Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 37 Jawaban


__ADS_3

Seandainya aku bisa menghentikan waktu agar aku bisa lebih lama bersamamu dan melihatmu lebih dekat karena saat bersamamu, satu jam terasa satu detik sedangkan saat diriku jauh darimu, satu hari terasa satu windu dan membuatku begitu tersiksa.


Daichi Tama.......


"Sakura", ucap resa


"Ia kak resa",jawab sakura


Dia memegang tangan sakura dengan lembut, sakura yang melihat tangannya dipegang oleh resa hanya tersenyum dan tentu dia tidak menyangka dengan apa yang dilakukan resa.


"Kakak yakin daichi akan membahagiakan dirimu", ucap resa dengan menatap sakura dengan penuh keyakinan.


"Ehm, kenapa kakak tiba-tiba mengatakan hal itu", ucap sakura tertawa yang tampak kebingungan dengan ucapan resa yang tiba-tiba.


"Sakura, mungkin kakak tidak pernah merasakan sebuah pernikahan yang dijodohkan seperti apa yang kamu alami saat ini, tetapi kakak yakin kamu akan mendapatkan kebahagian bersama daichi,"ucap resa.


"Aku juga berharap seperti itu kak resa, mendapatkan sebuah kebahagian", ucap sakura dengan menatap resa.


"Apa kamu tau bahwa daichi sangat menyukai dirimu?tanya resa.


"A-pa?" Menyu-kai aku?" sakura tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Benar sakura, daichi sangat menyukaimu," ucap resa dengan menggenggam tangan sakura.


"Bagaiman dia bisa menyukai diriku kak?" tanya sakura.


"Sakura, kakak sangat mengenal daichi. Di keluarga Tama dialah satu-satunya orang yang berani menentang kakek. Namun saat kakek mengatakan dia akan dijodohkan dengan kamu, dia sama sekali tidak menolak bahkan menyetujui perjodohan kalian,"ucap resa.


Sakura hanya diam mendengar semua yang dikatakan resa kepadanya tentang Daichi Tama. Baginya menyetujui perjodohan bukan berarti menyukai,tetapi banyak perasaan yang harus di jaga sehingga tidak ada pilihan selain menerima perjodohan karena itulah yang dirasakan sakura ketika bersedia menerima perjodohan dirinya dengan daichi.


"Awalnya kami mengira daichi merencanakan sesuatu dan akan berontak, tetapi dia tidak melakukan apapun sampai pertunangan kalian terlaksana bahkan sebentar lagi kalian akan menikah. Itu bukanlah sifat daichi Tama yang kakak kenal",ucap resa.


Diselah- selah pembicaraan mereka, tiba- tiba daichi datang menghampiri mereka.


"Apa kalian sedang membicarakan ku?"tanya daichi dengan wajah angkuh nya.


"Jangan terlalu percaya diri daichi untuk apa kami harus membicarakan mu", ucap resa.


"Hmmm, lalu apa yang sedang kalian dua bahas?"Jika bukan membahas mengenai diriku",ucap daichi.


"Itu adalah rahasia kami berdua", ucap resa.


Sakura sama sekali tidak ada mengarahkan pandangannya kepada daichi, dia hanya fokus melihat bayi mungil yang ada di gendongan resa.


"Apa kamu ingin menggendongnya?"tanya resa.


"Ahhh, apakah boleh?"tanya sakura


"Tentu saja sakura",ucap resa sambil memberikan bayinya duduk dipangkuan sakura.


Sakura tampak begitu bahagia, dia sangat menyukai anak kecil. Dia terus mencium bayi mungil tersebut.


"Sepertinya Deren menyukaimu, dia sama sekali tidak menangis. Biasanya jika ada orang asing menggendongnya dia akan menangis", ucap resa.


"Benarkah?" ucap sakura yang selalu tersenyum.


"Wah, Deren suka dengan bibi sakura? Iya sayang?' ucap resa sambil memegangi tangan anaknya yang sedang di gendong sakura.


Mereka berdua begitu asik dengan deren dan tanpa mereka sadari telah mengabaikan keberadaan daichi bersama mereka. Namun daichi sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu karena dia juga merasa bahagia ketika melihat senyum sakura yang begitu lepas.


Ketika dia melihat sakura menggendong seorang anak membuat aura keibuannya muncul, dia adalah sosok wanita penyayang dan membuat anak kecil nyaman di dekatnya.


Dreg...dreg...dreg..


Ponsel sakura yang ada di dalam tas nya berbunyi, dia mencoba meraih ponselnya tersebut. Namun dia merasa begitu kesulitan membuka tasnya dengan satu tangan karena dia sedang menggendong deren.


Daichi yang dari tadi memperhatikan sakura, langsung membantu sakura membukakan tasnya dan mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya kepada sakura.

__ADS_1


"Ini", ucap daichi sambil memberikan ponsel sakura.


"Terima kasih ", ucap sakura yang masih tidak menyangka dengan apa yang dilakukan daichi.


"Hallo kimi", ucap sakura melalu sambung telpon.


"Hallo nona sakura, Apa anda baik-baik saja? Kenapa anda belum kembali ke kantor? Ini sudah jam 2 siang", begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan Kimi dengan nada suara yang begitu panik.


Sakura juga tak menyangka bahwa saat ini sudah jam 2 siang, dia begitu lama meninggalkan kantornya.


"Sebentar lagi aku akan kembali kekantor Kimi",jawab sakura.


"Baiklah nona sakura, hati-hati dijalan", ucap Kimi.


Selepas sakura selesai menerima panggilan telepon, resa langsung bertanya kepada sakura.


"Apakah terjadi sesuatu sakura?" tanya resa


"Akhh, tidak kakak. Akau hanya harus kembali kekantor sekarang", ucap sakura.


"Benarkah? Sayang sekali, padahal masih banyak yang ingin kakak obrolkan denganmu", ucap resa.


"Kita bisa bertemu kapan pun kakak mau atau kakak bisa mampir ke kantorku", ucap sakura.


"Tentu saja, kakak bisa meminta mu merancang pakaian untuk kakak", ucap resa.


"Hmmmm, aku pasti akan melakukannya",jawab sakura dengan senyumnya.


"Yasudah, pergilah kalau begitu. Sini berikan deren kepada kakak",ucap resa.


"Sampai jumpa lagi deren", ucap sakura yang mencium deren dan memberikan deren kepada ibunya.


"Ingin pergi sekarang?"Tanya daichi.


"Iya", jawab sakura begitu singkat kepada daichi.


Mereka pun berjalan menjumpai anggota keluarga yang lain.


"Ayah, ibu sakura harus pulang sekarang",ucap daichi.


"Kenapa cepat sekali?" ucap Imoto yang tampak kecewa.


"Iya bibi, sakura ada urusan mendadak di kator",ucap sakura.


"Begitu kah? Baiklah sayang, mau bagaiman lagi", ucap Imoto.


"Sakura izin pamit kalau begitu",ucap sakura sambil berpamitan dengan semua anggota keluarga tersebut


"Hati-hati sayang", ucap Imoto sambil memeluk dan mencium sakura.


"Iya bibi", ucap sakura.


"Apa kamu juga akan pergi daichi?tanya ayah daichi.


"Aku hanya ingin mengantar sakura kebawah, aku akan kembali lagi kesini", ucap daichi .


Mereka pun pergi dan berjalan keluar dan tentu saja mereka berdua ditemani oleh sekertaris Yun yang berjalan di belakang mereka.


"Kamu tidak perlu mengantarku ke bawah, aku bisa turun sendri", ucap sakura.


"Aku hanya ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang belum kamu jawab dari tadi", ucap daichi yang berbicara tanpa menatap wajah sakura.


Sakura memberhentikan langkahnya,


"Pertanyaan apa maksudmu?"Tanya sakura yang sama sekali tidak mengerti dengan yang dikatakan daichi barusan.


Daichi yang sudah berjalan beberapa langkah dari sakura, membalikan badannya dan menghampiri sakura yang berada di belakangnya.

__ADS_1


"Apa aku harus mengulangi pertanyaan ku?"tanya daichi yang berjalan begitu dekat dengan sakura.


Sakura yang tak kuasa melihat tatapan daichi hanya memalingkan wajahnya dari daichi.


"Bi-sahkah kamu, mundur?" tanya sakura yang tampak salah tingkah.


"Ya Tuhan, bagaimana dia masih mengingat hal itu",batin sakura.


Daichi yang mendengar permintaan sakura hanya tertawa sambil berjalan mundur dari sakura.


"Baikalah sekarang jelaskan siapa pria yang bersamamu tadi?" Bagaiman seorang wanita yang berstatus calon istri berada di sebuah restoran dengan pria lain?" ucap daichi.


"Apa kamu mengira aku berselingkuh?"tanya sakura yang kali ini dialah yang berjalan menghampiri daichi dengan menatap wajah daichi begitu dekat.


Sepertinya sakura tidak terima dengan tuduhan yang diberikan daichi kepadanya dan membuat dirinya begitu kesal.


"Aku sama sekali tidak ada mengatakan seperti itu", ucap daichi yang mendekatkan wajahnya kepada sakura.


"Astaga, mengapa wajahnya begitu dekat", batin sakura yang merasa begitu berdebar. Dia sama sekali tidak bisa berhadapan dengan daichi. Sakura langsung berjalan beberapa langkah dari daichi dan membuat jarak dengannya.


"Dengar, pria yang bersama ku tadi adalah dokter rei dia adalah ketua panita dalam kegiatan amal yang akan dilakukan rumah sakit wongdo. "Apa sudah jelas?"ucap sakura


Daichi hanya terdiam mendengar penjelasan sakura,


"Kenapa aku harus menjelaskan semuanya kepadanya?",batin sakura.


Daichi berjalan mendekati sakura, sakura yang melihat daichi terus berjalan menujuh kearahnya dengan perlahan mundur kebelakang untuk menghindari daichi, sampai langkah kakinya terhenti karena badannya sudah menabrak sebuah dinding dibelakangnya dan hampir saja membuat sakura terjatuh. Namun daichi dengan sigap merangkul pinggang sakura dengan satu tangannya dan satu tangannya menahan di tembok.


"Hampir saja", ucap sekertaris Yun sambil menarik napasnya yang begitu lega.


Sakura hanya terdiam dalam rangkulan daichi dengan napasnya yang terengah-engah, perasaanya masih begitu syok saat dia hampir saja terjatuh. Kedua matanya hanya terfokus pada sorot mata daichi yang menatapnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya daichi.


Suaranya yang lembut memecahkan lamunan sakura yang dari tadi belum sadar sepenuhnya, dia langsung buru-buru melepaskan dirinya dari rangkulan daichi.


"Aku baik-baik saja ", ucap nya.


"Lain kali hati-hati,ucap daichi.


"Te-rima kasih",. ucap sakura dengan suaranya yang begitu kecil.


"Tidak masalah ", ucap daichi yang tersenyum kepada sakura.


"Kalian tidak perlu mengatar ku kebawah",ucap sakura sambil menekan tombol lift.


"Apa kamu yakin?" tanya daichi yang melihatnya.


"Tentu saja, aku adalah wanita yang mandiri",ucap sakura sambil menatap daichi sambil tersenyum begitu lebar.


Pintu lift itu terbuka, dia berjalan masuk kedalam lift. Namun sebelum dia menekan tombol lift tersebut sakura mengarahkan pandangannya kepada daichi dan sekertaris Yun yang masih berdiri menungguinya dan menundukkan kepalanya kepada mereka.


Perlahan pintu lift itu tertutup dan membuat pandangan daichi terhadap sakura pun menghilang dari hadapan nya.


"Apa anda yakin kita tidak perlu mengantarkan nona sakura tuan?" tanya sekertaris Yun yang melihat daichi seakan belum ikhlas berpisah dengan sakura.


"Aku begitu yakin sekertaris Yun karena aku memiliki calon istri yang mandiri", ucap daichi yang menatap sekertaris Yun sambil menepuk-nepuk bahu sekertaris Yun.


Sekertaris Yun hanya tersenyum mendengar ucapan daichi kepadanya, saat daichi mulai melangkahkan kakinya beberapa langkah dia langsung tersadar akan sesuatu hal dan kembali menatap sekertaris yun.


"Ada apa tuan daichi?" tanya sekertaris Yun.


"Cari tau mengenai kegiatan amal yang dilakukan rumah sangkut wongdo, aku begitu penasaran dengan kegiatan yang dilakukan calon istri ku", ucap daichi dengan senyum liciknya.


"Baik tuan daichi, saya akan mencari taunya", ucap sekertaris yun.


Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2