
Kantor Daichi Tama
"Baik tuan, saya akan memberitahu taun daichi.Terima kasih atas kerja sama yang cukup baik", ucap sekertaris yun dan mengakhiri sambung telpon tersebut.
Ditatapnya wajah daichi yang tersenyum menatap kearahnya, seolah dia sudah mengetahui apa yang ingin dikatakannya kepadanya.
"Dia sudah menjalankannya?tanya daichi
"Benar tuan, dan sepertinya nona sera syok saat mengetahui bahwa dia telah digantikan", tukas sekertaris yun.
Daichi mencondongkan tubuhnya kedepan, melipat kedua tangannya dan menatap lurus kedepan.
"Itu adalah hukuman, jika berani bermain-main dengan daichi Tama", ucapnya.
Sekertaris yun hanya diam, dia masih tidak percaya bahwa Daichi Tama yang dulu telah kembali.
"Lalu apa rencana anda selanjutnya, tuan?"tanya sekertaris yun.
"Lakukan serangan berikutnya secara bersamaan", perintah daichi.
"Apa anda yakin tuan?"tanya sekertaris yun.
Daichi langsung menatap sekertaris yun, melihat tatapan tajam daichi kepadanya membuat dirinya membeku karena tertekan dan menyadari kesalahannya yang salah berbicara kepada daichi.
"Aku tidak pernah bermain-main, jika menyangkut sakura", ucapnya.
"Saya mengerti tuan. Maafkan kelancangan saya", ucap sekertaris yun sambil menundukkan kepalanya.
"Pastikan mereka menjalankannya, kamu mengerti?"tanya daichi.
"Saya mengerti tuan", jawab cepat sekertaris yun.
"Dia harus benar -benar hancur", ucap daichi.
Rahang daichi mengeras, bisa dilihatnya sorot kemarahan di mata nya saat mengucapkan kata-kata itu. Meski begitu dibalik semua yang dilakukannya, dia tahu bahwa daichi tetaplah sosok yang baik dan sangat tidak menyukai hal - hal seperti ini, jika bukan orang itu sendiri yang menabur genderang perang untuknya.
Daichi mengeluarkan ponselnya. "Kita harus pulang sekarang", ucapnya.
"Baik tuan", jawabnya .
Diikutinya daichi yang berjalan begitu cepat, belum pernah dilihatnya daichi seperti ini dari dulu. Semua berubah sejak sakura hadir di kehidupannya, pria yang arogan kini telah berubah menjadi sosok pria yang perhatian dan romantis.
Setengah jam kemudian mereka tiba di apartemen yang mereka tinggali.
"Pulanglah, sekertaris yun", perintah daichi sambil keluar dari mobil.
"Baik tuan", jawab sekertaris yun.
Dia bergegas berjalan menuju apartemen, langkah kakinya begitu panjang agar bisa cepat sampai karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sakura. Saat bibi mori membukakan pintu untuknya, sosok yang langsung di tanyakan nya adalah dimana sakura dan langsung pergi meninggalkan bibi mori saat mengetahui dimana keberadaan sakura.
Dibukan Nya pintu kamar, matanya menatap sakura yang terlihat kaget melihat kehadiran daichi masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Daichi", ucapnya.
Daichi langsung berjalan menghampiri sakura, dia meraih tangan sakura dan menariknya duduk di tempat tidur. Dipandanginya wajah begitu dalam, sementara sakura terlihat bingung dengan sikap daichi yang aneh.
"Sebentar lagi, tidak akan ada lagi yang menjadi pengganggu kita", ucapnya .
Suara daichi yang rendah dan pelan, begitu sulit di dengar dan dipahami oleh sakura.
"Apa yang barusan kamu katakan?"tanya sakura, dia sama sekali tidak mengerti.
Daichi hanya tersenyum saat tahu sakura sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakannya,setidaknya itu jauh lebih baik karena baginya sakura tidak perlu tahu apa yang sedang di rencanakan nya untuk sera.
"Oh",ucapnya. Dia mengelus pipi sakura dengan lembut, tanpa menjawab pertanyaan sakura.
"Sayang, apa yang kamu katakan tadi?"tanya sakura yang masih penasaran, tapi daichi sama sekali tidak merespon dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Apa kamu sangat penasaran?"tanya daichi.
"Hmmm", sahut sakura.
"Aku mencintaimu", bisiknya tepat ditelinga sakura.
"Ahhhh, kamu membuatku gila", ucap sakura yang mendorong daichi dari sampingnya
Mereka saling tertawa begitu bahagia, ada perasaan lega setidaknya dirasakan daichi, setidaknya sakura tidak menuntut jawaban lagi. Beberapa saat kemudian, mata daichi menerawang kesebuah paper bag di atas meja.
"Ada apa?"gumam sakura yang melihat daichi tiba-tiba diam.
"Apa itu?"tanya daichi sambil mengacungkan jari telunjuknya.
"Ahh, itu hadiah dari kak Yuka", jawab sakura.
__ADS_1
"Hmm, kak Yuka tadi datang?"tanya daichi.
"Iya, dia tadi datang ingin melihat kondisi ku dan sekalian memberikan itu", jawab sakura.
"Apa isinya?"tanya daichi, penasaran.
Sakura mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, aku juga belum melihatnya", kata sakura.
Daichi bangkit, diikuti sakura dan berjalan kearah meja dimana paper bag itu di letak.
"Baiklah ayok kita buka", ucap sakura dengan kedua tangan yang mulai memeriksa isi didalamnya.
Daichi hanya berdiam diri, dengan mata yang mengawasi sakura.
"Astaga, ini baju", ucap sakura yang terlihat bahagia.
"Banyak sekali", ucap daichi.
Mata daichi berubah saat melihat pakaian-pakaian yang diberikan Yuka itu di bentangkan oleh sakura.
"Ini indah sekali", ucap sakura yang menempelkan gaun tersebut di badannya, tapi tidak dengan daichi yang dipenuhi rasa cemas.
"Bukankah ini bagus, sayang?"tanya sakura.
"Tidak...Tidak.., masukan semuanya kedalam", ucap daichi, dia mengambil pakaian yang dipegangi sakura.
"Kenapa? Bukankah ini bagus?"tanya sakura yang mengambil kembali dari tangan daichi.
"Bagus", ujar daichi dengan sikap kesal.
"Hmmm", jawab sakura.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan gaun itu bagus, itu justru seperti gaun yang kekurangan bahan saat membuatnya",ucap daichi.
"Kurang bahan? Maksudnya ini", ucap sakura yang memperlihatkan bagian yang terbuka dari gaun tersebut.
Daichi hanya menganggukkan kepalanya.
"Aish, ini namanya model, suamiku", jawab sakura.
Daichi sama sekali tidak sanggup membayangkan jika sakura mengenakan semua pakaian yang diberikan Yuka kepada sakura. Dia tidak ingin sakura menjadi pusat perhatian, terutama di mata para lelaki.
"Sayang, jangan kenakan itu. Aku tidak menyukainya", gumam daichi.
"Tidak", jawab daichi sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau yang ini?"tanya sakura kembali.
Daichi hanya menggelengkan kepalanya.
"Semuanya tidak ada?"tanya sakura.
"Tidak ada", jawab daichi.
Sakura meletakan kembali pakaian tersebut di meja, dia melirik daichi yang terlihat lega saat melihatnya meletakan semua pakaian itu. Dia tersenyum dan mulai memahaminya.
"Sayang, tapi ini terlihat bagus. Aku akan mengenakannya nanti saat ada acara di kantor kamu", ucapnya.
Rahang daichi terkatup rapat. "Tidak...Tidak..", sergah daichi yang merampas pakaian yang ada ditangan sakura.
"Tapi kenapa sayang?"tanya sakura yang pura-pura tidak tahu.
"Aku tidak ingin kamu mengenakan pakaian yang terbuka, aku tidak ingin orang-orang diluar sana memandangi tubuhmu yang indah. Tubuh indah ini hanya untuk ku saja", jelasnya.
Ditatapnya daichi,kemudian dilihatnya wajah daichi yang terlihat sedih saat mengutarakan isi hatinya.
Sakura menghela napas dalam-dalam."Baiklah sayang, aku tidak akan mengenakannya. Lagian pakaian ini semua juga, tida sesuai dengan gaya berbusana ku", jelasnya.
Daichi tertawa lemah. "Itu lebih baik", ujar daichi.
Keduanya terdiam sesaat, kemudian kedua tangan daichi yang hangat menempel di pipiku, di dekatkan nya wajahnya hingga kedua kening mereka saling menempel dengan senyum yang terlihat jelas di wajah daichi.
"Terima kasih sayang", ucapnya.
"Tapi, aku sejujurnya benar-benar menyukai gaun itu", tukas sakura.
Wajah daichi berubah saat mendengarnya kembali menyinggung gaun tersebut, rahangnya kembali menegang, seperti sebuah patung yang kaku.
"Sayang, aku hanya bercanda", ucap sakura sambil tertawa. Dia merasa sangat puas telah berhasil mengerjai suaminya itu.
Bibir daichi tampak manyun saat tahu bahwa sakura sedang mengerjainya.
"Maaf sayang", diletakkannya tangannya melingkar di leher daichi.
__ADS_1
"Tidak", jawab daichi.
Sakura terdiam, ekspresinya muram penuh kesedian. Tentu saja membuat seorang daichi tak sanggup melihatnya.
"Kemari lah", ucapnya yang membentangkan tangannya sambil menatap sakura.
Senyum itu kembali, sakura langsung menyambut tangan yang terbuka lebar untuknya itu dan tenggelam dalam pelukan daichi. Sebuah pelukan yang selalu mampu menenangkannya dan tentu saja dekapan yang diberikannya menghangatkan tubuhnya.
"Aisss, bagaimana aku bisa melihat istriku sedih", ucapnya dengan jari-jari tangan yang menyusuri rambut panjangnya dan mengelus lembut.
Mata sakura berubah cerah saat mendengarnya, senyum kecil terlukis indah di bibirnya. Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam pikirannya dan melepaskan dirinya dari dekapan daichi, memandang wajah suaminya itu dengan begitu manis.
"Bagaimana jika orang lain yang membuatku sedih?"tanyanya, suaranya bergaung.
Kedua matanya tercengang saat mendengarkan pertanyaan yang diajukan sakura kepadanya, tidak pernah terpikirkan olehnya jika akan ada yang berani menyakiti sakura karena apapun akan dilakukannya untuk sakura.
"Itu tidak akan pernah terjadi", ujar daichi , nada suaranya terdengar tegas.
"Benarkah?"tanya sakura kembali.
Tanpa menjawab pertanyaan sakura, dia memegang kedua bahu sakura dan menariknya kembali ke sisinya. "Percayalah kepadaku, sakura".
"Tentu", jawab sakura, hanya itu yang dimilikinya saat ini, sebuah kepercayaan yang besar untuk suaminya.
Keduanya saling memandangi satu sama lain, hanya melihat senyum wanita yang sangat dicintainya itu membuatnya begitu bahagia. Memastikan kebahagiaan sakura selama disisinya adalah prioritas dihidupnya dan membahagiakan sakura adalah tanggung jawabnya tanpa ada setetes air mata pun yang jatuh membasahi pipinya lagi.
°°°°°°°
Cahaya lampu yang menerangi kota malam ini terlihat begitu gelap tanpa cahaya saat ayana memandang keluar jendela dari atas apartemen yang ditempatinya bersama sera. Matanya menatap keluar jendela,namun sorot mata itu kosong dengan pikirannya yang mengembara entah kemana. Kecemasan terlihat jelas diwajahnya, kejadian yang terjadi hari ini membuatnya khawatir dengan ancaman yang diberikan daichi.
"Apa yang kamu pikirkan ,ayana?"tanya yumi yang mendekatinya.
Ayana hanya memandangi yumi tanpa menjawab pertanyaan yang diajukannya.
"Jangan memikirkannya sendirian, berbagilah denganku", ucap yumi.
"Apa sera sudah tidur?"tanya ayana.
"Sudah", jawabnya.
Dia kembali termenung, menatap pemandangan kota yang indah malam ini.
"Apa kamu memikirkan masalah yang tadi siang?"tanya yumi menyelidiki.
Dia menoleh kearah yumi yang berdiri disampingnya saat ini.
"Apa aku bisa mempercayaimu?"tanya ayana.
"Tentu saja", jawabnya.
"Aku takut bahwa yang terjadi hari ini adalah salah satu serangan yang diberikan daichi kepada kita. Apa kamu tahu apa yang akan terjadi kepada kita, jika daichi benar - benar melakukannya? Kita akan hancur yumi", katanya, suaranya begitu pelan dan cenderung seperti sedang berbisik.
Yumi hanya diam, dia tahu bahwa semua yang dikatakan ayana benar. Karir yang dibangun Sera bertahun-tahun selama ini, akan hancur begitu saja di tangan seorang daichi tama. Mantan kekasih yang dicintainya dan justru yang menghancurkannya, tapi jika dia mengutarakan isi pikirannya kepada ayana justru akan memperburuk suasana.
Dia mencoba tenang dan berusaha mengendalikan dirinya di hadapan ayana.
"Hentikan ayana, jangan memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal",ucap yumi.
"Apa" ayana terkesiap kaget mendengar yumi yang justru terlihat tenang.
"Itu hanya kebetulan saja. Mereka tak mau memperpanjang kontrak mereka dengan nona sera, aku rasa itu hal yang wajar dan hak mereka. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan tuan daichi, dan aku yakin tuan daichi tidak akan benar -benar melakukannya kepada nona sera", ucapnya.
Mendengar perkataan yumi, membuatnya merasa sedikit lega meski hanya untuk sesaat. Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa yang terjadi hari ini hanya sebuah kebetulan tanpa ada campur tangan daichi.
"Tenanglah ayana, semua akan baik- baik saja. Bukankah, sera masih memiliki banyak kontrak dan masih ada beberapa perusahan yang ingin mengajukan kerja sama dengannya. Jadi hilang satu, tidak akan terasah untuk sera", ucap yumi
Kelegaannya kembali memuncak saat mendengarkan penjelasan yumi mengenai seberapa banyak kontrak kerja sera saat ini.
"Benar, aku tidak perlu panik", desahnya.
"Tentu saja", balas yumi.
"Bukankah besok, kita akan menandatangani kontrak dengan perusahaan lagi?"tanya ayana.
Yumi tersenyum. "Benar".
"Hebat," gerutunya.
"Tidurlah, besok aktivitas kita akan sibuk sekali", ucap yumi.
"Hmmm, baiklah. Ayok", jawab ayana yang kini telah kembali ceria dan kembali dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. Melupakan ancaman daichi untuk sesaat, itu yang sedang dilakukannya agar pikirannya lebih tenang.
Bersambung....
__ADS_1