Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 127 Yakin


__ADS_3

Keduanya berjalan menuju apartemen mereka, langkah kaki daichi berhenti tepat di depan pintu sambil menekan bel. Sakura tentu merasa bingung saat dia dan daichi ada diluar, lalu siapa yang akan membukakan pintu untuk mereka.


"Sayang, kenapa kamu menekan bel?"tanya sakura.


Dan jawaban itu terjawab saat seseorang membukakan pintu untuk mereka, seorang wanita sekitar umur 40 tahun muncul dihadapannya dan membuat sakura kaget.


"Si-apa dia?"tanya sakura


Daichi tertawa melihat wajah sakura yang tampak bingung, sakura berpaling dengan mata tertuju kepada daichi.


"Sayang, ini adalah bibi mori. Mulai sekarang dia akan membantu mengurusi pekerjaan rumah dan akan tinggal bersama kita", jelas daichi.


"Tinggal bersama?"tanya sakura yang masih terlihat bingung.


"Benar. Selama program kehamilan yang kita jalani, aku tidak ingin kamu terlalu kelelahan. Kamu sudah lelah dikantor dan lelah mengurus pekerjaan rumah. Aku tidak mau itu terjadi", ucap daichi.


"Sayang, tapi aku baik - baik saja", protes sakura.


"Maaf nona,tuan. Bisakah anda berdebat didalam saja", ucap mori.


"Ah, maafkan kami bi", ucap sakura yang berjalan masuk kedalam diikuti daichi.


"Anda pasti kaget dengan kehadiran saya, tapi biarkan saya membantu anda nona", ucap wanita tersebut.


"Baiklah kalau begitu", jawab sakura, dia dapat melihat daichi tersenyum, dia pasti senang saat sakura akhirnya menerima kehadiran bibi mori.


"Tolong bantu sakura bibi", ucap daichi.


"Jangan khawatirkan itu. Lebih baik kalian mandi sekarang, bibi sudah menyiapkan makan malam", ucapnya.


"Wah, sudah lama sekali tidak makan masakan bibi", ucap daichi.


Sakura hanya tersenyum lebar saat daichi terlihat tak asing dengan bibi mori, dia mulai penasaran siapa sebenarnya bibi mori.


"Kalau begitu sakura kekamar dulu",ucapnya.


"Aku akan segera menyusul", ucap daichi.


"Hmm". jawab sakura yang pergi meninggalkan keduanya yang terlihat asyik berbicara.


Malam ini dia merasa begitu lelah, dia terus memijat pundaknya dengan tangannya. Meletakan tas yang dikenakannya, menghapus riasan diwajahnya sebelum dia merendam dirinya, salah satu rutinitas yang selalu dilakukannya setiap malam saat badannya merasa begitu lelah.


Tidak butuh waktu lama untuk menyegarkan kembali dirinya selepas selesai berendam, wajah yang terlihat layu dan lesu kini kembali segar saat keluar dari kamar mandi. Kedua matanya langsung teralihkan kepada sosok pria yang sedang berdiri memandang keluar jendela, sepertinya daichi belum menyadari keberadaan sakura. Wajahnya yang serius membuat dia terlihat semakin tampa, ditambah lagi tatapannya yang terlihat tajam mampu membuat hati wanita meleleh saat menatapnya.


Sakura berjalan menghampirinya yang belum menyadari kehadiran sakura yang berdiri dibelakangnya, kedua tangannya melingkar di pinggang daichi dari arah belakang.


"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?"tanya sakura.


Senyum simpul tampak jelas diwajahnya, dia memegang kedua tangan sakura sambil memutar badannya berhadapan dengannya. Didekatkannya wajahnya kepada sakura hingga hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter. Sorot matanya yang tajam terlihat begitu jelas oleh sakura, embusan napasnya terasa hangat di kulit wajahnya.


"Aku tidak memikirkan apa-apa sayang,hanya menikmati pemandangan dimalam hari",jawabnya sambil menjauhkan wajahnya dari wajah sakura.


"Ah...",jawab sakura.


"Apa kamu sudah selesai?"tanya daichi.


"Sudah", jawab sakura.


"Baiklah kalau begitu aku mandi dulu", ucap daichi.


"Hmm", jawab sakura.


Sembari menunggu daichi selesai mandi, dia keluar menujuh ruang makan untuk membatu bibi mori yang mungkin membutuhkan bantuannya.


"Apa ada yang bisa aku bantu bi?"tanya sakura yang mencoba mendekatkan dirinya dengan orang asing untuknya saat ini.


"Tidak sayang, duduklah. Semuanya sudah siap", ucap mori.


"Baiklah", jawab sakura, menarik kursi dan duduk di kursinya yang biasa didudukinya.


"Bibi membuat sup daging,daichi sangat menyukainya", ucapnya sembari menuangkan sup di mangku dan memberikannya untuk sakura.


"Terima kasih bibi, tapi dari mana bibi tau bahwa daichi sangat menyukai sup daging?"tanyanya.


"Tentu saja bibi tahu. Sejak daichi kecil, bibj menjadi pelayan di rumah utama nona sakura", jelasnya.

__ADS_1


"Sungguh?" tapi kenapa kita tidak pernah bertemu?"tanya sakura.


"Saya sempat pulang kampung karena ingin dekat dengan keluarga yang sudah lama saya tinggalkan", ucapnya.


"Dan sekarang bibi telah kembali", ucap sakura


"Daichi yang memohon agar ada yang membatu dan mengurus mu sayang",ucapnya.


"Sungguh?"tanya sakura yang terlihat tidak percaya.


"Benar sayang", jawabnya.


Pembahasan itu berhenti saat daichi datang, sakura tampak ceria melihat kehadiran suaminya itu diruang makan.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"tanya daichi sambil duduk.


"Tidak ada. Bibi hanya mengatakan bahwa dia memasak sup daging kesukaanmu", ucap sakura.


"Kelihatannya sangat enak.Ayok kita makan",ucap daichi.


"Mari makan",ucap sakura.


"Wah, bibi ini sangat enak", ucap sakura.


"Benarkah?" Apa kamu menyukai masakan bibi?"tanyanya.


"Hmmm". Ini sangat lezat", jawab sakura.


"Kalau begitu bibi akan memasak makanan yang enak untukmu setiap hari",ucapnya.


Sakura menyunggingkan senyumnya ceria sambil menikmati makanan di mulutnya, daichi terus mengamati wajah sakura yang terlihat bahagia, setidaknya itu akan bagus dengan program yang sedang mereka jalani saat suasana hati sakura selalu bahagia.


Makan malam itu berlangsung begitu hangat dengan tambahan anggota baru di dalam rumah tangga keduanya.


"Bibi sekali lagi terima kasih untuk makanan lezatnya", ucap sakura.


"Ia sayang", ucap mori.


"Biarkan aku membantu mu membawa piring-piring ini bi", ucap sakura.


"Tapi bi, biarkan aku melakukannya",ucap sakura.


Sakura? Sakura?. Terdengar teriakan daichi dari ruang televisi.


"Dengar, suamimu sedang memanggil mu. Pergilah, jangan membuatnya menunggu", ucap mori.


Sakura mendesah. "Baiklah bi, aku pergi dulu", ucapnya.


"Ia sayang", ucap mori.


Dia berjalan menghampiri daichi yang telah menunggunya di ruang Tv.


"Apa kamu memanggilku?"tanya sakura.


"Benar sayang. Kemarilah", pintanya.


"Ada apa?"tanya sakura.


"Duduklah disni", ucap daichi yang menepuk bangku disampingnya.


Sesuai dengan pemintaan suaminya,dia duduk di samping daichi.


"Ini", ucapnya yang memberikan beberapa butir obat ditangan sakura.


"Apa ini?"tanya sakura yang terlihat bingung.


"Ini adalah obat dan vitamin yang diberikan dokter untuk mu sayang?"jawab daichi.


"Sebanyak ini?"tanyanya dengan kening yang mengkerut seolah tak percaya.


"Benar", jawab daichi.


Dia menggelengkan kepalanya."Bisakah nanti saja aku meminumnya", ucapnya dengan wajah kasihan.


"Sayang, dokter tadi sudah mengatakan kepada kita bahwa kamu harus meminum semua resep yang diberikannya", jelas daichi.

__ADS_1


Dia memutar kedua bola matanya mendengar penjelasan yang diberikan daichi, tidak ada lagi alasan baginya untuk menolak meminumnya.


"Baiklah", jawabnya putus asa.


"Pelan-pelan saja sayang, oke?ucap daichi yang selalu memberikan dukungan untuk sakura.


"Hmm", jawab sakura yang mulai meminum obat yang telah disiapkan daichi.


"Dengar sayang, kamu harus meminumnya setiap hari sesuai dengan anjuran yang diberikan dokter. Kamu harus membawanya kekantor dan meminumnya setelah selesai makan siang. "Apa kamu mengerti?"tanya daichi yang kali ini terlihat seperti seorang dokter.


Sakura mengerutkan keningnya pada daichi.


"Apa sekarang profesi mu berubah menjadi seorang dokter?"tanya sakura.


"Bukan seorang dokter, tapi seorang perawat yang akan mengurus istri kesayangannya", jawab daichi .


"Aish!" Yang benar saja", gumam sakura.


"Berjanjilah untuk rutin meminumnya", ucap daichi yang terlihat begitu serius.


"Baiklah suamiku", tukasnya.


"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu sayang", ucapnya dengan nada suara yang tenang, tapi terdengar begitu serius.


Sakura berpikir sebentar dan menyerah tanpa beradu argument dengan daichi. Baginya apa yang dilakukan daichi saat ini adalah untuk kebaikannya sendiri dan tidak ada alasannya untuk membatah.


"Terima kasih sayang", gumam sakura, ditatapnya daichi dengan senyum diwajahnya.


"Apapun akan aku lalukan untukmu", jawab daichi dengan tangan yang menarik sakura dalam pelukannya yang hangat, pelukan yang selalu saja mampu membuat sakura merasa nyaman.


••••••••••••


Brraaakkkk!!!


Suara bantingan pintu yang keras membuat semua orang yang ada diruangan itu kaget.Ayana dan yumi yang sedang bersantai di ruang TV langsung bangkit untuk melihat siapa yang membanting pintu sekuat itu.


"Sera", ucap keduanya secara bersamaan.


Wajah sera memerah, menahan amarahnya yang memuncak saat ini. Siapa saja yang melihat ekspresi wajah sera sekarang akan dengan mudah mengetahui bahwa dia sedang sangat marah dan kesal.


"Apa yang terjadi sera? tanya ayana yang berjalan mendekati sera.


"Tidak ada apa-apa", jawabnya, tapi dari suaranya ayana mengetahui bahwa apa yang keluar dari mulutnya tidak sesuai dengan apa gang dirasakannya.


"Jika tidak ada apa-apa. Kenapa kamu menutup pintu sekeras itu?"tanya ayana.


Bukannya memberikan jawaban atas pertanyaan ayana, dia justru pergi meninggalkan mereka kekamar tanpa menggubris sama sekali pertanyaan ayana. Melihat tingkah sera, ayana berbalik secepat kilat dan menggapai tangan sera. Menyadari tangannya tertahan, amarah sera langsung naik memuncak.


"Apa yang kamu lakukan ayana!!"teriak sera dengan matanya melotot seakan ingin keluar.


"Aku bertanya kepadamu sera", ucap ayana.


"Tidak ada yang perlu aku jawab. Kau adalah manager ku ayana, bukan keluargaku! Jadi berhenti seolah kamu adalah keluarga ku dan satu lagi jangan pernah ikut campur dengan urusan pribadiku! Apa kamu mengerti??"tanya sera yang masih dengan tatapannya yang mematikan.


Ayana langsung melepaskan tangannya.


"Baiklah sera. Maafkan aku selama ini terlalu ikut campur. Kalau memang itu yang kamu mau, aku akan mengikuti mu", ucap ayana yang langsung pergi meninggalkan apartemen milik sera.


Tanpa sedikit pun merasa bersalah dengan ucapannya yang kasar kepada ayana, dia justru masuk kekamar meninggalkan yumi yang terlihat bingung dengan situasi yang terjadi.


Sera terlihat bingung, dia terus berjalan mondar -mandor di kamarnya.


"Tidak...Tidak...., dia tidak boleh hamil", ucapnya dengan wajah yang panik.


Malam ini dia benar - benar tidak mampu mengendalikan emosinya, mengingat kejadian dirumah sakit membuat amarahnya meluap-meluap hingga melampiaskan terhadap orang disekitarnya. Tiba-tiba saja wajahnya berubah terlihat lebih tenang saat sebuah ide terlintas didalam pikirannya.


"Sepertinya aku tau cara yang mudah menghancurkan hubungan mereka",ucapnya dengan senyum yang terlihat jelas mengembang di wajahnya.


"Yah, aku yakin kali ini aku akan berhasil", ucapnya,


Ekspresinya saat ini terlihat begitu yakin, sudut-sudut mulutnya bergetar, menahan senyum.


"Aku akan mengambil yang seharusnya menjadi milikku sakura", gumamnya dengan wajah yang terlihat serius.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2