantuk tak kunjung menyerahnya hingga dia memutuskan untuk mencari kesibukan dengan memainkan ponselnya dan membuka galeri.


Poto sakura yang pertama dilihatnya di galeri ponselnya, bahkan hampir semua poto yang ada di galeri ponselnya dihiasi dengan Poto sakura tanpa disadarinya bibirnya membentuk lekukan bulan sabit saat melihat wajah sakura yang begitu cantik di setiap poto yang ada di ponselnya.


Kemana pun dia pergi dengan sakura, dia tidak akan pernah lupa untuk mengabadikan setiap moment indah bersama sakura dalam bentuk jepretan kamera karena baginya sebuah poto akan selamanya menjadi kenangan yang tak akan pernah dilupakan. Melihat poto sakura membuat rasa rindunya sedikit terobati meski itu hanya dengan sebuah poto.


"Aku akan secepatnya pulang sayang! Tunggulah aku", ucap daichi sambil menatap poto sakura.


Kantor sakura 🏙


Setiap detik, setiap menit, bahkan setiap jam, dia terus memperhatikan ponsel yang terletak di atas meja. Tangannya bergerak menggoreskan tinta di setiap lembaran dokumen yang ada dihadapannya, namun tidak dengan pikirannya yang terus melirik ke ponselnya.


Tangannya begitu cepat meraih ponselnya saat mendengar deringan panggilan atau pesan masuk, berharap bahwa itu adalah panggilan atau pesan masuk dari daichi. Wajahnya cerianya begitu cepat berubah saat yang diharapkannya tak kunjung menghubunginya.


Tok...Tok...Tok...


"Masuk!!!!"teriak sakura.


Pintu itu terbuka, hentakan kaki kimi terdengar jelas saat sepatu heels yang di pakainya menyentuh lantai ruangan sakura. Dia berjalan menghampiri sakura dengan satu tangannya membawa secangkir teh hangat untuk sakura.


"Ini untuk anda nona", ucap kimi sambil melegakannya dihadapan sakura.


"Terima kasih kimi", ucap sakura.


"Minumlah nona agar badan anda enak", ucap kimi.


"Hmmm..", ucap sakura sambil meminumnya.


"Apa tuan daichi sudah menghubungi anda?"hanya kimi.


Sakura hanya menggelengkan kepalanya sambil meletakan kembali gelas di meja.


"Belum ada kimi", jawab sakura.


"Tapi no-na..", ucap kimi yang menghentikan kalimatnya.


"Tapi apa kimi?"tanya sakura.


Keheningan terjadi sejenak pada kimi


"Apa yang harus aku katakan? "Apa aku harus mengatakan bahwa sekertaris yun sudah menghubungi ku? Batin kimi yang bergejolak.


"Kimi..., Kenapa kamu diam?"tanya sakura.


"Ah.., Tidak nona! Saya hanya ingin mengatakan mungkin tuan daichi belum sempat mengganti kartunya", ucap kimi sambil tertawa.


"Hmm..., mungkin yang kamu katakan benar kimi", ucap sakura.


"Hahahah..., iya nona sakura", ucap kimi dengan senyum yang terlihat terpaksa.

__ADS_1


Bagi kimi sungguh terasa aneh saat sekertaris yun dapat menghubunginya sedangkan daichi sampai sekarang belum ada memberikan kabar untuk sakura, namun dia tidak ingin membuat sakura memikirkan sesuatu hal negatif dan membuatnya memutuskan untuk tidak mengatakannya karena dia tidak ingin hal itu dapat menggangu pikiran sakura.


Bersambung.....


__ADS_2