Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 146 Hancur ,


__ADS_3

Cahaya rembulan yang menghiasi langit malam, perlahan menghilang dengan munculnya sinar terang matahari yang menghiasi langit pagi ini. Cuaca yang cerah menggambarkan hati daichi saat ini, dia hanya tersenyum memandangi sakura yang menata rambutnya duduk di kursi riasnya tanpa menyadari kehadirannya.


Dia terus berdiam diri tanpa bersuara dengan sabar, menunggu hingga sakura menoleh kearah nya saat ini. Hingga sosok yang dipandanginya itu menoleh kearahnya, wajahnya syok saat menyadari kehadirannya di ambang pintu dengan senyum indah yang diperlihatkannya kepada sakura.


"Se-jak kapan kamu disana?"tanya sakura, refleks langsung berdiri.


Dia hanya tersenyum simpul dengan langkahnya yang berjalan mengahampiri sakura. "Sejak tadi".


Begitu keduanya berdekatan, tangan yang besar dan kekar itu melingkar di pinggang sakura dan menariknya dekat kearahnya. Wajahnya yang tampan terlihat begitu jelas untuk sakura,meski terdengar konyol tapi memandang dekat wajah daichi membuat napasnya tertahan. Ketampanannya mampu menghipnotis pikirannya dan sulit memalingkan kedua matanya. Dirangkul lehernya, tinggi badan yang berbeda membuat sakura harus berjinjit saat menciumnya dan hanya butuh beberapa menit hingga dia melepaskan wajahnya dari daichi.


"Saatnya berangkat kerja,tuan daichi", kata sakura.


"Baiklah, jaga dirimu. Aku akan secepatnya pulang", janji daichi.


"Hmm", jawab sakura, dipandanginya wajah suaminya itu, sebelum daichi pergi meninggalkannya kekantor.


Daichi memandang curiga sakura yang mengamati wajahnya,seolah ada yang salah diwajahnya . "Ada apa?".


"Tidak ada. Aku hanya akan merindukan wajah ini", ucap sakura dengan dagu terangkat sekilas.


Daichi nyengir."Hanya sebentar saja, setelah itu aku akan segera pulang".


Sakura balas tersenyum kepadanya. "Pergilah suamiku, hati-hati".


"Baiklah aku pergi dulu. Jaga dirimu", ucapnya.


"Hmmm", balas sakura.


Satu kecupan mendarat di kening sakura cukup lama, sebuah kebiasaan uang selalu dilakukan daichi sebelum meninggalkan sakura.


"Aku mencintaimu", ucapnya.


"Aku mencintaimu juga", balas sakura, dan melepas kepergian suaminya itu, menghilang dibalik pintu kamar mereka.


°


°


°


Kantor Daichi Tama


Walaupun masih pagi, kesibukan sudah terlihat diruang kerja sekertaris yun. Terlalu sibuk dengan perintah yang diberikan daichi kepadanya, hingga membuatnya melupakan tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya sendiri, namun belum sempat dia mengerjakan pekerjaannya ponselnya berbunyi.


"Tuan daichi", ucapnya.


Wajahnya langsung berubah serius dan langsung menjawabnya.


"Baik tuan, saya akan segera ke ruangan anda", ucapnya dan langsung menutup teleponnya.


Bola matanya berputar melihat sekelilingnya yang penuh dengan tumpukan dokumen yang harus diselesaikannya, namun perintah daichi lebih penting baginya saat ini. Kakinya melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya yang masih berantakan menuju ruangan daichi tama.


Tok...Tok..Tok..


Tanpa menunggu daichi yang mempersilakannya masuk, dia langsung membuka pintu itu dan melangkah berjalan kedalam.


"Permisi tuan", ucapnya.


"Sekertaris yun, aku ingin kamu menyelesaikan perintahku semalam hari ini", katanya.


"Baik tuan", jawab sekertaris yun tanpa membantah daichi.


"Pastikan semuanya melakukan seperti yang aku minta, jika ada yang tidak menjalankannya. Singkirkan mereka!" perintah daichi.


Sekertaris yun hanya menganggukkan kepalanya, mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut daichi.


"Apa kamu mengerti, sekertaris yun?"tanya daichi.


"Saya mengerti tuan", jawabnya cepat.


"Baguslah, kamu sudah bisa pergi sekarang", ucap daichi .


"Kalau begitu saya pergi dulu tuan. Saya akan segera memberikan laporan kepada anda", ucap sekertaris yun.


"Hmm", jawab daichi .


Sekertaris yun pun pergi meninggalkan daichi untuk menjalankan perintah yang diberikan kepadanya, dia mengeluarkan ponsel disaku jasnya dan mulai menghubungi semua orang yang terlibat dalam rencana daichi.Rasanya sudah lama sekali dirinya tidak menjalankan perintah daichi seperti saat ini, hingga membuatnya justru merasa khawatir akan nasib sera sejujurnya. Bertahun-tahun bersama daichi tentu membuatnya begitu mengenal bagaimana sosok bossnya, dia tidak akan pernah setengah-setengah dalam melakukan keinginannya.


"Hari ini kami akan berakhir, sera", gerutunya.


Mobil yang ditumpangi sera perlahan memasuki area parkir perusahan yang bekerja sama dengannya, ditemani ayana dan yumi dia berjalan memasuki gedung itu untuk melakukan pemotretan sesuai dengan perjanjian kontrak kerja mereka.


"Nona sera", sapa seorang pria yang datang menghampiri ketiganya yang hendak ingin menuju ruang ganti.


"Ada apa?"tanya sera dengan nada suaranya yang dingin.


"Maaf nona, tuan kevin telah menunggu anda di ruangannya. Ada sesuatu hal yang ingin dibicarakannya kepada anda", ucapnya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa sekarang. Katakan kepadanya aku akan menemuinya setelah selesai pemotretan",ucap sera.


" Pemotretan tidak ada hari ini nona", ucapnya.


"Tidak ada hari ini?"sergah ayana yang tak yakin dengan apa yang baru di dengarnya.


"Benar, pemotretan tidak jadi hari ini", ulangnya kembali.


"Tapi kenapa? Jelas-jelas seminggu yang lalu saya masih diingatkan untuk tanggal hari ini", kata ayana.


Sera hanya memandangi pria itu, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Maaf nona, lebih baik anda menanyakan langsung kepada tuan kevin yang sedang menunggu kehadiran kalian", ucapnya dengan begitu sopan.


"Oke", ujar sera yang melangkah pergi kearah ruang CEO.


Seperti yang dikatakan pria tadi, kehadiran sera telah ditunggu. Dilihatnya pria itu duduk menghadap kearah pintu, ditatapnya sera dengan senyum simpul.


"Silakan duduk, nona sera", katanya.


Tak selang beberapa lama, ayana masuk ke ruang tersebut dengan wajah yang mulai terlihat was-was.


"Langsung saja. Apa yang terjadi sebenarnya? Seorang pegawai anda mengatakan bahwa hari ini tidak ada pemotretan", ucapnya.


Pria itu hanya tersenyum. "Itu benar nona sera".


Ayana berpikir dengan seksama, ada sesuatu yang terlihat berbeda. Kevin yang awal pertemuan terlihat ramah, justru hari ini terkesan begitu dingin kepada mereka.


"Apa alasannya, tuan kevin?"tanya ayana.


"Maaf atas ketidak nyamanan ini, tapi perusahaan saya sepertinya tidak bisa melanjutkan kerja sama kita lagi nona sera. Semua telah diurus oleh sekertaris saya, anda bisa menghubunginya. Hanya itu saja yang ingin saya katakan", ucapnya, nadanya terdengar santai dan tanpa beban dengan semua perkataannya.


Sera mendesah, rasanya dia tak percaya dengan seenaknya mencampakkan dirinya begitu saja. "Apa yang barusan anda katakan?"tanya sera, matanya yang melotot melihat kevin.


"Apa penjelasan saya kurang jelas untuk anda?"tanya kevin yang membalas tatap sera kepadanya.


"Anda tidak bisa seenaknya memutuskan kontrak sepihak seperti itu", ketus sera.


Kevin hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar sera mengeluarkan pendapatnya, kali ini sudut bibirnya terangkat miring setelah sera selesai berbicara.


"Dengar nona sera, saya bisa kapanpun memberhentikan kerja sama kita sesuka hati saya. Dan soal perjanjian kontrak pinalti, semua akan diurus oleh sekertaris saya. Jadi sepertinya tidak ada lagi masalah", jelasnya.


Tidak ada lagi kata yang mampu menggambarkan rasa kesel sera saat ini, baginya sikap pria yang ada dihadapannya sangat menjengkelkan. Dipandanginya pria itu, hingga akhirnya dia bangkit dari bangkunya dan bersiap pergi meninggalkan ruangan itu.


"Nona sera, lain kali jangan coba-coba bermain-main dengan tuan Daichi Tama",ucapnya.


"Apa maksud anda?"tanya sera.


"Anda akan mengetahuinya sebentar lagi. Silakan", ucapnya dengan tangan yang terangkat mempersilahkannya untuk keluar dari ruangannya.


"Lebih baik kita pergi sekarang, sera", ucap ayana, ditariknya sera pergi keluar dari ruangan itu. Bagi ayana saat ini bukan waktu yang tepat untuk memulai perdebatan, memikirkan apa yang akan terjadi berikutnya adalah hal yang terpenting baginya. Rasanya seluruh badannya merinding saat mendengat nama Daichi Tama disebut, dan membuatnya semakin yakin bahwa apa yang mereka alami ada sangkut pautnya dengan daichi.


Entah apa yang sebenarnya terjadi hari ini, semuanya terjadi begitu saja secara bersamaan dalam waktu yang beriringan. Seperti tersambar petir siang hari, itulah yang mereka rasakan hari ini. Baru keluar dari ruangan itu, berita buruk kali terdengar.


"Ayana, ini gawat!!"ucap yumi yang sangat panik menghampiri keduanya.


"Ada apa yumi, tenanglah", ucap ayana.


Sera hanya diam, mencoba menyimak apa yang ingin disampaikan yumi.


"Semua perusahaan yang akan bekerja sama dengan kita, membatalkan rencana mereka", kata yumi.


"Apa!!!!!"ucap keduanya secara bersamaan.


"Apa yang kamu katakan?"tanya sera


"Saya juga bingung nona, semuanya membatalkannya secara bersamaan",jawab yumi.


"Ada apa ini sebenarnya!!!!!!"teriak sera.


"Sera", ucap ayana, ditatapnya matanya yang merah, dia berusaha menenangkannya. "Tenanglah, semua orang melihat mu. Lebih baik kita keluar dari sini sekarang, kita bahas nanti di mobil".


Sera membalas tatapan ayana beberapa detik, hingga kemudian dia melangkah pergi berjalan keluar gedung tersebut dengan diikuti ayana dan yumi yang mengiringinya dari belakang.


"Jalankan mobilnya", perintah ayana.


Obrolan kembali mereka lanjutkan selama diperjalanan. Sera kembali terlihat kesal dengan semua masalah yang datang bertubi-tubi.


"Ini pasti ulah tuan daichi", gumam yumi begitu spontan.


Ayana langsung melirik yumi yang selalu saja berbicara sesukanya tanpa menyaring terlebih dahulu, sementara sera yang duduk disamping ayana hanya diam. Sepertinya perkataan yumi membuatnya sedikit terusik dan menggangu pikirannya.


"Putar mobilnya",perintah sera.


"Ada apa sera?"tanya ayana.


"Aku ingin menemui daichi", jawabnya.

__ADS_1


"Jangan lakukan itu sera. Itu akan membuat situasi semakin kacau", sergah ayana.


"Putar mobilnya sekarang!!!!"teriak sera.


"Baik nona sera", jawab supir tersebut.


Laju mobil itu semakin cepat, menembus kemacetan siang hari ini. Sera hanya menatap keluar jendela, dia mencoba menyembunyikan wajahnya yang sedang cemas dihadapan Ayana dan yumi.


"Coba pikirkan lagi, sera", desak ayana,suaranya lembut mencoba meyakinkan sera.


Sera hanya diam dan mengabaikan perkataannya, sementara ayana dan yumi terlihat pasrah dengan apapun yang ingin dilakukan sera saat bertemu dengan daichi.


Mobil tersebut memasuki parkiran di kantor daichi, supir tersebut membiarkan mesin mobil tetap menyala saat berada di parkiran. "Tunggulah disini, aku akan menemuinya", ucap sera.


"Biar aku menemanimu sera", pinta ayana.


"Tidak usah ayana, tunggulah disini", balas sera


Dia turun dari mobil dengan wajah merah menyala, berjalan menuju kedalam kantor. Dia terlihat semakin jengkel saat tak sengaja bertemu dengan sekertaris yun yang sedang menunggu lift dan berdiri di sampingnya.


"Nona sera, apa yang sedang anda lakukan disini?"tanya sekertaris yun.


"Aku ingin menemui daichi", jawabnya.


Sekertaris yun diam saja. Pintu lift terbuka, dengan sopan dia mempersilahkan sera untuk masuk terlebih dulu.


"Silakan, nona", katanya.


Mereka berjalan sambil berdiam diri menuju ruang kerja daichi.


"Silakan nona, tuan daichi ada didalam", ucapnya.


Tanpa mengetuk pintu ruang itu, sera langsung menerobos masuk kedalam. Sekertaris yun yang melihat aksi sera itu hanya tersenyum, setidaknya sikap yang ditunjukkan sera saat ini membuktikan bahwa perintah yang diberikan daichi telah dijalankan.


"Apa yang kamu lakukan?"tanya sera langsung tanpa basa-basi.


Suasana diruangan itu sunyi senyap untuk sesaat, daichi hanya diam dengan sorot matanya yang tajam memandangi sera yang penuh kemarahan terhadapnya. Diam yang diperlihatkan daichi kepadanya, membuat dia bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran daichi.


"Ada apa?"tuntut daichi, suaranya begitu datar.


"Kenapa kamu melakukan itu semua kepadaku? Apa kamu berencana menghancurkan karir yang selama bertahun-tahun aku bangun!!!!Teriak sera,kali ini dia meluapkan semua emosinya dihadapan daichi.


"Benar", jawab daichi. "Walaupun, aku sedikit prihatin melihat mu saat ini."


Sera langsung tertawa, karena daichi terdengar sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya.


"Bagaimana kamu bisa dengan mudah mengatakan hal itu. Aku bertahun-tahun bersusah payah membangun karir yang aku miliki, bahkan aku tidak bisa melihat ibuku saat dia meninggal dan aku kehilangan dirimu, daichi", ucapnya, dia semakin terlihat frustasi dan perlahan air mata itu jatuh dan membasahi pipinya.


Daichi terdiam sejenak dengan mata yang menatap sera. Rasa cinta bahkan kasihan yang dimiliki untuk sera saat ini telah hilang, bahkan hatinya sama sekali tidak tersentuh saat melihat sera yang menangis dihadapannya. Tidak ada lagi alasan dirinya untuk kasihan kepadanya yang sudah menyakiti hati sakura.


"Kalau saja kamu tidak menyakiti sakura, aku tidak akan melakukan sejauh ini", ucap daichi.


"Sakura!!!!" Kenapa selalu saja dia!!!!" Kenapa kamu melupakan semua kenangan yang kita miliki, hanya karena dia?"tanya sera yang terus saja menangis.


"Hubungan kita hanya masa lalu",ucap daichi datar.


"Aku mencintai mu, daichi", ucap sera.


"Aku sama sekali tidak mencintaimu lagi sera. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun denganmu", jawab daichi.


Kalimat yang keluar dari mulut daichi,terasa menyayat hatinya, pria yang selama ini dicintainya dengan mudah mengatakan tidak memiliki perasaan apapun lagi kepadanya. Seluruh badannya bergetar, kedua kaki itu terasa sulit menopang badannya yang lemah tak berdaya. Ditatapnya daichi, berharap pria dihadapannya itu akan luluh terhadapnya, tapi apa yang diharapkan nya itu tidak akan mungkin terjadi saat daichi justru sama sekali tidak ingin menatapnya.


"Tinggalkan negara ini, sera. Mulailah kehidupan mu yang baru nantinya, aku tidak akan mengganggu kehidupan baru yang kamu miliki nanti", ucap daichi, dia berbicara sangat tenang, tapi justru kata-kata itu terdengar sebuah ancaman untuknya.


Sera hanya menggelengkan kepalanya, dia seolah tak percaya dengan sifat yang diperlihatkan daichi kepadanya. Dia hanya membuang mukanya dan pergi meninggalkan ruang kerja daichi tama tanpa berbicara apapun lagi kepadanya.


Dia terlihat kaget saat keluar dari ruangan itu dan melihat ayana yang menunggu si depan pintu.


"Bagaimana? Apa yang dikatakannya, sera?"tanya ayana


Mulut sera hanya bungkam seribu bahasa.


"Sera apa yang terjadi? Apa kamu menangis?"tanya ayana yang cemas melihat kondisi sera .


"Dia yang melakukannya. Dia ingin menghancurkan karir yang aku bangun selama ini dan memintaku untuk pergi dari negara ini. Jika aku tidak ingin karir ku benar-benar hancur", nadanya datar dan tatapan kosong kedepan.


Ayana tampak kaget saat mendengar semua yang dikatakan sera, dia sama sekali tidak menyangka bahwa daichi akan melakukan sejauh ini terhadap sera hanya karena sakura. Dia sama sekali tidak dapat berpikir, ketika melihat kondisi sera yang begitu prihatin. Sama seperti dirimu, tentu sera juga merasa syok saat mendengar langsung dari mulut pria yang sangat dicintainya.


"Lebih baik kita pulang sekarang sera". "Kita akan membahasnya lagi nanti", ucap ayana.


Kondisinya saat ini, membuat ayana harus menuntun sera untuk keluar dari kantor ini sekarang. Kedua tangannya mendekap sera dan berjalan perlahan menuju mobil mereka yang diparkir.


Yumi yang menunggu di dalam, terlihat kaget saat melihat kondisi sera.


"Apa yang terjadi?"tanya yumi.


"Kita pergi sekarang", ucap ayana. Ditatapnya yumi, kepalanya menggeleng memberi isyarat kepada yumi dan seolah mengerti dengan apa gang dilakukan ayana, yumi hanya menganggukkan kepalanya dan duduk diam di bangku depan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2