Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 31 Dulu


__ADS_3

*Tringg**


Pintu lift itu kembali terbuka, sakura telah berada dilantai 6 tempat dimana ruang Rici Agata berada. Dia melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift dan berjalan menuju ruangan Rici Agata.


Sakura yang telah tiba di depan ruangan Rici Agata mengetuk pintu,


Tok...Tok...Tok...


Sakura berdiri didepan pintu tersebut sambil menunggu dirinya dipersilahkan untuk masuk. Meskipun itu adalah ruangan kakaknya, dia tidak pernah masuk kedalam tanpa permisih terlebih dahulu.


"Silakan masuk", ucap Rici Agata.


Sakura membuka pintu tersebut dan masuk kedalam ruangn tersebut.


"Kakak," ucap sakura dengan suaranya yang lembut.


"Sakura, kamu sudah datang. "Kemarilah", ucap Rici yang melambaikan tangannya kepada sakura.


Sakura melemparkan senyumnya kepada kakaknya sambil berjalan menghampiri kakaknya yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Apakah kakak sibuk?" tanya sakura sambil menarik bangku yang ada di depan meja Rici dan duduk.


"Yah, setiap hari akan selalu ada kerjaan", ucap Rici sambil mengedipkan sebelah matanya kepada sakura.


Sakura hanya tertawa melihat kakaknya yang sedang menggoda dirinya. Namun, saat mereka berdua tertawa begitu bahagia, Rici Agata menyadari ada yang lain tampak pada diri adiknya tersebut. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri sakura yang sedang duduk didepannya. Sakura memperhatikan gerak gerik kakaknya yang sedang berjalan mengarah ke dirinya.


Rici yang awalnya tersenyum, kini wajahnya tampak menyiratkan kecurigaan terhadap sakura. Dia duduk tepat disamping sakura sambil menatap wajah sakura.


"Ada apa kakak?Tanya sakura dengan wajah polosnya dan tetap melemparkan senyumannya kepada Rici.


"Apa kamu memiliki masalah? Tanya Rici dengan menatap wajah sakura.


"HAHAHA," sakura yang mendengarkan pertanya Rici secara tiba-tiba hanya tertawa untuk mengalihkan pertanyaan tersebut.


"Tidak ada hal yang lucu sakura!! Sekarang katakan kepada kakak, apa kamu memiliki masalah? Tanya Rici dengan ekspresi wajah yang sangat serius dengan sorot mata yang begitu tajam menatap sakura.


"Kakak, kenapa kakak bertanya seperti itu? A-ku baik-baik saja", sakura menjawab dengan suara terbatah-batah , tetapi tetap tersenyum kepada Rici.


"Mengapa matamu sembab??? kamu habis menangis,bukan?? Tanya Rici.


Sakura hanya terdiam saat mendengar pertanyaan rici, bagaimana dia bisa mengetahui bahwa dia habis menangis dan membuat sakura bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dia tidak mungkin menceritakan apa yang telah terjadi antara dia dan daichi. Sakura menyadari bahwa kedua kakak nya tidak menyukai daichi Tama. Jika mereka tau apa yang telah dilakukan daichi terhadapnya, itu akan membuat kedua kakaknya semakin membenci daichi dan sakura tidak ingin hal itu terjadi.


"Kenapa kamu diam sakura?" tanya Rici yang masih menunggu jawaban sakura.


Saat sakura ingin menjawab pertanyaan dari Rici, terdengar ketukan pintu dari luar. Sakura menarik napasnya begitu lega karena perhatian kakaknya teralihkan pada seseorang yang ada diluar tersebut sehingga dia tidak perlu memikirkan jawaban dari pertanyaan kakaknya.


"Masuklah!!! ",ucap rici

__ADS_1


Rici kembali menatap wajah adiknya tersebut,sakura hanya menundukkan kepalanya saat rici menatap matanya.


"Kita akan membahasnya nanti sakura", ucap rici sambil bangkit dari bangkunya.


Pintu itu terbuka tampak seorang pria masuk, kedua mata sakura tercengang saat melihat sosok pria yang sedang berjalan kearah mereka. Pria itu tampak tak asing baginya, sakura mengingat-ingat dimana dia bertemua pria tersebut.


"Dia??? Bukankah dia pria yang ada di lift? ucap sakura di dalam hatinya. Sakura terus memperhatikan setiap langkah pria tersebut sampai pria itu berdiri di hadapan sakura dan kakaknya.


"Akhh, kamu sudah datang ternyata, apakah tidak ada pasien?tanya rici kepada pria tersebut


"Pekerjaan saya sudah selesai," ucap pria tersebut dengan santai.


"Oh, sakura perkenalkan ini adalah dokter Rei Arata, dia adalah ketua panita dalam kegiatan amal yang akan diselenggarakan rumah sakit ini dan Rei perkenalkan ini adalah adik saya Sakura Agata",. ucap rici.


Rei pun mengulurkan tangannya kepada sakura untuk berjabat tangan, sakura yang melihat rei mengulurkan tangannya kearahnya langsung mengulurkan tangannya juga. Mereka pun saling berjabat tangan.


"Senang bertemu dengan anda kembali nona sakura",ucap Rei yang menatap wajah sakura sambil tersenyum.


Sakura hanya menganggukkan kepalanya dan hanya tersenyum mendengar ucapan rei kepada dirinya. Sakura langsung melepaskan tangannya dari rei, seperti biasa Rei hanya tersenyum setiap melihat tingkah sakura. Dia merasa sakura sangat lucu dan tampak sangat polos untuk wanita seusianya.


"Bertemu kembali, apakah kalian sebelumnya sudah pernah bertemu?" Tanya rici.


"Ia pak, kebetulan kami tadi bertemu di lift", ucap Rei.


"Oh begitu, saya pikir sebelumnya kalian pernah bertemu di luar", ucap rici.


Mereka mulai membahas mengenai acara amal yang akan diselenggarakan 3 hari lagi, setiap kegiatan amal yang dilakukan rumah sakit Wongdo keluarga Agata akan selalu mengambil bagian dalam kegiatan tersebut mengingat rici Agata adalah direktur di rumah sakit tersebut.


Sakura selalu membatu dalam hal pengumpulan dana untuk kegiatan amal tersebut, dia sangat peduli terhadap orang lain dan membuat dirinya sangat senang jika selalu dilibatkan dalam kegiatan amal.


"Baiklah, berarti kita tinggal menunggu keputusan perusahaan Yenzo. Berapa jumlah dana yang akan disumbang perusahan mereka dalam kegiatan amal ini.


"Aku akan bertemu dengan perwakilan dari perusahan mereka besok kak", ucap sakura.


"Baguslah kalau begitu, mungkin Rei bisa menemani kamu bertemu dengan mereka besok. "Apa kamu tidak keberatan Rei?" tanya rici


"Tentu saja, kebetulan besok jadwal saya kosong", ucap Rei.


"Kakak, itu tidak perlu. Sakura bisa melakukannya sendiri, tidak perlu merepotkan orang lain", ucap sakura.


"Saya sama sekali tidak merasa direpotkan nona sakura, bahkan saya sangat senang jika bisa membantu anda", ucap Rei.


"Kalau begitu sudah tidak ada masalah lagi", ucap rici yang tersenyum kepada sakura


Rasanya tidak ada lagi yang dapat dikataka sakura untuk menolak tawaran kakaknya, jika orang yang ditawarkan saja tidak merasa keberatan. Sejujurnya sakura sangat sulit untuk dekat dengan seorang pria, dia merasa tidak nyaman jika harus berduaan dengan pria yang belum dikenalnya.


Dreg......Dreg.....dregg...

__ADS_1


Ponsel Rei berbunyi di atas meja kerja rici, dia langsung meraih ponsel tersebut.


"Maaf, saya angkat telpon sebentar", ucap Rei.


"Silakan", ucap rici.


°


°


2 menit kemudian Rei kembali setelah selesai mengangkat panggilan masuk ke ponselnya.


"Maaf pak, saya harus kembali sekarang kerena ada pasien yang menunggu saya di UGD", ucap Rei


"Oh silakan, sudah tidak ada lagi yang dibahas. Mengenai besok, kalian bisa berkomunikasi untuk mengatur waktu", ucap rici .


"Baikalah kalau begitu, saya izin keluar", ucap Rei sambil mengarahkan pandangannya kepada sakura yang ada disamping dan tersenyum.


Sakura yang menyadari bahwa Rei sedang menatapnya, melemparkan senyuman kepada Rei. Dia pun pergi berjalan meninggalkan ruang itu dan hanya tinggal tersisa sakura dan rici saja. Rici kembali menatap sakura, tentu saja membuat sakura kembali panik dengan pertanyaan kakaknya yang dari tadi belum dijawab oleh nya.


"Sakura apa kamu Masih ingat duluh saat kamu kuliah diluar negeri, kakak pernah mengatakan ingin menjodohkan dirimu dengan seorang dokter magang dirumah sakit ini" ucap rici


Sakura mencoba mengiat-ingat ucapan rici yang duluh ingin menjodohkan dirinya.


"Hmmm, aku mengingatnya", sakura menjawab seakan tidak begitu tertarik untuk membahas hal tersebut.


"Pria yang kakak maksud duluh adalah Rei", ucap rici.


Mendengar nama yang baru saja disebutkan oleh kakaknya tentu saja membuat sakura begitu terkejut, kedua matanya terbuka begitu lebar.


"R-ei?" tanya sakura dengan kedua matanya yang menatap rici dengan ekspresi yang Masi tidak percaya


"Ia Rei, Kakak begitu menyukainya. Duluh waktu dia Masih magang dirumah sakit ini, keahlian dan kepintaran yang dimiliki sudah terlihat. Apa lagi saat dia melanjutkan sekolah kedokterannya di salah satu universitas yang bergengsi di luar negeri membuat dirinya semakin berkembang dan memiliki karir yang bagus bahkan dia adalah salah satu dokter bedah yang sangat diperhitungkan dirumah sakit ini", ucap rici yang tampak begitu bangga kepada Rei


Sakura hanya terdiam mendengar penjelasan kakaknya mengenai Rei, dia menyadari bahwa rici Agata sangat menyukai rei. Mungkin karena mereka berdua memiliki profesi yang sama sebagai seorang dokter.


"Seandainya waktu itu kamu bersedia untuk kakak jodohkan dengan Rei",ucap rici sambil melihat sakura.


"Kakak, ayolah itu tidak perlu dibahas lagi", ucap sakura sambil memegang lengan kakaknya.


"Yahh kamu benar, semua sudah terjadi dan kini kamu telah menjadi tunangan Daichi Tama. Pria pilihan kakek yang dianggapnya sangat pantas mendampingi mu", ucap rici sambil mengedipkan mata kirinya kepada sakura.


Sakura hanya tertawa melihat cara kakaknya yang selalu saja menggoda dirinya. Rici adalah orang yang sangat berbeda dengan Tana, dia begitu jarang berbicara di dalam keluarga, tetapi sebenarnya dia adalah orang yang begitu humoris dan sering membuat sakura tertawa saat mereka sedang berdua.


Apa yang dikatakan rici benar, seandainya saat itu dia menerima perjodohan yang ditawarkan kakaknya kepada dirinya. Mungkin apa yang dialami hari ini tidak akan pernah terjadi dan dia tidak akan mengenal sosok Daichi Tama. Tentu saja takdir yang dijalani untuk hidupnya juga pasti akan berbeda, tetapi semua telah terjadi dan dia harus menjalaninya.


Pembaca setia kuuu, please like, coment and Vote. Ayok dukung aku dalam peringkat vote, semua dukungan kalian sangat berarti buat aku untuk semangat dalam menulis setiap bab nya kerena kalian menghargainya. Terima Kasih🥰🥰

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2